Connect with us

Ragam

Wulla Podu, Cara Masyarakat Sumba Barat untuk Mendekatkan Diri dengan Tuhan

Published

on

Wulla Podu
Wulla Podu

Sumba Barat memiliki budaya unik, salah satunya adalah Wulla Poddu. Ritual ini digelar setiap bulan Oktober hingga November. Wulla Poddu berasal dari kata ‘wulla’ yang artinya bulan dan ‘poddu’ yang berarti pahit. Jadi secara harfiah wulla poddu memiliki makna bulan pahit.

Ritual ini juga dilaksanakan orang-orang Sumba Barat Daya, namun dengan ritual yang sedikit berbeda. Meski berbeda tujuannya tetap sama, yakni mengucap syukur kepada Mori Loda Mori Pada atau Pemilik Hari dan Alam Sejagat, atas berkah hasil panen yang didapat sepanjang tahun dan tahun mendatang.

Kampung Adat Tarung di tengah Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur masih menjaga tradisi ini. Puncak ritual ditandai dengan tarian oleh gadis dan pemuda setempat. Hujan yang turun membuat ritual ini semakin sakral.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Dalam ritual ini pula pusaka tombak adat dipamerkan. Tombak dibawa orang-orang pilihan di atas bebatuan kubur megalith di tengah kampung.

Para penari akan berbalas tarian dengan tombak dan parang terhunus. Jelang berakhirnya ritual, tetua adat melantunkan syair. Syair bercerita tentang pencipta, alam semesta dan manusia. Syair juga mengisahkan manusia yang tiba di Pulau Sumba.

Penutup, sang tetua adat akan melantunkan doa untuk Pulau Sumba. Agar pulau terhidar dari bencana dan marabahaya.

Mengutip penjelasan yang dimuat pada laman Pemkab Sumba Barat, disebutkan bahwa Wulla Poddu mengandung makna Wulla yang berarti Bulan dan Poddu yang berarti Pahit. Sehingga secara harafiah Wulla Poddu berarti bulan pahit karena merujuk kepada kondisi pada bulan tersebut, ada sejumlah larangan yang harus dipatuhi oleh penganutnya dan serangkaian ritual ketat yang harus dijalankan.

Meski begitu, Wulla Poddu tetap dianggap sebagai bulan suci yang kerap dinantikan oleh para penganut kepercayaan Marapu.

Selama melaksanakan ritual Wulla Poddu, masyarakat dilarang untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti bekerja di ladang, tidak boleh merayakan upacara kematian dan acara meriah lainnya.

Bukan tanpa alasan, larangan tersebut ditetapkan karena Wulla Poddu dianggap sebagai suatu acara sakral yang tidak dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan lainnya. Melalui proses yang panjang, berikut rangkaian dari pelaksanaan ritual Wulla Poddu yang dikutip dari jurnal terbitan Universitas Kristen Satya Wacana.

Ritual pertama dibukan dengan Deke Ana Kaleku, yaitu pertemuan antara kedua Rato Rumata atau tetua untuk menentukan kesepakatan waktu kapan rangkaian ritual inti akan dimulai.

Setelahnya terdapat ritual Tubba Rata, yaitu acara yang bertujuan untuk menggambarkan kembali proses terciptanya manusia menurut kepercayaan penganut agama Marapu, kemudian dilanjut dengan Tauna Marapu yaitu salah satu rangkaian ritual yang penting untuk mengundang para leluhur (Marapu) agar mengetahui bahwa Wulla Poddu sudah dijalankan.

Wulla Podu
Wulla Podu

Ritual dilanjut dengan Padeddalana, saat di mana para tetua yang terlibat dalam pelaksanaan ritual mengumumkan kepada masyarakat tentang aturan dan larangan-larangan yang harus ditaati selama ritual Wulla Poddu dilaksanakan.

Setelah itu, terdapat kegiatan Pogo Mawo (Potong Pohon Pelindung), yaitu pemotongan sebuah pohon untuk menggantikan pohon mawo (pelindung) yang sudah ada sejak satu tahun sebelumnya, yang dipercaya untuk melindungi masyarakat dari segala macam bencana alam seperti angin puting beliung, kilat, maupun gangguan-gangguan dari manusia dan roh-roh jahat, terhindar dari segala penyakit baik bagi manusia maupun hewan peliharaan.

Ritual dilanjut dengan kegiatan Mu’u Luwa, yaitu kegiatan memakan ubi yang di mana inti dari salah satu rangkaian ritual ini adalah untuk memberkan waktu bagi para tetua untuk bermusyawarah dan menentukan bagaimana proses Wulla Poddu akan berjalan.

Setelah selesai berdiskusi ritual dilanjut dengan kegiatan Tobba Wano, yaitu kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan kampung dari segala roh-roh jahat serta membersihkan segala perbuatan manusia yang tidak baik yang disimbolkan melalui benda-benda seperti abu dapur dan buluh ayam.

Belum berhenti sampai disitu, ritual dilanjut dengan Woleka Lakawa yaitu kegiatan pelatihan tarian dan lagu-lagu bagi bagi anak-anak serta orang dewasa untuk pelaksanaan ritual-ritual berikutnya yang melibatkan tarian dan nyanyian, agar tidak terjadi kesalahan.

Disambung dengan tahap Regga Kulla, yaitu acara khusus untuk menjemput tamu dari kampung sebelah yang datang dengan tujuan untuk mengambil bukti perjanjian leluhur bahwa kampung yang bersangkutan harus tetap menjalankan ritual Wulla Poddu.

Setelah penerimaan tamu ada juga kegiatan perkunjungan Dukki Tappe–Toma Lunna, yaitu perkunjungan tetua untuk melaporkan diri kepada leluhur setempat terkait keikutsertaan dalam ritual Wulla Poddu.

Wulla Podu
Wulla Podu

Tahap selanjutnya terdapat ritual Wolla Kawuku, yakni perayaan yang dilakukan sepanjang malam dan dimeriahkan dengan tari-tarian yang dikhususkan untuk ritual-ritual sakral. Ada gerakan-gerakan tersendiri dari setiap tarian yang mengiringi setiap ritual yang dilaksanakan, karena itu sebelumnya dilakukan latihan pada kegiatan Woleka Lakawa untuk menghindari kesalahan.

Selain Wolla Kawuku, ada pula Wolla Wiasa Karua sebagai kegiatan untuk merayakan beras suci yang dilaksanakan sepanjang malam. Beras suci yang dimaksud ditumbuk oleh tetua yang bertugas, dibersihkan lalu dimasak untuk dijadikan sesajian yang diberikan kepada leluhur.

Belum berhanti sampai di situ, selanjutnya terdapat Wolla Wiasa Kappai yang terdiri dari dua acara yang dilaksanakan, yaitu Oke We’e Maringi yang merupakan proses menimba air suci yang akan digunakan pada saat upacara puncak, dan acara kedua yaitu Pogo Weri yaitu pemotongan pucuk daun kelapa untuk digunakan sebagai tanda larangan pada saat acara puncak yang sama.

Sebelum sampai ke acara puncak, terlebih dulu terdapat upacara Mana’a yaitu kegiatan makan bersama dengan semua warga yang hadir dalam acara ini, di mana setiap orang yang datang diwajibkan untuk membawa seekor ayam yang akan didoakan kepada leluhur dan Sang Pencipta untuk meminta berkat kemudian disembelih untuk mengetahui jawabannya melalui jeroan ayam.

Ragam

Passilliran, Tradisi Unik Suku Toraja Memakamkan Bayi di Batang Pohon

Published

on

By

Batang Pohon Tarra

Suku Toraja memiliki tradisi pemakaman yang unik, memakamkan jenazah di tempat khusus. Salah satunya batang pohon besar yang dijadikan tempat memakamkan para bayi.

Suku Toraja merupakan salah satu kelompok suku asli Sulawesi Selatan, yang mendominasi populasi kota Makasar. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti orang yang berdiam di negeri atas. Pada tahun 1909, pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja.

Sedangkan makam itu sendiri adalah tempat tinggal, kediaman yang merupakan tempat persinggahan terakhir manusia yang sudah meninggal dunia. Dalam makna lain juga dapat diartikan yaitu, ada jenazah orang yang dikuburkan di tempat tersebut.

Suku Toraja terkenal akan ritual pemakamannya, selalu ada tempat khusus untuk memakamkan jenazah di tempat ini. Gua, sisi tebing, liang batu, atau kuburan berbentuk rumah, merupakan lokasi yang dijadikan untuk tempat memakamkan seseorang yang telah meniggal di sana.

Baca Juga:

  1. Berani Coba! 5 Tempat Wisata Mistis di Yogyakarta
  2. Pulau Tulang, Lokasi Horror yang Kini Jadi Tempat Wisata
  3. Syair Smong, Penyelamat Masyarakat Smeuleu dari Tsunami Aceh

Passilliran adalah tradisi pemakaman bayi, khususnya yang meninggal sebelum tumbuh gigi. Sebuah pohon besar, yaitu pohon tarra yang diameternya bisa 100 cm, dijadikan untuk memakamkan bayi-bayi tersebut. Mereka tidak dikubur di tebing-tebing atau gua, berbeda dengan orang dewasa. Getah yang berlimpah dan ukuran pohon yang besar, merupakan salah satu alasan jenis pohon ini dipilih.

Masyarakat juga mempercayai bahwa getah dari pohon, bisa menggantikan air susu Ibu untuk sang bayi mereka yang telah meninggal dunia. Memakamkan bayi di pohon ini dianggap seperti mengembalikannya ke rahim sang Ibu. Karena menurut kepercayaan masyarakat setempat kepada leluhur, bayi yang belum tumbuh gigi dinilai masih suci.

Dalam prosesi pemakaman ini, bayi di letakkan di pohon tanpa dilapisi sehelai kain pun, dengan posisi meringkuk.  Masyarakat biasanya membuat lubang untuk menaruh jenazah bayi sedemikian rupa agar menyerupai dengan Rahim.

Lubang pohon umumnya akan menghadap rumah keluarga si bayi, Hal itu dipertimbangkan ketika lubang pohon itu dibuat agar mengarah ke tempat tinggalnya. Biasanya bisa sekitar 10 bayi yang dapat dimakamkan dalam satu pohon. Kemudian bayi-bayi tersebut bisa dilihat dari kotak-kotak seperti jendela dari ijuk pohon tarra.

Tradisi ini dilakukan karena menurut mereka, dengan seiring bertumbuhnya pohon, bayi yang telah tiada pun akan ikut tumbuh juga. Atas hal itu pohon yang berisikan bayi-bayi, dilarang untuk ditebang. Sebab katanya, hal itu sama saja memutuskan kelanjutan hidup sang bayi. Lubang pohon untuk pemakaman akan semakin tinggi sesuai dengan kasta bayi yang meningal, di dalam masyarakat. Jadi, ukurannya tidak sama semua melainkan berbeda berdasarkan kasta mereka.

Uniknya dalam passilliran ini juga adalah, di mana sang Ibu kandung tidak boleh ikut pada saat sesi pemakaman berlangsung. Para Ibu yang bayinya meninggal pun dilarang untuk mengunjungi kuburan anaknya selama setahun. Dikarenakan, hal itu bisa membuat sang Ibu kesulitan mendapatkan bayi yang sehat di masa mendatang.

Continue Reading

Energi

Keren, ITB Bikin Bensin dari Minyak Kelapa Sawit untuk Mobil & Motor

Published

on

Bensin sawit
Bensin sawit

Para peneliti di Pusat Rekayasa Katalis Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan teknologi katalis dan membangun unit percontohan bensin biohidrokarbon dengan bahan dasar minyak kelapa sawit.

Untuk membuatnya, ITB bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Produk yang kini diberi nama Bensa alias Bensin Sawit didemonstrasikan di Workshop PT Putra Engineering, Kudus, Jawa Tengah pada 11 Januari 2022.

Dalam uji coba Bensa terhadap roda dua dan roda empat, hasilnya menunjukkan bahwa Bensa dapat bekerja dengan baik sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Ada pun Bensa dibuat dengan cara mengkonversi minyak sawit industrial (industrial vegetable oil, IVO) menjadi bensin sawit melalui proses perengkahan yang dikembangan para peneliti ITB yang dipimpin oleh Prof. Dr. Subagjo.

Baca Juga:

  1. Kabar Baik, Studi Terbaru Menujukkan 3 Dosis Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Omicron
  2. Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi
  3. Omicron Makin Merebak, Pemerintah Tambah Hotel Isolasi

Proses konversi IVO menjadi bensin sawit dilaksanakan dalam reaktor menggunakan katalis berbasis zeolit yang juga dikembangkan oleh PRK ITB dan LTRKK ITB. Bekerja sama dengan PT Energy Management Indonesia, ITB sedang melakukan perancangan konseptual pabrik bensin sawit berkapasitas 50.000 ton/tahun.

Anggota tim Katalis Merah Putih dari KK Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis-FTI, Melia Laniwati Gunawan mengatakan berdasarkan instruksi dari Presiden Joko Widodo, Indonesia harus mengolah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terlebih dahulu sebelum diekspor karena produksi melimpah.

“Dengan dana dari BPDPKS kita juga membuat set unit reaktor untuk memproduksi katalisnya. Pabrik Katalis dengan skala 40-50 kg per batch ditempatkan di Kampus ITB Ganesa ,” ujar Melia.

Nantinya, ini dapat dikembangkan sebagai unit produksi mandiri di sentra-sentra sawit yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Indonesia sendiri merupakan negara penghasil sawit terbesar di dunia yang saat ini memproduksi 49 juta ton CPO/tahun, dan pada saat yang sama Indonesia adalah negara perngimpor bahan bakar bensin terbesar kedua di dunia, sehingga sangat berkepentingan untuk mengembangkan teknologi produksi bensin sawit.

“Untuk itu kami mencoba mengolah CPO menjadi IVO. Unit demo dengan skala 6-7 ton per jam telah dibangun dan saat ini ditempatkan di Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA), Sumatera Selatan” ujar Melia seperti dilansir dari laman ITB.

Atas keberhasilan demo dan uji coba Bensa tersebut, Melia mengatakan ke depannya akan dilakukan optimasi kapasitas produksi dan reaktornya, kemudian pihaknya akan membuat detail engineering design (DED).

“Kita berharap unit produksi ini bisa ditempatkan di perkebunan kelapa sawit para petani, sehingga kebutuhan bensin mereka bisa menggunakan bensa. Dengan cara seperti ini, maka akan meringankan pemerintah (Pertamina) untuk memasok bahan bakar sampai ke pelosok,” jelasnya.

Continue Reading

CityBoomer

Alegra Wolter, Dokter Transpuan Pertama di Indonesia

Published

on

By

Alegra Wolter

Alegra Wolter, sosok dokter yang tengah hangat dibicarakan oleh publik. Hal ini terjadi setelah ia mengungkapkan bahwa dirinya ternyata seorang transpuan.

Transpuan atau wanita transgender adalah seorang wanita yang ditunjuk sebagai laki-laki saat lahir. Wanita transgender dapat mengalami apa yang disebut disforia gender yaitu, kondisi yang timbul akibat adanya ketidak sesuaian antara identitas gender, dengan jenis kelamin yang ditunjukan saat mereka terlahir ke dunia.

Sebagian transpuan, dapat menilai bahwa transisi gender mereka telah selesai. Karena itu, mereka lebih memilih kata “wanita” saja. Mereka melihat bahwa kata “transpuan,” adalah istilah yang sebaiknya hanya digunakan untuk mereka yang belum secara penuh bertransisi.

Alegra diketahui menghabisi masa kecil dan remajanya sebagai seorang laki-laki. Dirinya bahkan sangat depresi, sehingga harus melakukan pengobatan dengan seorang psikiater. Hal itu disebabkan karena teman-temannya yang kerap kali mengejeknya.

Baca Juga:

  1. Usai Dapat Kritik Pedas Haruna Soemitro, Begini Nasib Shin Tae-yong Sebagai Pelatih Timnas
  2. Tendang & Buang Sesajen di Gunung Semeru, Hadfana Firdaus Minta Maaf ke Seluruh Masyarakat Indonesia
  3. Jadi Ketua PBNU Perempuan Pertama, Ini Komentar Alissa Wahid

Usahanya ke psikiater tidak dapat menolongnya, ia malah sempat dibawa ke dokter lalu di suntik hormon testosteron. Masyarakat pada umumnya mengenal hormon ini sebagai hormon yang memengaruhi libido, pembentukan massa otot, ketahanan tingkat energi, hingga perubahan karakteristik seks sekunder pada pria saat puber.

Dikutip dari BBC Indonesia, Selasa, 18 Januari 2022, Alegra mengatakan, “Itu malah membuat saya lebih depresi. Saya merasa identitas saya adalah perempuan, tapi malah diberikan hormon yang memaskulinisasi.”

Alegra merupakan seorang dokter transpuan pertama di Indonesia. Dirinya pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Ia mulai bertransisi menjadi seorang wanita ketika dirinya duduk di bangku kuliah.

Continue Reading

Trending