Connect with us

COVID-19Update

Vaksin Barekat, Simbol Kebanggaan Iran Terhadap Produk Dalam Negeri

Published

on

Vaksin Barekat Iran

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melarang impor Vaksin Covid-19 dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Ini menyiratkan simbol bahwa Iran tidak percaya terhadap negara Barat.

Sebagai gantinya, Khamenei pada Bulan Juni lalu menerima suntikan dosis pertama Vaksin Covid-19 buatan Iran sendiri. Kala itu, dia menegaskan tak tertarik untuk disuntik Vaksin Covid-19 buatan asing dan lebih baik menunggu vaksin buatan Iran

“Lebih baik kita menunggu vaksin Iran karena kita harus bangga dengan kehormatan nasional ini,” tegas Khamenei kala itu.

Baca Juga :

  1. Pengusaha Asal Aceh Beri Bantuan Sosial Senilai Rp2 Triliun
  2. Eko Yuli Irawan Raih Medali Perak Olimpiade Tokyo 2020
  3. Bersikap Diskriminatif di Olimpiade 2020, Stasiun Televisi Korea Selatan Keluarkan Permintaan Maaf Ketiga

Vaksin yang disuntikkan ke Khamenei memang buatan Iran sendiri. Namanya adalah COVIran Barekat. Vaksin ini merupakan hasil produksi perusahaan farmasi asal Iran, Shifafarmed.

Studi pertama untuk keamanan dan efektivitas dari vaksin ini dimulai pada Desember tahun lalu. Penggunaan darurat vaksin ini disetujui pada akhir Juni lalu.

Iran sendiri belum mempublikasikan data tentang kemanjuran vaksin Coviran Barekat produksi negaranya, tetapi telah mengklaim bahwa vaksin Coviran Barekat 85 persen efektif melawan infeksi virus corona yang mematikan itu.

Vaksin Covid-9 produksi Iran, Coviran Barekat adalah bentuk upaya Iran untuk memenuhi kebutuhan vaksin 2 dosis di dalam negerinya, yang kesulitan mengimpor vaksin untuk 83 juta penduduknya.

Vaksin Barekat

Penelitian vaksin lokal Iran telah mendapatkan urgensi karena para pejabat mencurigai bahwa sanksi berat Amerika akan menghambat upaya inokulasi massal Republik Islam ini.

Iran mempertahankan beberapa akses ke vaksin, di antaranya melalui Covax yang dikelola PBB, sebuah inisiatif internasional yang dirancang untuk mendistribusikan vaksin ke negara-negara yang membutuhkan bantuan.

Namun, bank dan lembaga keuangan internasional enggan berurusan dengan Iran karena takut akan hukuman Amerika. Di bawah aturan Covax, Iran dapat memesan dosis yang cukup untuk memvaksinasi setengah dari 83 juta penduduknya.

Kementerian kesehatan mengatakan lebih dari 4,4 juta dari 83 juta orang Iran telah menerima dosis vaksin pertama sejak kampanye inokulasi dimulai pada Februari. Lebih dari seperempat dari mereka, hampir 1,13 juta, telah menerima dua suntikan dosis yang diperlukan agar vaksin menjadi efektif sepenuhnya.

“Pandemi Covid-19 sejauh ini telah merenggut 84.264 nyawa di Iran, naik 137 dalam 24 jam terakhir,” kata Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Medis Iran.

Iran sendiri saat ini dihantui pandemi Covid-19. Pada Selasa (27/7/2021), kasus Covid-19 di Iran mencapai 34.900 kasus.

Otoritas kesehatan Iran mencatat 357 kematian akibat COVID-19 pada hari Selasa (27/7/2021), sehingga total jumlah kematian menjadi 89.479 kasus, yang mana angka ini menjadi yang tertinggi di Timur Tengah.

Indonesia & Iran Sepakat Kembangkan Vaksin Covid-19

Indonesia dan Iran sepakat menjajaki kerja sama mengenai pengembangan dan produksi Vaksin Covid-19.Kesepakatan kerja sama ini disampaikan pada pertemuan Komite Konsultasi Bilateral ke-9, Senin (5/7/2021).

Pertemuan ini dipimpin Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Abdul Kadir Jailani dan Asisten Menteri Luar Negeri Iran yang juga merangkap Dirjen Asia dan Oseania, Duta Besar Reza Zabib.

Kementerian Luar Negeri RI, kedua pihak sepakat mendorong penyelesaian negosiasi Indonesia-Iran Preferential Trade Agreement (PTA), yang mana total perdagangan kedua negara meningkat dari US$141,60 juta di 2019 menjadi US$215,97 juta di 2020. Angka ini dilaporkan meningkat 52% di tengah pandemi dan kelesuan ekonomi global. Demikian dilansir dari laman resmi Kementerian Luar Negeri RI.

Tak hanya itu saja, kedua negara juga menggalang kerja sama Indonesia-Iran Virtual Health Business Forum dan proyek kerja sama Pusat Robotic Telesurgery di RS Hasan Sadikin, Bandung dan RS Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Kedua delegasi juga membahas rencana penandatanganan MoU Kerja Sama bidang Penanganan Narkotika, serta mendorong pula pembahasan kerja sama antar Kementerian Pertahanan dan kerja sama pertukaraan kebudayaan. Saat ini, Indonesia dan Iran telah memiliki MoU kerja sama perpustakaan.

COVID-19Update

Akhirnya Terungkap, Inilah Penyebab Utama Penularan Varian Omicron di Afrika

Published

on

penyebaran varian Omicron di Afrika

Covid-19 varian Omicron kini menghantui dunia. Bahkan, varian ini sudah menyebar ke sepertiga wilayah Amerika Serikat (AS). Adapun, negara-negara Eropa memutuskan melakukan lockdown atau penguncian wilayah.

Varian Omicron diketahui pertama kali muncul di Negara Afrika. Berdasarkan laporan yang dirilis Mo Ibrahim Institute, Afrika saat ini mengalami diskriminasi yang sangat ekstrim dengan hanya 5 negara saja yang memenuhi target 40% populasi tervaksinasi hingga akhir tahun ini.

“Sejak awal krisis ini, Yayasan kami dan suara Afrika lainnya telah memperingatkan bahwa Afrika yang tidak divaksinasi dapat menjadi inkubator sempurna untuk berbagai varian,” kata ketuanya Mo Ibrahim dalam sebuah pernyataan kepada NDTV, Senin (6/12/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Munculnya Omicron mengingatkan kita bahwa Covid-19 tetap menjadi ancaman global, dan vaksinasi ke seluruh dunia adalah satu-satunya jalan ke depan. Namun, kami terus hidup dengan diskriminasi vaksin yang ekstrem, dan Afrika khususnya tertinggal,” sambung dia.

Hingga saat ini baru 1 dari 15 warga Afrika yang menerima vaksin Covid-19. Ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan rata-rata 70% populasi tervaksinasi di negara-negara maju.

Pengiriman vaksin ke Afrika sendiri telah ditingkatkan dalam beberapa bulan terakhir meskipun masih terkendala oleh sistem perawatan kesehatan yang lemah dan infrastruktur yang terbatas. Selain itu, muncul juga keresahan akan tanggal kadaluwarsa yang pendek pada vaksin yang disumbangkan.

Omicron dilaporkan memiliki lebih banyak strain atau mutasi dibandingkan varian Alpha, Beta dan Delta dan dianggap sangat menular. Tercatat, ada 32 mutasi protein lonjakan yang dibawa varian itu.

Continue Reading

COVID-19Update

Gawat, Varian Omicron Kini Telah Menyebar ke Sepertiga Wilayah AS

Published

on

Varian Omicron
Varian Omicron

Amerika Serikat (AS) kini dihantui Covid-19 varian Omicron. Kini, varian tersebut telah menyebar ke sepertiga wilayah Negeri Paman Sam.

Seperti dinukil dari Reuters, Senin (6/12/2021), Otoritas Kesehatan AS menyatakan bahwa varian Omicron ini memang cukup membahayakan. Meski demikian, mereka menyatakan Varian Delta masih mendominasi.

Pakar penyakit menular terkemuka AS, Dr Anthony Fauci, menyatakan saat ini belum ada tingkat keparahan besar akibat penyebaran Varian Omicron. Akan tetapi, Fauci juga menambahkan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti dan studi lebih lanjut diperlukan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menurut penghitungan Reuters, sedikitnya 16 negara bagian AS telah melaporkan kasus-kasus varian Omicron, tanpa disebut jumlah total kasusnya di AS.

Negara bagian yang telah mendeteksi varian Omicron terdiri atas California, Colorado, Connecticut, Hawaii, Louisiana, Maryland, Massachusetts, Minnesota, Missouri, Nebraska, New Jersey, New York, Pennsylvania, Utah, Washington dan Wisconsin.

Kebanyakan kasus varian Omicron di AS terdeteksi pada individu yang sudah divaksinasi penuh dan mereka mengalami gejala-gejala ringan. Salah satu kasus varian Omicron yang terdeteksi di Lousiana ditemukan pada seseorang yang bepergian di dalam wilayah AS.

Terlepas dari penyebaran varian Omicron, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Dr Richelle Walensky, menuturkan kepada ABC News bahwa varian Delta masih menyumbang 99,9 persen dari kasus-kasus baru Corona di wilayah AS.

Continue Reading

COVID-19Update

Curhat Jokowi Ketika Pertama Kali Dengar Varian Omicron

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), mencurahkan isi hatinya kala pertama kali mendengar kemucunculan varian Omicron.

Curahan hati itu Jokowi kemukakan saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia Tahun 2021 di Bali Nusa Dua Convention Center, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/12/2021).

“Jangan ada yang berpikiran bahwa pandemi ini telah selesai. Memang pada hari ini kalau kita lihat kasus yang dulu di pertengahan bulan Juli kasus harian kita di angka 56 ribu, kemarin kita berada di angka 311 kasus harian. Ini patut kita syukuri, patut kita syukuri, berkat kerja keras kita, kerja gotong-royong kita, tetapi sekali lagi, hati-hati tantangan ini belum selesai,” kata Jokowi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menurut dia, sudah ada 29 negara yang sudah kemasukan varian Omicron. Terbaru pada kemarin pagi, Jokowi memperoleh informasi varian itu sudah terdeteksi di Singapura.

“Yang ini meskipun masih dalam penelitian yang cepat, penularannya bisa lima kali lebih menular dibandingkan yang varian delta yang kecepatannya juga sangat cepat sekali. Ini pun juga bisa menembus dari imunitas yang telah kita miliki,” ujarnya.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, kita semua tetap harus waspada dan hati-hati, hati-hati. Tetapi juga jangan kita ini terlalu ketakutan dan kekhawatiran yang amat sangat. Tetap harus optimis, apalagi di tahun 2022 kita harus optimis bahwa ekonomi kita bisa bangkit di atas 5%,” lanjutnya.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, pandemi Covid-19 telah berimbas ke mana-mana. Beberapa negara mengalami kelangkaan energi hingga kontainer.

“Karena pandemi juga, yang tidak kita perkirakan, inflasi beberapa negara sudah naik demikian tinggi. Dan karena inflasi juga beberapa hari terakhir ini sudah mulai kedengaran beberapa negara ada kenaikan harga produsen yang akhirnya nanti akan berimbas kepada kenaikan harga konsumen,” kata Jokowi.

“Ini saling kompleksitas, masalah semakin melebar ke mana-mana. Sehingga memang kita harus menyiapkan rencana antisipasi dan geraknya harus kita lebih cepat dari biasanya. Karena ketidakpastian ekonomi global semakin melebar ke mana-mana, kompleksitas masalahnya juga melebar ke mana-mana,” demikian Jokowi.

Continue Reading

Trending