Connect with us

Heritage

UNESCO Akui Belitung Sebagai Geopark Baru

Published

on

Jumlah Geopark yang diakui UNESCO di Indonesia akan segera bertambah. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan menyatakan UNESCO segera menetapkan Belitung sebagai bagian UNESCO Global Geopark, sehingga destinasi wisata di negeri laskar pelangi semakin terkenal di dunia internasional.

“Kita optimistis, Geopark Belitung segera ditetapkan UNESCO, karena nilai yang diraih tertinggi di Indonesia,” kata Erzaldi Rosman Djohan di Pangkalpinang.

Ia menyakini Geopark Belitung segera meraih status UNESCO dengan skor 850 yang merupakan nilai tertinggi yang pernah diperoleh Indonesia pada ujian akhir sidang konsel dari UNESCO Global Geopark.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

“Saya bangga dengan tim persiapan Geopark Belitong. Ini sudah final dan tinggal di-clear-kan saja hingga sertifikat tersebut dapat kita terima pada April tahun ini,” ujarnya.

Kepala Badan Pengurus Geopark Belitong, Yuspian, mengatakan Geopark Belitung tinggal menunggu undangan pemanggilan Babel atas geosite-geosite di Belitung yang telah diajukan pada November 2020 lalu untuk diakui UNESCO.

“Nilai tinggi yang diraih Babel hingga mencapai skor 850 untuk Geopark Belitong, merupakan nilai tertinggi yang pernah diperoleh Indonesia dalam pengalaman mengajukan diri menjadi Geopark UNESCO dalam standar skor penilaian tertinggi 1.000 poin,” katanya.

Menurut dia Badan Pengelola Geopark Pulau Belitong sendiri adalah badan pengelola yang dibentuk bersama oleh Pemerintah Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Tugasnya adalah mengembangkan potensi warisan geologi Pulau Belitong sehingga dapat memberikan efek kesejahteraan bagi masyarakat.

“Sebenarnya Babel bukan lagi dalam rangka berjuang untuk status UNESCO Global Geopark (UGG), akan tetapi lebih dari itu. Dari nilai itu sudah dapat dipastikan bahwa Belitung lolos,” ujarnya.

Advertisement

Heritage

Desa Lebakjabung, Petilasan Gajah Mada Tempat Ucap Sumpah Palapa

Published

on

Petilasan Gajah Mada
Petilasan Gajah Mada

Desa Lebakjabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, memiliki beragam potensi wisata yang dapat dikembangkan, mulai dari wisata religi, alam, sejarah, hingga kuliner.

Khusus untuk wisata Religi, Desa Lebakjagung memiliki Makam Sayyid Abdurrahman atau Ki Ageng Jabung, wisata sejarah petilasan Jago Panji Laras, petilasan Gajah Mada, situs Watu Umpak, wisata alam river tubing Sungai Boro, serta kuliner khas Lebakjabung.

Di Lokasi ini, Patih Majapahit yang paling terkenal, Gajah Mada, disebut-sebut mengucapkan Sumpah Palapa atau Amukti Palapa. Isi sumpah itu adalah ia tidak akan berhenti puasa sebelum menyatukan menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah kekuasaan dari Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu banyak sekali tempat persinggahan atau petilasan dari Patih Gajah Mada.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menurut cerita Sejarah, Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada pernah singgah sementara di desa dekat dengan aliran Sungai Brantas pasca akhir kekuasaan Majapahit. Kala itu, sang Maha Patih juga menemui istrinya yang keturunan dari Tionghoa. Ia dikenal dengan sebutan Putri Kuning.

Oleh karena itu, desa ini dinamakan Lambang Kuning sebagai bentuk penghormatan kepada istri Gajah Mada. Sampai akhir hidupnya ia tinggal di desa ini dan dimakamkan di Lambang Kuning.

Di petilasan ini, terdapat situs Batu Umpak Yoni. Situs ini berupa batu umpak yang di perkirakan merupakan semacam pondasi sebuah pendopo dan di dalamnya terdapat Yoni yang di duga merupakan tanda batas ibu kota Mapajahit, sebelah tenggara. Sekarang Yoni tersebut disimpan di museum Trowulan.

Petilasan Gajah Mada

Petilasan Gajah Mada juga terdapat batu yang merupakan piagam atau prasasti Singasari pada tahun 1273 saka (27 April 1331) yang di keluarkan oleh Gajah Mada.

Prasasti ini menjelaskan perihal adanya paham nerenda yang di sebut dengan Bhatara Sapta Prabu yang merupakan suatu dewan pertimbangan kerajaan.

Gajah Mada adalah sosok mahapatih paling berpengParuh dalam perjalanan panjang Kerajaan Majapahit menuju puncak kejayaaannya.

Kerajaan Majapahit sendiri dikenal sebagai kerajaan terbesar di Nusantara.

Gajah Mada dikenal sebagai sosok patih perkasa yang setia kepada pemangku takhta Majapahit untuk terus menjaga keutuhan dan melebarkan pengaruh kerajaan.

Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Sunda Pajajaran pada 1357 disebut mengakhiri kejayaan Gajah Mada.

Perang Bubat bermula saat Prabu Hayam Wuruk hendak menjadikan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, sebagai permaisuri.

Tetapi saat pernikahan hendak dilangsungkan, Gajah Mada menginginkan Sunda takluk dan menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan.

Akibat penolakan Sunda, terjadilah perang di Bubat, yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda.

Seluruh rombongan Sunda gugur dalam pertempuran dan langkah diplomasi Hayam Wuruk pun gagal. Peristiwa itu konon membuat Gajah Mada dicabut dari jabatannya sebagai mahapatih.

Continue Reading

Heritage

Gua Pawon, Rumah Orang Jawa Barat di Masa Purba

Published

on

Gua Pawon
Gua Pawon

Bandung merupakan salah satu wilayah Indonesia yang potensi wisatanya sangat besar dan beragam. Salah satu objek wisata yang layak kamu sambangi di Bandung adalah Gua Pawon. Gua Pawon berlokasi di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung.

Menurut sejarah, kawasan Bandung, termasuk Gua Pawon dulunya merupakan danau purba yang sangat luas. Berdasarkan hasil penelitian ahli geologi, jutaan tahun lalu Bandung merupakan lautan yang mengalami proses pergerakan tektonik lempeng bumi dan memunculkan gunung-gunung purba.

Kemunculan gunung-gunung purba ini menciptakan cekungan besar yang akhirnya menghasilkan danau raksasa. Danau tersebut kemudian dinamakan Danau Sunda Purba, yang digadang-gadang menjadi awal mula peradaban leluhur orang Sunda di Bandung.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Jejak kehidupan manusia prasejarah di Gua Pawon itu didapat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Tim Arkeologi Jawa Barat. Penelitian atau proses ekskavasi dimulai sejak 2003.

Dari proses ekskavasi, Tim Arkeolog Jawa Barat sudah menemukan tujuh rangka manusia prasejarah dari lima kronologi (pertanggalan karob) yang meguatkan kesimpulan bahwa manusia pawon hidup pada era Pleistosen Akhir-Awal Holosen.

Rangka pertama ditemukan September 2013 yang berumur 5.600 tahun lalu. Begitupun usia rangka kedua dan kelima pun sama. Rangka ketiga diperkirakan berusia 7.300 tahun lalu, rangka keempat berusia 9.500 tahun yang lalu, rangka keenam berusia 10.000 tahun lalu dan rangka ketujuh berusia 12.000 tahun lalu.

Gua pawon memiliki panjang 38 meter dan lebar 16 meter, tetapi atap dari tempat ini tidak diketahui pasti karena telah runtuh ketika ditemukan. Penanaman Gua Pawon diketahui berasal dari warga sekitar.

Gua Pawon

“Pemberian nama tersebut didasarkan karena bentuk atap gua yang sudah berlubang mirip seperti pawon dalam bahasa sunda, pawon berarti cerebong asap yang ada di dapur,” ungkap Geizka Medina Rozal dalam tulisannya berjudul Jejak Penemuan Manusia Purba di Gua Pawon Padalarang Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat.

Penemuan tujuh rangka ini dianggap cukup penting untuk mengisi potong mata rantai jejak manusia prasejarah yang hilang. Diketahui pada 8 Juli 1999, ditemukan potongan gigi seri manusia prasejarah berusia 600 ribu tahun yang lalu di Tambaksari, Ciamis.

Sementara itu di Subang Larang, Tim Eskavasi Gua Pawon juga berhasil menemukan fosil kerangka manusia yang lebih muda, diperkirakan berusia 45 tahun sebelum Masehi. Dengan penemuan di Tambaksari dan Pawon, tim ini memercayai masih ada jejak manusia prasejarah yang terkubur di Jabar.

Gua Pawon
Gua Pawon

“Kita ingin mendapatkan periode yang lebih tua lagi karena dari proses migrasi untuk umur-umur hunian prasejarah seperti Pawon ini, Jawa Barat punya lapisan antara 30 hingga 35 ribu tahun yang lalu, makanya kita gali lagi,” ujar Ketua Tim Eskavasi Gua Pawon, Lutfi Yondri.

Pada proses ekskavasi lanjutan, tim belum berhasil menemukan individu manusia prasejarah. Tetapi mereka berhasil menemukan beragam artefak yang terbuat dari bahan batuan obsidian, andesit, dan rijang yang diperoleh Manusia Pawon dari tempat lain.

“Batu gamping di antaranya digunakan sebagai perkutor (alat batu pukul), juga ada yang digunakan dalam bentuk alat serpih. Perkutor digunakan untuk memecah tulang yang kemudian mereka gunakan sebagai artefak seperti lancipan,” papar Lutfi.

Jabar diketahui memiliki banyak monumen prasejarah, khusus di wilayah selatan. Misalnya terdapat situs arkeologi berupa puden berundak di Gunung Padang, Cianjur yang berjarak tidak lebih 50 kilometer dari Gua Pawon.

Continue Reading

Heritage

Rumah Adat Tambi, Mungil tapi Tahan Gempa

Published

on

Rumah adat Tambi
Rumah adat Tambi

Masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng) memiliki tiga rumah adat yang menjadi kebanggaan mereka. Namun dari ketiga rumah adat tersebut, Rumah Adat Tambi menjadi yang paling unik.

Rumah adat Tambi merupakan bangunan tradisional milik Suku Lore dan Kaili. Ini adalah rumah panggung yang bagian atapnya berguna sebagai dinding. Adapun, alasanya terbuat dari balok yang tersusun dan batu alam dijadikan fondasi.

Biasanya Rumah Adat Tambi menggunakan ijuk untuk menutupi atapnya. Dipilihnya ijuk karena bagi masyarakat Sulteng, bahan ini lebih mudah ditemukan dan sekaligus mampu mendinginkan rumah.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Tidak terdapat kamar dalam Rumah Adat Tambi, pasalnya para penghuninya lebih senang tidur di ruang tamu dengan menggunakan tempat tidur yang berasal dari kulit kayu.

Rumah adat Sulawesi Tengah ini memiliki hal yang unik dan membuatnya beda dari rumah adat lainnya.

Keunikan dari rumah adat Tambi berada pada bentuk atapnya yang terlihat seperti prima, ukuran rumahnya, dan jumlah anak tangganya.

Rumah yang berbentuk segitiga ini memiliki filosifi yaitu dua relasi antara garis horizontal dan vertikal.

Garis horizontal menjadi alas atau dasar dari segitiga yang melambangkan hubungan antara sesama manusia.

Sementara garis vertikal yang merupakan kaki segitiga, melambangkan hubungan manusia dengan sang pencipta.

Rumah adat Tambi
Rumah adat Tambi

Pada bagian atap rumah atau pada ruangan utama rumah adat di Indonesia ini, biasanya terdapat sebuah tanduk kerbau atau kepala kerbau yang disebut pebaula.

Selain pebaula, keunikan lain dari rumah tradisional Tambi adalah adanya corak berbentuk ayam, kerbau, dan babi yang konon melambangkan kesejahteraan juga kesuburan.

Bedasarkan catatan laman Kebudayaan Kemdikbud, Rumah Tambi digunakan sebagai tempat tinggal. Tetapi karena ukurannya tidak terlalu besar mereka pun memiliki dua bangunan tambahan yang berada di luar rumah.

Dua bangunan pendampingan itu terkenal dengan nama Bohu dan Pointua yang memiliki fungsi masing-masing. Misalnya Bohu merupakan bangunan yang mempunyai dua lantai dan memiliki ruangan seperti pada rumah utama.

Pada lantai satu digunakan untuk menerima tamu, sedangkan pada lantai dua digunakan untuk tempat menyimpan padi. Sedangkan Pointua digunakan sebagai tempat menumbuk padi.

Dalam buku Arsitektur Benteng dan Rumah Adat di Sulawesi (2018) karya Kasdar, diketahui bahwa belakangan Rumah Adat Tambi mulai dibuatkan ornamen pada bagian pintu sebagai hiasan.

Motifnya banyak terinspirasi dari lingkungan, misalnya binatang atau tumbuh-tumbuhan. Terlihat pada bagian luar atap yang terdapat tanduk kerbau atau ada juga ukiran berbentuk kepala ayam atau babi.

“Dahulu dipasangnya tanduk kerbau pada atas atap tersebut melambangkan bahwa pemilik rumah pernah berburu,” jelas Kasdar dalam penelitiannya.

Tetapi Kasdar menemukan fakta baru bahwa simbol-simbol ini memiliki makna tersendiri, misalnya kerbau melambangkan kekayaan, hati merupakan simbol kesejahteraan dan kesuburan.

Hal yang menarik juga adalah pendirian rumah adat ini juga tidak lepas dari beberapa kepercayaan, misalnya corak berbentuk hewan ini konon untuk menangkal gangguan roh jahat.

Rumah Adat Tambi juga menampilkan sisi spiritual masyarakat, misalnya rumah Tambi dominan berbentuk segitiga, di mana bentuk ini melambangkan sisi horisontal dan vertikal.

Rumah adat Tambi
Rumah adat Tambi

Pada sisi horizontal, memperlihatkan hubungan antara manusia, sedangkan pada sisi vertikal melambangkan hubungan manusia dengan sang pencipta.

Rumah Adat Tambi juga sekarang menjadi simbol dari Provinsi Sulteng sehingga beberapa kantor pemerintah mengadopsi gaya arsitekturnya. Walau untuk penggunaan ruangannya lebih dari satu.

Rifai Mardin, dosen teknik arsitektur dari Universitas Tadulako menyebutkan rumah adat berasitektur panggung ini juga tahan gempa. Selain itu juga tahan dengan banjir dan tsunami.

Tentunya dengan catatan tingginya tidak setinggi badan bangunan atau di atas dua meter dari lantai dasar rumah. Rumah juga akan mampu bertahan bila gelombang air tidak membawa debris yang besar.

Rifai pun yakin masyarakat zaman dahulu telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi tempat tinggalnya. Apalagi masyarakat dahulu sudah biasa hidup dengan gempa, hal inilah yang terlihat dari budaya lokal setempat, khususnya dalam rancang bangunan.

Hal ini karena material yang digunakan memengaruhi kekuatan struktur suatu bangunan terhadap guncangan. Misalnya dalam bangunan tradisional biasa menggunakan kayu yang mempunyai daya lentur lebih baik daripada beton. Material yang digunakan pun merupakan kayu pilihan yaitu dengan kualitas terbaik.

Continue Reading

Trending