Connect with us

Culture

Tradisi Mengerikan Suku Naulu: Penggal Kepala untuk Simbol Mas Kawin

Published

on

Tradisi suku Naulu. (Istimewa)

Suku Naulu yang ada di Maluku dikenal memiliki tradisi penggal kepala manusia.Tradisi penggal kepala manusia merupakan tanda kedewasaan pria suku Naulu.

Bahkan kepala manusia juga biasa dijadikan mas kawin bagi anggota suku yang akan menikah. Suku ini tinggal di pedalaman yang lokasinya jauh dari pusat kota.

Suku Naulu sendiri hidup di Dusun Nuanea dan Dusun Sepa, Maluku atau tepatnya di sekitar pesisir selatan Pulau Seram.

Baca juga: Indo Defence 2022 Jadi Ajang PT Pindad Pamer Senjata Baru

Suku Naulu dikenal memiliki beberapa tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun. Termasuk pemenggalan kepala, atau disebut pataheri.

Ritual tersebut diperuntukkan untuk laki-laki yang sudah dianggap dewasa. Selama ritual yang disebut dengan Cidaku, laki-laki yang berhasil berburu kepala manusia untuk dijadikan mas kawin itu kemudian diberi kaeng merah di kepalanya.

Ritual pemenggalan kepala itu, akan dimulai dengan puasa satu hari. Mulai dari pukul tiga dini hari, hingga enam sore. Selama puasa, kaeng berang diikat di leher karena diyakini akan menjauhkan diri dari gangguan setan.

Setelah puasa selesai, mereka akan berkumpul di numa onate atau rumah utama, dan diberikan pakaian adat karanunu onate.

Selanjutnya, mereka akan didampingi oleh seorang kapitan, yakni seorang panglima perang menuju rumah orangtua kapitan untuk memohon doa restu, agar diberikan keberanian dan terhindar dari bahaya.

Baca Juga :  Kerusakan Mangrove & Gambut Ancam Hilangnya Beragam Masyarakat Budaya di Indonesia

Usai berdoa, lalu mereka kembali ke numa onate dan mengambil perlengkapan seperti parang, panah, tombak, dan satu tas berisi sirih pinang. Mereka akan mencari manusia untuk dipenggal kepalanya.

Tradisi berburu kepala manusia dianggap memiliki arti penting.Sebab, memberikan kepala seseorang merupakan salah satu bentuk persembahan untuk nenek moyang. Selain itu, suku yang mendiami Dusun Sepa dan Dusun Nuanea juga percaya bila tradisi ini membuatnya terhindar dari musibah atau bahaya.

Serta menjadi kebanggaan tersendiri dan sebagai simbol kekuasaan.Maka tak heran, selain untuk persembahan kepada leluhur, kepala manusia yang memiliki arti penting juga dijadikan sebagai mas kawin hingga saat mendirikan rumah.Dahulu, raja dari Suku Naulu juga menggunakan cara ini untuk menentukan menantu laki-laki.

Ya, para pelamar anak gadis raja harus membawa kepala manusia untuk mas kawin sebagai bukti kejantanannya.Persembahan kepala manusia juga dilakukan saat penduduk mengadakan ritual Pantheri, yakni sebuah ritual perayaan untuk laki-laki yang sudah beranjak dewasa.Jadi, anak laki-laki yang beranjak dewasa tersebut harus menyerahkan satu kepala yang sudah terpenggal sebagai bukti bahwa ia sudah dewasa.

Baca Juga :  Makna Dibalik Tradisi Palang Pintu Betawi

Setelah remaja itu berhasil memenggal kepala seseorang, mereka akan mengikat kepalanya menggunakan ikatan kepala berwarna merah. Ikat kepala ini sebagai simbol kedewasaan.Beberapa sumber menyatakan jika tradisi ini hilang di awal tahun 1900-an.

Ada juga yang mengatakan tradisi masih dilakukan hingga tahun 1940-an.Pada 2005 silam juga pernah ditemukan dua mayat tanpa kepala di Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah. Saat ditemukan mayat tersebut dalam keadaan sudah terpotong-potong.

Hasil penyidikan menunjukkan jika mayat tersebut dibunuh oleh Suku Naulu, dengan marga Sounawe. Kepala itu digunakan untuk persembahan kepada leluhur, karena mereka ingin melakukan ritual untuk memperbaiki rumah adat.

Tradisi Suku Naulu. (Istimewa)

Akhirnya, pelaku mendapat hukuman mati dan dipenjara seumur hidup. Pemerintah pun turun tangan untuk melakukan sosialisasi kepada semua pihak tentang adanya hukuman tegas bagi tindakan pembunuhan.Dan kini tradisi memenggal kepala sudah dihapuskan.

Namun, untuk ritual pengangkatan pria yang beranjak dewasa masih tetap berlangsung, tapi sesajennya diganti dengan burung kuskus.

Tradisi lainnya yang masih bertahan adalah pengucilan wanita yang pertama haid dan akan melahirkan. Suku Naulu menyediakan sebuah bilik berukuran 2×2 meter yang bernama Tikusune. Bilik ini berfungsi sebagai tempat mengasingkan diri bagi kaum Hawa yang akan melahirkan atau mendapat menstruasi pertamanya.

Baca Juga :  Pali-pali, Menu Sakral Kesultanan Ternate

Biasanya, wanita yang akan melahirkan dan mendapat haid pertama akan secara otomatis lengasingkan diri dari keluarganya dan menempati bilik Tikusune hingga selesai masa haid dan telah melahirkan. Setelah masa tersebut dilewati, kemudian mereka akan kembali ke rumah masing-masing dan keluarganya mengadakan pesta bagi kembalinya mereka ke keluarga.

Dalam hal kepercayaan, Suku Naulu mempercayai adanya pencipta yang disebut Upu Kuanahatana. Sistem kepercayaan ini sebenarnya merupakan bagian dari animisme yang percaya pada kekuatan-kekuatan roh nenek moyang.

Mereka percaya bahwa roh-roh ini punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia, sehingga layak untuk mereka sembah dan puja. Namun, dalam kependudukan Indonesia yang modern, kepercayaan Naulu ini dianggap sebagai Agama Hindu.

Baca juga: Jokowi Saksikan Peragaan Prajurit TNI di Indo Defence 2022

Suku Naulu adalah sepenggal contoh dari sekian ribu suku yang terdapat di Nusantara. Kebudayaan ini merupakan sebuah kekayaan Indonesia yang harus dijaga bersama. Selain dijaga, kebudayaan ini harus tetap dikembangkan sehingga tetap mampu bertahan di antara terpaan budaya modern yang sangat deras. Paling tidak, generasi masa depan tetap mengenal adanya satu suku asli Maluku yang bernama Naulu.

Advertisement

Culture

5 Jenis Pempek, Santapan Wajib Khas Palembang

Published

on

Pempek makanan Khas Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Foto: Istimewa.

Pempek makanan Khas Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Foto: depositphotos

mycity.co.id – Ada sebuah pribahasa Indonesia yang mengatakan ‘Rasanya seperti belum makan, jika belum makan nasi’. Pribahasa ini sangat umum ditemukan di Indonesia, sama halnya seperti orang Sumatra Selatan (Palembang), ‘Rasanya kurang afdol, jika belum makan pempek dalam sehari.’

Begitulah kebiasaan orang-orang Palembang, rasanya tak lengkap kalau lidah belum menyapa makanan olahan ikan satu itu. Biasanya pempek disajikan bersama mie telur, irisan timun dan siraman cuka atau orang palembang menyebutnya dengan cuko (campuran air gula merah, asam jawa, bawang putih, ebi, dan cabe rawit yang dimasak bersama).

Sejarah munculnya pempek bermula sejak pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Baharuddin II. Nama makanan ini awalnya disebut dengan ‘Kalesan’ yang tidak lain adalah alat yang digunakan dalam membuat pempek.

Apek, seorang pria keturunan Tionghoa adalah pecipta makanan satu ini. Apek yang tinggal di pinggiran Sungai Musi melihat potensi ikan yang melimpah, hingga ia pun memiliki ide untuk memanfaatkan keadaan tersebut  dengan mengolahnya menjadi makanan selain digulai dan digoreng. Maka, jadilah makanan percampuran tepung dan ikan yang dihaluskan.

Baca Juga :  Lompat Batu Nias, Menyimpan 3 Nilai Peradaban Manusia

Ia berkeliling menjajalkan makanan yang ia jual kepada masyarakat. Berkat kepopuleran makanan tersebut. Akhirnya, nama empek-empek atau Pekpek tercipta, berasal dari namanya. Ketika ia berkeliling, orang-orang pada saat itu selalu memanggilnya, “Pek.. Pek.. mampir sini”.

Dulunya pembuatan empek-empek menggunakan ikan belida, namun karena jenis ikan itu semakin langka dan harganya mahal.  Para penjual pempek menyiasatkan untuk mengganti dengan jenis ikan yang lebih lainnya, seperti tenggiri, lele dan lain-lain.

Umumnya pempek yang dijual di luar palembang hanya ada empek-empek kapal selam dan empek-empek lenjer saja. nah, ini dia beberapa jenis empek-empek:

Pempek Adaan

Jenis pekpek adaan yang berbentuk bola seperti baso ikan. Foto: Istimewa.

Jenis pekpek adaan yang berbentuk bola seperti baso ikan. 

Pempek adaan ini berbentuk bulat seperti bola dan terlihat seperti bakso ikan. Cara membuat pempek ini bisa langsung digoreng tanpa direbus terlebih dahulu. Rasanya lebih gurih dan aromanya wangi. Perbedaan lain dari pempek adaan dengan pempek lainnya ialah penggunaan santan di dalam adonan. Ini membuat pempek adaan lebih kaya rasa.

Baca Juga :  Kerusakan Mangrove & Gambut Ancam Hilangnya Beragam Masyarakat Budaya di Indonesia

Pempek kulit krispi

Jenis pekpek kulit krispi yang renyah. Foto: Istimewa.

Jenis pekpek kulit krispi yang renyah.

Bagi Cityzen yang menyukai tekstur renyahnya pekpek, maka jenis pempek satu ini adalah pilihan yang tepat. Pempek kulit biasanya menggunakan campuran tepung dan adonan kulit ikan. Ikan yang paling sering digunakan adalah ikan tenggiri. Pekpek kulit tidak melalui proses rebus melainkan langsung digoreng. Pempek kulit ‘krispi’ dibuat dari daging ikan bagian kulit yang dibuat pipih dan digoreng hingga garing.

Pempek keriting

Jenis pempek keriting yang terlihat seperti otak. Foto: Istimewa.

Jenis pempek keriting yang terlihat seperti otak.

Cara membuat pempek keriting lebih rumit daripada jenis pekpek yang lain, karena harus menggunakan pirikan. Pirikan merupakan alat saringan yang lubang-lubangnya lebih besar daripada saringan pada umumnya, tetapi punya pegangan pada kedua sisinya. Dapat juga digunakan untuk menghaluskan ikan untuk pempek maupun tekwan. Dari segi bentuk, pempek Keriting memiliki bentuk seperti otak. Cara menyajikannya pun bisa digoreng atau hanya direbus, tergantung selera pemilik lidah.

Baca Juga :  Dombreng, Tradisi Indonesia untuk Permalukan Koruptor

Pempek kapa selam

Jenis pempek kapal selam yang di dalamnya diisi dengan telur. Foto: Istimewa.

Jenis pempek kapal selam yang di dalamnya diisi dengan telur. 

Jenis pekpek satu ini paling terkenal, karena sering dijumpai di beberapa pedagang yang membawa grobak. Pempek kapal selam dibuat sedemikian rupa, menyerupai bentuk badan kapal. Pendapat lain menjelaskan bahwa pempek kapal selam didapatkan dari proses merebus pempek. Pembutan pekpek satu ini hanyalah adonan tepung dan ikan yang dibuat kalis, lalu dimasukan telur ke dalamnya.

Pempek lenjer

Jenis pempek lenjer merupakan rasa original dari pempek. Foto: Istimewa.

Jenis pempek lenjer merupakan rasa original dari pempek. 

Bersamaan dengan pekpek kapal selam, pekpek ini cukup populer di pasaran. Jenis pekpek sudah ada sejak pertama kali diciptakan dan merupakan rasa original dari pekpek, karena hanya adonan tepung terigu, kanji, ikan yang dicampur menjadi satu dan tidak ada isian apapun.

Nama lenjer tentu saja berasal dari bahasa Palembang “lenjeran” yang artinya bentuknya yang panjang dan menyerupai silinder. Rasa dari pekpek lenjer ini gurih dan terasa ikan yang khas.

Continue Reading

Culture

Tradisi Unik yang Hanya Ada di Indonesia

Published

on

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang punya banyak sekali budaya, enis,suku dan juga kepercayaan. Itu sebabnya dari Sabang sampai Merauke ada banyak sekali tradisi unik yang berbeda-beda dari setiap daerahnya.

Nah, dari beberapa tradisi-tradisi tersebut masih dijaga dan dilakukan sampai sekarang, hingga sampai sekarang kita masih bisa melihat budaya-dan tradisi yang ada di masyarakat. Berikut beberapa tradisi unik di Indonesia yang dirangkum mycity.co.id dari berbagai laman sumber.

1. Tradisi Potong Jari – Papua

Tradisi potong jari

Tradisi potong jari

Sebagai ungkapan kehilangan dan rasa duka Suku Dani di Papua biasanya akan menggelar tradisi potong jari atau dikenal sebagai tradisi Iki Palek. Tradisi ini dilakukan oleh anggota keluarga dari seseorang yang meninggal tersebut.

Adapun jumlah jari yang dipotong berdasarkan jumlah anggota keluarga meninggal. Jari memiliki arti yang sangat mendalam bagi Suku Dani karena jari menjadi simbol kerukunan dan kesatuan. Meski begitu, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan.

2. Titi/Menato – Mentawai

Baca Juga :  Seba Baduy, Tradisi Suku Baduy Syukuri Hasil Bumi

Titi Mentawai

Titi Mentawai

Selain punya tradisi meruncingkan gigi, suku Mentawai juga punya tradisi unik lain, yaitu Titi atau menato tubuhnya. Untuk melakukan tradisi ini, masyarakat setempat harus melakukan ritual upacara terlebih dahulu. Selain itu, motif tato yang digunakan pun nggak bisa sembarangan. Nantinya tato akan menunjukkan identitas sekaligus jati diri dari Suku Mentawai itu sendiri.

3. Sigajang Laleng Lipa – Sulawesi Selatan

Sigajang Lale Lipa

Sigajang Lale Lipa

Sigajang Laleng Lipa merupakan tradisi yang dilakukan oleh Suku Bugis. Bisa dikatakan, Sigajang Laleng Lipa salah satu tradisi ekstrem sekaligus mengerikan. Bagaimana tidak, dalam pelaksanaanya tradisi ini selalu memakan korban jiwa.  Saat menyelesaikan masalah, biasanya akan dilakukan musyawarah terlebih dahulu. Apabila cara tersebut nggak menemui titik terang, maka tradisi ini sebagai jalan terakhir.

Dalam tradisi ini, biasanya kedua belah pihak yang berselisih akan masuk ke dalam sarung. Keduanya masuk ke dalam sarung tanpa tangan kosong alias akan dibekali sebilah badik. Ketika badik telah dikeluarkan, maka pantang diselipkan lagi dipinggang sebelum menghujan tubuh lawan.

Baca Juga :  Mitos Nasi Kangkang, Cerita Masyarakat Melayu

4. Waruga – Sulawesi Utara

Waruga Sulawesi Utara

Waruga Sulawesi Utara

Berasal dari kata waru yang berarti rumah dan ruga yang berarti badan atau raga, Waruga bisa dimaknai sebagai “rumah di mana raga akan kembali ke surga”. Tradisi Waruga dilakukan oleh Suku Minahasa di Sulawesi Utara.

Sejarah menjadi titik awal dari tradisi ini, di mana sejak zaman dahulu suku Minahasa memercayai jika roh memiliki kekuatan. Oleh karenanya, masyarakat setempat membuat kuburan khusus. Penguburan jenazah akan dilakukan dalam sebuah kotak batu berongga yang kemudian akan ditutup oleh batu berbentuk segitiga.

5. Kebo-Keboan – Banyuwangi

Kebo-Keboan Banyuwangi

Kebo-Keboan Banyuwangi : detik.com

Kebo-keboan digelar untuk memohon kesuburan sawah dan hasil panen yang melimpah. Tradisi ini dijalankan masyarakat Banyuwangi, khususnya Suku Osing. Setiap tahunnya, kamu bisa melihat Kebo-keboan di Desa Alasmalang dan Aliyan pada 10 Muharram atau Suro.

Baca Juga :  Motif Batik Betawi, Miniatur Ibu Kota Era Lampau

Acara dimulai dengan mengarak orang yang kerasukan roh gaib untuk dibawa ke Rumah Kebudayaan Kebo-keboan. Terakhir, akan ada Dewi Kesuburan dan Dewi Sri yang menaburkan benih padi kepada para petani dan kebo.

6. Tatung – Kalimantan Barat

Tatung Kalimantan Barat

Tatung Kalimantan Barat

Layaknya debus, kamu yang belum terbiasa akan ngeri melihat tradisi Tatung di Singkawang. Dalam meramaikan Cap Go Meh Singkawang, ada ratusan orang yang melakukan tradisi tersebut. Tatung sendiri punya makna roh dewa dari bahasa Hakka.

Dalam menjaga kesaktiannya, mereka diharuskan melakukan beberapa ritual. Salah satunya puasa makan daging setiap tanggal satu dan 15 setiap bulannya dalam penanggalan Tiongkok.

7. Batombe – Sumatera Barat

Batombe Sumatra Barat

Batombe Sumatra Barat

Pantun sangat erat kaitannya dengan budaya Betawi. Tapi bukan hanya masyarakat Betawi saja yang punya tradisi ini, melainkan juga masyarakat Sumatera Barat. Tradisi tersebut berkembang pada masyarakat Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Sama halnya seperti tradisi pantun di daerah lain, tradisi yang dikenal sebagai Batombe ini juga merupakan seni berbalas pantun dengan iringan alat musik rabab.

Continue Reading

Culture

MUI Jember Keluarkan Fatwa Haram Joged Pargoy

Published

on

MUI keluarkan fatwa joget pargoy haram. Foto: kobaran

MUI keluarkan fatwa joget pargoy haram. Foto: kobaran

mycity.co.id – Joged pargoy cukup ramai dan terkenal semenjak aplikasi TikTok diminati generasi milenial dan generasi Z masa kini. Namun, karena dianggap erotis dan dinilai menimbulkan syahwat lawan jenis, membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember, Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram terkait hal ini.

Isi fatwa haram ini berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada 19 November 2022 kemarin. Dalam rapat tersebut, MUI Jember menjelaskan alasan joged pargoy diharamkan karena dinilai sebagai gerakan erotis yang memamerkan aurat tubuh.

Baca Juga :  Motif Batik Betawi, Miniatur Ibu Kota Era Lampau

Selain itu, MUI Jember menganggap bahwa joged pargoy tidak mencerminkan seorang muslim yang berakhlak. Yang mana hal tersebut dianggap menodai nilai-nilai kesopanan, moral dan adat istiadat khususnya di Jember.

Berkut ini, mycity.co.id mengutip dari idntimes, isi fatwa MUI Jember terkait joged pargoy.

Baca Juga :  Begini Cara Membedakan Kucing Jantan & Betina

1. Mengajak umat Islam kabupaten Jember untuk mempertahankan kabupaten Jember sabagi kabupaten religius.
2. Memperlihatkan dan mempertahankan niali-nilai religius dalam setiap kegiatan sehari-hari.
3. Hukum joged pargoy adalah haram karena mengandung gerakan erotis, mempertontonkan aurat dan menimbulkan syahwat lawan jenis.
4. Joged pargoy tidak mencerminkan muslim yang berakhlak dan menodai nilai-nilai kesopanan, moral dan adat istiadat, khususnya yang berlaku di kabupaten Jember.
5. Mengimbau kepada pemerintah, pengambil kebijakan dan tokoh masyarakat untuk turut serta membantu melarang kegiatan joged pargoy.
6. Mengimbau para tokoh agama dan masyarakat untuk membimbing dan mengarahkan masyarakat pada kegiatan-kegiatan positif dan berakhlakul karimah.

Baca Juga :  Seba Baduy, Tradisi Suku Baduy Syukuri Hasil Bumi

Continue Reading
Advertisement

Trending