Connect with us

Pojok

Tradisi Megibung Bali: Campuran Tradisi dalam Sambut Ramadan

Published

on

ilustrasi Megibung

Tradisi megibung merupakan kebiasaan masyarakat etnik Bali. Megibung adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk makan bersama dan saling berdiskusi dan berbagi pendapat.

Tradisi Megibung dimaknai sebagai suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat atau sebagian orang untuk duduk bersama saling berbagi satu sama lain terutama dalam hal makanan.

Awal mula tradisi ini diprakarsai oleh masyarakat Karangasem yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata. Keunikan dari tradisi ini menjadikan icon identitas Kabupaten Karangasem yang beribukota Amplapura.

Eksistensi Megibung sudah ada sejak jaman dahulu kala hingga saat ini. Potret pelaksanaan kegiatan megibung bisa dijumpai pada saat proses Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat di Karangasem diantaranya seperti Upacara Dewa Yadnya, misalnya Odalan, Pitra Yadnya yang memiliki Upacara Ngaben, Resi Yadnya, dan Manusia Yadnya seperti Metatah (potong gigi) dan Pawiwahan.

Proses kegiatan tersebut dilaksanakan secara individu (yang punya acara) atau masyarakat. Pelaksana kegiatan tradisi megibung memberikan undangan kepada sanak saudara untuk menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan yang diadakan. Sehingga harapannya, proses upacara tersebut bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan.

Makna singkat dari megibung adalah makan bersama dengan tujuan kebersamaan sanak saudara. Peserta yang melaksanakan tradisi megibung ini terdiri dari 6-8 orang yang dibagi menjadi kelas gender laki-laki dan perempuan dengan duduk bersila.

Baca Juga:

  1. Tradisi Nyorog, Simbol Hormat Orang Betawi ke Orang Tua Sebelum Melakoni Ibadah Puasa
  2. Mengenal Mohibadaa, Tradisi Unik Lumuri Wajah dengan Rempah untuk Sambut Ramadan
  3. Inilah 5 Makanan Unik dari Berbagai Daerah yang Hanya Ada di Bulan Ramadan

Makanan yang disajikan oleh pelaksana tradisi megibung diantaranya adalah nasi yang ditaruh pada satu wadah besar, lauk sebagai pelengkap nasi (sate, lawar, pepesan ayam atau babi, lawar kowoh) yang ditempatkan pada satu wadah kecil.

Adapun norma yang dijalankan pada tradisi megibung adalah pada saat makan tidak boleh ada yang terjatuh di dalam wadah nasi atau lauk serta jika terdapat salah satu peserta megibung sudah merasa kenyang.

Mitos dan Kepercayaan

Tradisi megibung pada etnik Bali tidak lepas dari pengaruh yang ditanamkan Datu Telu Pesanakan. Tiga orang raja dinasti ke VII Kerajaan karang Asem yakni I Gusti Anglurah Wayan Karang Asem, I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem dan senapati I Gusti Anglurah Ketut Karangasem.

Dimulai pada abad ke-17 saat Arya Banjar Getas yang diketahui telah memperdaya Raja Poh Jenggi (Pejanggik) yakni Pemban Meraja Kesuma. Raja Pejanggik yang jatuh cinta pada putri Raja Kentawang, Dene Lala Bini Junti dan mengutus Arya Banjar Getas untuk melamar, namun dengan muslihat mengatakan putri itu berwajah buruk maka ia dapat mempersunting Bini Junti.

Namun, setelah diketahui Raja, bahwasanya Bini Junti sangat cantik akhirnya Banjar Getas diutus untuk menghadap Raja Klungkung sebagai duta perdamaian. Sepeningal Banjar Getas, istrinya diperkosa oleh Raja.

Tentu kejadian ini dilaporkan oleh istrinya kepada Banjar Getas yang sangat marah dan melakukan pemberontakan. Namun, kekuatan Banjar Getas tak seberapa dibandingkan Pemban Meraja Kusuma, sehingga adiknya Arya Kertawaksa dititah meminta bantuan kepada Klungkung.

 Alhasil, Klungkung dalam keadaan kacau akibat kudeta I Gusti Agung Maruti. Ia pun menuju Puri Karangasem yang dipertintah Datu Telu Pesanakan.

Singkat cerita, Senapati I Gusti Anglurah Ketut Karangasem bersama pasukannya membantu Arya Banjar Getas dan melakukan pasobaya. Tempat mereka mepagut atau bertemu yaitu di Pura Payung Kober sehingga daerah itu diberi nama Pagutan.

Pada saat itu Banjar Getas berikrar akan berjuang mempertahankan haknya. Setelah selesai berikrar, pasukan Karang Asem yang jumlahnya ribuan itu, menuju ke Gunung Pengsong. Melakukan persembahyangan mohon keselamatan. Dalam pasukan tersebut ada juga seorang Pedanda Siwa Ida Pedanda Gde Wayan Sebali dari Gria Pendem yang sampai sekarang menurunkan Griye Pagesangan Lombok.

Pun ikut serta seorang tokoh bernama Dene Mang Poleng yang menurunkan keluarga di Tragtag Lingsar. Serta Ki Bendesa Seraya dengan pasukannya. Mereka tadinya berlabuh di Padang Reaq. Pasukan yang hanya 40 orang itu, nampak ribuan karena mukjizat daun kepel yang lebar berguguran dan berubah menjadi kupu-kupu kuning yang terbang memenuhi angkasa. Dibantu pula pasukan Arya Banjar Getas.

Dari Gunung Pengsong menuju ke Lombok Timur. Pada saat istirahat makan, I Gusti Anglurah Ktut Karangasem mengeluarkan peraturan tentang megibung. Satu gibungan terdiri dari 8 orang disebut satu sela. Sehingga, ada sekitar 5 sela. Disini pemimpin dapat menghitung jumlah pasukannya dengan mudah.

Kedua, setiap gibungan terdapat satu ceretan, yang digunakan secara bergilir dan tak boleh minum menyentuh ujung ceretan.Saat makan, nasi harus dikepal, sehingga tak jatuh di area gibungan hal ini mengingatkan daun kepel yang telah memberi kemukjizatan selain sebagai simbol kepalan tangan sebagi persatuan.

Peserta tak boleh memilih tempat. Mereka makan campur, hal ini sebagai pertanda leburnya catur wangsa simbolis demokratis sangat menghargai hak asasi masing-masing. Duduk bersila miring, simbol perputaran buana. Mulai makan dan berhenti mengikuti arahan komando pepara. Hal ini menyimbolkan kedispilinan yang tinggi.

Sinkretisme dengan Islam

Terdapat penemuan yang menarik di salah satu Kampung Islam Denpasar yaitu Kampung Islam Kepaon. Salah satu tradisi Bali, yaitu Megibung masuk ke tradisi masyarakat Kampung Islam Kepaon.

Tradisi masyarakat Bali tersebut diterima baik oleh masyarakat Kampung Islam. Bahkan sebagai bentuk penanaman kearifan lokal Bali, mereka ikut melaksanakan tradisi Megibung. Mempunyai pemaknaan yang sama yakni makan bersama untuk menciptakan kebersamaan antar masyarakat yang ada di Kampung Islam Kepaon.

 Perbedaan tradisi megibung yang ada di Karangasem (dilakukan oleh umat hindu) dengan di Kepaon (dilakukan oleh Umat Islam) hanya makanan yang disajikan. Di Kampung Islam Kepaon, Megibung dilaksanakan tiga kali pada saat bulan Ramadhan.

Yakni hari ke 10 , hari ke 20, dan hari ke 30 puasa Ramadhan. Proses memasak makanan tersebut dilakukan oleh ibu-ibu dari masing-masing RT di Kampung Kepaon dan dilaksanakan secara bergiliran.

Makanan tersebut dijadikan pada satu tempat yang berisi nasi, dan terdapat tempat lain dengan ukuran lebih kecil sebagai tempat sayur lauk pauk seperti masakan ayam-ayaman seperti ayam bumbu ganep, ayam panggang, olahan telur rebus atau telur goreng, dan sayur-sayuran seperti urap atau sayuran berkuah.

Proses pelaksanaan tradisi megibung di Kampung Islam Kepaon dilakukan di Masjid Al Muhajirin dengan dihadiri oleh jamaah masjid. Tradisi megibung dimulai dengan buka bersama makan-makanan ringan seperti Es Kolak, Jajan tradisional.

Setelah buka puasa, mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat maghrib berjamaah, kelompok Jemaah masjid dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengelilingi tempat baki yang berisi nasi tumpeng beserta lauk pauknya.

Salah satu tokoh agama islam yang ada di Kampung Kepaon membacakan doa sampai selesai. Setelah selesai membaca doa, tokoh agama akhirnya mempersilakan para jamaah untuk melaksanakan tradisi megibung.

Kebersamaan yang ada pada tradisi megibung merupakan keselarasan interpretasi dari Umat Hindu dan Umat Islam. Pencampuran tradisi ini berjalan tanpa ada perselisihan atas kepemilikan kebudayaan masing-masing. Berada dalam satu ruang lingkup ke-Bali-an, masyarakat kampung Islam Kepaon tidak meninggalkan adat budaya dan tradisi Bali sekalipun dalam identitas islam.

Inspirasi

The Sage of Monticello, Kisah Anak Ajaib dari Perkebunan Virginia

Published

on

lukisan thomas jefferson

It is the strong in body who are both the strong and free in mind ~ Peter Jefferson”

Washington, DC, Musim Dingin 1801. Terik cahaya matahari menyilaukan membangunkan Thomas Jefferson dari tidur pulasnya. Spontan Thomas Jefferson menganyunkan kakinya yang panjang dari kasurnya menuju baskom berisi air.

Bagi Thomas Jefferson mendinginkan kaki merupakan upaya menjaga kesehatan, jadi aktivitas semacam itu telah menjadi kebiasaannya seumur hidupnya.

Saat masih berkebun di perkebunan dekat Blue Ridge Virginia, setiap pagi Thomas Jefferson membawa ember logam untuk ditaruh di lantai sebelah ceruk di mana ia tidur.

Kini, Thomas Jefferson berusia hampir lima puluh delapan tahun. Rambut hitamnya mulai memutih, kulit berbintik-bintik kemerahan di masa mudanya yang selalu rentan terhadap matahari kini mengernyit sedikit. 

Sorot matanya tajam namun sulit dipahami, ada yang menggambarkan bola matanya berwarna biru meskipun ada pula yang berkata bola matanya berwarna cokelat. Akan tetapi semua sepakat, jika Thomas Jefferson memiliki rahang kuat dengan gigi yang besar.

John Meacham dalam bukunya Thomas Jefferson; The Art of Power menulis, sejak awal Februari 1801, ia terlibat dalam kekacauan dan berupaya menenangkannya dengan merendam kakinya pada baskom berisi air.

Thomas Jefferson terjerumus dalam kegundahan menunggu hasil pemilihan umum di mana ia telah menantang John Adams dan akan mengalahkannya pada pemungutan suara.

Thomas Jefferson lahir pada 13 April 1743 di area perkebunan Shawell yang terletak tepat di luar Charlottesville, Virginia. Thomas Jefferson adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara.

Ibunya, Jane Randolph Jefferson berasal dari keluarga yang mengklaim masih keturunan dari Inggris-Skotlandia sedangkan ayahnya, Peter Jefferson, merupakan seorang petani sukses, surveyor terampil dan kartografer handal yang bisa menghasilkan peta pertama Provinsi Virginia dengan akurat.

Thomas Jefferson senang bermain-main di hutan. Ia juga rutin berlatih biola dan gemar membaca. Pendidikan formalnya dimulai pada usia sembilan tahun, ia mempelajari bahasa Yunani dan Latin di sebuah sekolah swasta lokal yang dijalankan oleh Pendeta William Douglas. Saat usianya menginjak 14 tahun, ia belajar bahasa klasik, sastra dan matematika dari Pendeta James Meury.

Sejak tahun 1760, Thomas Jefferson mendalami filsafat, sastra dan sejarah di College of William and Mary di Williamsburg, ibukota Provinsi Virginia.

Thomas Jefferson harus menelan mentah-mentah perasaan kecewanya, ternyata disana hanya berisi pelajar-pelajar penyuka pertaruhan pacuan kuda, terobsesi hubungan percintaan dan gemar menghabiskan waktu bermain kartu. 

Baca Juga:

  1. Ambang Kehancuran Meksiko
  2. 5 Fakta Unik Thailand Izinkan Warga Tanam Ganja di Rumah
  3. Anak Menangi Pilpres Filipina, Inilah Keluarga Marcos yang Penuh Kontroversial

Setamat belajar College of William and Mary Thomas Jefferson menemui pakar-pakar keilmuan seperti Profesor William dan Letnan Gubernur Francis Fauquier.

Ia juga belajar ilmu hukum dari George Wythe, seorang pengacara terkemuka. Selama lima tahun belajar dengan George Wythe, Thomas Jefferson langsung menjelma menjadi salah satu pengaca paling terpelajar di Amerika.

Selama menekuni profesi sebagai pengacara, Thomas Jefferson hampir memenangkan semua kasusnya.

Selama itu pula, Thomas Jefferson mengenal dan mencintai janda terkaya di Virginia, Martha Wayles Skelton. Akhirnya, mereka menikah pada tanggal 1 Januari 1772 dan dikaruniai enam anak.

Thomas Jefferson pernah membacakan catatan-catatan tentang cita-citanya kepada temannya, Will Fleming. Thomas Jefferson dan Will Fleming merupakan pemuda yang berkemauan keras dan selalu optimis terhadap masa depannya.

Jefferson dan Fleming akan membeli perkebunan, menikah dengan perempuan setempat, mendirikan rumah bersebelahan dan bekerja di pengadilan yang sama.

Thomas Jefferson menikahi Rebecca Burwell sedangkan Will Fleming menikahi Sukey Potter. Thomas Jefferson terus-menerus berusaha mewujudkan rencana masa depan yang indah meskipun sejak remaja telah kehilangan ayahnya, Peter Jefferson.

Thomas Jefferson tumbuh dewasa dengan pandangan dunia sebagai bangsawan terpelajar. Lorri Glover dalam Founders as Fathers; the Private Lives And Politics of the American Revolutaniries menggambarkan bahwa Thomas Jefferson menjaga citra keluarganya sekaligus menjamin reputasinya dengan menemukan pendamping hidup yang tepat.

Rebecca Burwell adalah pilihan yang tepat. Gadis berparas jelita, cerdas dan cantik ini diasuh oleh pamannya, William Nelson, seorang politisi kaya dari keluarga terpandang meskipun pada akhirnya mereka bercerai.

Karir Politik Thomas Jefferson

Dilansir dari biography.com, Thomas Jefferson merupakan salah satu pihak oposisi radikal terhadap kebijakan Stamp Act yang dikomandoi oleh Patrick Henry dan George Washington.

Pada tahun 1774, Thomas Jefferson menulis Summary View of the Rights of British America sebagai penegasan atas sikapnya. Pada tahun 1775, ia menghadiri Kongres Kontinental Kedua dan ditunjuk oleh George Washington sebagai komandan.

Setahun kemudian, Kongres menunjuk Thomas Jefferson, John Adams, Benjamin Franklin, Roger Sherman dan Robert Livingston untuk menyusun Deklarasi Kemerdekaan.

Thomas Jefferson adalah penulis draft pertama yang berisi wasiat paling indah life, liberty, and the pursuit of happiness

Setelah menyusun Deklarasi Kemerdekaan, Thomas Jefferson kembali ke Virginia untuk mengisi jabatan sebagai anggota dari Virginia House of Delegates (1776-1779).

Thomas Jefferson merevisi undang-undang Virginia agar bisa selaras dengan cita-cita Amerika yang telah digariskan dalam Deklarasi Kemerdekaan.

Pada tahun 1777, Thomas Jefferson menulis Virginia Statuta yang bertujuan untuk melindungi kebebasan beragama masing-masing individu sekaligus mengatur  pemisahan gereja dan negara.

Dokumen itu merupakan prestasi paling membanggakan bagi Thomas Jefferson, meskipun pada akhirnya Virginia Statuta tidak diadopsi sebagai hukum resmi oleh Provinsi Virginia. 

Pada tahun 1797, Partai Republik mengusung Thomas Jefferson sebagai kandidat presiden. John Adams dari Partai Federalis, pesaing politik paling tangguh yang menang tipis atas Thomas Jefferson.

Oleh karena itu, John Adams berhasil menjadi presiden kedua Amerika dan secara otomatis Thomas Jefferson menjadi wakil presidennya.

Perbedaan pemikiran politik antara John Adams dan Thomas Jefferson mengakibatkan John Adams tidak mau berkonsultasi kepada wakil presidennya saat akan mengambil keputusan penting.

Selama empat tahun menjabat sebagai wakil presiden, Thomas Jefferson menulis panduan paling berguna dalam proses legislatif.

Pemilihan umum pada tahun 1804 memberikan Thomas Jefferson kemenangan mudah. Namun, ia masih kesulitan menyingkirkan lawan-lawan politiknya (Federalis) yang banyak menjabat sebagai hakim.

Sebagai presiden Amerika ketiga, Thomas Jefferson berusaha mengakhiri masalah bajak laut yang telah lama mengganggu pengiriman produk – produk Amerika.

Para perompak berasal dari Afrika Utara (Tunisia, Tripoli, Aljazair) yang menguasai perairan Mediterania dibasmi kapal perang Amerika, Louisiana Purchase. 

Tantangan eksternal masih berlanjut, serangkaian penaklukan Napoleon yang spektakuler atas Eropa daratan berujung pemboikotan atas semua jalinan perdagangan.

The Sage of Monticello

Aktivitas ekspor ke Eropa terhambat, perekonomian Amerika pun melemah sehingga memicu ketidakperacayaan dan kebingungan internasional.

Perang tahun 1812 atau Perang Kesalahan Komunikasi menandai berakhirnya masa jabatan Thomas Jefferson. Setelah pulang ke Monticello, pada tanggal 7 Maret 1825 Thomas Jefferson membuka Universitas Virginia, universitas sekuler pertama di Amerika yang menghidupkan kembali korespondensi antara politik, filsafat, sastra dan sejarah.

Krisis keuangan yang melebihi batas gaji pesiunannya mengakibatkan Thomas Jefferson terlilit hutang dan tidak mampu membayarnya sehingga terpaksa menjual seluruh buku di perpustakaan pribadinya.

Koleksi buku-buku Thomas Jefferson kini dapat ditemui di Perpustakaan Kongres. Thomas Jefferson meninggal dunia pada 4 Juli 1860, hanya selisih beberapa jam sebelum John Adams menyusulnya.

Rekan sekaligus musuh politiknya, John Adams dimakamkan bersamanya di tanah Messachuttes.

Kini, Thomas Jefferson tetap dikenal sebagai The Sage of Monticello (cerita sejarah seorang anak ajaib dari perkebunan Monticello, Virginia), gelar atas kecakapan intelektual, kecerdasan (bahkan menguasai berbagai bidang keilmuan termasuk arsitektur, ilmu pemerintahan, literatur klasik, bahasa dan musik) dan kebijaksanaannya.

Continue Reading

Edukasi

Ketua Badan Wakaf Indonesia: Kualitas Bangsa Bergantung pada Guru

Published

on

By

Ketua Badan Wakaf Indonesia Prof. Dr. Ir. K.H. Mohamad Nuh, Dea memberikan sambutannya dalam Parayaaan Milad ke-65 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Jumat (20/5/2020).

Dirinya mengatakan UIN Jakarta telah memberikan dedikasi dan kontribusi yang luar biasa dalam dunia pendidikan Indonesia. Dirinya ingin UIN sebagai lembaga institusi guru bangsa yang bisa memberikan pencerahan bagi masyarakat dan institusi yang lain.

“Kualitas bangsa negara tergantung kualitas warga negara, kualitas warga negara tergantung pada kualitas pendidikan, kualitas pendidikan tergantung pada guru,” tuturnya.

Di mana esensinya dari seorang guru adalah memberikan kecerahan. Ia juga mengatakan UIN bisa mengambil peran ketidamutuan publik menjadi diskursus intelektual yang sangat strategis dan perlu dikembangkan.

Baca Juga:

  1. Pesan Jokowi di Harkitnas: Bangsa Indonesia Harus Maju Bersama-sama
  2. Sah, Jokowi Akhirnya Cabut Larangan Ekspor Minyak Goreng
  3. Jokowi Kembali Buka Ekspor Minyak Goreng, Serikat Petani Indonesia Beri Apresiasi Tinggi

Selain itu ia turut berbeagi pengetahuan terkait buku yang pernah ia baca, yakni “Vibe Mindset”.

“Ada 5 mindset untuk kedepan yang perlu dikembangkan dan dijaga,” ujarnya.

Pertama adalah discipline mind, membuat orang yang menekuni segala sesuatu paham betul tentang apa yang ia lakukan. Namun, menurutnya hal ini belum bisa menjawab tentang persoalan.

“Tapi ini saja tidak cukup, kopleksitas lebih cepat muncul dari pada kepemahaman kita. Masih banyak lagi fenomena-fenomena yang akan muncul,” terangnya.

Oleh sebab itu ia kembali menjautkan mindset yang kedua, yaitu cityzaining mind. Pola pikir yang menggabungkan antara disiplin. Karena baginya tidak mungkin menyelesaikan perkara hanya dengan 1 disiplin saja.

Kemudian yang ketiga creatif mind, pola pikir yang mencoba mencari terobosan-terobosan baru. Dirinya mengtakan jangan ada kata puas di bidang prestasi, meski bersyukur boleh. Namun tidak boleh berhenti dan merasa puas.

“Dengan adanya terobosan-terobosan banyak pikiran-pikiran baru, dan inovasi. Ada sesuatu yang baru sehingga potensi untuk konflik,” ucap Ketua Badan Wakaf Indonesia tersebut.

Selanjutnya respectfull mind, pola pikir yang saling menghargai dan menghormati. Sebab creatif mind menurutnya juga belum cukup. Karena dari sana muncul perbedaan atau peluang konflik, sehingga butuh pola pikir ini untuk dapat saling menghargai dan menghormati.

Berikutnya yang terakir ethical mind, pola pikir yang di dasarkan atas etika. Ia mengatakan akan pentingnya etika bagi kehidupan, sebab segala hal tidak melulu cukuo dengan logika saja.

“Etika itu sangat-sangat penting, karena kalau kita hanya memanfaatkan logika saja tidak cukup,” kata Nuh.

Continue Reading

Edukasi

Ma’ruf Amin: UIN Jakarta Harus Jadi Universitas Internasional

Published

on

By

Wakil Presiden RI Prof. Dr. K.H. Ma’arif Amin

Wakil Presiden RI Prof. Dr. K.H. Ma’arif Amin memberikan sambutannya dalam Perayaan Milad ke-65 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta pada Jumat (20/5/2022).

Namun sambutannya itu ia sampaikan secara virtual, dengan berupa tayangan video. Hal ini lantaran dirinya tidak bisa hadir pada acara yang diselenggaran di Auditorium Harun Natsution tersebut.

Atas hal itu pun Ma’ruf hanya bisa memberikan sambutan sekaligus ucapan selamat kepada UIN Jakarta secara singkat saja.

Ma’ruf mengatakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah memberikan peran dan manfaat di banyak bidang, terutama keagamaan. Dengan begitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai tingkat perguruan tinggi yang unggul.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 10 Kampus Swasta Terbaik Indonesia Versi THE Impact Rankings 2022
  2. 5 Universitas Luar Negeri yang Punya Program Kuliah Online
  3. Ingin Kuliah Online? 10 Kampus Terbaik di Indonesia Ini Bisa Jadi Referensi

Ma’ruf pun berharap agar perguruan tinggi negeri tersebut tetap bekerja keras sebagai perguruan tinggi dengan berstandar internasional. Tidak hanya studi keislaman, melainkan juga untuk studi lainnya. Terkait fasilatas pendidikan pun juga singkat ia bahas sebagai penunjang.

“Saya mengharapkan UIN Jakarta tetap bekerja keras dengan berstandar internasional. Tidak studi keislaman atau keagamaan saja, tapi juga studi yang lain,” kata Ma’ruf.

“UIN Jakarta harus lebih aktif lagi untuk melakukan promosi ke luar negeri,” imbuhnya.

Menurutnya, hal ini menjadi kekuatan Indonesia untuk berperang secara global. Selanjutnya ia tak lupa mengucapkan selamat milad kepada UIN Jakarta, serta mendoakan yang terbaik untuk kedepannya.

Continue Reading

Trending