Connect with us

Sosial-Budaya

Tradisi Maen Pukulan, Silat Betawi untuk Menghadapi Kompeni

Published

on

Tradisi Maen Pukulan

Masyarakat Betawi akrab dengan istilah silat atau maen pukulan. Maen pukulan merupakan permainan yang melibatkan kontak fisik serang-bela dengan atau tanpa senjata.

Main di sini menandakan adanya aspek kesenangan. Dengan kata lain ilmu bela diri bagi masyarakat Betawi awalnya hanyalah permainan, bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik maupun sifat jago.

Mengutip Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016) yang ditulis oleh G. J Nawi, sebagai unsur kebudayaan, entitas maen pukulan Betawi lahir dengan terbentuknya kebudayaan Betawi. Adapun proses ini melalui evolusi berbagai kebudayaan yang berada di Batavia atau Betawi di rentang waktu abad 17 sampai abad 19.

Baca Juga:

  1. Memahami Four Tasks of Mouning, Tahapan Kala Berduka
  2. Kenali Apa Itu Gaslighting, Manipulasi Pikiran Secara Psikologis
  3. Kenali Relationship Red Flags, Tanda Merah Sebelum Terlambat

Meski namanya maen pukulan, tapi silat khas Betawi juga memuat beragam aspek, mulai dari mental spiritual, aspek seni, aspek bela diri, dan aspek olahraga, menempatkannya di pertandingan. Empat aspek ini menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik bertahan maupun menyerang.

Perkembangan maen pukulan di tanah Betawi terbilang cukup pesat. Terdapat sekitar 317 aliran yang merupakan pengembangan dari sekitar 100-200 pecahan aliran dari empat aliran inti. Empat aliran itu berdasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulan yang mengandalkan gerakan cepatan, baik pukulan, tendangan, maupun serang-bela.

“Empat aspek ini menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik bertahan maupun menyerang,” paparnya.

Tradisi Maen Pukulan

Disebut oleh Nawi, perkembangan maen pukulan di tanah Betawi terbilang cukup pesat. Kini terdapat sekitar 317 aliran yang merupakan perkembangan dari sekitar 100-200 pecahan aliran dari empat aliran inti.

Empat aliran itu dibedakan berdasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulannya, ada yang mengandalkan gerakan kecepatan, baik pukulan, tendangan, maupun serang-bela. Kini sedikitnya ada lima aliran yang banyak dikenal masyarakat.

Misalnya aliran silat sabeni yang berasal dari Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kedua adalah aliran silat beksi yang berasal dari bahasa Tiongkok yakni pertahanan dan empat. Perguruan ini lahir dan berkembang di wilayah Jakarta Selatan.

Ketiga adalah aliran silat cingkrik yang biasa ditemui di daerah Rawa Belong Jakarta Barat. Tokoh Si Pitung dipercaya sebagai salah satu tokoh yang menekuni dan mengajarkan pencak silat cingkrik.

Kemudian keempat adalah aliran silat paseban yang diambil dari nama kelurahan di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Terakhir adalah aliran silat cimacan yang berasal dari Banten dan dikembangkan di daerah Karang Tengah dan Lebak Bulus.

Namun Roni Adi Tenabang yang merupakan Ketua Perkumpulan Betawi Kita merasa prihatin dengan perkembangan silat Betawi saat ini. Hal ini karena ada kecenderungan melihat silat Betawi sebagai kesenian kampung sehingga mulai terpinggirkan.

Padahal menurutnya banyak hal positif yang terdapat dalam pencak silat, di antaranya menghargai sesama dan yang lebih tua. Di sekolah-sekolah, seni bela diri lebih banyak yang berasal dari luar negeri, seperti karate atau taekwondo.

Selain itu ada kecenderungan, jelasnya satu kelompok merasa eksklusif dibandingkan dengan yang lainnya. Padahal menurut Roni, bila dikelola secara modern, silat Betawi dapat bernilai dan hidup secara berkelanjutan.

“Manajemen silat Betawi selama ini hanya bertumpu pada ketokohan. Setelah tokoh meninggal, akhirnya silat hilang. Seharusnya, silat Betawi dikelola dengan manajemen modern untuk menghidupkan perguruan,” katanya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pojok

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Published

on

Aji Ugi

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Tetapi dalam masyarakat Bugis, haji bukan semata-mata praktik ibadah dan ritual untuk memenuhi rukun Islam yang kelima.

Haji juga terkait dengan ritual lokal, penanda status sosial, bahkan juga kini menjadi bagian dari gaya hidup. Penelitian dengan metode kualitatif di salah satu daerah Bugis, yaitu di Segeri kabupaten Pangkajene Kepulauan, menemukan corak haji orang-orang Bugis yang telah mengalami perjumpaan antara ajaran Islam, tradisi lokal dan modernitas.


Perjumpaan ini melahirkan corak haji yang unik, sebab diekspresikan dengan cara-cara lokal di satu sisi, sekaligus dipengaruhi modernitas di sisi yang lain. Dalam ekspresi semacam itulah ditemukan praktik yang disebut Haji Bawakaraeng, Haji Calabai (Haji Waria) dan Haji Pa’gaya (Haji yang suka bergaya).

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Tetapi di saat yang sama juga ditemukan Haji yang sarat dengan nuansa hikmah, misalnya haji sebagai were na pammase (Haji sebagai takdir dan Rahmat Tuhan) dan haji sebagai assenu-senungeng (ritual haji adalah simbol pengharapan terhadap hal yang baik).

Keseluruhan praktik haji semacam itu mencerminkan sebuah praktik keberislaman ala Bugis, yang disebut dengan “Aji Ugi”. Aji Ugi ini menjadi semacam ekspresi Islam lokal yang sekaligus universal, Islam tradisional sekaligus modern.

Bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa yang sangat penting. Banyak suku lain yang kadang heran melihat antusias orang Bugis untuk naik haji. Bagi orang Bugis, pergi haji adalah sebuah kebanggaan.

Faktanya sangat jelas, di kawasan Sulawesi Selatan dan wilayah lain di sekitarnya seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah antrian pergi haji sudah sangat panjang dan kerap kali disebut tidak masuk akal.

Misalnya saja di Kota Parepare dan Kota Makassar daftar tunggu haji menjadi 84 tahun. Bahkan di Kabupaten Banteng, daftarnya tunggunya bisa mencapai 97 tahun. Tentunya ini sempat membuat geger masyarakat.

Namun bagi orang Bugis, lamanya masa menunggu itu bukanlah suatu hambatan. Pergi haji memang bukan saja sebagai perjalanan spiritual sebagai umat Islam. Beberapa dari mereka menganggapnya sebagai kehormatan.

Masyarakat Bugis sangat kental dengan upacara sosial, seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Bahkan dalam membangun rumah baru dan punya kendaraan baru, mereka kerap pula dirayakan.

Demikian pula ketika naik haji, bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa sakral yang mesti ada ritualnya. Walau harus menambah biaya, tentunya hal ini tidak boleh dilewatkan bagi orang Bugis.

Aji Ugi

Ada tiga tahapan ritual (calon) jamaah haji bagi orang Bugis, yaitu ritual persiapan pemberangkatan, ritual selama jamaah haji berada di Tanah Suci, dan ritual setelah jamaah haji pulang ke tanah air.

Misalnya saat persiapan pemberangkatan mereka akan menggelar ritual selamatan atau syukuran (massalama-mammanasik), mengisi tas (mallises tase), dan ritual pemberangkatan (mappangnguju)

ketika sudah sampai di Tanah Suci, orang Bugis akan menampung air dari talang emas (jampi ulaweng), memburu kiswa Ka’bah, mencium Hajar Aswad, dan pemasangan kopiah atau kerudung haji (mappatopo).

Sementara pada tahap terakhir, saat pulang ke Tanah Air akan digelar syukuran (assalama sukkuru), melepas nazar (assalama tinja), mendoakan leluhur yang dilanjutkan ziarah makam (mappigau to riolo).

Continue Reading

Pojok

Tradisi Potong Jari Suku Dani, Mengerikan tapi Simbol Kesetiaan Mendalam

Published

on

Ritual potong jari Suku Dani

Suku Dani adalah salah satu suku asli yang mendiami tanah Papua. Suku ini diketahui tinggal di pedalaman wilayah pegunungan dan lembah Papua.

“Suku Dani merupakan suku tertua yang mendiami Lembah Baliem,” tulis Baharinawati W. Hastanti dalam jurnalnya yang berjudul Kondisi Lingkungan dan Karakteristik Sosial Budaya untuk Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Di jurnal tersebut, Hastuti juga menyebut bahwa suku Dani memiliki kecenderungan untuk melakukan peperangan.

Dilansir dari Ekspedisi Tanah Papua, yang disunting oleh Fandri Yuniarti, kelompok suku ini tinggal di kawasan pegunungan dan lembah kecil di Lembah Baliem.

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Lembah Baliem merupakan sebutan untuk kawasan pegunungan dan lembah di sekitar Wamena. Merujuk sumber lain yang berjudul Perhiasan Tradisional Indonesia karya Husni dan Siregar, Suku Dani memiliki dua kelompok etnis yaitu wita dan waya.

Suku Dani memiliki tradisi berbama Iki Palek. Iki Palek merupakan tradisi memotong jari. Bagi orang-orang awam tentunya tradisi ini terlihat mengerikan, tetapi bagi Suku Dani memiliki makna yang sangat mendalam. Potong jari tersebut dilakukan untuk mengungkapkan kesetiaan dan rasa kehilangan yang mendalam terhadap anggota keluarga yang telah meninggal.

Jari yang dipotong menandakan jumlah anggota keluarga yang meninggal. Diketahui bahwa sebagaian besar yang melakukan tradisi tersebut adalah wanita, tetapi pria juga melakukan untuk menunjukkan rasa kesedihan. Pria menunjukkannya dengan memotong kulit telinga.

Bagi Suku Dani, jari diangggap sebagai simbol harmoni, persatuan, dan kekuatan. Selain itu, juga mnejadi lambang hidup bersama satu keluarga, marga, rumah, suku, nenek moyang, bahasa, sejarah, dan satu asal atau biasa disebut dengan “wene opakima dapulik welaikarek mekehasik”.

Bentuk dan panjang jari memiliki kesatuan dan kekuatan untuk meringankan beban semua pekerjaan. Jari-jari akan bekerja sama, sehingga tangan akan berfungsi. Namun jika salah satu jari hilang akan mengurangi kebersamaan dan kekuatan.

Prosesi yang dijalankan pun cukup mengerikan. Para wanita akan memotong jari mereka dengan menggigit sampai jari putus. Terkadang dilakukan dengan kapak atau pisau.

Untuk mengurangi darah yang keluar, jari akan dililit dengan benang. Mereka mengikat jari dengan benang sampai aliran darah berhenti dan jari menjadi mati rasa kemudian baru dipotong.

Kemudian bagi laki-laki, mereka memotong daun telinga menggunakan bilah bambu yang tajam. Tradisi memotong daun telinga disebut dengan tradisi Nasu Palek. Apabila tidak bisa melakukannya sendiri makan akan dibantu oleh kerabat dan tidak ada upacara khusus.

Asalkan jari sudah terputus maka tradisi Iki Palek telah terlaksana. Luka akan dibalut dengan daun dan diperkirakan satu bulan kemudian luka akan mengering serta menjadi sembuh.

Jika yang meninggal adalah orang tua maka dua ruas jari yang dipotong. Apabila sanak saudara maka hanya satu ruas jari yang dipotong. Sebelum dipotong, mereka yang jarinya akan dipotong membaca mantra.

Sikap taat dan menghormati leluhur dan rasa cinta, kebersamaan terhadap orang terdekat yang dimiliki Suku Dani, membuat mereka rela merasakan sakit yang luar biasa melalui prosesi tersebut. Harapan dengan memotong jari tersebut juga agar mereka bisa melupakan kesedihan dengan segera.

Selain pemotongan jari, Suku Dani juga melakukan mandi lumpur. Itu dilakukan sebagai arti bahwa semua yang hidup juga akan kembali ke tanah.

Prosesi Iki Palek sendiri sudah jarang dilakukan oleh Suku Dani walaupun masih lestari dan tentunya kalian akan menemukan banyak ibu-ibu dengan jari yang sudah tidak utuh lagi. Orang-orang akan menanggap babwa tradisi tersebut sangatlah mengerikan tapi Indonesia memiliki berbagai kebudayaan unik dan harus dihormati.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Published

on

nginang dan alat-alatnya

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Tradisi nyirih memberikan hikmah tentang perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu.

Sekalipun kini tradisi mengunyah sirih hanyalah fenomena kecil di tengah-tengah masyarakat, bagi yang pernah mengunjungi pelosok-pelosok negeri–dari Sumatra, Sulawesi, ataupun Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur hingga Papua–bisa dipastikan masih akan ditemui kebiasaan ini.

Budaya mengunyah sirih yang sering disebut dalam banyak bahasa daerah, antara lain, “nyirih”, “nginang”, “bersugi”, “bersisik”, “menyepah”, atau “nyusur”, setidaknya hingga kini masih terlihat lazim dilakukan oleh generasi tua, baik laki-laki maupun perempuan, di sejumlah daerah.

Belum diketahui asal-usulnya secara pasti. Konon, tradisi mengkonsumsi sirih dan pinang telah dimulai sejak zaman neolitikum. Sekitar 3.000 tahun yang lalu, hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Asia Tenggara.

Ada pendapat yang beranggapan jika tradisi itu berasal dari India. Namun pandangan lain menyebutkan, tradisi ini kemungkinan berasal dari kepulauan Nusantara. Ini didasarkan pada asumsi, pinang dan sirih sendiri diduga kuat ialah tanaman asli di kepulauan Indonesia.

Selain itu, juga menyimak pentingnya posisi nyirih bagi orang Indonesia terlihat mencapai tingkatan yang lebih dalam ketimbang di daerah lain di seputar Asia. Hal ini tercermin dari hadirnya tradisi nyirih dalam hampir semua ritual. Bahkan menurut catatan Anthony Reid (2018), dari ritual kelahiran, inisiasi kedewasaan, perkawinan, hingga kematian; dari ritual dan praktik penyembuhan, hingga ritual persembahan kepada roh leluhur.

Boleh dikata, di masa lalu mengunyah sirih atau nyirih di Indonesia bukanlah soal preferensi individual, melainkan keniscayaan dari ritus sosial bagi setiap orang dewasa. Tidak menawarkan sirih, atau menolak nyirih saat ditawari, bahkan akan dicap sebagai penghinaan.

Menariknya, di sepanjang daerah di Indonesia bicara bahan untuk menyirih pun nisbi serupa. Secara umum ada tiga unsur utama dari bahan nyirih, yakni pinang, daun sirih, serta kapur sirih yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut “injet”, yang terkadang bahan ini didapatkan dari melumat cangkang kerang.

Yang bisa dikata membedakan tradisi ini di pelbagai wilayah di Nusantara ialah berupa kepercayaan-kepercayaan yang menyertai tradisi itu. Namun, terlepas dari perbedaan itu, pinang dan sirih sejak ribuan tahun tampaknya telah dimuliakan dalam kebudayaan-kebudayaan lokal Indonesia.

Kosa Kata dan Ritual

Potret masa lalu dari fenomena mendarah dagingnya tradisi pinang nyirih ini, bukan saja terindikasi kuat dalam keragaman istilah untuk kedua bahan ini, tapi juga lekat dalam praktik ritual pernikahan adat di Nusantara.

Pinang dan sirih yang istilah dalam bahasa Melayu-nya, atau pineung” dan “ranub” dalam bahasa Aceh, “jambe” dan “suroh” dalam bahasa Jawa, “banda” dan “chanangˆ” dalam bahasa Bali, “rappo” dan “leko” dalam bahasa Makasar, “alossi” dan “ota” dalam bahasa Bugis, serta “hena” dan “bido-marau” dalam bahasa Ternate; dan lain sebagainya.

Terkait dengan ritual adat pernikahan, dari bahasa Melayu istilah ini masuk dalam Bahasa Indonesia modern. Pinang, meminang, yang berarti melamar atau meminta seseorang untuk dinikahi; pinangan ialah berarti meminta pertunangan.

Tampaknya sudah lama dimaknai, berpadunya sirih dan pinang menjadi simbol persetubuhan atau pernikahan. Buah pinang dianggap merepresentasikan unsur “panas” dan daun sirih merepresentasikan unsur “dingin”.

Di Aceh, simbolisasi ini menggunakan daun sirih. Dalam bahasa Aceh, ba ranub artinya “memberikan sirih” yang maknanya ialah “memberikan cinta”. Pria Aceh di masa lalu menceraikan istrinya dengan memberikan tiga lembar daun pinang.

Dalam bahasa Makasar, leko passiko yang artinya “sebungkus daun sirih juga bermakna mengajukan lamaran. Di sana Ibu pengantin perempuan melakukan ritual nyirih di rumah bersama pasangan pengantin di malam pertama; setelah kelahiran anak, ibu baru dan mertuanya melakukan ritual nyirih bersama.

Dalam upacara panggih, adat perkawinan orang Jawa, misalnya, dikenal serangkaian ritual yang menghadirkan daun sirih sebagai perlengkapannya, yakni saat prosesi “balangan suruh”. Di sini daun sirih akan membungkus buah pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau hitam lalu diikat dengan benang lawe.

Baca Juga:

  1. Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Perisai Herbal: Jamu Sebagai Pelindung Tradisional bagi Masyarakat Jawa

Orang Jawa menyebut lintingan sirih itu sebagai gantal. Upacara balangan suruh atau gantal yaitu momen ritual panggih ini, sepasang mempelai akan saling melempar suruh sebagai perumpaman kedua mempelai saling melempar kasih dan harapan.

Bahkan, dewasa ini, di kalangan masyarakat yang sudah meninggalkan penggunaan sirih, seringkali masih dijumpai seperangkat daun sirih buatan berbahan perunggu atau perak dipajang di antara perlengkapan pernikahan, dan diserahkan sebagai semacam pernak-pernik perlengkapan untuk tujuan ritual ini.

Catatan Sejarah

Panjangnya usia tradisi nyirih masyarakat Nusantara setidaknya tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih.

Menurut catatan Anthony Reid (2018), pada masa periode Dinasti Tang (7 – 10 M) banyak referensi dari China yang menulis penggunaan dan ekspor pinang dari daerah yang diduga ialah Indonesia.

ChanJu-kua mencatat, di Po-ni (Brunei?) abad ke-12, sirih sering dipakai dalam ritual pernikahan dan seremoni istana. Sedangkan Ma Huan melaporkan tentang Jawa sejak awal abad ke-15.

Di China sendiri, istilah pinang pada masa Dinasti Tang ialah “pin-lang”, yang diduga kuat diambil dari bahasa Melayu, “pinang”. Ini setidaknya menunjukkan area yang pernah didominasi oleh Kerajaan Sriwijaya (Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo barat) adalah sumber komoditas ini.

Hingga abad ke 16 – 17, seturut Anthony Reid, telah banyak ditemukan catatan perihal tradisi nyirih yang dilakukan di hampir semua tempat di Asia tropis. Bahkan karena sirih adalah salah satu item pengeluaran yang dianggap penting, kantung uang yang diterima oleh budak milik Belanda pada abad ke-18 disebut sebagai siriegeld (“uang sirih”). 

Nyirih, boleh dikata menjadi medium tata krama untuk tamu di istana atau desa. Mirip fungsi teh, kopi, atau rokok dewasa ini. Tak hanya itu, nyirih juga jadi simbol ritual utama, obat pencernaan, pasta gigi atau penyegar mulut, atau sebagai obat penenang atau bahkan penangkal rasa lapar.

Tome Pires di abad ke-16 dalam The Suma Oriental mengungkapkan hal ini:

“Nyirih membantu pencernaan, menenangkan otak, memperkuat gigi, sehingga pria yang mengunyahnya biasanya punya gigi yang utuh, tidak ada yang ompong, bahkan sampai usia delapan puluh tahun. Mereka yang nyirih memiliki napas harum, dan jika sehari saja tidak nyirih maka napas mereka menjadi amat bau.”

Beberapa bahan sebagai komposisi tambahan dalam nyirih, merujuk tulisan Anthony Reid, antara lain kamper, cengkeh, pala, ambar (ambergris), kapulaga, dan minyak rusa. Bahan tambahan ini menurutnya sudah tertulis dalam literatur Sansekerta sejak abad pertama masehi.

Namun dalam perjalanannya gambir dan tembakau juga menjadi bahan tambahan dalam tradisi nyirih. Bahkan boleh dikata sejak akhir abad ke-18, dua bahan tambahan ini plus sirih, pinang dan injet, jadi standar yang lazim dalam tradisi nyirih.

Menarik dicatat, kuatnya tradisi nyirih ini membuat bangsa Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dulu tak luput juga mengadopsi kebiasaan ini. Persepi bahwa nyirih baik untuk kesehatan gigi tampaknya juga diyakini oleh bangsa Eropa saat itu.

Anthony Reid mencatat, orang-orang Belanda di Batavia mulai meninggalkan kebiasaan nyirih mulai pertengahan abad ke-18, sekalipun kaum perempuannya masih melakukan itu hingga abad ke-19.

Kebiasaan ini menghilang setelah muncul tren baru dalam kebiasaan nyirih, yaitu menjejalkan tembakau ke mulut setelah keluar air liur pertama. Kebiasaan nyirih tampak mulai menjijikan bagi orang Eropa.

Manjelang berakhirnya abad ke-19, perbedaan kultural bangsa Eropa dengan bangsa Indonesia menjadi semakin tajam. Kini bagi orang Eropa, kebiasaan nyirih dan meludahkan bekas tembakau penyumpal mulut dipandang sebagai tanda inferioritas bangsa Indonesia.

Memasuki abad ke-20, sejalan dengan penyebaran pendidikan barat tampaknya berkaitan erat dengan mulai ditinggalkannya kebiasaan nyirih. Seluruh citra modernitas yang dikontruksi oleh pendidikan Belanda bertentangan dengan aktivitas nyirih.

Di Bugis dan Makasar, misalnya, pada 1900 hampir semua orang nyirih, tapi pada 1950 hampir tak ada satupun orang melakukan itu. Ketika orang Bugis dan Makasar membeli sirih, itu dilakukan untuk persyaratan ritual perkawinan dan bukan dikonsumsi.

Di Jawa, Bali, dan Sumatra, laiknya dampak kolonialisme, bicara dampak “modernisasi” tampaknya berlangsung secara lebih gradual. Sejak 1903, hanya sedikit bupati Jawa yang nyirih, meskipun piranti peralatan nyirih masih dibawa-bawa dalam acara formal dan ritual adat.

Selain aspek pendidikan, di sini penting juga disebutkan fesyen sebagai faktor penyebab hilangnya tradisi nyirih.

Di sepanjang abad ke 19 – 20, konsumsi rokok dicitrakan sebagai bagian dari moderenitas. Sedangkan nyirih semakin terlihat sebagai perilaku yang jorok dan tidak higinies.

Ya, suka atau tidak suka, konsumsi rokok ialah salah satu faktor penting yang berdampak menggeser kebiasaan nyirih dalam perilaku sosial masyarakat di Indonesia.

Suka atau tidak suka juga kini tradisi nyirih hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, atau sebutlah masyarakat adat, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Dari tradisi nyirih ini, hikmah yang dapat disimak ialah pelajaran perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu

Continue Reading

Trending