NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo
The Great Gama, Pegulat Terbaik Sepanjang Masa - mycity.co.id
Connect with us

Histori

The Great Gama, Pegulat Terbaik Sepanjang Masa

Published

on

The Great Gama/Indian Bodybuilding

The Great Gama/Indian Bodybuilding

mycity.co.id – Superhero itu tidak ada, tapi Ghulam Mohammad Baksh Butt, atau biasa dipanggil dengan nama panggungnya The Great Gama, adalah satu-satunya orang yang mendekati untuk berhak mendapatkan gelar tersebut.

Dia mungkin petarung tangan kosong terbaik yang pernah ada. The Great Gama merupakan seorang ahli gulat aliran Pehelwani, yang merupakan gaya yang sulit di kuasai. Karir gulatnya merentang selama 57 tahun, dari 1895 sampai 1952.

Dia telah bertanding dalam 5000 pertarungan diseluruh dunia, dan selama 57 tahun The Great Gama tidak pernah kalah sekalipun. Ini angka gila bagi petarung normal, tapi yang lebih gilanya lagi tinggi Gama hanyalah 170cm.

Pegulat asal India ini memulai karirnya diumur 10 tahun dikompetisi Strongman yang digelar raja, dan dia berada diposisi ke 15. Lalu saat dia berumur 17 tahun dia menantang pegulat terbaik india saat itu Raheem Bakhsh, untuk mendapatkan gelar Rustam-e-Hind sebuah gelar pegulat terbaik di india. Secara visual orang mengira Gama akan kalah dengan cepat, karena dia hanya setinggi 170cm sedangkan Raheem memiliki tinggi 2 meter. Tetapi Gama bisa mengalahkannya hanya dengan 2 ronde.

Sampai tahun 1910, Gama telah mengalahkan semua pegulat terbaik India dan sekitar, karena merasa tidak ada lagi yang bisa ditaklukan, Gama pun berlayar menuju London. Tapi kembali lagi ceritanya, karena tingginya yang pendek, dia tidak dianggap serius dan memiliki kesulitan masuk kompetisi.

Akhirnya untuk mendapatkan perhatian, dia mengeluarkan tantangan, dia menantang semua pegulat bahwa dia bisa mengalahkan siapapun, dalam kelas berat apapun, hanya dalam 30 menit. Dia berjanji jika dia kalah, dia akan memberikan hadiah uang kepada pemenang dan akan langsung pulang ke india. Dia pun memenuhi janjinya, penantang pertama kalah hanya dalam 1 menit 40 detik.

Sama seperti masanya di india, semakin dia terkenal sebagai pegulat terbaik, semakin dikit yang berani menantangnya. Karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibuktikan di London, dia pun kembali pulang ke India.

Selama di rumah, Gama akhirnya memutuskan ada satu lawan yang perlu dikalahkan, yaitu kerjaan Inggris. Gama pun mulai berkampanye tentang kemerdekaan India dari Inggris. Lalu saat Inggris akan berpisah dengan India di Tahun 1947, kerusuhan atas nama agama pun terjadi, Gama seorang muslim yang tinggal di Lahore, daerah muslim India, berjanji akan membantu minoritas hindu disana.

Gama dan murid-murid gulatnya pergi ke daerah komunitas hindu melindungi mereka dari massa rusuh yang ingin menyerang. Gama menantang untuk melawan para massa rusuh sendirian. Ketika ketua massa tersebut maju untuk menantang, Gama menampar dia sampai terhempas jauh. Melihat itu massa rusuh pun pergi berlari.

Histori

Awal Mula Kalender Jawa, Ini Sejarahnya…

Published

on

Kalender Jawa/Ilustrasi

Kalender Jawa/Ilustrasi

mycity.co.id Orang Jawa mengenal penanggalan Jawa untuk menandai berbagai peristiwa penting dalam kehidupan. Sampai hari ini, penghitungan weton dalam kalender Jawa masih dipercaya mampu menentukan karakter seseorang sampai hari baik dalam mengambil keputusan.

Lantas, bagaimana sejarah penanggalan Jawa?

Dikutip dari buku Mengislamkan Jawa karya M.C. Ricklefs, sistem penanggalan Jawa mulai dirancang oleh Sultan Agung pada masa Kesultanan Mataram (1613–1645). Saat itu, Kesultanan Mataram menerapkan dua sistem penanggalan, yaitu kalender Masehi dan kalender Jawa.

Kalender Masehi digunakan untuk keperluan administrasi kerajaan supaya selaras dengan kegiatan sehari-hari masyarakat umum. Sementara itu, kalender Jawa digunakan sebagai patokan penyelenggaraan upacara-upacara adat kerajaan.

Karena Kalender Saka didasarkan kepada pergerakan matahari (solar), sementara kalender Hijriah didasarkan kepada pergerakan bulan (lunar), perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh kerajaan tidak selaras dengan perayaan-perayaan hari besar Islam

Namun, pada 1633, Sultan Agung melakukan ziarah ke Tembayat untuk kemudian memerintahkan makam tersebut dipugar. Alhasil, makam tersebut dibangun kembali dengan hiasan sebuah gapura yang megah. Ricklefs menyebut hal ini dilakukan untuk melegitimasi kekuasaan Sultan Agung.

Saat melakukan ziarah, Sultan Agung dikisahkan bertemu dengan roh Bayat yang mengajarinya ilmu-ilmu mistik. Dia pun mendapatkan nasihat untuk mengganti sistem penanggalan yang sudah ada. Sekembalinya dari Tembayat, Sultan Agung memadukan kalender Saka bergaya India dengan kalender Hijriah.

Kebijakan Sultan Agung tersebut berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram, yaitu seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan, sebab ketiga daerah terakhir tersebut tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.

Dalam kalender baru ini, penanggalan dan bulan yang dipakai adalah sistem Qomariah dan Hijriah, sementara angka tahun dan nama tahun menggunakan sistem Saka. Penanggalan ini istimewa karena memadukan beberapa sistem kalender sekaligus, yaitu Islam, Hindu, dan sedikit dari sistem penanggalan Julian.

Continue Reading

Heritage

Stasiun Baso Kini Hanya Tinggal Papan Nama

Published

on

Stasiun Baso kini tinggal papan nama. Foto: kompas.com

Stasiun Baso kini tinggal papan nama. Foto: kompas.com

mycity.co.id – Baso yang dikenal adalah makanan berbentuk bulat yang tebuat dari campuran daging, tepung dan berbagai bumbu. Namun baso yang satu ini bukanlah tentang makanan tapi sebuah stasiun.

Ini adalah nama stasiun di Sumatera Barat. Ya, Stasiun Baso tepatnya dan kini tak lagi beroperasi. Dirangkum dari berbagai laman sumber, stasiun ini letaknya berada di Jalan Raya Batusangkar, Bukittinggi No.184 di Canduang Koto Laweh, Canduang Kabupaten Agam, Sumatera Baratan.

Stasiun Baso berada di ketinggian +909 meter. Bahkan namanya pun bukan diambil dari nama makanan, tetapi dari nama sebuah kecamatan yakni Kecamatan Baso.

Letak Kecamatan Baso berada di antara Kota Bukittinggi dan Payakumbuh. Kini tak lagi beroperasi, Stasiun Baso beralih fungsi menjadi tempat menjual aksesoris mobil dan cutting stiker.

Mungkin bagi kalian penggemar kereta api akan asing mendengar nama ini, apalagi jejaknya yang tertinggal hanya sebuah papan nama tepat di atas nama toko aksesoris tersebut dan tak ada kabar jelasnya tentang stasiun ini.

Apalagi, untuk jalur keretanya sendiri pun kini hanya tertinggal bekas-bekasnya saja dan sudah tertimbun tanah. Jalur ini mati seperti jalur kereta yang ada di Bantul menuju Yogyakarta, hanya tersisa bangunan stasiun yang sudah beralih fungsi dan rel yang sudah tak terlihat lagi.

Stasiun ini dibangun pada masa Belanda yakni dengan rute Padang Panjang-Bukittinggi-Payakumbuh-Limbangan sepanjang 72 km. Dulunya jalur ini yang termasuk didalamnya stasiun Baso dioperasikan untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman Sumatera Barat.

Semakin berkembangnya transportasi darat lainnya, kereta api mulai tersisih dan tak lagi beroperasi sejak 1973. Saat ini yang tersisa hanya jalur Padang-Pariama sepanjang 52 km yang beroperasi hingga kini.

Continue Reading

Histori

Jangan Makan Pisang Dempet, Penasaran?…

Published

on

Ilustrasi Pisang Dempet/BJP/mycity.co.id

Ilustrasi Pisang Dempet/BJP/mycity.co.id

mycity.co.idMasih ingat tidak, sejumlah nasihat orangtua, yang waktu kita kecil dibuat takut minta ampun.

Nasihat-nasihat itu sebenarnya sangat bagus, cuma disampaikan dengan bumbu-bumbu yang menyeramkan.

Misalnya, orangtua kita membentak: “jangan duduk di depan pintu, nanti kamu SULIT MENDAPAT JODOH”.

Kebayang tidak waktu itu, kita seketika pindah duduk, karena ucapan orangtua bisa jadi doa.

Nasihat itu sebenarnya sangat bagus. Bagaimana pun, duduk di depan pintu kurang sopan. Secara logikanya, keberadaan kita di depan pintu pasti menghalangi orang yang mau keluar masuk lewat pintu.

Biar nurut pindah, orangtua zaman dulu memberi nasihat sambil bumbu ancaman “SULIT MENDAPAT JODOH”.

Ada juga nasihat, “jangan menduduki bantal, nanti pantat kamu CEPAT KENA BISUL”. Ini apa hubungannya, penyakit bisul dengan duduk di bantal. Kalau ingat nasihat itu, sekarang kita pasti senyum-senyum. Cuma sekarang kita pasti sadar, kalau bantal yang biasa untuk landasan kepala saat tidur, tidak baiklah kalau dipakai untuk pantat.

Hayo nasihat apa lagi yang cukup mengerikan? Ada yang ingat tidak dibentak, “kalau makan jangan sambil tiduran nanti JADI BUAYA”.

Alamak, anak kecil pasti takut dikutuk jadi buaya. Begitulah orangtua zaman dulu ambil gampangnya saja. Padahal makna yang terkandung dari bentakan itu sangat berguna sekali. Secara ilmu agama maupun kesehatan, makan sambil tiduran tidak baik untuk pencernaan.

Pernah juga mengalami, saat makan buah-buahan semisal rambutan, salak, dan jeruk kita diingatkan : “awas bijinya jangan ketelan, nanti TUMBUH POHON DI KEPALA”.

Ya ampyuuuun mengerikan sekali kalau benar di kepala kita tumbuh pohon rambutan atau pohon salak. Sebenarnya makna yang terkandung dalam peringatan itu, agar kita berhati-hati dan terhindar menelan biji buah-buahan. Banyak kejadian anak yang menelan biji rambutan sampai nyawanya tak tertolong.

Sementara anak laki-laki yang doyan main dan bandel pasti pernah diingatkan orangtunya: “jangan keluar rumah malam-malam, nanti DICULIK WEWE GOMBEL”. Wadawww. Dalam dongeng setan Wewe Gombel itu menyeramkan. Tidak kebayang kalau kita diculik wewe gombel.

Begitu juga kalau kita bermain lampu center di malam hari. Kadang suka iseng sinar lampu center kita arahkan ke atas langit. Kebiasaan itu kalau dilihat orangtua pasti dibentak: “jangan suka sorot-sorot lampu center ke langit nanti KEPALA KAMU TERTIMPA BATU”.

Percayalah menyorotkan lampu center ke langit itu nggak bakalan tertimpa batu. Tapi percayalah perbuatan menyorotkan lampu ke arah langit itu, tindakan yang sia-sia. Mubazir. Tidak ada gunanya. Cuma menghabiskan masa energi baterainya saja.

Nah ini ada lagi nasihat yang menyeramkan tapi sangat menarik. Bahkan sampai  sekarang masih ada yang memberlakukannya. Apa itu? Pernah dengar: “jangan makan buah pisang yang dempet, nanti kalau PUNYA ANAK DEMPET (kembar siam)”.

Betul sampai sekarang masih ada yang tabu memakan pisang yang dempet. Entah karena takut nanti kalau punya anak dempet, atau ada alasan lainnya. Padahal makna yang terkandung dalam nasihat itu, sejak dini, saat usia anak-anak, dilatih untuk tidak tamak. Dalam hal mengonsumsi buah juga jangan rakus. Tidak baik kalau makan pisang sekaligus dua (dempet).

Tapi saya yakin, di zaman sekarang justru banyak orang yang NEKAT makan pisang dempet. Buktinya tetap banyak orang yang RAKUS dan TAMAK. Di kondisi yang kini lagi terserang wabah virus corona, masih ada orang yang TEGA MENIMBUN MASKER, ada juga yang panik MEMBORONG SEMBAKO. Di saat yang sama, banyak yang sedang menderita.

 

Continue Reading
Advertisement

Trending