Connect with us

COVID-19Update

Thailand Uji Tumbuhan Sambiloto untuk Sembuhkan Covid-19

Published

on

Thailand memulai penelitian mengenai penggunaan Andrographis Paniculata (AP) di dua rumah sakit untuk mengobati pasien Covid-19.

Di Indonesia, Andrographis Paniculata dikenal dengan nama Sambiloto. Ini merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang dikenal dapat mengobati beberapa penyakit seperti flu berat, radang tenggorokan, dan malaria.

Dr Marut Jirasrattasiri, direktur jenderal Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif Thailand, mengatakan bahwa departemennya bekerja sama dengan Rumah Sakit Siriraj Fakultas Kedokteran, Institut Penelitian Chulabhorn, dan Organisasi Farmasi Pemerintah (GPO) dalam melakukan studi percontohan tentang efek ekstrak Sambiloto pada pasien dengan Covid-19 dengan persetujuan dari Komite Etika Penelitian Manusia.

Baca Juga:

  1. Anies Baswedan Perpanjang PSBB dengan Masa Transisi
  2. New Normal, Risma Minta Kantin Sekolah Tak Buka
  3. Novel Baswedan Mengadu ke Jokowi Soal Hukuman Kasus Penyiraman Air Keras
  4. Lockdown 5 Bulan, Berat Badan Pria di Wuhan Naik 100 Kg

Ada permintaan khusus untuk melakukan uji coba pada pasien di Institut Penyakit Menular Bamrasnadura. Namun, karena infeksi Covid-19 di Thailand semakin berkurang, tentunya hanya ada sangat sedikit pasien dalam uji coba ini.

Oleh karena itu, Departemen meminta izin komite untuk mengubah rumah sakit yang melakukan penelitian manusia ke Rumah Sakit Samut Prakan dan Rumah Sakit Bang Lamung karena mereka adalah pusat karantina negara bagian utama yang menerima pengungsi yang kembali dari luar negeri.

Rumah sakit ini teklah siap sejak 22 Juni lalu dan dapat segera dilakukan jika ada orang yang terinfeksi memenuhi kriteria untuk perawatan.

Marut mengungkapkan bahwa orang yang terinfeksi dan memenuhi kriteria untuk menerima AP adalah pasien yang telah dikonfirmasi terinfeksi Covid-19 dengan gejala yang bertahan tidak lebih dari 72 jam, dengan gejala ringan hingga sedang, demam, batuk yang merupakan biasanya tidak diberikan obat apa pun. (Arie Nugroho)

Advertisement

COVID-19Update

Optimisme Jokowi: Tahun Ini, Pandemi Covid-19 Terkendali

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), optimistis pandemi Covid-19 akan terkendali tahun ini. Indikatornya adalah perekonomian yang terus menunjukkan perbaikan.

Meski demikian, Jokowi meminta seluruh masyarakat untuk terus menjaga protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran varian baru Covid-19, Omicron.

“Tahun 2022 akan menjadi momentum dan penangan pandemi juga semakin terkendali meskipun hati-hati masih ada varian Omicron yang harus diwaspadai,” kata Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022, disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (20/1/2022).

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

Jokowi juga merasa optimistis karena tingkat vaksinasi Covid-19 terus menujukkan peningkatan signifikan. Jokowi mengungkapkan sudah 301 juta dosis vaksin disuntikkan ke masyarakat hingga hari ini.

Jokowi menyatakan, penyuntikan dosis pertama vaksin Covid-19 telah mencapai 85 persen. Target penyuntikan dosis kedua telah terpenuhi 58 persen. Di saat yang sama, pemerintah juga telah memulai penyuntikan vaksin penguat (booster).

“Penanganan pandemi yang semakin baik harus kita pakai untuk membangkitkan optimisme, memberikan keyakinan, kepercayaan yang lebih besar kepada masyarakat dan pelaku usaha untuk segera melanjutkan aktivitas ekonomi dan aktivitas-aktivitas produktif lainnya,” ucapnya.

Meski demikian, kasus Covid-19 terus meningkat di Indonesia dalam beberapa waktu belakangan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, kasus Covid-19 bertambah 1.745 kasus dalam 24 jam. Total kasus aktif saat ini pun mencapai 10.796 kasus.

Continue Reading

COVID-19Update

Apa Itu Karantina Bubble? Ini Penjelasan Lengkapnya

Published

on

By

Ilustrasi Bandara

Setiap WNA atau WNI yang datang dari luar negeri diwajibkan oleh pemerintah untuk melakukan karantina bubble terlebih dahulu.

Karantina itu sendiri adalah sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama beberapa waktu tertentu, untuk mencegah penularan virus Covid-19. Kegiatan karantina ini identik dengan pengasingan terhadap seseorang atau suatu benda, yang akan memasuki suatu wilayah atau negara.

Selama wabah Covid-19 melanda Indonesia, pemerintah membuat peraturan terkait dengan kewajiban karantina bagi setiap pelaku perjalanan luar negri yang baru tiba di Indonesia. Mereka harus menjalankan karantina selama 7×24 jam.

Pada turan tersebut diterangkan tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Luar Negeri pada Masa Pandemi Covid-19 yang berlaku mulai 12 Januari 2022. Hal ini termuat dalam Surat Edaran Satuan Tugas (SE Satgas) Penanganan Covid-19 Nomor 2 Tahun 2022.

Baca Juga:

  1. Kabar Baik, Studi Terbaru Menujukkan 3 Dosis Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Omicron
  2. Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi
  3. Omicron Makin Merebak, Pemerintah Tambah Hotel Isolasi

Bagi warga negara asing bisa mendapatkan dispensiasi berupa pengecualian karantina jika mereka menerapkan sistem bubble serta protokol kesahatan yang ketat. “Sistem bubble adalah sistem yang memisahkan seseorang yang memiliki risiko terpapar Covid-19 (baik dari riwayat kontak atau riwayat bepergian ke wilayah yang telah terjadi transmisi komunitas) dengan masyarakat umum dan disertai dengan pembatasan interaksi hanya kepada orang di dalam satu area pemisahan yang sama.”

Hal tersebut tertuang dalam surat edaran satgas penanganan Covid-19 Nomor 2 Tahun 2022. Karantina bubble berarti memisahkan orang yang berisiko terpapar Covid-19, dengan khalayak luas.

Dengan bubble area atau gelembung, merupakan sistem yang membatasi interaksi seluruh mereka yang habis dari luar negri, dengan orang di luar gelembung area tersebut. Kegiatan karantina semacam ini sangat perlu diterapkan agar seluruh masyarakat sekitar tetap terjaga.

Continue Reading

COVID-19Update

Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi

Published

on

By

Ilustrasi Omicron

Kementerian Kesehatan (Kemenkes), memperkirakan kasus Covid-19 Varian Omicron puncak gelombang pertamanya terjadi pada pertengahan Februari sampai awal Maret 2022.

Omicron merupakan nama dari jenis varian covid-19 yang sedang melanda Indonesia. Nama omicron itu sendiri berasal dari huruf ke-15 alfabet Yunani, dan merupakan variants of Concern (VOC) kelima yang diidentifikasikan oleh WHO.

Hal tersebut dipilih untuk menghindari pemberian nama berdasarkan lokasi di mana mereka pertama kali terdeteksi, sebab akan memunculkan diskriminasi dan stigmatisasi. Selain itu juga penggunaan nama omicron dinilai dapat diingat dan memudahkan setiap orang menyebutnya.

Wilayah Jabodetabek diperkirakan akan menjadi daerah yang tinggi untuk lonjakan kasus covid-19 jenis omicron ini, khususnya Jakarta. Disebabkan karena tingginya angka mobilitas di tempat tersebut, serta terlihat juga dari penularan varian omicron yang terdeteksi lebih banyak terjadi di sana.

Baca Juga:

  1. Tegas, Jokowi Minta Orang Tua Murid Tak Tanda Tangan Surat Tanggung Jawab Risiko Vaksinasi Covid-19
  2. Pandemi Covid-19, Biaya Bangun & Desain Kantor Naik 10%
  3. Jokowi Ungkap Kunci Sukses Berantas Covid-19 yang Tak Dimiliki Negara Lain

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg Widyawati, MKM dalam rilis resmi Kemenkes RI, Senin (17/1/2022) Mengatakan bahwa, “Mengingat dari hasil identifikasi Kemenkes, mayoritas transmisi lokal varian Omicron terjadi di DKI Jakarta, dan diperkirakan dalam waktu dekat juga akan meluas ke wilayah Bodetabek. Mengingat secara geografis daerah-daerah tersebut berdekatan dan mobilitas masyarakatnya sangat tinggi.”

Kekebalan imunitas masyarakat perlu dipertahankan agar tidak mudah tertular oleh varian omicron ini, Kemenkes pun turut memperhatikan hal teserbut dengan memprioritaskan wilayah Jabodetabek sebagai penerima vaksin booster.

Warga dihimbau agar tidak panik namun tetap waspada jika nantinya kasus varian omicron melonjak, Menkes berupaya untuk menangani kasus ini sebaik dan semaksimal mungkin.

Continue Reading

Trending