Connect with us

Internasional

Tegas, arab Saudi Potong Cuti Karyawan yang Ogah Divaksin Covid-19

Published

on

Raja Salman

Pemerintah Arab Saudi memberikan hukuman berat untuk warganya yang tidak mau disuntik Vaksin Covid-19. Melalui Kementerian Sumber Daya Manusia dan Pembangunan Sosial, Arab Saudi akan memotong jumlah cuti karyawan di sektor publik, swasta, dan nirlaba.

Seperti dinukil dari Arab News, Senin (2/8/2021), pemotongan cuti ini dilakukan sampai sang pegawai mendapatkan suntikan Vaksin Covid-19. Aturan ini juga disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi.

Selain itu pemerintah Arab Saudi juga mengarahkan para pekerja yang belum divaksin untuk bekerja dari rumah. Jika bekerja dari jarak jauh ini tak bisa memberikan dampak positif untuk institusi hingga 9 Agustus, maka pegawai akan diberikan sisa cuti yang sudah dipotong dari saldo cuti resmi mereka.

Baca juga :

  1. Ini Beragam Jenis Getuk Tradisional Indonesia
  2. Mandai, Makanan Khas Banjar Berbahan Cempedak
  3. Cicalengka Dreamland, Obyek Wisata Kekinian di Jawa Barat

Di sektor publik, pegawai yang akan mengajukan cuti harus memenuhi syarat dan kondisi yang telah ditetapkan. Namun, jika persyaratan tidak dipenuhi atau pegawai kehabisan sldo cuti, maka akan dikurangi dari cuti biasa atau dianggap sebagai cuti tidak dibayar.

Selanjutnya di sektor swasta dan nirlaba, para pengusaha akan mengizinkan pegawai yang tidak divaksinasi untuk mengajukan cuti resmi dan dihitung dari cuti tahunan.

Jika sisa cuti tahunan habis, pegawai akan diberikan cuti yang tidak dibayar. Kemudian kontrak kerja akan ditangguhkan selama jangka waktu yang telah disetujui.

Vaksinasi Covid-19 di Arab Saudi terus mengalami peningkatan. Tercatat, rata-rata per hari Arab Saudi menyuntikkan 350 ribu dosis Vaksin Covid-19. Total vaksinasi adalah 78 dosis per 100 orang.

Internasional

Gadis di Bawah Umur Afghanistan yang Dinikahi Paksa Berhasil Kabur

Published

on

Parwana Malik
Parwana Malik

Lembaga bantuan internasional berhasil menyelamatkan pengantin anak di bawah umur Afghanistan yang kabur.

Seperti dilansir dari AFP, Jumat (3/12/2021), gadis itu bernama Parwana Malik. Dia baru berusia 9 tahun. Sang gadis cilik berhasil kabur bersama saudara dan ibunya.

Para ibu-ibu muda ini berkumpul bersama enam anak menumpang mobil yang melaju menyusuri celah-celah bukit tertutp salju. Mereka meninggalkan kamp darurat di bagian barat laut Afghanistan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Mereka tak membawa barang apa-apa. Satu-satunya barang yang mereka bawa adalah selimut untuk menghangatkan badan. Mereka kemudian dijemput oleh salah satu lembaga kemanusiaan.

Parwana merupakan salah satu target lembaga itu untuk diselamatkan dari pernikahan paksa terhadap anak di bawah umur.

“Saya amat senang. Mereka (lembaga bantuan) menjuahkan saya dari suami saya yang sudah tua,” ujarnya.

Sebelumnya, Parnawa terpaksa dinikahi di usia sembilan tahun karena keluarganya kelaparan. Sang ayah terpaksa menikahkan Parwana untuk menyambung hidup.

Parwana sempat menangis sejadi-jadinya dan memohon kepada sang ayah agar tak menjualnya. Ia masih ingin pergi bermain dan bersekolah.

Berita tentang derita Parwana pun sontak mengundang keprihatinan. Alhasil, ia berhasil dikembalikan ke sang keluarga karena kecaman masyarakat terhadap pembelinya.

Berkat inisiatif yayasan Too Young to Wed (TYTW) yang bermarkas di Amerika Serikat, Parwana beserta perempuan lain termasuk saudara dan ibunya, berhasil diamankan di safe house.

Continue Reading

Internasional

Jokowi: Indonesia Siap Bantu Afghanistan

Published

on

Presiden Jokowi

Pemerintahan inklusif di Afghanistan saat ini belum terbentuk dan hal itu membuat situasi kemanusiaan di sana memburuk. Untuk itu, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), menyatakan siap membantu Afghanistan.

Jokowi mengungkapkan hal itu saat berbicara secara virtual pada Sesi Retreat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Europe Meeting (ASEM) ke-13 di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat, 26 November 2021.

“Saat ini, pemerintahan inklusif belum terwujud. Situasi kemanusiaan memburuk. Sekitar 23 juta rakyat Afghanistan terancam krisis pangan. Bantuan kemanusiaan menjadi prioritas. Kami berkomitmen memberikan bantuan, termasuk untuk bantuan kapasitas,” ujar Presiden Jokowi, seperti dikutip dari keterangan resmi Istana.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Selain isu kemanusiaan, ada dua isu yang jadi perhatian Indonesia. Pertama, pemberdayaan perempuan. Presiden Jokowi mengingatkan bahwa penghormatan hak-hak perempuan adalah salah satu janji Taliban.

Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia ingin berkontribusi agar janji tersebut dapat dipenuhi, antara lain melalui Indonesia-Afghanistan Women Solidarity Network yang akan dimanfaatkan untuk kerja sama pemberdayaan perempuan ke depan.

“Kami juga siap memberikan beasiswa pendidikan bagi perempuan Afghanistan. Kami akan terus lanjutkan upaya pemberdayaan perempuan Afghanistan melalui kerja sama dengan berbagai pihak,” jelasnya.

Kedua, kerja sama antarulama. Presiden Jokowi memahami betul peran penting ulama di masyarakat. Pada 2018 Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan trilateral ulama Afghanistan-Pakistan-Indonesia untuk mendukung proses perdamaian.

“Meskipun situasi Afghanistan sudah berbeda, namun ulama tetap berperan penting. Kami siap memfasilitasi dialog antara ulama, termasuk ulama Afghanistan,” tandasnya.

Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut yaitu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri I Gede Ngurah Swajaya.

Continue Reading

Internasional

Kabar Baik, Masyarakat Indonesia Kini Boleh Kunjungi Uni Eropa

Published

on

bendera Uni Eropa
bendera Uni Eropa

Indonesia mendapatkan kabar baik di tengah pandemi Covid-19. Uni Eropa (UE) memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang diizinkan mengunjungi kawasan tersebut.

Seperti dinukil dari Reuters, Senin (22/11/2021), kini Warga Negara Indonesia (WNI) kini dapat melakukan kunjungan perjalanan ke-27 negara yang berada di Uni Eropa, yang sebelumnya perjalanan WNI ke wilayah UE hanya untuk keperluan penting (esensial) saja.

Keputusan ini Uni Eropa setelah mempertimbangkan jumlah kasus Covid-19 yang terus menurun. Salah satu yang menjadi pertimbangan Uni Eropa adalah jumlah kasus di bawah 75 dari 100 ribu penduduk dalam dua pekan. Indonesia melaporkan tambahan kasus di bawah di bawah 1.000 sepanjang November, kurang 1 persen dari 100 ribu penduduk.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Menyusul review akan pencabutan berkala pembatasan sementara untuk perjalanan non-esensial, Dewan Uni Eropa memperbarui daftar negara yang dicabut larangan perjalanannya, Indonesia yang ditambahkan ke daftar,” demikian keterangan pers yang dirilis oleh Uni Eropa.

Uni Eropa juga mengizinkan warga Cina untuk mengunjungi kawasan tersebut. Namun, dengan catatan, jika Cina memberikan hak yang sama bagi warga Uni Eropa untuk mengunjungi negara Tirai Bambu tersebut.

Uni Eropa memberlakukan pembatasan kunjungan sejak Maret lalu untuk menekan kasus Covid-19. Mereka akan memperbarui daftar negara yang bisa diizinkan untuk masuk ke kawasan tersebut setiap dua minggu.

Bagi WNI yang berencana ke negara-negara Uni Eropa, perlu mempertimbangkan beberapa hal, selain visa, dan kewajiban tes PCR, tentu adalah apakah negara bersangkutan menerima pengunjung yang sudah divaksin Sinovac (jenis vaksin yang paling banyak dipakai di Indonesia), mengingat belum semua negara mau membuka pintu bagi mereka yang divaksin Sinovac (maupun vaksin-vaksin lain).

Daftar 19 Negara yang Boleh Mengunjungi Uni Eropa:

Argentina
Australia
Bahrain
Kanada
Chile
Kolombia
Indonesia
Yordania
Kuwait
Namibia
Selandia Baru
Peru
Qatar
Rwanda
Saudi Arabia
Korea Selatan
United Arab Emirates
Uruguay
China (asas resiprokal)

Continue Reading

Trending