Connect with us

Culture

Tari Kabasaran, Tarian Perang Minahasa

Published

on

Tari Kabasaran, tarian perang Minahasa. (Istimewa)

Bermula dari tarian perang berubah menjadi tarian penyambutan tamu. Memadukan tiga tarian dalam ritual adat yang berbeda.

Wajah mereka terlihat garang, dengan mata melotot, dan tanpa senyuman. Bersenjatakan pedang dan tombak, mereka bergerak melompat, maju-mundur, dan mengayunkan senjata dengan sigap.

Terlihat seperti prajurit yang berperang menghancurkan musuh. Tak jarang aksi mereka mengejutkan orang-orang yang melihatnya sehingga berteriak: “arotei, okela” aduh bukan main, astaga.

Baca Juga:

  1. Lompat Batu Nias, Menyimpan 3 Nilai Peradaban Manusia
  2. Pepe’-pepeka ri Makka, Tarian Islami asal Makassar
  3. Mengenal Daluang, Kertas Khas Tradisional Buatan Anak Bangsa

Inilah tari kabasaran, seni tradisional masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Tari kabasaran dahulu dimainkan oleh para penari laki-laki yang umumnya bekerja sebagai petani atau penjaga keamanan desa-desa di Minahasa.

Jika sewaktu-waktu wilayah mereka terancam atau diserang musuh, mereka meninggalkan pekerjaan dan berubah menjadi waranei atau prajurit perang.

Menurut adat, penari kabasaran harus berasal dari keturunan sesepuh penari kabasaran. Mereka juga memiliki senjata yang diwariskan dari para leluhur. Senjata inilah yang dipakai saat menari.

Sejarah Tari Kabasaran

Tari Kabasaran Minahasa. (Istimewa)

Kemunculan tarian ini tak bisa dipisahkan perang berkepanjangan dan ancaman dari suku-suku lain yang berdekatan. Untuk mempertahankan diri, leluhur orang Minahasa berusaha memperkuat diri dengan merekrut orang-orang kuat dan berbadan besar yang dilatih berperang dengan menggunakan pedang (santi) dan tombak (wengko).

Menurut Vivi Nansy Tumuju dalam “Simbol Verbal dan Nonverbal Tarian Kabasaran dalam Budaya Minahasa” di Jurnal Duta Budaya, No. 78-01 Tahun ke-48, Juni/Juli 2014, para ksatria yang tuama (bersifat jantan) atau wuaya (berani) inilah militer pertama di Minahasa. Mereka harus menjadi penjaga desa (walak) yang harus siap siaga jika ada ancaman.

“Gerakan-gerakan para prajurit ketika mereka sedang mempersiapkan diri untuk berperang, seperti lompatan, lompatan maju menyerang, mundur atau menyamping untuk menghindari dan menangkis serangan musuh disertai jeritan menakutkan. Itulah yang disebut cakalele atau dalam Minahasa tua sakalele,” ungkap Vivi.

Dari tari cakelele ini pula lahir tari kabasaran. Sutisno Kutoyo dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara menyebut tari kabasaran merupakan penyederhanaan dan penghalusan dari cakalele, tari perang sekaligus pemujaan leluhur. Tujuan tari cakalele dirasakan kurang ramah menyambut tamu-tamu Belanda, karena gerakan-gerakannya yang kasar dan liar.

“Dengan menggunakan gerakan-gerakan quadrille yang diperkenalkan Spanyol maka diciptakanlah tari kabasaran sebagai tari untuk menyambut tamu-tamu Belanda,” catat Sutisno Kutoyo.

Makna Kabasaran

Istilah kabasaran sendiri merupakan perubahan dari kawasaran. Kawasaran berasal dari kata wasar yang artinya ayam jantan aduan yang sengaja dipotong jenggernya (sarang) agar lebih galak saat diadu.

“Jadi kabasaran artinya penari yang menari seperti gaya gerak dua ekor ayam yang sedang menyabung, atau identik dengan ayam aduan,” ungkap Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa.

Dulu setiap kampung memiliki beberapa penari kabasaran. Organisasi kabasaran ditangani oleh para “Hukum Tua” atau kepala kampung. Mereka mendapat tunjangan garam, beras, gula putih, kain dan tembakau setiap bulan.

“Mereka bertugas melakukan penjemputan adat para tamu agung, upacara adat pemakaman pemimpin masyarakat, dan sebagai Polisi Am untuk menjaga keamanan kampung dan menangkap penjahat,” tambah Wenas.

Gerakan tari kabasaran enerjik melambangkan semangat seorang prajurit perang, tapi juga dinamis mengikuti irama alat musik. Semua gerakan tari berdasarkan komando atau aba-aba dari pemimpin tari yang disebut tombolu, yang dipilih sesuai kesepakatan para sesepuh adat. Tarian diiringi alat musik pukul seperti gong, tambur, atau kolintang.

“Penari yang terluka biasanya karena kesalahan sendiri, yang dalam hal ini si penari kurang menguasai sembilan jurus memotong dengan pedang dan sembilan jurus tusukan tombak,” ujar Wenas.

Tahapan Tari Kabasaran

ari kabasaran terdiri dari tiga babak, yang berasal dari tiga tarian dalam upacara adat berbeda: cakalele dari upacara sebelum dan setelah kembali berperang; kumoyak berasal dari upacara korban kepala manusia; dan lalaya’an dari upacara menghilangkan panas jimat-jimat yang melekat di badan.

Masing-masing babak punya gerakan yang berbeda. Babak pertama, cakalele; berasal dari kata “caka” yang artinya bertarung dan “lele” artinya mengejar. Pada babak ini, gerakan penari layaknya bertarung. Penari berpura-pura saling menebas dengan pedang dan menusuk dengan tombak dalam iringan langkah irama 4/4 sesuai bunyi tambor.

Kedua, kemoyak; berasal dari kata “koyak” yang berarti mengayunkan senjata. Kata koyak juga bisa diartikan membujuk roh musuh yang terbunuh dalam pertempuran agar bisa tenang. Pada babak ini, para penari benar-benar memainkan senjata dengan gerakan mendorong maju. Tarian juga diikuti puisi yang dilantunkan seorang pemimpin tari dan akan disambut sorakan para prajurit.

Menurut Wenas, dulu ini merupakan tarian membawa kepala manusia. Pada tarian ini para kabasaran membentuk lingkaran lalu menari mengelilingi kepala manusia yang diletakkan di tengah lingkaran sambil menyanyi lagu Koyak e waranei, lagu patriotik keprajuritan tradisional Minahasa tempo dulu.

Ketiga, lalaya’an di mana penari meletakkan senjata tajam sambil menari lionda dengan penuh senyuman. Lionda, kata Wenas, berarti meletakkan tangan di pinggang dan berdiri dengan satu kaki terangkat. Berbeda dari babak-babak sebelumnya, penari menanggalkan ekspresi serius dan tampang sangar. Mereka bisa menari sambil tersenyum, sebagai simbol membebaskan rasa amarah setelah selesai berperang.

Kostum Tari Kabasaran

Kostum para penarik tak kalah menarik. Kostum terbuat dari kain tenun khas Minahasa, yang didominasi warna merah. Para penari juga memakai topi bulu ayam atau bulu burung cenderawasih, kalung, gelang, dan aksesoris lainnya.

“Dahulu pakaian penari sama dengan penari cakalele, tapi sekarang pakaian bebas asalkan berwarna merah,” catat Sutisno Kutoyo.

Tari kabasaran lestari hingga saat ini. Beberapa kelompok tari masih merawat kesenian tradisional ini di sejumlah wilayah di Minahasa seperti Tombulu (Desa Kali, Desa Warembungan, Kota Tomohon), Tonsea (Desa Sawangan), Kota Tondano, dan Tontembuan (Desa Tareran).

Tari kabasaran juga kerap ditampilkan dalam acara penyambutan tamu, kenaikan pangkat pejabat di wilayah Sulawesi Utara, upacara adat pernikahan, dan kegiatan sosial lainnya. Bahkan pernah ikut membuka pesta olahraga Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Culture

Ritual Sikerei, Pengobatan Supranatural Suku Mentawai

Published

on

Ilustrasi Sikerei menangani pasien. (Istimewa)

Sikerei merupakan sebutan masyarakat suku Mentawai untuk orang yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural dan kedekatan dengan roh leluhur.

Mereka memiliki tugas utama sebagai mediator antara manusia dengan dunia arwah para leluhur sehingga terjadi hubungan yang selaras di antara keduanya.

Suku Mentawai adalah masyarakat menetap di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Sebagian masyarakat Suku Mentawai masih mempertahankan cara hidup tradisional yang bergantung sepenuhnya pada alam sekitar.

Baca Juga:

  1. Lompat Batu Nias, Menyimpan 3 Nilai Peradaban Manusia
  2. Pepe’-pepeka ri Makka, Tarian Islami asal Makassar
  3. Mengenal Daluang, Kertas Khas Tradisional Buatan Anak Bangsa

Mereka dikenal sebagai peramu yang andal. Salah satu tradisi yang khas adalah penggunaan tato di sekujur tubuh yang terkait dengan peran dan status sosial penggunanya.

Salah satu kemampuan utama Sikerei adalah dalam bidang pengobatan. Rakyat Mentawai percaya, seseorang yang sakit dikarenakan jiwanya sedang meninggalkan tubuhnya.

Untuk mengobatinya diperlukan seorang yang memiliki kekuatan spiritual yang tinggi. Bagi masyarakat Mentawai, Sikerei dianggap memiliki kemampuan untuk memanggil kembali jiwa tersebut.

Proses ritual pengobatan (pasilagek) dimulai dengan menghaluskan dedaunan yang digunakan sebagai ramuan obat. Selama prosesi ini, Sikerei terus merapalkan mantra. Rapalan mantra merupakan komunikasi Sikerei dengan para leluhur (ukkui) yang membantunya dalam ritual pengobatan itu.

Pengobatan dilanjutkan dengan tarian mistis yang disebut Turuk. Sama seperti rapalan mantra, tarian tersebut juga merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan arwah leluhur.

Kehidupan tradisional suku Mentawai tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan terhadap roh leluhur. Hubungan antara manusia dan roh para leluhur harus dijaga dengan baik agar tercipta keselarasan.

Sikerei. (Istimewa)

Sebab itu, seorang Sikerei memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat suku Mentawai. Selain ahli dalam pengobatan, Sikerei juga diberi kepercayaan untuk menjadi pimpinan dalam setiap upacara adat, mulai dari upacara kelahiran, pergi ke ladang, berburu ke hutan, hingga upacara kematian.

Tidak mudah untuk menjadi Sikerei. Proses menjadi Sikerei melewati beberapa tahapan yang berlangsung dalam hitungan tahun. Seorang calon akan diuji secara mental maupun fisik, mulai dari kemampuan meramu obat-obatan hingga meditasi untuk menemui roh leluhur (Pagetasabbau).

Meskipun dalam strata sosial, Sikerei menduduki posisi paling atas dan sangat dihormati oleh warga lainnya, tapi ia tidak serta-merta bebas melakukan apa pun yang ia inginkan. Beberapa pantangan harus dipatuhi, seperti larangan untuk makan pakis, babi, bilou (sejenis monyet khas Mentawai), belut, tupai, dan kura-kura.

Sikerei juga dilarang untuk menggoda istri orang lain. Ia harus mendahulukan kepentingan kaum di atas dirinya. Ketika ada panggilan untuk menyembuhkan orang sakit, mereka harus rela meninggalkan kegiatan di uma (rumah adat) maupun di ladang.

Beratnya syarat dan adanya berbagai pantangan membuat tidak semua orang mampu dan mau menjadi Sikerei. Oleh karena itu, biasanya Sikerei ditunjuk berdasarkan keturunan.

Ada juga yang mengungkapkan bahwa menjadi Sikerei adalah sebuah panggilan. Mereka yang menjadi Sikerei bukan karena mereka mengiinginkannya, tetapi karena ditunjuk oleh Taikamanua. Petunjuk itu mereka dapatkan melalui mimpi. Dalam kepercayaan suku Mentawai, Taikamanua adalah penguasa tertinggi alam semesta.

Sebagai syarat pengangkatan Sikerei, mereka yang ditunjuk haruslah memotong babi dan ayam sebagai persembahan kepada arwah leluhur. Orang yang terpanggil menjadi Sikerei akan memiliki kemampuan untuk berbicara dan memahami bahasa roh dari para leluhur.

Namun seiring waktu, peran Sikerei pun semakin terpinggirkan. Budaya tradisional semakin terdesak oleh budaya modern. Kepercayaan asli suku Mentawai yang bernama Arat Sabulungan juga semakin surut dengan masuknya agama-agama Samawi. Secara perlahan, budaya tradisional Mentawai mulai berubah, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Anak-anak muda Mentawai lebih senang merantau ke luar daerah daripada tetap di dalam suku dan hidup dengan segala tradisinya. Kalangan muda yang sudah mengecap pendidikan, memilih bekerja dan tinggal di ibu kota kecamatan Muara Siberut atau ibu kota Kabupaten Tuapejat.

Bergesernya budaya Suku Mentawai dan semakin langkanya anak muda yang tinggal di dalam suku membuat keberadaan Sikerei semakin langka. Kini sosoknya hanya bisa dijumpai di Pulau Siberut, terutama di Kecamatan Siberut Selatan.

Sedangkan di tempat lain, seperti di Pulau Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, Sikerei hampir tidak ditemukan lagi.

Continue Reading

Culture

Motif Batik Betawi, Miniatur Ibu Kota Era Lampau

Published

on

Motif Batik Betawi. (Istimewa)

Salah satu budaya Indonesia yang dinobatkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia adalah batik.

Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki batik sebagai identitas dan ciri khas mereka, termasuk milik warga asli Jakarta yaitu suku Betawi.

Batik asal Betawi memiliki ciri khas tersendiri dengan warna-warnanya yang mencolok dan gambarnya yang unik. Motif batik Betawi juga banyak yang terinspirasi dari sejarah Jakarta terdahulu.

Baca Juga:

  1. Lompat Batu Nias, Menyimpan 3 Nilai Peradaban Manusia
  2. Pepe’-pepeka ri Makka, Tarian Islami asal Makassar
  3. Mengenal Daluang, Kertas Khas Tradisional Buatan Anak Bangsa

Batik khas Betawi adalah salah satu kerajinan tradisional khas Jakarta. Pembuatan batik ini telah dimulai sejak abad ke-19 dan populer di Batavia.

Kala itu, rumah mode Met Zellar dan Van Zuylen menjadi salah satu penghasil batik paling diminati oleh kalangan masyarakat kelas atas seperti Belanda, Cina dan pribumi elit.

Pusat produksi batik ini pada masa itu meliputi wilayah Tanah Abang dari Karet tengsin dan Kebayoran hingga Tebet. Wilayah tersebut didominasi oleh pengusaha batik yang berasal dari orang-orang Tionghoa.

Pada awalnya, motif batik khas Betawi mengikuti corak dari daerah pesisir utara Pulau Jawa yang bertemakan pesisiran. Seiring perkembangannya, corak batik ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa dan kaligrafi khas Timur Tengah.

Ciri khas Batik Betawi

Motif Batik Betawi Ondel-ondel Pucuk Rebung. (Istimewa)

Batik tradisional ini biasanya menggunakan warna dasar yang cerah, corak pada motif-motif batik dari Betawi menggambarkan budaya yang ada di Betawi seperti Ondel-ondel, Sungai Ciliwung, Tanjidor dan Peta Ceila serta beberapa pepohonan. Keunikan tersebut menjadi ciri khas tersendiri bagi Batik tersebut.

Filosofi Batik Betawi

Motif Batik Betawi Rasamala. (Istimewa)

Batik khas Betawi memiliki makna yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Betawi. Batik ini sebagai keseimbangan alam semesta dan pemenuhan hidup yang sejahtera serta penuh berkah.

Batik ini juga menjadi upaya masyarakat Betawi dalam mempertahankan nilai-nilai budayanya yang telah ada secara turun-temurun dari leluhur mereka.

Batik ini seringkali digunakan sebagai busana resmi oleh beberapa orang, seperti seragam kantor atau sekolah dan sebagainya. Batik Betawi biasanya juga digunakan sebagai oleh-oleh untuk tamu dari luar Jakarta. Pada dasarnya, batik ini memiliki fungsi yang sama seperti kain batik pada umumnya.

Kegunaan Batik Betawi

Motif Batik Betawi Nusa Kelapa. (Istimewa)

Batik ini seringkali digunakan sebagai busana resmi oleh beberapa orang, seperti seragam kantor atau sekolah dan sebagainya. Batik Betawi biasanya juga digunakan sebagai oleh-oleh untuk tamu dari luar Jakarta. Pada dasarnya, batik ini memiliki fungsi yang sama seperti kain batik pada umumnya.

Berikut contoh 7 motif batik khas Betawi yang populer:

1. Motif Pencakar Langit

Dinamakan motif pencakar langit karena pada motif ini menggambarkan gedung-gedung tinggi seperti yang sering kita temui di Jakarta. Diantara gedung-gedung tersebut terdapat ondel-ondel yang merupakan maskot Betawi.

Gambar pada motif tersebut menandakan bahwa semaju apapun Jakarta saat ini, ondel-ondel akan selalu menjadi salah satu budaya yang melekat dalam identitas masyarakat Jakarta, khususnya Betawi.

2. Motif Jali-jali

Jali- jali adalah sebuah pohon yang dahulu banyak tumbuh di Jakarta, tentunya sebelum Jakarta menjadi kota yang penuh hiruk pikuk seperti sekarang.

Motif ini ingin menggambarkan kenangan terhadap Jakarta lama ketika pohon jali-jali masih banyak tumbuh di sana. Buah dari pohon tersebut sering kali digunakan oleh anak-anak sebagai kalung dan gelang.

Selain dikenang dalam motif batik asal Betawi, jali-jali juga diabadikan menjadi lagu tradisional Jakarta.

3. Motif Salakanagara

Nama salakanagara terinspirasi dari Gunung Salak. Gunung Salak dipercaya oleh warga setempat memiliki kekuatan yang besar dan mampu menjaga Batavia.

Konsep dari motif ini mengangkat tema kerajaan pertama di Batavia atau Jakarta saat ini yang didirikan Aki Tirem pada 130 Masehi.

4. Motif Nusa Kelapa

Motif nusa kelapa menggambarkan situasi Jakarta lama di mana daerah tersebut merupakan daerah yang asri, banyak pepohonan, gunung dan sawah yang sejuk dan segar sebelum berubah menjadi kota yang padat penduduk dan bangunan.

Nama motif ini terinspirasi dari peta ceila yang dibuat pada 1482-1521 ketika pemerintahan Prabu Siliwangi. Dari peta itulah ditemukan nama asli Jakarta yaitu Nusa Kelapa, kemudian berubah menjadi Sunda Kelapa, lalu berubah Jayakarta hingga Batavia dan akhirnya sekarang menjadi Jakarta.

5. Motif Rasamala

Nama motif rasmala ini terinspirasi dari pohon rasmala. Masyarakat Betawi pada zaman dulu mempercayai bahwa rasmala merupakan pohon sakral yang dapat memberikan perlindungan.

Motif rasmala menggambarkan kejadian saat Belanda pertama kali masuk ke wilayah Batavia, tepatnya di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa pada kala itu masih ditumbuhi dengan pohon rasmala yang begitu lebat dengan bau yang menyengat seperti kemenyan.

6. Motif Ondel-ondel dan Tanjidor

Seperti pada namanya, motif ini menggunakan ondel-ondel dan tanjidor sebagai gambar utamanya. Ondel-ondel bermakna sebagai penolakan bala dan pengusir makhluk halus yang tersesat.

Sedangkan tanjidor merupakan pertunjukan musik tradisional khas Betawi. Warna dasar yang biasa digunakan pada motif ini adalah hitam, kuning dan jingga.

7. Motif Ondel-ondel Pucuk Rebung

Motif ondel-ondel pucuk rebung memiliki makna bahwa masyarakat Betawi merupakan orang yang jujur dan apa adanya. Motif ini biasanya menggunakan warna dasar hijau dan biru. Gambar ondel-ondel diletakkan di tengah kain, sedangkan pucuk rebung digambarkan di bagian tepi kain.

Continue Reading

Culture

Kesenian Dongkrek, Ritual Tolak Pagebluk khas Madiun

Published

on

Kesenian Dongkrek khas Madiun. (Istimewa)

Alkisah wabah penyakit menyerang Mejayan di Kawedanan Caruban, Kabupaten Madiun. Banyak penduduk yang terkena. Begitu parahnya wabah tersebut hingga ada ungkapan, “Pagi sakit, sore harinya meninggal.” Cerita itu terekam dalam kesenian tradisional khas Madiun bernama Dongkrek.

Kesenian Dongkrek lahir sekitar 1867 di Onderdistrik (Kecamatan) Mejayan, Kawedanan Caruban, Kabupaten Madiun. Kala itu Raden Ngabehi Lo Prawiradipura menjadi Palang atau Demang (jabatan setingkat kepala desa) yang membawahi lima desa.

Menurut cerita turun-menurun, kala wabah penyakit melanda Mejayan, Raden Ngabehi Lo Prawiradipura sangat prihatin dengan keadaan yang melanda warganya.

Baca Juga:

  1. Lompat Batu Nias, Menyimpan 3 Nilai Peradaban Manusia
  2. Pepe’-pepeka ri Makka, Tarian Islami asal Makassar
  3. Mengenal Daluang, Kertas Khas Tradisional Buatan Anak Bangsa

Sebagai pemimpin, keadaan warga di wilayahnya tentu menjadi tanggung jawabnya. Sebab itu, ia mencari cara untuk mengatasi wabah penyakit yang menyerang warganya. Hingga akhirnya ia meminta bantuan pada Yang Maha Kuasa dengan bertapa di wilayah gunung kidul Caruban.

Akhirnya, ia mendapatkan wangsit untuk membuat semacam tarian atau kesenian sebagai tolak bala. Kesenian tari itu ternyata ampuh mengusir wabah penyakit dari Mejayan.

Nama Dongkrek berasal dari suara alat musik pengiring yang digunakan, yaitu dung dan krek.

Bunyian dung berasal dari beduk atau kendang. Sedangkan bunyi krek berasal dari alat musik kayu berbentuk persegi. Pada salah satu sisi alat musik itu terdapat tangkai kayu yang bergerigi sehingga saat digesek akan berbunyi krek.

Dalam perkembangannya, digunakan pula alat musik lainnya berupa gong, kenong, kentongan, kendang, dan gong berry.

Pementasan kesenian Dongkrek asal Madiun. (Istimewa)

Kesenian ini berupa tari fragmen satu babak yang mengisahkan pengusiran roh halus. Lakonnya terdiri asas sekelompok buto kala, orang tua sakti, dan dua perempuan paruh baya.

Dua perempuan yang melambangkan warga desa itu dikepung oleh para pasukan buto kala. Lalu muncul sesosok lelaki tua dengan tongkatnya berupaya untuk menyelamatkan kedua perempuan dari gangguan roh halus. Terjadilah pertarungan sengit yang dimenangkan oleh orang tua sakti, dan dimenangkan oleh orang tua tersebut.

Setelah dikalahkan, para buto kala takluk dan mengikuti kehendak orang tua sakti tersebut. Orang tua sakti didampingi dua perempuan yang telah diselamatkannya menggiring pasukan buto kolo keluar dari Desa Mejayan. Dengan demikian, sirnalah pagebluk yang menyerang rakyat Desa Mejayan.

Setelah mengalami masa kejayaan dari periode 1867-1902, pemerintah kolonial Belanda sempat melarang kesenian ini untuk pentas di panggung terbuka.

Demikian pula saat Jepang berkuasa, semua tradisi budaya lokal dihentikan. Kesenian Dongkrek juga termasuk di dalamnya.

Para penari Dongkrek asal Madiun. (Istimewa)

Kesenian Dongkrek dibangkitkan kembali oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun dan Propinsi Jawa Timur pada 1973. Saat itu, Pemerintah setempat berusaha merekonstruksi sejarah dan pakem kesenian Dongkrek melalui penelusuran dan studi dokumentasi.

Selain sebagai ritual tolak bala di Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Dongkrek telah berkembang sebagai seni pertunjukan. Kesenian ini dikembangkan sebagai hiburan rakyat dengan penambahan alat musik dan penari latar agar lebih menarik.

Pada 2009, kesenian Dongkrek ditetapkan sebagai kesenian khas serta aset kekayaan budaya milik Kabupaten Madiun. Seni pertunjukan tradisional ini dipentaskan pada berbagai pagelaran budaya sebagai kekayaan warisan leluhur yang dimiliki Kabupaten Madiun.

Di antaranya pada 2005, ketika Kelompok Seni Dongkrek Condro Budoyo, mendapat kesempatan untuk turut mengisi acara Gita Nantya Nusantara atau Pawai Budaya Nusantara di Istana Negara.

Pada 2014, Dongkrek ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia dari Provinsi Jawa Timur.

Continue Reading
Internasional10 hours ago

Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jarak Pendek, AS: Itu Bukan Ancaman

Nasional11 hours ago

Perjuangan Aspar Jaelolo Jadi Raja Panjat Tebing Dunia 2022

Lifestyle12 hours ago

Hati-hati, Menyimpan Buah dan Sayuran Ternyata Ada Ilmunya!

Nasional15 hours ago

Menang Lawan Curacao, Peringkat FIFA Timnas Indonesia Merangkak Naik

Investment16 hours ago

Indonesia Bukukan Transaksi Bisnis Rp23,3 Triliun dari CAExpo 2022

Culture17 hours ago

Ritual Sikerei, Pengobatan Supranatural Suku Mentawai

Nasional19 hours ago

Siaran TV Analog Berhenti Total di 112 Wilayah Mulai 2 November 2022

Hangout20 hours ago

Jepang Izinkan Wisatawan Masuk Bebas Visa Mulai 11 Oktober 2022

Internasional21 hours ago

Mengenal Sosok Joelle Rich, Pacar Baru Johnny Depp

Nasional22 hours ago

Anies Baswedan Pastikan Jakpro Tak Akan Komersialisasi Taman Ismail Marzuki

Edukasi1 day ago

Begini Syarat Dapat Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah

Investment2 days ago

UMKM Harus Bersiap, Indonesia Jadi Negara Ekonomi Terbesar Keempat Dunia Tahun 2045

Investment2 days ago

Investasi Berbasis Perusahaan Hijau Kini Makin Diminati

Teknologi2 days ago

Sudah Meluncur di Indonesia, Begini Cara Pakai TikTok Now

Investment2 days ago

Inilah Ragam Tantangan Perekonomian Indonesia di Tahun 2023

Investment2 days ago

Kredit Mesra, Solusi Pemprov Jabar Agar Warganya Tak Terlilit Hutang Rentenir

Properti2 days ago

Bintaro Jaya Tawarkan Properti Beragam dan Berkelas

CityView2 days ago

Harumnya Tembakau Deli, Bikin Kota Medan Beraroma Eropa

Investment2 days ago

Meluncur November, Inilah Pengertian Papan New Economy BEI & Kriteria Perusahaan yang Masuk Papan Pemantauan Khusus

Teknologi2 days ago

Elon Musk Ciptakan Manusia Pekerja, Jutaan Karyawan Terancam

Lifestyle3 days ago

Lagi Diet? Berikut 7 Manfaat Tahu Rebus untuk Kesehatan

Internasional3 days ago

Disney Rilis Cuplikan Film Animasi Berjudul “Strange World”

Culture5 days ago

Kesenian Dongkrek, Ritual Tolak Pagebluk khas Madiun

Nasional6 days ago

Yogyakarta Siap Gelar Turnamen Bulutangkis Indonesia International Series 2022

Investment2 days ago

UMKM Harus Bersiap, Indonesia Jadi Negara Ekonomi Terbesar Keempat Dunia Tahun 2045

Investment1 week ago

Perusahaan Fintech Paygua Jajaki Rencana IPO

Culture5 days ago

Makna Luhur ‘Tari Bambu Gila’ di Maluku

Nasional7 days ago

SBY Menduga Pemilu 2024 Berpotensi Ada Kecurangan, KPU: Laporkan ke Bawaslu RI

Nasional7 days ago

Timnas U-20 Indonesia Lolos ke Piala Asia 2023

Teknologi2 days ago

Elon Musk Ciptakan Manusia Pekerja, Jutaan Karyawan Terancam

Lifestyle6 days ago

Hati-hati, Gaya Hidup yang Tidak Aktif Bisa Jadi Penyebab Kematian

Anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon. (DPR RI)
Nasional3 days ago

Luhut: Orang Luar Jawa Tak Bisa Jadi Presiden RI, Fadli Zon Singgung Politik Identitas

BEI
Investment2 days ago

BEI Catat Ada 29 Perusahaan Siap IPO, Berikut Daftarnya

CityView1 week ago

Sentra Industri Sepatu Cibaduyut, Dulu Mendunia, Kini?

Hangout3 days ago

Deretan 10 Museum Termahal di Indonesia

Investment2 days ago

Meluncur November, Inilah Pengertian Papan New Economy BEI & Kriteria Perusahaan yang Masuk Papan Pemantauan Khusus

Nasional3 days ago

Indonesia Pastikan Gelar Ganda Campuran di Indonesia International Series 2022

Investment3 days ago

Zulkifli Hasan: TIIMM G20 Hasilkan Capaian Konkret

Nasional6 days ago

Alasan AHM Berikan Sentuhan Baru CBR250RR

Nasional3 days ago

KPK Tetapkan Hakim Agung Sudrajad Dimyati Sebagai Tersangka

Hangout5 months ago

Pasar Cimol Gedebage, Pusatnya Baju Bekas Bermerek di Bandung

Traveling5 months ago

Desa Wisata Sawai, Desa Tertua di Maluku yang Punya Sungai Keramik

Nasional5 months ago

Kalisari, Surga Takjil di Jakarta Timur

Properti5 months ago

Kisah Pengusaha Properti Bangun Rumah Subsidi untuk Berdayakan Masyarakat Banjarmasin

Uncategorized6 months ago

Kisah Mumun, Sang Hantu Legendaris Cibubur

Advetorial6 months ago

Pentingnya Literasi Finansial Melalui Kesetaraan Gender untuk Generasi Milenial

Showbiz11 months ago

Tega! Ada Youtuber Bikin Konten Mistis Soal Vanessa Angel

Showbiz11 months ago

Detik-detik Usai Mobil Vanessa Angel Alami Kecelakaan

Nasional11 months ago

The Power of Emak-Emak! Bubarkan Demo yang Blokir Jalan

Showbiz11 months ago

Inilah yang Terjadi Usai Miss World Malaysia Klaim Batik dari Negaranya

Showbiz11 months ago

Skandal Aborsi, Aktor Kim Seon-ho Tinggalkan 1 Day 2 Nights

Teknologi11 months ago

Mark Zuckerberg Rugi Triliunan Rupiah, Saham Facebook Anjlok

Nasional11 months ago

Mensos Risma Ngamuk Lagi, Warga Marahi Balik

Showbiz11 months ago

Akui Salah, Baim Wong Ingin Temui Kakek Suhud

Showbiz11 months ago

Kakek Suhud Penjual Buku Agama, Bukan Pengemis Seperti Anggapan Baim Wong

Internasional11 months ago

Eropa Krisis Energi, Peta Kekuatan Dunia Akan Berubah?

Sport11 months ago

Indonesia Juara Piala Thomas, Merah Putih Tak Bisa Berkibar

Culture11 months ago

Ampyang Maulid, Cara Leluhur Berintropeksi Diri di Perayaan Maulid Nabi

Internasional1 year ago

Kronologi Bom Bunuh Diri di Bandara Kabul

COVID-19Update1 year ago

Aturan Ibadah Ramadhan Pemkot Tangsel: SOTR Dilarang-Tarawih 50%

Advertisement

Trending