Connect with us

Internasional

Takut Covid-19, Berbagai Bos Besar di AS Ogah Makan Malam Bareng Trump

Published

on

Beberapa bos perusahaan besar di Amerika Serikat (AS) menolak menghadiri undangan makan malam dari Gedung Putih bersama Presiden Donald Trump dan Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador.

Alasannya, beberapa bos tersebut merasa khawatir karena diduga ada seorang pejabat yang positif Covid-19. Demikian dilansir dari Reuters, Kamis (9/7/2020).

Pejabat yang positif Covid-19 adalah Kepala Biro Pertanian AS, Zippy Duvall, dinyatakan positif Covid-19 pada Rabu pagi waktu setempat. Dia sempat mengalami batuk dan demam. Duvall sendiri tak menghadiri acara makan malam.

Baca Juga:

  1. Anies Baswedan Perpanjang PSBB dengan Masa Transisi
  2. New Normal, Risma Minta Kantin Sekolah Tak Buka
  3. Novel Baswedan Mengadu ke Jokowi Soal Hukuman Kasus Penyiraman Air Keras
  4. Lockdown 5 Bulan, Berat Badan Pria di Wuhan Naik 100 Kg

Acara makan malam di Gedung Putih dihadiri 52 tamu. Acara berlangsung di Ruang Timur Gedung Putih. Makan malam ini adalah acara sosial tingkat negara paling terkemuka yang diselenggarakan oleh administrasi Presiden Donald Trump sejak pembatasan ketat karena virus Corona.

Setidaknya, ada tiga CEO perusahaan otomotif besar AS menolak hadir pada undangan makan malam dari Trump. CEO otomotif Detroit Jim Hackett dari Ford Motor Co, Mary Barra dari General Motors Co, dan Mike Manley dari Fiat Chrysler tidak menghadiri makan malam itu.

Padahal ketiga perusahaan ini akan mendapat manfaat dari peluncuran kesepakatan perdagangan baru AS-Meksiko-Kanada yang menggantikan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara.

Berdasarkan daftar hadir pada acara makan malam itu, Ford mengirim kepala operasi Amerika Utara, Kumar Galhotra. Sementara GM mengirim penasihat umum, Craig Glidden. Namun, tidak ada eksekutif Fiat Chrysler yang hadir.

Meski begitu, beberapa CEO AS dilaporkan hadir, mulai dari Jeff Martin dari Sempra Energy, Bob Swan dari Intel Corp, David Abney dari United Parcel Service Inc, Leon Topalian dari Nucor Corp, James Taiclet dari Lockheed Martin Corp, dan Steven Schwarzman dari Blackstone Group. (Arie Nugroho)

Advertisement

Internasional

Jokowi: Saatnya Indonesia Memimpin Negara-Negara Terkaya di Dunia

Published

on

Jokowi di Presidensi G20
Jokowi di Presidensi G20

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), ingin ajang G20 dimanfaatkan Tanah Air sebagai ajang untuk menunjukkan kepemimpinan di mata dunia.

“Sekarang ini kita memimpin negara-negara terkaya dunia untuk membangun dunia yang lebih baik, yang lebih berkeadilan bagi kita semua, bagi masyarakat masa depan dunia,” kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Kongres IV Persatuan Alumni GMNI, Senin (6/12/2021).

Jokowi menganggap Presidensi G20 ini sebagai hal yang sakral. Dia mengibaratkan kerja keras Indonesia di Presidensi G20 selayaknya perjuangan Presiden Soekarn ketika mendukung negara-negara jajahan untuk memperoleh kemerdekaan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Perjuangan itu juga diibaratkan seperti perjuangan Bung Karno dalam memimpin kedaulatan negara-negara Asia Afrika. Jokowi ingin momentum Presidensi G20 dimanfaatkan Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang.

“Ini sebagai momentum untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, kepemimpinan Indonesia untuk mewarnai arah dunia,” ujarnya.
Jokowi mengatakan, dunia yang semakin terbuka belakangan ini melahirkan gelombang globalisasi.

Sementara, globalisasi melahirkan dunia yang hiperkompetisi. Oleh karenanya, ia ingin Indonesia memenangkan kompetisi, baik dalam negeri, di pasar global, dan pasar luar negeri. Presiden ingin Indonesia menemukan cara-cara baru untuk lebih unggul dan mendahului negara lain.

Continue Reading

Internasional

Terlanjur Kaya, Orang Ini Beli 1 Kota AS

Published

on

Mark Cuban

Orang yang terlanjur memiliki harta berlebih memang terkadang melakukan hal-hal di luar nalar. Pemilik klub Dallas Maverick, Mark Cuban, membeli sebuah kota kecil Mustang di Texas.

Seperti dinukil dari CNN International, Senin (6/12/2021), Kota kecil di Texas ini hanya berpenghuni 21 orang. Menariknya, Cuban memutuskan membeli kota ini karena rekomendasi.

“Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dengan itu,” kata Cuban.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Hingga saat ini, belum diketahui berapa biaya yang harus dibayarkan oleh Cuban. Namun, kota ini pada tahun 2017 sempat dijual seharga 4 juta dolar AS.

Mustang sendiri merupakan lahan kosong seluas 77 hektar. Kota ini didirikan pada awal 1970-an, ketika sebagian besar wilayah ini dikenal sebagai sumber air lokal di Navarro County yang mengalami kekeringan.

Saat ini, di kota tersebut hanya ada taman trailer dan klub tari telanjang, Wispers Cabaret, yang dilaporkan dalam kondisi rusak di kota tersebut. Selain itu, menurut broker real estate Dallas Mike Turner, kota ini juga memiliki seekor buaya di salah satu kolamnya.

Dari kota ini, hanya membutuhkan waktu 45 menit ke utara menuju Kota Dalas. Disebutkan para penggemar sejarah akan senang mengetahui bahwa kota Waco hanya berjarak lebih dari satu jam berkendara ke barat daya dari Mustang.

Continue Reading

Internasional

Hubungan Memanas, Rusia Ngamuk Gegara Jet Tempur AS Wara-wiri

Published

on

Hubungan Rusia dan AS
Hubungan Rusia dan AS

Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia memanas. Rusia mengirimkan ancaman kepada AS pada Minggu (5/12/2021) waktu setempat.

Seperti dilansir dari Reuters, Senin (6/12/2021), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyebut penerbangan sipil di bawah ancaman karena tindakan Angkatan Udara AS di Laut Hitam. AS bersama sekutunya NATO bahkan dianggap tengah mempertaruhkan nyawa banyak warga sipil.

Hal ini terjadi akibat peningkatan intensitas penerbangan NATO di dekat perbatasan Rusia. Jumat, Pusat Kontrol Pertahanan Nasional Rusia melaporkan pesawat mata-mata AS, RC-135 dan CL-600 Artemis wara-wiri di atas Laut Hitam.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Ini menciptakan risiko munculnya insiden berbahaya sehubungan dengan pesawat sipil,” tulis Zakharova dimuat media Rusia TASS, Senin (3/12/2021).

Rusia sendiri menyebut jet tempur Su-30SM dan Su-27 dikerahkan untuk mencegat jet mata-mata itu. Saat itu, pesawat maskapai komersil Aeroflot tujuan Tel Avib-Moskow diminta mengubah ketinggian untuk memastikan penerbangan mereka tetap aman di atas perairan terbuka Laut Hitam.

Sebelumnya, ketegangan Rusia dengan AS dan sekutu memanas beberapa bulan ini. November lalu, Rusia mencegat sebuah pesawat Angkatan Udara Inggris yang posisinya disebut 30 kilometer (km) dari teritori negeri Vladimir Putin.

Pesawat pegintai Inggris RC-135 mencoba mendekati perbatasan Federasi Rusia di wilayah bagian barat daya semenanjung Krime,” tegas kementerian Rusia.

Rusia sendiri mengirimkan Su-30 untuk mendesaknya pergi. Rusia menyebut jet Inggris berbalik ketika jet Rusia mendekat.

Continue Reading

Trending