Connect with us

Teknologi

Tak Lama Lagi, Pengguna Telkomsel Bisa Akses Netflix

Published

on

Kabar gembira hadir bagi pelanggan setia layanan streaming Netflix di Indonesia. Pasalnya, penyedia layanan seluler, Telkomsel bakal membuka akses untuk layanan Netflix dalam waktu dekat ini.

“Dalam waktu dekat, Netflix akan bisa diakses,” tutur Head of Home LTE Telkomsel, Arief Pradetya, saat jumpa pers virtual peluncuran Telkomsel Orbit, Kamis (2/7/2020).

Arief saat itu menjawab pertanyaan apakah Telkomsel Orbit akan bisa digunakan untuk mengakses Netflix. Dia tidak menyatakan kapan tepatnya akses Netflix akan dibuka, namun, memastikan perusahaan akan mengumumkan jika akses sudah dibuka.

Baca Juga: Kemendikbud: Kerja sama dengan Netflix 100% Gratis

Kabar grup Telkom akan membuka blokir Netflix sudah mengemuka sejak beberapa waktu belakangan. Pada Juni lalu, Direktur Umum Telkom, Ririek Adriansyah menyatakan masih mendiskusikan untuk membuka akses ke Netflix.

“Itu tergantung hasil diskusi tim Netflix dengan Telkom, kalau mereka mau mengubah agar lebih ‘comply’ dengan regulasi, terutama dalam hal ‘content’ dan ‘take down policy’,” kata Ririek, pada Juni lalu.

Baca Juga: Epic Games Store Bagikan Game Gratis, HUE

Telkom juga mengharapkan Netflix mau lebih memberdayakan produser konten lokal. “Maka, kami siap untuk membuka Netflix di Indihome maupun Telkomsel,” kata Ririek.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate, awal tahun ini juga menyatakan harapannya terhadap Netflix untuk lebih banyak menayangkan konten lokal.

Baca Juga: Diblok, TikTok Kirim Surat ke Pemerintah India

“Sekarang kita minta supaya (film buatan) sineas Indonesia, yang saat ini juga sudah ditayangkan oleh Netflix, diperbanyak. Mendukung sineas original Indonesia,” kata Johnny.

Mengenai Netflix yang tidak bisa diakses melalui jaringan seluler dari Telkom, termasuk Telkomsel, Johnny menyebutnya sebagai urusan bisnis antara kedua perusahaan.

(Dimas Satrio)

Foto: Istimewa

Advertisement

Teknologi

Mengenal Web 3.0 yang disebut Masa Depan Internet

Published

on

By

Ilustrasi Web 3.0

Belakangan ini istilah WEB 3.0 sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Hal ini disebut-sebut sebagai masa depan internet.

Web 3.0 ini sedang menjadi istilah yang acap kali di bicarakan oleh netizen. Sama halnya dengan Metaverse, dan NFT yang sedang marak diperbincangkan. Dengan tren NFT yang sedang berlangsung ini membantu gerakan Web 3.0.

Web 3.0 itu sendiri merupakan Internet generasi ketiga yang akan datang. Di mana situs web dan aplikasi akan dapat memproses informasi dengan cara seperti manusia yang cerdas, melalui teknologi seperti pemelajaran mesin (ML), Data Besar, teknologi buku besar terdesentralisasi (DLT), dan lai-lain.

Jauh sebelum ada Web 3.0, telah lebih dulu hadir Web 1.0 dan Web 2.0. Dimulai pada 1990-an, yaitu hari-hari internet berawal. Saat itu juga merupakan munculnya Web 1. kala itu, cara mendemokratisasi akses ke informasi adalah dengan Web. Kemudian baru munculah Web 2.0 pada pertengahan tahun 2000-an.

Baca Juga:

  1. Kupas Tuntas NFT
  2. Tren Baru, Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Tanah di Metaverse
  3. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse

Ketika itu mulai bermunculan nama-nama besar seperti Google, Amazon, Facebook, sampai Twitter. Kehadiran platform tersebut membuat tertib dalam dunia interner, dengan mempermudah koneksi dan transaksi online.

Dilansir dari NPR, Senin (17/1/2022), Namun para kritikus menyebut perusahaan-perusahaan tersebut memiliki terlalu banyak kekuatan. Web 3.0 terkait merebut kembali sebagian kekuatan. Web 3.0 terkait merebut kembali sebagian kekuatan. Web 3.0 ini memiliki banyak pendukung, mereka ingin melihat kekuatan internet berada di tangan rakyat, bukan kepada perusahaan tertentu.

Ketikat Web 3 ini dijalankan, pengguna tidak hanya membuat konten, mereka juga harus bertanggung jawab atas platform di mana konten dibagikan. Web ini membuat pengguna mengontrol data mereka sendiri. Nantinya pengguna akan berpindah dari media sosial ke email atau belanja dengan satu akun dipersonalisasi, membuat catatan di Blockchain atas semua kegiatan.

Pengusaha dan dosen Blockchain di University of California Berkeley, Olga Mack mengatakan, “Bagi kebanyakan orang itu terdengar seperti Voodoo. Namun saat Anda menekan tombol untuk menyalakan lampu, apakah Anda mengerti bagaimana listrik dibuat? Ada tidak perlu tahu bagaimana listrik bekerja untuk memahami manfaatnya. Sama halnya dengan Blockchain.”

Ia juga mengungkapkan bahwa, Web 3.0 sangat teoritis untuk waktu yang lama. Akan tetapi karena sekarang ada lonjakan momentum untuk membangun.

Continue Reading

Teknologi

Masih Bingung Hitung Biaya dan Keuntungan NFT? Begini Caranya

Published

on

By

NFT

NFT atau aset digital yang menggunakan teknologi blockchain (buku besar digital), saat ini sedang menjadi tren di Indonesia. Hal ini karena NFT menawarkan keuntungan yang cukup menjanjikan.

NFT itu sendiri merupakan singkatan dari non-fungible token. Aset digital seperti Barang berharga yang unik dengan nilai tukar yang tidak bisa diganti, akan digantikan oleh NFT. Lukisan, seni musik, item dalam game, hingga video pendek, merupakan contoh dari NFT itu sendiri. Catatan transaksi di dalam blockchain adalah data yang dimiliki setiap NFT. Data ini berisikan perihal harga, histori kepemilikannya, dan siapa penciptanya.

OpenSea adalah marketplace aset digital yang paling banyak digunakan. Diketahui, akhir-akhir ini banyak sekali warga Indonesia yang menjual NFT seperti Ghozali Everyday. Dirinya viral karena mendapatkan cuan yang fantastis dari foto selfienya yang terjual di NFT. Tidak hanya ia saja, masyarakat yang lain pun juga turut serta meramaikan NFT ini. Mereka menjual NFT dalam bentuk foto makanan seperti seblak, dan bakso, bahkan ada juga yang berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Dikutip dari Forbes, Senin (17/1), “Ini berada di jalur untuk volume tertinggi bulan ini,” sejak 1 Januari, volume perdagangan di OpenSea hampir US$ 2,7 miliar atau Rp 38 triliun. OpenSea mencatatkan volume transaksi US$ 261 juta atau Rp 3,7 triliun, Per 9 Januari. Menembus US$ 150 juta atau Rp 2,1 triliun, untuk rata-rata transaksi per harinya.

Baca Juga:

  1. Kupas Tuntas NFT
  2. Gara-Gara Ghozali, Netizen Jual Cilor Sampai Lemari dalam Bentuk NFT di OpenSea
  3. Gara-Gara Ghozali Everyday, Kominfo Bakal Awasi NFT

MetaMask, salah satu dompet digital mata uang kripto yang harus dimiliki pembeli dalam OpenSea. Kemudian bagi calon investor harus memiliki akun terlebih dahulu, untuk menjadi pembeli di NFT.

Gas Fee adalah biaya yang harus dibayar jika ingin membeli NFT. Semua kegiatan yang dilakukan dalam NFT membutuhkan biaya, seperti untuk mencetak NFT, mengirimnya ke pihak lain, sampai menawar untuk membeli. Untuk biaya transaksi yang diambil marketplace seperti OpenSea sebesar 2,5%.

Selisih harga jual dan beli akan menentukan keuntungan yang didapat. Sebagian besar di antara pembeli banyak yang menjual kembali NFTnya dengan harga yang lebih mahal. Maksimal 10% royalti yang diterapkan OpenSea kepada penjual awal. Hal ini memungkinkan untuk pembuat konten NFT mendapatkan bayaran yang adil.

Misalnya seperti cara menghitung keuntungan dari Ghozali Everday. Keuntungan yang ia dapat berasal dari dua sumber. Pertama dari penjualan awal, ia menjual NFTnya sekitar Rp 43 ribu.  Di OpenSea, dirinya menjual 933 NFt foto selfie miliknya.

Sekitar Rp 40 juta yang ia dapatkan jika dikalkulasikan. Tetapi untuk biaya atau berjualan di OpenSea, transaksi awal itu akan dipotong 2,5%. Setelah NFT foto selfie banyak yang dijual oleh pembeli pertama, royalti kedua ini akan ia peroleh di OpenSea. Lebih dari Rp 12 miliar, volume penjualan lanjutan NFT dari Ghozali Everyday. Sekitar Rp 1,5 miliar, pendapatan royalti yang bisa dicapai jika dikalkulasikan.

Continue Reading

Teknologi

Fantastis, Influencer Tik Tok Berpenghasilan Lebih Besar dari CEO

Published

on

By

Tik Tok

Pada era digital seperti sekarang, penghasilan bisa didapatkan dari mana saja. Salah satunya melaui media sosial Tik Tok, memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Berawal dari perusahaan china yang meluncurkan aplikasi sharing vidio bernama Tik Tok ini, ternyata mendapatkan antusiasme yang besar dari khalayak luas. Kini pengguna Tik Tok begitu banyak, bahkan Tik Tok kini mampu bersaing dengan aplikasi-aplikasi media sosial besar lainnya yang ada. Popularitas Tik Tok tidak kalah saing dengan Facebook (Meta), ataupun instagram.

Tik Tok menjadi banyak peminatnya karena biasanya, para penggunanya sering membagikan vidio-vido lucu. Ditambah lagi Tik Tok menyediakan fitur untuk dance dan bernyanyi, hal itu membuat setiap orang dapat dengan mudah berkreasi. Dengan begitu setiap orang bisa menggunakannya untuk membuat suatu karya konten, ataupun hanya untuk menghilangkan rasa kejenuhan.

Kini bahkan sudah banyak juga para pembisnis yan berlari ke Tik Tok untuk mempromosikan produk mereka. Hal ini jelas sangat menguntungkan para influencer Tik Tok. Sebab tidak jarang para pemiliki usahan memakai jasa influencer untuk mengendorse barang dagangan mereka.

Baca Juga:

  1. Curhat Ghozali Everyday Soal Penggunaan Uang Rp1,5 M dari Selfie di NFT
  2. Jelang Penutupan 2021, Instagram Punya 3 Fitur Baru
  3. Inilah 4 Tantangan di Era Transformasi Digital

Penghasilan atau gaji untuk influencer ini tidak main-main, bahkan angkanya bisa terbilang cukup fantastis. Mereka yang memiliki followers yang banyak, akan berkemungkinan besar untuk bisa menghasilkan cuan yang lebih lagi. Belum lagi jika yang mengendorse mereka adalah perusahaan ternama.

Sekitar Rp 14 juta-Rp 422 juta penghasilan para influencer Tik Tok di luar negri, dengan catatan mereka memilki followers sudah mencapai jutaan. Contohnya seperti Loren Gray seorang TikTokers dari Amerika, yang perbulannya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 2,46 Milyar. Gaji tersebut sangat mengejutkan, bahkan lebih besar dari pendapatan seorang CEO.

Tidak hanya ia saja, TikTokers asal Indonesia bernama Sandy Saputra pun memperoleh gaji yang cukup menggiurkan juga dari Tik Tok. Untuk satu vidio yang ia unggah, dirinya bisa mengantongi uang sebanyak Rp 19,6 juta-Rp 49 juta. Hal itu belum termasuk dengan koin yang ia dapatkan ketika melakukan live streaming. Cukup menjanjikan bukan? penghasilan influencer dari media sosial yang satu ini.

Continue Reading

Trending