Connect with us

Traveling

Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho

Published

on

piramida moroe

Dunia mengenal Mesir dengan Sphinx dan Piramida Giza-nya. Namun tahukah Cityzen bahwa piramida tidak hanya ada di Mesir?

Sudan adalah negara yang berada di sisi selatan Mesir. Berada pada aliran sungai Nil yang sama, Sudan menyimpan kekayaan dan warisan dari nenek moyangnya. Peninggalan-peninggalan tersebut berupa piramida Nubia, kuil-kuil, dan reruntuhan kota kuno yang usianya hampir sama tuanya dengan peninggalan di Mesir.

Warisan kekayaan kuno di Sudan membentang dari perbatasan Mesir di utara hingga ke selatan kota Khartoum. Bagi yang gemar melakukan wisata sejarah, perjalanan menyusuri peradaban lembah Sungai Nil merupakan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.

Piramida Nubia adalah piramida yang dibangun pada masa kerajaan Kushite. Wilayah kerajaan Kushite dikenal dengan nama Nubia.

Nubia membentang di lembah sungai Nil, tepatnya wilayah yang saat ini menjadi negara Sudan modern. Terbentang dari kota Khartoum yang merupakan tempat pertemuan dua sungai Nil yaitu sungai Nil Putih dan sungai Nil Biru, hingga ke wilayah ke Aswan.

Baca Juga:

  1. Viral! Begini Tampilan Apartemen Menyerupai Piramida yang Disusun Mirip Lego
  2. Megahnya Arsitektur Makam Ataturk di Turki
  3. Yuk! Jelajahi 5 Universitas Terbaik di Mesir

Kerajaan Kushite sendiri mengalami pasang surut, ibu kotanya sempat berpindah-pindah. Kota pertama ada Kerma (2600-1520 SM), Napata (1000-300 SM), dan Meroe (300 SM-300 M). tidak heran peninggalan kerajaan tersebut tersebar di antara 3 wilayah tersebut.

Kerma adalah salah satu kerajaan pertama di Nubia. Pada zaman tersebut Kerma sudah cukup maju karena mampu membangun struktur kota dan peninggalan monumental.

Kerma modern saat ini meninggalkan bekas reruntuhan kota dan makam kuno.Napata di masa modern adalah wilayah sekitar kota Marawi saat ini.

Piramida peninggalan zaman Napata terletak di kota Nuri, yang berjarak 10 km dari kota Marawi modern. Piramida di Nuri terletak di perbukitan. Kurang lebih ada sekitar 61 piramida, baik yang masih utuh maupun yang sudah runtuh.

Tidak jauh dari Nuri terdapat Jabal Barkal. Sebuah gunung dengan tinggi 98 meter yang sayang sekali kalau dilewatkan. Di Jabal Barkal terdapat 3 istana dan 13 kuil kuno peninggalan kerajaan Kush.Meroe terletak di sebelah utara kota Shendi modern.

Kurang lebih berjarak 6 km dari kota Shendi dan 200 km dari kota Khartoum. Sama seperti pada 2 kota sebelumnya, piramida di Meroe juga berupa komplek. Turis yang datang ke Sudan lebih banyak mengenal piramida Meroe dibanding dengan piramida di tempat lainnya.

Sampai saat ini ada sekitar 350 piramida di Sudan yang tersebar di berbagai wilayah. Piramida tersebut memiliki fungsi yang sama dengan piramida di Mesir yaitu sebagai makam penghormatan bagi raja dan ratu yang telah meninggal. Secara ukuran, piramida di Sudan ini lebih kecil dibanding dengan piramida Giza yang ada di Mesir.

Piramida Meroe lebih banyak dikenal oleh para kalangan turis yang datang ke Sudan. Lokasinya juga relatif lebih dekat dari kota Khartoum, hanya berjarak 200 km ke arah utara. Komplek Piramida Meroe berada di sekitar kota Shendi.

Piramida ini mudah sekali ditemukan karena berada di tepi jalan utama penghubung kota Shendi dan kota Atbara. Secara fisik, ukuran piramida Meroe lebih kecil dibanding piramida di Mesir.

Tingginya bervariasi, antara 6-30 meter dengan sudut kemiringan sekitar 70 derajat. Bandingkan dengan sudut kemiringan piramida Giza yang berkisar 40-50 derajat.

Komplek piramida Meroe memiliki 3 lokasi utama yaitu bagian selatan, utara, dan barat. Bagian selatan memiliki 9 piramida (4 piramida raja dan 5 piramida ratu).

Selain itu juga ada 195 makam di sekeliling piramida. Pada sisi bagian utara terdapat 41 piramida. 30 merupakan piramida untuk raja, 6 untuk ratu, dan 5 piramida untuk anggota keluarga kerajaan lainnya.

Di bagian ini terdapat kurang lebih 44 makam. Sedangkan komplek bagian barat merupakan lokasi non-kerajaan. Di tempat ini terdapat 113 makam.

Untuk berpindah dari komplek utara ke komplek selatan, kita harus berjalan kaki kurang lebih selama 15-20 menit melewati padang pasir. Kamu juga bisa menyewa unta atau motor ATV.

Kerajaan Meroe sempat disebutkan di cerita-cerita Yahudi. Musa ketika mudanya pernah memimpin ekspedisi menuju kerajaan Kush (Meroe), yang pada masa itu disebut kerajaan Saba.

Kota Saba dibangun di antara 2 sungai besar dan dikelilingi tembok. Di era Sudan modern sekarang, ada daerah yang namanya Soba.

Daerah ini berada di sisi selatan kota Khartoum dan terletak di antara 2 sungai Nil putih dan sungai Nil biru.

Reruntuhan kerajaan Soba sendiri masih ada hingga sekarang. Lokasinya berada di sisi timur sungai Nil putih. Namun reruntuhan kota ini betul-betul sudah rata dengan tanah. Hanya ada papan petunjuk bahwa ini dulunya adalah sebuah kota kuno.

Untuk menuju ke Piramida Meroe, kita bisa menggunakan bis umum dari kota Khartoum menuju Atbara. Tarifnya berkisar 100-150 SDG atau sekitar 3-4 USD untuk 4 jam perjalanan.

Apabila kamu kurang beruntung mendapatkan bis jurusan Atbara, kamu bisa naik bus jurusan Khartoum-Shendi lalu dilanjutkan naik bus jurusan Shendi-Atbara. Semua sopir bus pasti paham kalau melihat orang asing naik bus, mereka akan menanyakan pada kita mau turun di mana.

Kita tinggal mengatakan bahwa kita ingin turun di Bajrawiyah. Orang Sudan lebih mengenal nama Bajrawiyah dibanding piramida Meroe.

Begitu turun dari bus, kita tinggal berjalan kaki menuju ke pintu gerbang piramida yang berjarak sekitar 500 meter dari jalan raya.

Ongkos masuk piramida Meroe sekitar 10 USD. Namun apabila kamu bisa berbicara dengan bahasa Arab, kamu bisa bernegosiasi dengan penjual tiketnya untuk mendapatkan harga khusus.

Apabila masih kurang yakin, kamu bisa mengajak mahasiswa Indonesia di kota Khartoum untuk menemani kamu bertualang ke piramida Meroe.

Waktu terbaik untuk mengunjungi piramida Meroe adalah pagi hari atau sore hari. Kamu bisa menyaksikan matahari terbit/terbenam lewat sela-sela piramida. Di malam harinya, kamu bisa menikmati hawa dingin gurun pasir.

Ada banyak tour travel di Khartoum yang menawarkan paket kunjungan ke piramida Meroe dengan menginap selama 1 malam di camp di dekat piramida Meroe.

Biayanya berkisar antara 100-150 USD/orang. Biaya ini akan lebih murah apabila kamu pergi secara kolektif dan mengurus seluruh dokumen perizinannya sendiri.

Apabila kamu memiliki waktu yang lebih longgar dan budget yang lebih banyak, kamu bisa mengunjungi Kerma, Nuri dan Shendi secara maraton. Perjalanannya kurang lebih memakan waktu 4-5 hari termasuk menginap di suatu camp/hotel di sana.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Traveling

Pesona Desa Hilisimaetano Nias, Salah Satu Desa Wisata Terindah di Indonesia

Published

on

Desa Hilisimaetano

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, menganugerahkan Desa Hilisimateno menjadi Desa Wisata. Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 ini disambut hangat warga Desa Hilisimateno, Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Rabu (22/6/2022) petang.

Sandiaga Uno mengungkapkan ketakjubannya terhadap keindahan alam hingga kekayaan budaya lokal di Desa Hilisimaetano.

”Saya ucapkan selamat kepada Bapak Bupati yang telah bisa meningkatkan gairah ekonomi dalam tatanan ekonomi baru dengan Desa Wisata Hilisimaetano, tepuk tangan untuk kita semua,” ucap Sandi disambut riuh tepuk tangan warga Desa Hilisimaetano.

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Menurutnya, hal tersebut dapat terlihat pada saat memasuki desa, terdapat Batu Megalitik yang menandakan pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar.

“Kemudian 50 rumah adat yang bangunannya masih terpelihara dengan baik. Namun sangat disayangkan, ada satu rumah adat tertua yang runtuh akibat dampak dari tsunami Aceh tahun 2004,” ujarnya.

Tidak hanya itu, sistem pemerintahan yang dijalankan masih mengikuti sistem adat di mana sistem kepemimpinan adat desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias.

“Kemudian, para cendikiawan atau yang disebut Si’ila berperan sebagai pemberi nasihat kepada bangsawan. Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) yang terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa),” katanya.

Ketika mengunjungi desa wisata tersebut, pengunjung dapat melihat batu megalitik yang menjadi tanda bahwa pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar. Kemudian juga ada 50 bangunan rumah adat yang terpeliharan dengan baik, meski salah satu yang tertua runtuh akibat tsunami Aceh tahun 2004.

Desa Hilisimaetano

Keunikan lain dari desa ini adalah sistem pemerintahannya yang masih mengikuti adat. Sistem kepemimpinan desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias. Sementara itu Si’ila atau para cendekiawan berperan sebagai penasihat bangsawan. Dalam sistem ini, Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa).

Masyarakat desa ini juga punya tradisi kerajnan tangan yaitu membuat anyaman topi caping, pahatan, ukiran, dan pedang besi (manöfa) yang dulunya berfungsi sebagai alat perang. Pada zaman dahulu, ketika menang perang melawan musuh, maka kepala musuh akan disematkan di ujung sarung pedang.

Selain itu, Desa Hilisimaetano juga memiliki kawasan persawahan terbesar di Nias Selatan dan memiliki potensi besar untuk dijadikan daerah agrowisata.

“Sekarang kami sangat khawatir dengan adanya ancaman krisis pangan, krisis energi, tapi Nias Selatan ini khususnya di Desa Wisata Hilisimaetano justru memiliki potensi untuk bisa memiliki ketahanan pangan dan kemandirian energi ini bisa kita kembangkan ke depan,” ujar Sandiaga.

Untuk dikembangkan menjadi desa wisata berkelanjutan, Desa Hilisimaetano akan bebenah, mulai dari fasilitas toilet dan penginapan. Desa ini akan mengembangkan produk ekonomi kreatifnya agar lapangan kerja semakin terbuka dan meningkatkan penghasilan masyarakat.

“Kita akan memberikan pendampingan, pelatihan, kita akan ada peningkatan destinasi wisata lainnya, seperti toilet, begitupun dengan homestay karena di sini hanya ada satu, kita akan tingkatkan, juga kita ingin jadikan desa wisata ini sebagai tujuan wisata selagi ada WSL Pro, untuk membangkitkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Seperti yang sudah disebutkan, di Desa Hilisimaetano kita masih bisa melihat rumah adat Nias. Salah satunya adalah Oma Sebua, rumah tradisional yang dibangun di pusat desa khusus untuk kediaman para kepala negeri (tuhenori), kepala desa (salawa), atau kaum bangsawan.

Oma Sebua dibangun di atas tumpukan kayu uli besar dengan atap menjulang. Di budaya Nias dulunya sering terjadi perang antar desa sehingga desan rumah pun dibuat agar tahan terhadap serangan. Omo Sebua sendiri punya satu akses masuk lewat tangga sempit dengan pintu kecil. Omo Sebua juga terbukti tahan gempa karena pondasinya berdiri di atas lempengan batu besar dan balok diagonal.

Kemudian ada Omo Hada, yang dihuni masyarakat biasa. Rumahnya berbentuk persegi dengan pintu yang menghubungkan setiap rumah. Di Nias juga ada Osali, rumah yang dulunya dipakai secara khusus untuk menyimpan berhala.

Continue Reading

Traveling

Pesona Telaga Cicerem, Airnya Berwarna Biru

Published

on

By

Telaga Cicerem

Saat ini, Kabupaten Kuningan memiliki berbagai destinasi wisatanya yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya seperti Telaga Cicerem yang begitu banyak mengundang minat khalayak luas.

Bahkan tempat wisata yang satu ini diketahui begitu ramai dipadati pengunjung. Setiap mata wisatawan akan disuguhkan dengan jajaran pepohonan yang menjulang dan air terjun buatan, kala memasuki gerbang telaga.

Tak hanya itu saja, pengunjung akan semakin dimanjakan saat telah memasuki area telaga. Di mana beningnya air telaga dengan nuansa biru kehijauan tersaji di sana.

Bahkan, dari tepian telaga pun sampai dapat terlihat jelas ikan dewa dan kancra bodas yang berenang kesana kemari. Bagi para pengunjung juga turut disediakan spot foto yang keren oleh pihak pengelola.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 5 Tempat Wisata Alam yang Ngehits di Batu Malang
  2. Pesona Gunung Merbabu, Sang Primadona Jawa Tengah
  3. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia

Mereka bisa mengabadikan moment berayun diantara jernihnya telaga dengan pemandangan ikan-ikan di bawahnya. Sangat menarik bukan?

Selain itu, pengunjung yang ingin berenang di telah pun diperbolehkan. Namun, bagi kalian yang ingin tetap menikmati telaga tanpa berbasah-basahan bisa menaiki perahu dan juga bebek dayung yang telah disediakan.

Sementara itu untuk lokasinya sendiri, Telaga Biru Cicerem berada di kaki gunung Ciremai dengan ketinggian 315 mdpl. Tak ayal jika udara di tempat ini begitu sejuk atau adem.

Kalian yang ingin berkunjung ke tempat wisata menarik ini pun tak perlu khawatir soal tarifnya. Sebab, hanya denga mengeluarkan uang sebesar Rp 5.000 kalian sudah bisa menikmati pesona telaga yang airnya sebening kaca.

Continue Reading

Traveling

Indahnya Gunung Prau, Cocok untuk Pendaki Pemula

Published

on

By

Gunung Prau

Kini mendaki gunung telah menjadi kegemaran bagi banyak orang dari berbagai kelangan. Saat ini juga telah ada banyak gunung yang mudah untuk diakses pendaki pemula.

Salah satunya seperti Gunung Prau yang berlokasi di kabupaten wonosobo, jawa tengah yang cocok bagi mereka yang baru ingin mulai merasakan sensasi pendakian. Kawasan gunung yang satu ini mempunyai suhu yang begitu dingin. Hal ini dikarenakan letaknya yang berada di dataran tinggi Dieng.

Diketahui, via patakbanteng dan via dieng adalah nama jalur yang cukup terkenal bagi kalangan pendaki. Meski demikian, sebanarnya Gunung Prau memiliki sejumlah jalu pendakian yang lainnya.

Dikabarkan gunung ini sejak awal 2019 lalu telah ditambahkan beberapa fasilitas. Misalnya seperti sejumlah kursi untuk para pendaki duduk sambil menikmati keindahan pemandangn yang memanjakan mata.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 5 Tempat Wisata Alam yang Ngehits di Batu Malang
  2. Mantap, Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia
  3. Mantap, Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia

Berbicara soal keindahan gunung ini memang tak ada habisnya. Itu mengapa jika akhir pekan, Gunung Prau sangat ramai oleh pengunjung yang datang. Bahkan saat ingin mendaki, wisatawan haru rela mengantri.

Sementara itu, untuk jarak tempuhnya dari basecamp, yakni sekitar 4 jam. Namun hal tersebut jika pendaki melalui jalur dengan cepat, sedangkan untuk pemula membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam.

Bagi kalian yang ingin menjajal pendakian di gunung ini tak perlu khawatir soal biaya. Karena untuk perorangnya hanya perlu mengeluarkan uang senilai 10 ribu saja, dan untuk parkir permotonya pun juga sebesar 10 ribu.

Continue Reading

Trending