Connect with us

CityView

Surganya Kaum Jomblo, Inilah 10 Negara yang Mayoritas Penduduknya Wanita Cantik

Published

on

ilustrasi wanita
ilustrasi wanita

Jumlah penduduk di setiap negara berbeda-beda. Ada yang lebih banyak lelaki, ada pula yang negaranya mayoritas dihuni wanita.

Bahkan, ada negara yang jumlah penduduknya tak sampai satu persen dari total penduduknya berjenis kelamin laki-laki. Tentunya, bagi kalian yang jomblo negara ini bak surga.

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2019, setidaknya ada 101,7 pria untuk setiap 100 wanita di dunia.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Nah, MyCity telah merangkum beberapa negara yang penduduknya mayoritas perempuan.

Nepal

Nepal jadi negara pertama dengan populasi wanita terbanyak di dunia. Menurut Bank Dunia, Nepal memiliki proporsi perempuan tertinggi. Perempuan menyumbang 54,4% dari total populasi negara itu, yang berarti ada sekitar 15,6 juta perempuan dan 13 juta laki-laki di Nepal. Menurut statistik, ada 83,8 pria untuk setiap 100 wanita di Nepal.

Latvia

Terletak di timur laut Eropa dan di tengah tiga negara Baltik, Latvia memiliki persentase penduduk perempuan 54,0% atau setidaknya hanya sekitar 80 laki-laki per 100 perempuan.

Menurut beberapa sumber, negara yang masuk NATO dan Uni Eropa pada 2004 ini mencatat tingginya angka kematian pria. Ini akibat gaya hidup yang tidak sehat, termasuk mengkonsumsi alkohol dan rokok.

Lituania

Negara yang terletak di timur laut Eropa dan merupakan yang paling selatan dan terbesar dari tiga negara Baltik ini memiliki persentase penduduk perempuan 53,7%. Negara dengan total 2,8 juta jiwa ini tercatat hanya memiliki sekitar 400.000 penduduk pria.

Ukraina

Itu terletak di Eropa timur dan merupakan negara terbesar kedua di benua itu setelah Rusia, Ukraina mencatat persentase penduduk perempuan 53,7%. Menjadi salah satu negara yang terlibat langsung dalam perang, Ukraina hanya memiliki 72 pria untuk setiap 100 wanita.

Rusia

Rusia adalah negara terbesar dan menempati sepersepuluh dari semua daratan di Bumi. Namun negara yang membentang di atas bentangan luas Eropa timur dan Asia utara ini mencatat persentase penduduk perempuan 53,7%.

Sejak dahulu, Rusia memiliki sekitar 98 pria untuk setiap 100 wanita dalam sensus pertamanya pada tahun 1897. Kekurangan populasi pria akibat banyak perang yang terjadi.

Belarusia

Sebagai negara yang terkurung daratan di Eropa Timur yang berbatasan dengan Rusia di timur laut, Ukraina di selatan, Polandia di barat, dan Lithuania serta Latvia di barat laut, Belarus mencatat persentase penduduk perempuan 53,5%.

El Salvador

El Salvador adalah sebuah negara di Amerika Tengah. Sebagai negara terkecil dan terpadat dari tujuh negara Amerika Tengah, ini mencatat persentase penduduk perempuan 53,2%.

Menurut statistik terbaru, setidaknya ada 88 pria untuk setiap 100 wanita. Rasio laki-laki dan perempuan di negara itu turun secara bertahap dari 97 laki-laki untuk setiap 100 perempuan pada tahun 1950 ke rasio saat ini.

Armenia

Armenia, negara Transcaucasia dan terletak tepat di selatan pegunungan besar Kaukasus dan menghadap ujung barat laut Asia, mencatat persentase penduduk perempuan 53,0%.

Menurut data penduduk 2020, negara ini memiliki populasi penduduk sebesar 2,9 juta jiwa. Dari jumlah itu, hanya sekitar 350.000 penduduk pria. Sama seperti Rusia dan Ukraina, perang menjadi salah satu penyebab kurangnya populasi pria di negara ini.

Estonia

Estonia, negara berdaulat di Eropa Timur Laut, mencatat persentase populasi wanita 52,7% dari sekitar 1,3 juta jiwa. Perbedaan populasi wanita dan pria juga terasa signifikan, sebab penduduk wanita ada 1,1 juta jiwa, sementara pria hanya sekitar 200.000 jiwa.

Portugal

Republik Portugis yang terletak di sepanjang pantai Atlantik Semenanjung Iberia di barat daya Eropa ini mencatat persentase populasi wanita 52,7%. Kebanyakan populasi wanita di sana enggan memiliki banyak anak, sehingga populasinya jomplang dan mengalami penurunan yang cukup drastis.

Advertisement

CityView

Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara RI, Begini Nasib DKI Jakarta

Published

on

DKI Jakarta
DKI Jakarta

DKI Jakarta tidak lagi menjadi ibukota negara dengan akan dipindahkannya ke Kalimantan Timur dengan nama baru yaitu Nusantara. Jakarta sendiri akan tetap mendapatkan status kekhususan dan Pemprov DKI Jakarta menjamin akan tetap mengelola kota ini untuk menjadi tempat yang nyaman, aman, dan tertata.

Pemerintah telah menetapkan ibukota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur menggantikan DKI Jakarta. Untuk nama ibukota baru juga telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu Nusantara dan untuk status baru Jakarta masih menunggu rancangan undang-undang (RUU) yang saat ini masih terus dibahas.

Menurut Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia, saat ini merupakan timing yang sangat penting untuk membahas mengenai UU baru mengenai Jakarta dan mengulas mengenai kekhususan Jakarta setelah tidak lagi menjadi ibukota negara. Pembahasan mengenai persoalan ini juga harus dilakukan segera begitu UU IKN disahkan.

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

“Jakarta sebagai ibukota negara harus segera diubah supaya jangan ada dua ibukota negara. Makanya UU tentang ibukota baru harus segera disahkan dan tahap berkutnya kita harus merevisi UU mengenai Jakarta atau menerbitkan UU baru terkait Jakarta kalau tidak memungkinkan dilakukan revisi,” ujarnya.

Lebih tepatnya lagi menurut Doli, harus diterbitkan UU baru mengenai Jakarta jadi bukan lagi merevisi UU yang lama. UU mengenai Jakarta harus diterbitkan UU baru yang menyatakan perubahan status mengenai kota ini supaya tidak terjadi kebingungan.

Jakarta juga harus tetap memiliki kekhususan kendati status ibukota berpindah dan menjadi Ibukota Nusantara. Jakarta harus tetap mendapatkan status kekhususan itu karena terkait dengan sejarah maupun kontribusi kota yang selama ini telah menjadi ibukota negara.

DPR sendiri pernah menyinggung soal status Jakarta setelah pemindahan ini dan hampir semuanya sepakat untuk tetap menyematkan status kekhususan kepada Jakarta kendati bukan lagi khusus ibukota. Untuk kekhususan Jakarta sendiri akan dibahas lebih lanjut setelah status ibukota resmi disandang IKN baru.

Status baru mengenai Kota Jakarta juga nantinya bisa dibayangkan seperti kota-kota lain di dunia yang juga ibukotanya berpindah. Kita bisa melihat status maupun kekhususan di New York yang pindah ke Washington DC dengan New York berkembang menjadi kota bisnis. Begitu juga dari Melbourne ke Canberra di Australia dan Melbourne dikenal menjadi kota pendidikan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria sendiri memastikan, Jakarta akan tetap nyaman dihuni meski ibu kota pindah ke Kalimantan Timur setelah DPR RI mengesahkan Undang-Undang tentang IKN nantinya. Masih ada banyak keunggulan terkait fasilitas maupun berbagai perkantoran di kota ini yang akan menarik minat bagi masyarakat dari seluruh Indonesia bahkan dunia.

“Pemprov DKI Jakarta akan tetap bekerja untuk membuat kota ini menjadi tempat yang nyaman, aman, dan tertata dengan baik. Salah satunya dengan mengintegrasikan transportasi di Jakarta termasuk penataan kota, antisipasi banjir, dan hal lainnya yang akan menjadikan kota ini tetap membanggakan,” katanya.

Continue Reading

CityView

Ini Dia 5 Bandara Terbesar di Indonesia

Published

on

By

Bandara

Bandara menjadi penghubung perjalanan orang maupun barang, dari satu tempat ke tempat lain melaui jalur udara. Di Indonesia pun terdapat banyak bandara yang besar, dengan fasilatas yang lengkap.

Bandar udara, atau sering disingkat dengan kata Bandara ini merupakan sebuah fasilitas di mana pesawat terbang seperti pesawat udara dan helikopter dapat lepas landas dan mendarat. Setiap orang pasti mendatangi tempat ini jika ingin berpergian jauh ke suatu wilayah, lewat jalu udara.  Biasanya dengan transportasi udara ini, membuat waktu perjalanan yang jauh menjadi lebih singkat.

Di Indonesia pun ada begitu banyak Bandara yang tersedia di setiap daerahnya. Berikut mycity telah merangkum 5 bandara terbesar yang ada di Indonesia:

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Bandara ini sudah sangat terkenal diberbagai kalangan. Hal itu karena tempatnya yang luas, dibandingkan dengan Bandara lainnya yang ada di Indonesia. Bahkan Bandara ini memang dijuluki Bandara terbesar di Indonesia. Bandara Internasional Soekarno-Hatta terletak di Kota Tangerang, Banten. Bandara ini mulai beroperasi pada tahun 1985, dengan luas arenya mencapai 2.555 hektar. Diketahui Bandara ini menampung sekitar 43 juta penumpang setiap tahunnya.

Baca Juga:

  1. Inilah 8 Desa Wisata Indonesia yang Terkenal Seantero Dunia
  2. PPKM Level 3 Dibatalkan, Turis Lokal yang Kunjungi Bali Diprediksi Capai 20 Ribu Orang per Hari
  3. Inilah 6 Wisata Islami di Bali

Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati

Posisi kedua untuk Bandara terbesar di Indonesia ditempati oleh Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Luas tanah Bandara ini sekitar 1.800 hektar. Bandara yang terletak di Kabupaten Majalengka ini pada tanggal 24 Mei 2018, telah sah diresmikan. Sekitar 29 juta untuk kapasitas BIJB Kertajati per tahunnya.

Bandara Internasional Hang Nadim

Selanjutnya ada Bandara Internasional Hang Nadim, yang merupakan Bandara terbesar ke-3 yang ada di Indonesia. Bandara ini memiliki luas area sekitar 1.762 hektar, dengan kapasitas 5 juta penumpang per tahunnya. Lokasi Bandara tersebut berjarak sekitar 22 kilometer dari pusat Kota Batam, Kepulauan Riau.

Bandara ini juga berada di jalur perdagangan segita emas anatar Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Hampir lebih dari 1.4000 orang per harinya Bandara ini melayani penumpang saat jam operasional memuncak.

Bandara Internasional Kualanamu

Peringkat 4 Bandara terbesar di Indonesia, jatuh kepada Bandara Internasional Kualanamu. Bandara ini terletak di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Luas area yang dimiliki bandara ini mencapai 1.650 hektar. Sekitar 8 juta per tahun untuk kapasitas penumpang di bandara ini. Bandara tersebut diharapkan bisa menjadi Bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. Bandara Internasional Kualanamu diresmikan sejak 25 Juli, 2013.

New Yogyakarta International Airport (NYIA)

Terakhir, urutan nomor 5 untuk Bandara terbesar di Indonesia diraih oleh New Yogyakarta International Airport (NYIA). Luas area pada bandara ini mencapai 587 hektar. Bandara ini berlokasi di Kapanéwon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. New Yogyakarta International Airport (NYIA) jam terbang operasinya masih belum lama. Walupun terbilang baru, Bandara tersebut ditargetkan mempunyai kapasitas penumpang sampai 20 juta per tahunnya. Akan tetapi dikarenakan situasi pandemi yang melanda, hanya berkisar 1,2 juta orang pada tahun 2021.

Continue Reading

CityView

Sejarah Panjang Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, dari Era Soekarno Hingga Jokowi

Published

on

IKN Nusantara
IKN Nusantara

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), memutuskan Ibu Kota Negara (IKN) baru berada di Balikpapan, Kalimantan Timur. Jokowi memberi nama IKN baru tersebut Nusantara.

Sebenarnya, proses untuk memindahkan ibu kota negara Indonesia dari Jakarta sudah tercetus sejak zaman Presiden pertama Soekarno. Pada tahun 1957, Soekarno menggagas pemindahan ibu kota negara ke Palangkaraya.

Soekarno saat itu meresmikannya sebagai Ibu Kota Kalimantan Tengah. Namun, rencana tersebut akhirnya tak pernah terwujud hingga kejatuhannya pada periode 1966-1967.

Baca Juga:

  1. Ini Dia Alasan Deklarasi Pendirian PKN di Petilasan Gajah Mada
  2. PKN, Partai Pencipta Anak Bangsa yang Unggul dan Calon Pemimpin Indonesia
  3. Bahas Ibu Kota Negara Baru Nusantara, Wiranto Temui Wapres Ma’ruf Amin

Kemudian di era Presiden kedua RI, Soeharto, wacana pemindahan ibu kota negara Indonesia juga tercetus. Pada tahun 1997, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 1 tahun 1997 Tentang Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol sebagai kota mandiri.

Soeharto kala itu bertujuan menjadikan Jonggol sebagai pusat pemerintahan. Rencana daripada era Soeharto itu kemudian gagal, karena reformasi menggulingkan Soeharto.

Era kepresidenan BJ Habibie, Gus Dur dan Megawati, yang kesemuanya sangat singkat menjadi presiden, isu pindah ibukota tak terdengar. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), wacana pindah ibukota muncul lagi.

Bulan September 2010, Presiden SBY membentuk tim kecil untuk mengkaji ide pemindahan ibukota negara. Hasilnya kemudian muncul skenario terkait pemindahan ibukota negara. Pertama, mempertahankan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kedua, memindahkan ibukota dari Jakarta ke daerah baru yang masih dalam pulau Jawa. Ketiga, memindahkan ibukota negara ke luar pulau Jawa.

Pada masa SBY, muncul beberapa kandidat ibu kota negara. Palembang salah satunya.

Palembang adalah kota tua sudah lama berkembang di Sumatera belahan selatan. Kota sungai ini kebetulan terkait dengan kerajaan Sriwijaya di masa lalu.

Isu Palembang sebagai kandidat ibukota negara tentu disambut masyarakat Palembang. Pada 2011 kota ini semakin dilengkapi banyak fasilitas umum seperti LRT karena Sea Games 2011 diadakan pula di sana.

Kandidat lain, Lampung Timur, yang sebelum ada isu ibu kota negara sudah mengalami masa menjadi daerah tujuan transmigrasi. Daerah dataran ini tidaklah jauh dari sumber pangan. Sama seperti Palembang yang dekat dengan Belitang sebagai lumbung beras Sumatra Selatan.

Kandidat lainnya lagi Karawang, Jawa Barat, sempat pula masuk bursa calon ibu kota negara, juga daerah penghasil beras ini tidaklah jauh dari Jakarta.

Ya, Nusantara merupakan wujud konkret rencana-rencana dari para Presiden Indonesia terdahulu. Jika di zaman mereka hanya sebatas wacara dan kajian, Presiden Jokowi mewujudkan hal ini di eranya.

Continue Reading

Trending