Connect with us

Lifestyle

Sudah Ada Sejak Tahun 1.500, Begini Asal-usul April Mop

Published

on

Ilustrasi April MOP

April Mop yang dirayakan setiap tanggal 1 April adalah waktu di mana banyak orang yang secara dengan sengaja melakukan lelucon dan tipuan tanpa merasa bersalah.

Reformasi kalender Perancis abad ke-16 yang dimulai pada tahun 1582 dilibatkan dalam teori populer asal-usul April Mop menurut para ahli di Museum of Hoaxes. Perayaan tahun baru yang sebelumnya dirayakan pada setiap 1 April berubah menjadi 1 Januari pada kalender baru.

Akan tetapi perubahan kalender ini tidak dapat diterima oleh semua orang. Atas hal itu masih banyak orang yang merayakan tahun baru pada tanggal 1 April.

Hal tersebut mengakibatkan mereka yang masih mempercayai 1 April sebgai tahun baru, diolok-olok oleh kelompok modern yang merayakan tahun baru pada 1 Januari. Selain itu, ada juga sejarah yang mengatakan bahwa April Mop berawal dari salah satu acara berita di Inggris.

Baca Juga:

  1. Mengenal Hari Pendengaran Sedunia & Cara Melindungi Pendengaran dari WHO
  2. Hari Kanker Anak Sedunia: Inilah 6 Kanker yang Sering Menyerang Anak
  3. Mengenal Mohibadaa, Tradisi Unik Lumuri Wajah dengan Rempah untuk Sambut Ramadan

Mereka mengumumkan bahwa akan ada panen spaghetti di Swiss. Pada 1 April 1957 kabar itu disampaikan oleh jurnalis dan penyiar Richard Dimbleby. Meski sebenarnya hal itu merupakan bagian dari April Mop, namun dengan antusias para penonton pun menyambut berita tersebut.

Sementara itu ada juga para sejarawan yang menaitkna April Mop dengan festival Hilaria yang dirayakan di Roma kuno pada akhir Maret, yaitu sebagai bentuk penyamaran dengan melibatkan orang-orang yang berdandan.

Selain itu, vernal equinox atau hari pertama musim semi di belahan bumi utara juga turut dikaitkan dengan April Mop. Saat dengan sebuah perubahan seperti cuaca yang tak terduga, Bumi menipu orang-orang.

Sebagian orang juga ada yang mengatakan perayaan ini mirip dengan festival Hilaria di Roma kuno yang dilaksanakan tanggal 25 Maret, serta Holi di India yang berakhir pada t 31 Maret.

Lifestyle

Kopi Pakesang Khas Ternate Terpilih Jadi Kopi Rempah Terbaik se-Nusantara

Published

on

Umi Salama dan Ayub Assagaf

Melalui perlombaan kopi rempah dan original terenak yang berlangsung di IPB International Convention Center, Sabtu (21/5/2022), Kopi Rempah Pakesang dari Ternate dan Kopi Gamalama, Maluku Utara, terpilih sebagai kopi terbaik se-nusantara.

Festival dengan tema “Semarak Jelajah Kopi Rempah Nusantara dalam Menunjang Industri Kreatif Desa” ini digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian IPB University di IPB International Convention Center Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (21/5/2022).

Dalam festival tersebut, ada 59 peserta yang lulus terpilih berkompetisi mewakili setiap provinsi di Indonesia. Kopi Paksesang khas Ternate, Kopi Gamalala, dan Kopi Buli Halmahera Timur terpilih mewakili Provinsi Maluku Utara.

Baca Juga:

  1. Gandeng Pemprov DKI, WIR Group Kembangkan Metaverse Jakarta
  2. Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse
  3. Rusia Uji Coba Rudal Antar Benua, Putin: Musuh Pasti Bakal Was-Was

Kopi Pakesang tersebut adalah produk yang dibuat oleh Umi Salama. Sementara Kopi Gamalama milik Ayub Assagaf, dan Kopi Buli dari Halmahera Timur.

“Sebenarnya ada empat dengan Kopi Dabe dari Tidore, tapi berhalangan jadi tidak bisa ikut. Ini kita dikirim link dari panitia dan mendaftar, akhirnya terpilih dan Alhamdulillah Kopi Pakesang dan Gamalama menjadi juara 1 terbaik,” ucap Burhanuddin Syamsi Rope, perwakilan Kopi Pakesang dalam kegiatan tersebut.

Menurut Bur, dalam festival tersebut, ada beberapa hal yang dilombakan, mulai dari kemasan, higienis, rasa, hingga aroma.

“Jadi, ada kategori kopi rempah dan ada juga original. Pakesang mewakili kopi rempah dan kopi Gamalama mewakili original. Keduanya mengungguli 59 peserta se-nusantara dari 2 kategori itu,” katanya.

“Terima kasih dewan juri yang begitu objektif dalam penilaian, ini menguatkan kita sebagai Kota Rempah layak dipertahankan,” pungkas dia.

Continue Reading

Lifestyle

Apa Itu Hustle Culture yang Sering Melanda Kaum Milenial?

Published

on

ilustrasi bekerja

“Kerja keras akan selalu terbayar, kesuksesan harus dibayar dengan rasa sakit, atau kamu baru bisa bersenang-senang ketika kamu sukses.” Seberapa sering kamu mendengar kata-kata usang yang tidak berguna solah-olah menjadi dorongan ketika kamu merasa penat? 

Rata-rata seseorang bahkan mendengar itu setidaknya dua kali di hidup mereka, tidak peduli terucap dari teman atau lingkungan keluarga.

Kalimat ini diyakini benar dan dapat memotivasi milenial atau gen Z untuk terus-terusan bekerja menggapai mimpi mereka.

Motivasi inilah yang juga menghasilkan budaya hustle culture di kalangan anak muda. Sayangnya terlalu banyak mendengarkan motivasi baik justru sebenarnya buruk?

Riset dari Taylor’s College Malaysia yang dimuat dalam website mereka menunjukkan banyak salah kaprah terkait hustle culture.

Dalam standar modern, hustle culture dapat didefinisikan sebagai keadaan terlalu banyak bekerja dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Tidak ada satu hari pun dalam hidup di mana kamu tidak mengerahkan kemampuan terbaik untuk bekerja dan berujung tidak memiliki kehidupan pribadi.

Menurut kamus, kata hustle memang didefinisikan sebagai tindakan yang penuh energi. Namun, apakah hustle menjadi berbahaya sebagai gaya hidup?

Selama bertahun-tahun, terlalu banyak bekerja dianggap sebagai modernitas sampai kini dianggap sebagai hustle culture seperti apa yang tertulis dalam buku-buku yang dijual di toko, sosial media, atau pengusaha terkenal.

Baca Juga:

  1. Pekerja Rentan Mengalami Kecemasan, Begini Tips Mengatasinya
  2. Waspada Post Holiday Syndrome, Penyakit Parah Usai Libur Lebaran
  3. Crab Mentality, Sikap Dengki Terhadap Kesuksesan Orang Lain

Elon Musk yang juga pendiri Tesla berkicau di Twitter, bahwa tidak ada orang yang bisa mengubah dunia hanya dengan bekerja 40 jam per minggu. Kamu harus bekerja 80 jam secara berkelajutan atau bahkan 100 jam.

Banyak anak muda menjadikan berbagai buku, media sosial, dan pengusaha sebagai inspirasi ketika mengejar kesuksesan mereka sendiri.

Sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang secara ambisius bekerja untuk mecapai goals, tidak mengherankan jika orang-orang secara tidak sadar menjadi korban dari hustle culture.  

Bagaimana hustle culture bisa menjadi budaya berbahaya

Setelah gagasan tentang mencapai kesuksesan menjadi prominen dalam pola pikir masyarakat, lama-kelamaan kamu akan bertanya apa yang salah dengan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Pertama, bekerja keras tidak sama dengan sukses. Tidak peduli seberapa keras kamu bekerja, ada beragam faktor yang memengaruhi kesuksesan termasuk lingkungan kerja.

Selain itu, ada faktor-faktor seperti kesempatan, waktu, dan faktor-faktor lain yang tidak bisa kamu kendalikan.

Bekerja keras memang baik, namun bekerja dengan terburu-buru justru menjadi sesuatu yang buruk. Dari sini berhentilah untuk bekerja keras yang mengarah pada mengerjakan semua hal, yang lebih baik justru fokuslah pada tujuan personal dan hal-hal yang mengarah untuk mencapainya.

Terlihat sibuk juga dipresepsikan sebagai hal yang baik. Namun, jika kamu selalu menjadi orang yang hanya punya sedikit waktu beristirahat dan menganggapnya sebagai buang-buang waktu, itu adalah kebiasaan yang tidak sehat.

Namun, jika dilihat kembali, apakah beberapa hal yang dilakukan benar-benar berkontribusi pada produktivitas atau hanya akan membuatmu terlihat sibuk.

Budaya sibuk mendorong masyarakat untuk menciptakan ketidakseimbangan dalam hidup, di mana pekerjaan menjadi hidup dan hal-hal lain yang dilakukan mulai tidak memiliki tujuan.

Continue Reading

Lifestyle

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Published

on

By

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Saat ini telah ditandatangani oleh lebih dari 25 orang untuk petisi yang menuntut proses hukum atas kematian anjing Maxi, di salah satu pet shop.

Di mana petisi itu berisikan kalimat yang berbunyi, “Kami menuntut kepada Pemkot Tangerang Selatan atas pencabutan izin usahan Holy Pet Shop sesuai dengan UUD Pasal 302 KUHP atas penganiayaan hewan dan hukuman penjara 9 bulan kepada pihak pemilik atas kelalaiannya sehingga menghilangkan nyawa hewan kami.”

Telah ada setidaknya 25.358 yang telah menekan pestisi tersebut. Hal ini berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com pada Sabtu (21/5/2022).

Diketahui anjing Maxi dititipkan di Pet Shop selama 11 hari dengan biaya perawatan penuh, berdasarkan petisi itu. Namun pemiliki kaget saat melihat kondisi anjing tersebut dengan kaki dan testis terjepit di kandang besi yang sangat kecil, kala dirinya akan menjemput Maxi.

Baca Juga:

  1. Ayo Pelihara, 7 Hewan Ini Bisa Bantu Kita Jaga Kesehatan Mental
  2. Begini Tips Bawa Hewan Peliharaan ke Apartemen
  3. 5 Pilihan Hewan yang Mudah Kamu Pelihara di Rumah

Atas hal itu, berarti selama 11 hari pihak pet shop dikatakan tidak merawat Maxim dengan baik. Anjing bulldog itu padahal awalnya mereka janjikan untuk memberikan kandang yang besar.

Anjing Maxim yang mengalami penyiksaan ini membuatnya harus kehilangan testis dan jarinya hingga berujung kematian. Kepada pihak pet shop pun pemilik Maxim sudah meminta penjelasan terkait hal yang terjadi.

Akan tetapi pemilik pet shop justru menyangkalnya serta mengatakan telah dipindahkan ke kandang yang lebih besar untuk maxim. Kemudian karyawan pet shop lalu mengaku bahwa anjing tersebut tidak dikeluarkan selama 11 hari dari kandang kecil, usai diminta penjelasan secara tegas oleh pemilik Maxim.

Selain itu, pemilik pet shop pun mengakui selama 11 hari mereka tidak mengontrol Maxim. Sehingga atas hal tersebut, pemilik Maxim meminta Pemkot Tangerang agar izin usaha pet shop itu dicabut serta diproses secara hukum.

Continue Reading

Trending