Connect with us

CityView

Silang Sengkarut Premanisme di Jakarta

Published

on

ilustrasi penjara

 

“…keadaan pedagang kaki lima jauh lebih enak pada zaman Hercules mengusai Tanah Abang …”

Jakarta tidak pernah sepi dengan berita kejahatan, kekerasan dan kriminalitas. Aksi kejahatan, tindakan kekerasan dan kasus kriminalitas telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Bahkan, beberapa kawasan di kota Jakarta sudah ditetapkan sebagai daerah rawan aksi kejahatan.

Pada masa Orde Baru, pengawasan tradisional seperti penjaga malam meronda keliling perkampungan ditampung secara resmi dan terjalin rapi dengan kantor-kantor kepolisian dan barak militer setempat. Memasuki Era Reformasi, pengawasan tradisional warisan Orde Baru ini bertumpang tindih dengan pengawasan keamanan yang dibentuk oleh warga secara mandiri.

Keperluan pengawasan keamanan yang bertujuan untuk mencegah aksi kejahatan, tindakan kekerasan dan kasus kriminalitas ini juga berlaku di ruang publik lainnya seperti pasar, lokalisasi dan tempat-tempat hiburan sejenisnya.

Tempat paling rentan akan aksi kejahatan, tindakan kekerasan dan kasus kriminalitas adalah pasar. Masing-masing pedagang membayar retribusi kepada pengelola pasar. Akan tetapi, tagihan biaya juga mereka bayar kepada penyedia perlindungan informal yang tak resmi.

Setiap pedagang yang membuka lapaknya di pasar-pasar tradisional di Jakarta harus membayar pungutan liar kepada preman yang menguasai kawasan tertentu.

 

Baca Juga:

  1. Zona Merah Perbanditan di Tangerang
  2. Kehidupan Homo Bataviens, Mereka yang Beradaptasi di Batavia
  3. Peristiwa Perang Bubat: Antara Fakta dan Fiksi Sejarah

 

Bagi pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangannya di luar area pasar, mereka mendapat beban pungutan yang lebih banyak, mereka membayar pajak kebersihan, pungutan preman dan pungutan-pungutan lain dari oknum-oknum polisi, tentara ataupun petugas pemerintah daerah.

Akan tetapi, menurut Jerome Tadie dalam buku Jakarta; Upaya Mengendalikan Ibu Kota dalam buku Revolusi Tak Kunjung Selesai ; Potret Indonesia Masa Kini berbagai dalih perlindungan pengawasan tidak membuat pedagang kaki lima aman dari penggusuran polisi pamong praja dan aksi-aksi kejahatan lainnya. Karena seringkali pencopet menyetorkan sebagian hasil curiannya kepada oknum aparat kepolisian, maka area tertentu rentan aksi kriminalitas yang justru merugikan para pedagang.

Dilansir dari detik.com, seorang pedagang kaki lima yang berasal dari Jawa Tengah mengeluhkan preman Tanah Abang. Warsiman kerapkali membayar pungutan kepada preman yang tidak pernah membelanya ketika terjadi razia polisi satuan pamong praja. Warisman merindukan zaman Hercules berkuasa dulu.

“Lebih enak zaman Hercules, bayar cuma Rp.1000 sehari, terus ga ada razia lagi. Kalau sekarang kan cuma mau duitnya doang, kalau ada razia kita dibiarin gitu saja”, kata Warisman.

hercules, preman Tanah Abang

Hercules Rosario Marshal merupakan seorang preman terkenal yang menguasai pasar Tanah Abang pada tahun 1990-an. Sepak terjang Hercules bermula dari keterlibatannya sebagai anggota yang memegang logistik dalam komando pasukan khusus (Kopassus).

Ketika operasi militer, Hercules terkena musibah. Tangan kanannya hilang hingga siku dan salah satu matanya tertembak. Ia pun dirawat secara intensif di RSPAD Jakarta. Setelah pulih dan menjalani rehabilitasi di Hankam Seroja, ia memulai karirnya di dunia bawah yang penuh kekerasan.

Ia bertarung dengan sengit di daerah tak bertuan yang dikenal sebagai Lembah Hitam. Perkelahian dan pertikaian antar preman seringkali menelan korban jiwa. Hercules merangkul teman-temannya dari Timor Timur dan membangun kekuasaannya, bahkan hingga membawahi 17.000 anak buah yang tersebar di seluruh Jakarta.

Pada pertengahan 1980-an, Hercules mengukuhkan kekuasaannya di Tanah Abang. Setelah pensiun dari dunia bawah, Hercules memilih berbisnis dan mengikuti berbagai kegiatan bakti sosial. Pada 2012, Hercules dikabarkan aktif sebagai Ketua Umum Gerakan Rakyat Baru (GRIB) yang dibina Prabowo Subianto.

Hercules adalah nama kebesaran yang identik dengan preman Tanah Abang. Meskipun, kini Hercules tidak lagi menguasai Lembah Hitam tersebut, ia tetap dikenang sebagai preman Tanah Abang. Bahkan, kebesaran namanya nantinya memudahkannya dalam mengembangkan berbagai kegiatannya.

Selain Hercules, preman Jakarta yang terkenal dan mempunyai kedekatan dengan militer dan pemerintah adalah Imam Sjafei atau Bang Pi’ie. Seperti Hercules, Bang Pi’ie adalah veteran perang yang tidak secara resmi tergabung dalam kesatuan militer.

Bang Pi’ie mengumpulkan bekas laskar pejuang Perang Revolusi Fisik dan menghimpunnya dalam kelompok yang dikenal dengan sebutan Cobra. Bang Pi’ie dan anak buahnya menguasai wilayah Jatinegara, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, kawasan Tanah Abang dan bahkan pengaruhnya mencakup wilayah Jawa Barat.

Pada Perang Revolusi Fisik, Bang Pi’ie dan anak buangnya merampas senjata api dari tangsi-tangsi militer Belanda di sekitar kawasan Senen dan Salemba. Bang Pi’ie juga menghimpun kelompok khusus yang beranggotakan para pencopet.

Kelompok Sebenggol yang terdiri dari pejuang berinsting pencuri ini mampu logistik dan persenjataan serdadu Belanda di gudang-gudang dan pos-pos militer di Solo.

Pada 1948, Bang Pi’ie dan anak buahnya pergi ke Madiun untuk menumpat orang-orang PKI. Pada 24 Februari 1966, Presiden Soekarno menunjuknya untuk menjabat sebagai Menteri Urusan Keamanan.

Akan tetapi, peristiwa G 30 S melengserkannya yang baru saja memegang tampung kekuasaan selama dua bulan. Peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru melemparnya sebagai tumbal. Ia dituduh terlibat dalam peristiwa G 30 S oleh penguasa rezim Orde Baru.

Bang Pi’ie dan anak buahnya turut berpartisipasi dalam menumpas bekas laskar yang menamai dirinya, Bambu Runtjing. Pada permulaan tahun 1950-an, Bambu Runtjing mengadakan serangkaian teror bengis yang tidak segan-segan membakar, merampok bahkan membantai orang.

Bambu Runtjing yang berkeliaran di Jakarta pada 1950 terlibat baku tembak dengan aparat kepolisian yang mengakibatkan empat anggotanya tewas di lokasi kejadian.

Bambu Runtjing kerapkali meneror kawasan pinggiran Jakarta. Bahkan, kelompok bersenjata api yang mempunyai berbagai amunisi ini mampu mengubah nuansa Jakarat menjadi semakin suram. Selain Bambu Runtjing, kelompok Bulloh dan Mat Item juga merampok beberapa rumah warga di daerah pinggiran Jakarta.

“Kelompok Bulloh pernah menggorok leher korbannya dengan golok hingga hampir putus. Kelompok Bambu Runtjing, Bulloh dan Mat Item yang melancarkan berbagai aksi perampokan kejam dengan bersenjatakan pistol dan amunisi menandakan kekacauan pasca-kemerdekaan di Indonesia,” tulis M. Fauzi dalam Kriminalitas dan Kekerasan di Jakarta pada 1950-1960-an.

Senjata api dan berbagai amunisi tidak hanya dimiliki aparat kepolisian dan tentara. Akan tetapi, preman-preman dan berbagai anggota bekas kelaskaran yang merampas senjata dan amunisi dari gudang dan pos-pos militer Belanda juga memilikinya.

Aparat kepolisian tidak mampu menjaga keamanan seiring pemerintah belum sanggup menyediakan lapangan pekerjaan bagi bekas pejuang yang tidak terserap dalam keanggotaan kesatuan militer.

Keahlian seorang bekas pejuang yang terhimpun dalam berbagai laskar hanya seputar merakit bom, menembak musuh, merancang strategi dan hal-hal sejenis lainnya. Dan mereka akan terluntah-lunta karena tidak mempunyai keahlian apapun.

Di samping itu, mereka harus menghadapi kehidupan dunia yang masih berlanjut pasca Perang Revolusi Fisik. Akhirnya, mereka memilih menekuni kembali keahliannya untuk membiaya hidup dengan jalan masing-masing, baik meniti karir di dunia bawah sebagai preman, pencopet, perampok atau profesi lain sejenisnya.

https://youtu.be/F56JngAfUvQ

CityView

Meraih Kemerdekaan dan Kedigdayaan: Amerika Serikat Melompat Jauh Ke depan

Published

on

ilustrasi patung liberty

Amerika tidak akan pernah dihancurkan dari luar. Jika kita goyah dan kehilangan kebebasan kita, maka kita menghancurkan diri kita sendiri”, – Abraham Lincoln

Kini raksasa dunia kian melonglong. Negara Adidaya Amerika Serikat menerima tantangan dari raksasa lain, dari benua yang kaya akan mitos, sejarah dan budaya. China meraung dan memamerkan taringnya dalam unjuk gigi perang dagang.

Negara China mengobarkan semangat mengembalikan kejayaan perdagangan yang telah terkubur berabad-abad silam.

Sementara Amerika Serikat ‘memaksakan diri’ untuk melanjutkan posisi sentralnya sebagai negara penguasa perekonomian global. Sayangnya, artikel ini hanya mengupas sejarah Amerika Serikat merangkak menuju digdaya.

Semua bermula pasca Deklarasi Kemerdekaan, bangsa Amerika telah memperoleh kemerdekaan pada 4 Juni 1776. Founding Father Amerika bukan saja mengumumkan kelahiran sebuah negara baru, melainkan juga mencanangkan sebuah filosofi kebebasan manusia.

Seiring sejalan, negara Amerika senantiasa berusaha meningkatkan kemakmuran rakyatnya melalui upaya diplomatik, yang di kemudian hari menjelma menjadi imperium raksasa, bahkan mempengaruhi segala penjuru bangsa di berbagai belahan dunia.

Demi mematahkan kepentingan Inggris, negara baru Amerika mengoptimalkan kinerja diplomatik dan mengadakan penetrasi militer terhadap pelabuhan dagang yang berada dalam kekuasaan Inggris (pelabuhan dagang West Indies).

Pemerintah negara baru Amerika menjalin relasi dengan para pedagang, terutama yang berkebangsaan Amerika, sehingga Inggris tersudutkan dan terpaksa membuka pelabuhan lainnya di daerah koloninya.

Langkah sukses berupaya dipertahankan, bahkan negara baru tersebut terus-menerus menggerogoti imperium Inggris di benua Amerika.

Baca Juga:

  1. Mengenal Presiden Amerika Tersingkat
  2. Ambang Kehancuran Meksiko
  3. Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik

Bangsa Amerika menyakini revolusi ini merupakan tonggak awal untuk mengakhiri kolonialisme Eropa sekaligus pertanda kebangkitan imperium raksasa yang akan menguasai daratan dan lautan.

Relatif cukup lama, bangsa Amerika menyusun pilar-pilar imperium kontinental, terlebih mengembangkan perdagangan yang mengusung perekonomian pasar ekspansif dengan target seluruh penjuru dunia, guna menggantikan posisi dan peran bangsa Eropa (Portugal pada abad ke-16; Belanda pada abad ke-17; Inggris pada abad ke-18).

Akhir abad ke-20, bangsa Amerika boleh bangga atas prestasinya yang mempengaruhi bangsa-bangsa di dunia, baik dari segi politik, ekonomi, militer maupun budaya.

Semenjak perang dingin (cold-war) usai, Uni Soviet tumbang, dan Amerika Serikat terangkat menuju podium tertinggi panggung dunia.

Kemajuan Amerika Serikat dapat dilacak, berawal dari penetapan kebijakan luar negeri guna melakukan ekspansi agresif ke beberapa wilayah disekitarnya.

Dengan menjunjung nilai-nilai kebebasan individu, Amerika Serikat menunjukkan sikap dan ketegasannya dalam kebijakan politik luar negerinya.

Setiap ekspansi militer mengusung kepentingan perekonomian Amerika, karena prinsipnya tak jauh beda dengan kolonialisme Eropa, yang membonceng perusahaan dibalik tank dan ribuan serdadu bersenjata.

Tahun 1776, Amerika Serikat sudah terdiri dari 13 negara bagian yang harus menghadapi negara-negara imperalis Eropa, seperti Inggris, Perancis dan Spanyol.

Oleh karena itu, menurut David F. Burg dalam The America Revolution, Amerika Serikat berperan aktif mengupayakan cara diplomasi untuk menjaga dan memperluas wilayah teritorialnya. Ekspansi militer pun berlangsung sporadis sejak zaman koloni.

Para pionir Amerika menjelajah ke arah barat untuk membuka lahan-lahan baru sampai ke pegunungan Appalachian.

Setelah mendapatkan wilayah Lousina, Amerika Serikat masih dihadapkan dengan ancaman dari Inggris yang masih menguasai wilayah Canada.

John Soule dalam Garis Besar Sejarah America melanjutkan, terpikat oleh tanah yang subur yang belum pernah dijumpai, mendorong para perintis berdatangan ke pegunungan Appalachian dan daerah disekitarnya.

Hingga pada 1790, penduduk daerah lintas pegunungan Appalanchian berkembang mencapai angka 120.000 jiwa.

Keadaan Negara terus berkembang mantab, disusul migrasi dari Eropa meningkat. Penduduk Amerika pun mulai pindah kearah barat.

Penduduk New England dan Pennsylvania beranjak ke Ohio, sedangkan orang-orang Virginia dan Carolina masuk ke Kentucky dan Tennessee.

Lahan pertanian yang bagus bisa dimiliki dengan harga murah, tenaga kerja sangat dibutuhkan.

Faktor yang paling utama adalah meningkatnya perkembangan industri kapas yang sangat besar di wilayah selatan yang terdorong oleh pengenalan jenis-jenis baru teknologi pembangunan.

Perang tahun 1812, dalam batas tertentu merupakan perang kemerdekaan kedua, karena sebelumnya Amerika Serikat masih dianggap setara dengan rumpun bangsa terjajah lainnya.

Dengan diakuinya negara baru Amerika, banyak kesulitan serius yang menerjangnya. Persatuan nasional di bawah konstitusi membawa keseimbangan antara kemerdekaaan dan ketertiban.

Utang nasional yang rendah dan tanah yang luas menunggu untuk diolah menjadi modal utama yang diharapkan dapat menunjang kemakmuran dan kemajuan negara baru tersebut.

Melalui semangat itulah kemudian Amerika berkeinginan menyalurkan hasratnya dengan mengadakan ekspansi dan politk luar negerinya.

Continue Reading

CityView

Bikin Penasaran Dunia, Ini 7 Misteri di Indonesia yang Belum Terpecahkan

Published

on

By

Ilustrasi Misteri di Indonesia yang Belum Terpecahkan

Beragam mitos yang saat ini masih terjadi, pasti tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Di mana mitos atau misteri tersebut datang dari berbagai wilayah di Tanah Air.

Berikut mycity telah merangkum untuk cityzen 7 misteri di Indonesia yang belum terpecahkan:

Kerajaan Ghaib Laut Selatan dan Nyi Roro Kidul

Kerajaan Ghaib di Laut selatan dan kisah Nyi Roro Kidul ini diyakini oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Namun sampai kini masih menjadi misteri dan kisah legenda yang dipercaya banyak orang, terutama bagi masyarakat Pulau Jawa terkait keberadaan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan.

Larangan memakai baju berwarna hijau saat berada di pantai selatan pun merupakan salah satu mitos yang berkembang di tengah masyarakat Tanah Air. Diyakini Nyi Roro Kidul tidak suka dengan orang yang memakai baju berwana hijau kala datang ke pantai tersebut.

Situs Gunung Padang

Selanjutnya, Gunung Padang yang berada di Cianjur, Jawa Barat yang menyimpan misteri mengenai penemuan situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Jika dibandingkan dengan luas Candi Borobudur, tempat ini memiliki luas dua puluh kali.

Situs tersebut masih menyimpan banyak misteri sampai saat ini. Dipercaya Situs Gunung Padang memiliki usia yang sama dengan Piramida di Mesir, bahkan dikatakan lebih tua.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Piramida Sadahurip di Garut

Tak hanya Situs Padang saja ternyata yang disebutkan lebih tua dari Piramida di Mesir, melainkan Piramida Sadahurip di Garut pun juga demikian. Bahkan kebenaran tentang Piramida Sadahurip masih menjadi hingga sekarang.

Dusun Karang Kenek

Karena hanya dihuni oleh 26 kepala kelurga dan tidak boleh lebih, Dusun Karang Kakeng termasuk ke dalam dusun yang unik. Dipercayai akan ada penduduk yang meninggal atau memutuskan untuk pindah jika desa ini diisi lebih dari angka tersebut.

Suku Lingon yang Bermata Biru

Suku Lingon yang berada di Halmahera tentu sangat menarik perhatian bagi banyak orang. Hal ini dikarenak suku Lingon yang mempunyai ciri fisik tidak sama dengan kebanyakan masyarakat Indonesia. Mereka bertubuh besar dan tinggi, berambut pirang, berkulit putih hingga memilki bola mata berwarna biru layaknya orang Eropa.

Suku Mante di Aceh

Masih menjadi misteri sampai saat ini tentang keberadaan suku Mante di Aceh. Kamera seorang pengendara motor tidak sengaja menangkap sesosok manusia yang dipercaya adalah orang dari suku Mante pada tahun 2017. Sebagian besar orang percaya bahwa suku ini telah punah. Akan tetapi juga banyak meyakini jika suku mante masih ada dan pelosok hutan di Aceh merupakan tempat mereka.

Benteng Raksasa di Bawah Laut Papua

Ilustrasi Benteng Raksasa di Bawah Laut Papua

Sebuah penampakan yang menyerupai benteng raksasa yang berada di bawah laut Papua sempat ditangkap oleh satelit luar angkasa. Namun kebenaran akan adanya Benteng raksasa itu masih menjadi misteri hingga kini.

Continue Reading

CityView

Mengenal Ha Anim, Provinsi Baru di Papua

Published

on

By

Ha Anim, Provinsi Baru di Papua

Terdapat provinsi baru di Papua, yakni Papua Selatan (Ha Anim). Marind Anim dan Asmat merupakan sejumlah suku yang mendiami wilayah tersebut.

Provinsi ini dengan ibu kota Marauke meliputi empat kabupaten seperti Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Boven Digoel.

Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Papua Anim Ha adalah wilayah terluas sekaligus kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, dikutip dari laman penghubung.papua.go.id.

Sementara itu masyarakat Marin Anim yang tinggal di wilayah itu, hidup di dalam kampung-kampung yang biasanya memiliki sebuah rumah untuk para lelaki remaja. Di mana rumah itu biasa disebut gotad.

Baca Juga:

  1. Mengadu Nasib di Kota: Migrasi Orang-Orang Madura ke Surabaya
  2. Kapitalisme di Ujung Kota: Tumbuhnya Kapitalisme di Perkebunan Kampung Medan Putri
  3. Surabaya dalam Struktur Kota Bawah: Benteng yang Mengelilingi Kota

Kemudian berdiri rumah-rumah keluarga (oram aha) atau rumah kaum wanita yang lebih kecil ukurannya di sekitar gotad. Sedangkan suku Asmat di sini terbagi menjadi dua, yaitu ada yang tinggal di pesisir pantai dan ada juga yang hidup di pedalaman. Perbedaan cara hidup, sturktur sosial dan ritual tentu tercipta dari kedua populasi ini.

Diketahui, dengan melalui Pengembangan Kawasan Pangan Merauke (PKPM), Pemerintah Provinsi Papua menetapkan Anim Ha sebagai pusat pengembangan pangan.

Tidak hanya itu saja, kawasan Anim Ha juga menjadi pusat pengembangan perkebunan untuk karet dan sawit serta tanaman tebu. Selain itu pengembangan perikanan di Merauke dan Asmat, pengembangan wisata budaya Asmat, dan pengembangan peternakan sapi di Merauke.

Continue Reading

Trending