Connect with us

Bisnis

Shopee Bawa Batik Pekalongan ke Kancah Internasional

Published

on

Batik Ruzza Pekalongan

Batik merupakan warisan luhur dari kebudayaan Indonesia yang musti dipertahankan eksistensinya. Terkait hal itu, memulai usahanya dengan membuka Batik Ruzza pada 2015.

Bisnis Batik Ruzza merupakan bisnis turun temurun. Dulunya, bisnis ini merupakan jasa konveksi untuk menjahit produk batik yang hasilnya dikirimkan ke berbagai toko batik. Namun di tahun 2015, bisnis ini diturunkan kepada Arif dan akhirnya ia berani untuk menjual sendiri produk yang sudah dijahitnya di Shopee.

“Batik untuk anak itu susah dicari, karena jarang sekali ada penjual yang fokus di batik anak. Sejauh ini lebih banyak penjual batik untuk remaja dan dewasa di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. NATO Vs SCO, Siapa yang Lebih Kuat?
  2. Bulan Depan, PeduliLindungi Dapat Diakes dengan 11 Aplikasi Ini
  3. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Tolak Program Nuklir Iran

Untuk memperluas jaringan pemasaran, sejak 2015 itu Arif memanfaatkan platform Shopee. Awalnya ia menggunakan Shopee untuk berbelanja, tapi kemudian ia terbersit untuk ikut memasarkan produknya di Shopee.

Ketekunan Arif dalam mengembangkan ragam produknya dan mengoptimalkan fitur-fitur maupun program di aplikasi Shopee membuat bisnisnya semakin maju. Bahkan, kini ia sudah bisa memasarkan produknya ke luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura melalui program Ekspor Shopee.

Batik Ruzza Pekalongan

“Batik untuk anak itu susah dicari, karena jarang sekali ada penjual yang fokus di batik anak. Sejauh ini lebih banyak penjual batik untuk remaja dan dewasa di Indonesia. Dengan perkembangan batik sekarang, berjualan di platform e-commerce seperti Shopee membantu saya untuk menjangkau pasar lebih luas lagi bahkan sampai ke luar negeri. Saya juga bangga bisa membawa warisan budaya Indonesia ke mancanegara,” ungkap Arif

Arif mengaku, setelah bergabung dengan Program Ekspor Shopee pada Maret 2020, pelanggannya merasa semakin dimudahkan untuk membeli produk Batik Ruzza melalui aplikasi Shopee di negara mereka masing-masing.

“Hingga bisa masuk ke tahap ekspor merupakan sebuah proses yang sangat menyenangkan. Shopee hadir untuk membantu memberikan kemudahan bagi kami dalam mengekspor produk,” kata Arif.

Selain itu, pasar Batik Ruzza semakin diperluas melalui Program Ekspor Shopee sehingga konsumen Batik Ruzza dari luar negeri semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Batik Ruzza setiap bulannya berhasil mengekspor ratusan produk ke berbagai negara seperti Malaysia dan Singapura.

“Kemudahan yang diberikan Shopee membantu kami untuk dapat fokus dalam meningkatkan kualitas produk serta kapasitas produksi,” ungkap Arif.

Bisnis

Merah Putih Fund, Solusi Jitu Pemerintah Jaga Startup Indonesia dari Intervensi Asing

Published

on

Merah Putih Fund
Merah Putih Fund

Industri startup di Indonesia saat ini mencapai puncak kejayaan. Salah satu indikatornya adalah gelar unicorn, terkait kemampuan perusahaan dalam melampaui ambang nilai valuasi yang telah ditentukan untuk dapat meraih gelar tersebut.

Kini, sudah banyak startup Indonesia yang meraih gelar unicorn. Belum lagi, ada sekitar selusin perusahaan startup Indonesia yang kini menunggu waktu untuk meraih gelar tersebut.

Namun terlepas dari pencapaian yang telah dimiliki, kondisi sebenarnya justru memunculkan keprihatinan yang mendapat perhatian bersar dari berbagai pihak, termasuk masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran serta kepedulian tinggi akan sektor industri startup di tanah air, yaitu mengenai keberhasilan startup Indonesia dalam meraih gelar unicorn yang nyatanya bisa terjadi karena sokongan dari sejumlah pihak dan investasi asing.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Ragam komentar dan pandangan kritis tersebut nyatanya sudah ramai dibicarakan oleh masyarakat selama beberapa waktu ke belakang. Yang di saat bersamaan juga menjadi perhatian tersendiri oleh pemerintah, dan pada akhirnya memunculkan solusi lewat inisiasi Merah Putih Fund.

Bukan baru-baru ini mendapatkan perhatian khusus, sejak beberapa waktu lalu sebenarnya sudah ramai sejumlah pihak yang menyayangkan banyaknya startup besutan Indonesia ternyata lebih banyak didominasi oleh pihak asing.

Menteri BUMN Erick Thohir, pada beberapa waktu lalu bahkan secara terang-terangan pernah mengungkapkan kekecewaan tersebut, dan disampaikan oleh Arya Sinulingga selaku Staf Khusus Kementerian BUMN.

“Kita ini kecewa, ternyata Gojek itu dikuasai asing sekarang, Tokopedia dikuasai asing, Bukalapak juga, tidak ada investor lokal masuk,” ujarnya.

Kekecewaan tersebut terjadi memang bukan tanpa alasan, selain banyaknya startup Indonesia yang pada mulanya masih merintis di tanah air namun berhasil meroket berkat pendanaan asing, fakta lain menunjukkan bahwa sejumlah bibit startup ternama yang ada di Indonesia ternyata memiliki founder atau pendiri utama yang merupakan warga negara non-Indonesia.

Sebut saja Ula, startup yang beroperasional di Indonesia dan baru-baru ini menarik perhatian karena mendapat pendanaan dari Jeff Bezos tersebut, ternyata pertama kali diprakarsai oleh Nipun Mehra yang inkubasinya berlangsung di Singapura.

Di lain sisi ada pula Xendit, startup yang sudah meraih gelar Unicorn tersebut didirikan oleh pemrakarsa utama asal Australia bernama Moses Lo.

Menyadari kesalahan yang diperbuat dengan kurangnya atensi sejumlah investor dalam negeri untuk memperhatikan startup tanah air saat masih dalam tahap pengembangan di masa lalu, membuat pemerintah melakukan pembenahan dengan menyiasati pendanaan di waktu yang akan datang agar tak lagi kehilangan momentum.

Strategi tersebut pun diupayakan dengan kehadiran Merah Putih Fund, yang sejak beberapa waktu lalu sebenarnya sudah sering dibicarakan.

Presiden Joko Widodo akan meluncurkan Merah Putih Fund pada pertengahan Desember mendatang. Merah Putih Fund merupakan pendanaan lokal guna mendukung perusahaan rintisan atau startup Indonesia agar menjadi perusahaan berskala lebih besar.

“Kita akan meluncurkan Merah Putih Fund didukung Telkom dan Telkomsel,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir.

Merah Putih Fund pun bakal melibatkan tiga perusahaan BUMN lainnya yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. Menurutnya, intervensi dari BUMN diperlukan dalam proses pendanaan agar perusahaan rintisan lokal lebih nasionalis.

Erick menegaskan, banyak perusahaan rintisan Indonesia yang pindah ke luar negeri untuk memperoleh pendanaan lebih besar. Maka guna menekan risiko tersebut, nantinya perusahaan rintisan yang akan memperoleh pendanaan harus dibangun oleh orang Indonesia, beroperasi di dalam negeri, dan harus melakukan penawaran saham perdana atau go public di Tanah Air.

“Boleh go public di luar negeri, tetapi harus terlebih dahulu di Indonesia,” tuturnya. Erick melanjutkan.

Erick menyatakan, BUMN merupakan sepertiga kekuatan ekonomi nasional. Sayangnya saat pandemi, 90 persen perusahaan milik negara tersebut turut terdampak.

“Selain kekuatan, BUMN juga penyeimbang dan intervensi. BUMN itu unik, dia korporasi tapi juga public service, misal karena Covid-19 penumpang kereta api hanya 15 persen, kalau rugi begitu perusahaan swasta bisa setop, tapi BUMN nggak boleh setop,” tutur Erick.

Adapun syarat yang dimaksud memuat sejumlah ketentuan yang melibatkan kegiatan di dalam negeri, mulai dari pendirian hingga kemungkinan membuka saham ke publik.

“Ada tiga benang merahnya. Satu founder-nya harus orang Indonesia, kedua operasional perusahaannya di Indonesia, ketiga go public-nya mesti di Indonesia, bukan go public di Singapura,” dia memungkasi.

Continue Reading

Bisnis

Indonesia Kini Punya Senjata Sendiri, Erick Thohir Bentuk BUMN Industri Pertahanan

Published

on

PT LEN Industri
PT LEN Industri

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera membentuk Holding BUMN Industri Pertahanan (Inhan). Holding ini nantinya akan dikepalai oleh PT LEN Industri (Persero).

Sedangkan BUMN yang akan menjadi anak usahanya adalah PT PAL Indonesia (Persero), PT Pindad (Persero), PT Dahana (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero).

“Setiap kreditur atau pihak yang memiliki tagihan terhadap masing-masing perusahaan yang disebutkan di atas dapat mengajukan keberatannya atas Rencana Pengambilalihan di masing-masing perusahaan ini secara tertulis kepada masing-masing perusahaan dengan alamat sebagaimana disebutkan berikut ini dalam jangka waktu 14 hari kalender setelah tanggal pengumuman,” tulis pengumuman tersebut, Selasa (30/11/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Dalam rangka pembentukan holding ini, perusahaan telah mengumumkan rencana pengalihan seluruh saham seri B milik negara di empat BUMN tersebut ke Len Industri.

Jika sudah melewati maka keberatan yang disampaikan tidak akan diterima dan dianggap setuju terhadap rencana pengalihan saham tersebut.

Len Industri yang akan menjadi induk usaha Holding BUMN Pertahanan ini menjalankan usaha pengembangan bisnis dan produk-produk dalam bidang elektronika untuk industri dan prasarana.

Beberapa proyek yang digarap seperti sistem kersinyalan kereta api, pembangunan urban transport, jaringan infrastruktur telekomunikasi, elektronika untuk pertahanan, baik darat, laut, maupun udara, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan radar cuaca, Stasiun Monitoring Gempa Bumi, Broadcasting.

Holding ini ditargetkan akan selesai tahun. Saat ini tahapannya dalam proses harmonisasi dan menunggu diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP).

Direktur Utama Len Industri Bobby Rasyidin mengatakan pembentukan holding BUMN Indhan merupakan solusi untuk mempercepat kemandirian industri pertahanan Indonesia, serta opsi paling optimal karena dapat menyeimbangkan faktor penciptaan nilai dan faktor kemudahan implementasi.

“Holdingisasi akan meminimalisir terjadinya tumpang tindih produk dan sistem dari masing-masing BUMN anggota holding,” kata Bobby dalam siaran persnya, dikutip Selasa (30/11/2021).

Selain itu, holdingisasi akan dapat memperkuat struktur modal dan akses pendanaan, meningkatkan daya saing, bargaining power dalam kerjasama dan alih teknologi, membuat operasional menjadi efisien, dan mendorong ekosistem industri pertahanan secara keseluruhan yang ada di dalam negeri.

Continue Reading

Bisnis

4 Merek Sepeda Lokal dengan Kualitas Internasional

Published

on

Element
Element

Pandemi Covid-19 membuat semua orang fokus untuk menjaga kesehatan untuk menambah imunitas tubuh. Selain mengonsumsi vitamin, olahraga menjadi hal yang penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh.

Bersepeda menjadi olahraga terpopuler selama pandemi Covid-19. Selain untuk olahraga, orang-orang juga menjadikan kegiatan bersepeda sebagai hiburan sekaligus menjadi moda transportasi untuk bepergian ke berbagai tempat.

Banyak pula orang yang bersepeda untuk mengusir kejenuhan karena adanya pembatasan sosial membuat masyarakat tidak leluasa untuk bepergian.

Bersepeda tentunya menjadi tren yang positif di tengah pandemi. Pun, meski tren akan memudar seiring waktu, kegiatan bersepeda tentu bisa tetap dilakukan kapanpun dan tak lekang oleh waktu.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

MyCity telah merangkum beberapa merek sepeda buatan lokal yang kualitasnya mampu bersaing dengan produk internasional. Harganya pun tak terlalu mahal.

Polygon

Polygon

Salah satu merek sepeda lokal yang terkenal dengan kualitasnya adalah Polygon Bikes. Merek sepeda ini telah berdiri sejak tahun 1989 dan berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur.

Sejak tahun 2010, Polygon Bikes telah melebarkan sayap ke pasar internasional dan sepeda buatan lokal ini sudah tersebar ke 33 negara, termasuk Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Saat ini, Polygon Bikes juga memiliki 300 jaringan mitra di Indonesia dan lebih dari 650 outlet di luar negeri. Keberhasilan dalam menembus pasar internasional salah satunya karena konsistensi Polygon dalam produksi sepeda, yang tak hanya untuk alat transportasi, tetapi untuk kebutuhan gaya hidup serta fokus pada penentuan desain dan kualitas sehingga mampu bersaing dengan merek-merek dari luar negeri.

Polygon telah melakukan berbagai inovasi yang diakui dunia seperti Floating Suspension System di tahun 2012 dan tren Enduro-All Mountain pada tahun 2016.

United

United
United

United juga bukanlah pemain baru, merek ini sudah ada di Indonesia sejak tahun 1991. Produk-produk yang dihadirkan United antara lain sepeda gunung, sepeda lipat, road bike, BMX, sepeda anak, dan sepeda touring. Dari tahun ke tahun, United selalu mengembangkan varian sepeda dengan mengikuti tren dan teknologi terbaru.

United menjadi salah satu merek sepeda asli Indonesia yang dikenal inovatif, ramah lingkungan, beradaptasi dengan teknologi, serta telah menembus pasar mancanegara. Jenama satu ini sudah menjual produknya sampai ke Denmark, Spanyol, Italia, Portugal, dan Kanada. Pada tahun 2017 lalu, United berhasil mengekspor 10 ribu unit sepeda ke Spanyol.

Pada bulan November 2021 ini, United baru saja merilis sepeda lipat seri Plasm Matic yang punya fitur ganti gigi otomatis dengan harga Rp5 jutaan.

Pacific

Pacific
Pacific

Merek sepeda Pacific yang berada di bawah naungan PT. Roda Pasifik Mandiri di Semarang, Jawa Tengah telah berkiprah di industri sejak tahun 1995. Dari tahun ke tahun, Pacific terus berinovasi dan menambah varian sepeda seperti sepeda lipat, sepeda gunung, BMX, hingga city bike.

Awalnya, Pacific mengeluarkan sepeda gunung dengan kelas menengah ke bawah. Namun, pada tahun 2018, Pacific pun melebarkan lini produksinya untuk menyasar pasar kelas menengah ke atas. Terbukti sepeda gunung buatan Pacific pun mendukung timnas balap sepeda di gelaran ASIAN Games tahun 2018.

Tahun ini, Pacific pun mengeluarkan seri terbarunya yaitu Pacific Splendid 100, sepeda lipat dengan harga Rp2,5 jutaan dan sepeda balap Pacific Whizz seharga Rp22 juta untuk para pebalap dengan frame dari bahan karbon ringan yang aerodinamis untuk memaksimalkan kecepatan.

Element

Element

Kemudian, ada merek sepeda Element di bawah naungan PT. Roda Maju Bahagia. Salah satu produk unggulan Element adalah sepeda gunung dengan desain menarik, berkualitas, tapi tetap terjangkau.

Element telah berdiri sejak tahun 2008 dan mengimpor sepeda dari Taiwan serta China. Baru pada tahun 2015 mereka membuka pabrik seluas 12 ribu meter di Tangerang kemudian bermigrasi menjadi perusahaan manufakturing sepeda.

Pada tahun 2019, perusahaan sepeda lokal tersebut mampu meraih penjualan sampai 150 ribu unit dan setiap harinya mereka bisa menghasilkan 850-1.000 unit sepeda. Kemudian, sepanjang tahun 2020 rekor penjualan mereka mendekati Rp1 triliun dan mayoritas berasal dari penjualan sepeda lipat.

Saat ini, penjualan sepeda Element tak hanya tersebar di seluruh penjuru Nusantara, tetapi sudah diekspor ke beberapa negara seperti Thailand, Singapura, Malaysia, India, dan Korea.

Continue Reading

Trending