NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo
Shio yang Hoki dalam Asmara di Tahun Kelinci Air - mycity.co.id
Connect with us

Culture

Shio yang Hoki dalam Asmara di Tahun Kelinci Air

Published

on

Ilustrasi tahun kelinci air/Foto: Getty Images/erhui1979

Ilustrasi tahun kelinci air/Foto: Getty Images/erhui1979

 

Berdasarkan kalender China, 22 Januari 2023 adalah perayaan Tahun Baru China atau yang lebih dikenal dengan Imlek.

Pergantian tahun ini oleh orang Tionghoa dipercaya akan berpengaruh pada peruntungan shio alias zodiak.

Banyak aspek kehidupan yang dapat diramalkan dari tahun Kelinci Air ini, termasuk hubungan asmara.

Kabar baiknya, menurut Pakar Feng Shui Angelina Fang rupanya tahun ini akan menjadi tahun yang romantis.

“Elemen air pada Kelinci Air ini selain pintar dan imajinatif, ia juga romantis. Ini adalah tahun baik bagi orang-orang yang sedang mencari pasangan,” imbuh Angelina.

Setidaknya ada empat shio yang diramal mengalami keberuntungan dalam aspek hubungan asmara tahun ini.

Kira-kira, apakah empat shio itu? Apakah di antaranya ada shio anda?

1. Tikus

Lahir tahun: 1936, 1948, 1960, 1972, 1984, 1996, 2008

Anda dengan shio tikus perlu berbahagia, pasalnya asmara shio tikus di tahun Kelinci Air ini cukup baik.

Bagi yang masih lajang berpotensi untuk bertemu jodoh dan menikmati romantisme dalam percintaan.

Hal ini perlu disambut dengan perubahan diri, misalnya lebih aktif meminta kerabat untuk mengenalkan anda ke calon pasangan, dan juga harus berbenah diri.

Sedangkan bagi yang sudah berpasangan, disarankan untuk bisa mengendalikan diri untuk mencegah skandal percintaan yang bisa merusak reputasi anda.

Kesibukan karir dan keuangan anda mungkin dapat memisahkan anda dengan pasangan, jadi luangkan lah waktu yang berkualitas dengannya.

2. Kuda

Lahir tahun: 1942, 1954, 1966, 1978, 1990, 2002

Bagi anda shio kuda yang masih lajang, ada bintang bagus yang memberi potensi terbukanya jalur asmara anda tahun ini.

Coba lah untuk lebih terbuka dan menemui orang baru. Bahkan, bila mampu menjalani hubungan dengan baik anda diramalkan dapat berlanjut ke jenjang pernikahan.

Namun bagi anda yang telah berpasangan, waspadai lah godaan skandal karena masalah bisa menjadi panjang bahkan berpotensi menimbulkan problem hukum yang cukup besar.

3. Anjing

Lahir tahun: 1946, 1958, 1970, 1982, 1994, 2006

Asmara shio anjing di tahun Kelinci Air, bagi anda yang masih jomblo akan mudah menarik lawan jenis.

Pantaskan lah diri untuk mendapatkan jodoh berkualitas, misalnya dengan memperbaiki penampilan maupun meningkatkan wawasan diri.

Bila anda dengan shio anjing telah berpasangan, anda diramalkan akan menikmati kehidupan asmara yang lebih harmonis lagi di tahun ini.

Meski terkadang merasa kesepian, tetap lah hargai pasangan yang telah bersama anda selama ini.

4. Babi

Lahir tahun 1935, 1947, 1959, 1971, 1983, 1995, 2007

Bila anda sedang ingin mengakhiri status lajang, tahun Kelinci Air ini menjadi tahun yang baik bagi shio babi. Ada harapan baik untuk anda bertemu jodoh.

Bagi anda yang telah memiliki pasangan, suasana hati yang tidak stabil akan mempengaruhi kualitas dalam hubungan.

Faktor eksternal seperti orang lain maupun pekerjaan akan mengganggu, sehingga belajar lah untuk mengembangkan komunikasi yang efektif dengan pasangan anda.

“Shio-shio yang hoki di tahun ini berarti dia akan lebih mudah untuk disukai orang lain,” kata Angelina Fang kepada Antara baru-baru ini.

Menurut Angelina, energi positif Kelinci Air pada tahun ini menjadi pertanda baik selain bagi anda yang sempat terhambat untuk bertemu pasangan saat pandemi, juga untuk memperbaiki hubungan yang melonggar antara orang terdekat lainnya, kerabat atau keluarga.

 

 

Culture

Mengenal Batik Ecoprint yang Digaungkan Sandiaga Uno

Published

on

Mengenal Batik Ecoprint.

mycity.co.id – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mendorong Jember untuk menjadi pusat batik ecoprint. Apakah itu?

“Baju batik yang dikenakan Bapak Bupati Hendy merupakan batik ecoprint. Saya siap membantu mempromosikan,” katanya.

Dia mengapresiasi dengan kekayaan yang diperlihatkan Bupati Jember sudah maju dari segi ekonomi kreatif dan UMKM.

“Saya ikut bangga melihat hasil yang telah dicapai Jember saat ini,” jelasnya. Sementara itu Bupati Jember Hendy Siswanto mengatakan sangat mendukung program Kemenparekraf.

“Kami memiliki 248 desa/kelurahan dan Jember memiliki program one village one product,” kata Bupati Hendy. Lanjutnya, Kabupaten Jember memiliki 612 ribu usaha UMKM yang tersebar di 31 kecamatan.

Batik Ecoprint

Batik ecoprint merupakan varian dari batik yang menekankan kepada sifatnya yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, batik ecoprint banyak memanfaatkan material yang berasal dari bahan alami.

Menurut laman milik Pemerintah Kota Yogyakarta, pembuatan batik ecoprint dilakukan dengan memanfaatkan pewarna alami yang berasal dari tanin atau zat warna yang terkandung dalam daun, akar atau batang tumbuhan. Tanin tersebut kemudian diletakkan di kain yang kemudian direbus.

Pemilihan kain sebagai bahannya pun tidak sembarangan. Kain yang digunakan harus berasal dari serat alami. Fungsinya, agar warna dari tanin bisa meresap sempurna ke kain dengan ketahanan yang lama.

Ada banyak daun yang bisa dimanfaatkan sebagai penghasil warna bagi batik ecoprint. Daun-daun tersebut tumbuhannya juga mudah ditemui di berbagai wilayah Indonesia, di antaranya secang, jati, jarak, dan ketapang.

Selain karena sifatnya yang ramah lingkungan, batik ecoprint juga punya keunggulan lain, yakni lebih aman bagi kesehatan. Batik ecoprint bisa mengurangi berbagai resiko kesehatan mulai dari alergi hingga pencemaran lingkungan.

Batik ecoprint ini dianggap potensial untuk dikembangkan di Jember karena sumber daya yang dinilai potensial di sana. Dengan UMKM yang jumlahnya banyak dan aktif, Jember punya kesempatan besar untuk menjadikan batik ecoprint sebagai produk unggulannya.

Continue Reading

Culture

Imlek Sempat Dilarang di Era Orba, Kini Jadi Hari Libur Nasional

Published

on

Perayaan Imlek di Thailand. Foto: Kompas.com

Perayaan Imlek di Thailand. Foto: Kompas.com

mycity.co.idPerayaan Imlek tahun ini bertepatan dengan Minggu 22 Januari 2023 dinyatakan sebagai hari libur nasional. Pemerintah juga telah menetapkan hari Senin, 23 Januari 2023 sebagai hari cuti bersama Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili.

Ketetapan hari libur nasional dan cuti bersama itu diputuskan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1066 Tahun 2022 Nomor 3 Tahun 2022, Nomor 3 Tahun 2022 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2023.

Padahal saat zaman orde baru, Imlek tidak dinyatakan sebagai hari libur. Bahkan saat itu, hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga dalam ruang tertutup.

Sebenarnya, mulai kapan pemerintah menetapkan perayaan Imlek sebagai hari libur nasional? Simak penelusuran Tempo berikut ini.

Pertama kali datang
Budaya Cina masuk bersama kedatangan orang Cina yang bermigrasi ke berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk berdagang. Kedatangan mereka turut berdampak pada perkembangan kebudayaan di tanah air.

Imlek di masa pemerintahan Soekarno
Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno menetapkan Penetapan Pemerintah tentang hari-hari raya umat beragama No.2/OEM-1946 yang salah satunya menyoal hari raya orang Tionghoa, segera setelah kemerdekaan Indonesia.

Ada empat perayaan yang masuk dalam penetapan tersebut, yaitu Tahun Baru Imlek, hari wafatnya Khonghucu pada tanggal 18 bulan 2 Imlek, Ceng Beng, dan hari lahirnya Khonghucu pada tanggal 27 bulan 2 Imlek.

Pada masa itu, orang-orang Tionghoa juga bisa berekspresi secara bebas, seperti berbahasa Mandarin, bahasa lokal, memeluk agama Konghucu, punya surat kabar berbahasa Mandarin, menyanyikan lagu Mandarin, dan memiliki nama Cina. Sekolah, toko, restoran, dan bengkel bisa memasang plang bertulisan Mandarin.

Pelarangan Imlek di masa pemerintahan Soeharto

Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No.14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina pada 6 Desember 1967. Instruksi tersebut menetapkan seluruh upacara agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup. Karena itu, perayaan imlek saat masa Soeharto umumnya tidak dilakukan, atau berlangsung tersembunyi.

Imlek kembali bebas dirayakan di masa pemerintahan Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengeluarkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres No.14/1967 pada 17 Januari 2000. Sejak dicabutnya Inpres tersebut, masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan lagi untuk menganut agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya termasuk merayakan upacara-upacara agama seperti imlek, Cap Go Meh, dan sebagainya secara terbuka.

Hari Raya Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional
Pada 19 Januari 2001, Menteri Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13/2001 tentang penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif. Hari libur fakultatif adalah hari libur yang tidak ditentukan pemerintah pusat secara langsung, melainkan oleh pemerintah daerah setempat atau instansi masing-masing.

Kini, penetapan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional yang ditentukan langsung pemerintah melalui SKB Menteri.

Continue Reading

Culture

Kelezatan Kari dalam Hubungan Panjang Aceh & India

Published

on

mycity.co.id – Hubungan Indonesia, khususnya Aceh dengan India telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, dimulai sejak zaman kuno hingga sekarang ini.

Hubungan yang terjalin dalam waktu lama tersebut telah meninggalkan bukti-buktinya dalam berbagai segi kehidupan.

Kesamaan budaya orang Aceh dengan India tercermin dari adanya kesamaan praktik dalam beberapa tatacara pelaksanaan upacara adat istiadat, selain itu juga terlihat dari budaya material yang ada seperti pola hias pada batu nisan atau ornamen lainnya.

Hubungan Aceh dengan India secara historis dan kultural menjadi menarik karena India merupakan sebuah komunitas bangsa yang telah memiliki peradaban maju di Asia.

Aceh sebagai sebuah komunitas bangsa yang pernah memiliki peradaban tinggi pada zamannya sejak awal telah menjalin hubungan dengan India.

Aceh menerima pengaruh India bukan saja pada masa klasik Hindu-Budha, melainkan juga masa Islam hingga masa kini. Jika Hindu-Budha tumbuh dan berkembang di Aceh berasal dari India dengan berbagai teorinya, Islam yang datang ke Aceh juga berasal dari India.

Salah satu teori yang terkenal tentang Islamisasi nusantara adalah teori Gujarat atau teori India. Hal ini menunjukkan bahwa India merupakan pintu gerbang lalulintas yang menghubungkan Timur dan Barat. Demikian juga Aceh yang terletak pada jalur internasional merupakan pintu gerbang yang sangat strategis.

Beberapa kondisi menjadi modal bagi kedua bangsa untuk memperoleh kemajuan di segala bidang, namun kenyataannya potensi yang ada belum bisa dimanfaatkan secara maksimal, sehingga kawasan Aceh ataupun India masih tertinggal dalam berbagai bidang.

Mustinya Aceh dan India yang memiliki hubungan segitiga dapat meningkatkan kapasitasnya sebagai bangsa yang maju di zaman silam sebanding dengan kawasan-kawasan lain di dunia maju sekarang ini.

Hubungan India dan Aceh Lewat Kari

Masyarakat Aceh menganggap kari sebagai makanan istimewa. Tanpa kari, sebuah kenduri bahkan ibarat pesta tanpa kegembiraan. Kari harus adalah dalam setiap kenduri yang menyertai tiga siklus kehidupan, kelahiran, perkawinan dan kematian.

Kari juga selalu hadir dalam acara-acara kenduri lainnya, seperti sunatan dan maulid. Biasanya daging yang digunakan untuk kari adalah ayam, sapi, kerbau, bebek, dan kambing.

“Selain itu, kari biasanya akan ditambahkan dengan pisang kepok mengkal, hati batang pisang, kluwih, kentang, atau labu, tergantung wilayahnya,” tulis Ahmad Arif dan kawan-kawan dalam Hikayat Dongeng dan Perang dalam Kari Aceh.

Menurut Ahmad, populernya kari di Aceh menggambarkan bahwa pengaruh kuliner India mengakar kuat, meski tidak ada istilah makanan tersebut dalam catatan-catatan lama di budaya Aceh.

Tetapi dua jilid buku The Acehnese yang ditulis Snouck Hurgronje mencatat jenis gule yang populer di Aceh, yakni gulemasam keu’eueng yakni aneka sayur yang direbus dalam air dan dicampur bawang merah, lada, cabai, garam, dan boh slimeng atau asam sunti.

Sementara yang kedua adalah gule leuma, yakni campuran aneka rempah, seperti jahe, temurui, dan serai. Sebagai lauknya digunakan ikan kering (eungkot tho) atau kareng (ikan kecil dan jenis bileh), atau ikan keumamah sejenis ikan tongkol kering.

Selanjutnya kuah pi u (pliek u) yang dibuat dari ampas kelapa yang diambil minyaknya lalu dicampur boh panaih (nangka muda) dan ikan kering atau ikan kecil. Pada acara kenduri, menurut Snouck wajib ada nasi kuning dengan lauk gule ikan keumamah teunaguen.

“Kerbau, sapi, atau kambing jarang dimasak kecuali pada acara-acara sangat besar,” tulisnya.

Colleen Taylor Sen dalam bukunya Curry: A Global History menyebut absennya istilah kari dalam literatur lama karena tidak pernah digunakan. Taylor menyebut orang India menyebut aneka hidangan rempah itu dengan lebih spesifik, seperti korma, molee, dan dohpiaza.

Sementara itu kata kari berasal dari bahasa India bagian selatan (Tamil), yakni keril yang dikaitkan dengan tumis sayuran dan daging berempah. Tetapi kini orang India tidak lagi menggunakannya untuk tumis.

“Tetapi, sekarang orang India sering menggunakan kata kari untuk banyak masakan rumah dengan saus, khususnya ketika mereka bicara dengan orang asing,” papar Taylor.

Continue Reading
Advertisement

Trending