Connect with us

Histori

Sandiwara ‘Stambulan’ di Masa Kolonial

Published

on

Picture 237, Komedie Stamboel

Grup sandiwara Dardanella lahir disebabkan oleh menguatnya Kebudayaan Indis di Hindia Belanda yang menuntut adanya produk hiburan yang bergaya Eropa.

Kelompok Dardanella ini sendiri dibentuk oleh Willy Klimanoff alias A. Pedro, seorang Pria Rusia. Ia menjadi pelopor hadirnya Sandiwara modern di Nusantara.

Meskipun hanya beranggotakan orang-orang Pribumi, namun Dardanella berhasil menjadi satu-satunya grup sandiwara Indonesia yang pernah melakukan tur keliling dunia, mulai Asia bahkan Eropa.

Sebelum adanya Dardanella, Kelompok Sandiwara yang ada di Indonesia diawali dengan adanya Komedi Stamboel yang dalam seni pertunjukannya menceritakan tentang kisah-kisah fantasi, baik yang berasal dari Timur Tengah maupun Eropa Barat.

Akan tetapi, menurut M. Sarief Arief dalam buku Politik Film di Hindia Belanda, cerita yang ditampilkan oleh para pemain Komedi Stamboel ini sendiri masih belum mampu menarik minat dari kalangan penonton, terutama para kaum terpelajar sehingga pada masa tersebut Komedi Stamboel ini belum mampu membawa sandiwara Indonesia kepada puncak kejayaannya.

Sebelum berkembangnya Dardanella dan Komedi Stamboel di Indonesia, ide atau gagasan tentang adanya Pertunjukan Sandiwara di Indonesia dipengaruhi oleh kehadiran Orang-orang Belanda di Indonesia yang datang dengan tujuan untuk menguasai Indonesia sekaligus membawa pengaruh kebudayaan mereka yang ingin merubah gaya hidup masyarakat Indonesia untuk mengikuti gaya hidup mereka.

Pada masa kolonial ini pula terdapat banyak sekali pengelompokan golongan-golongan kelas sosial mulai dari status ekonomi yang tinggi hingga yang rendah, yang disebabkan oleh perkembangan pendidikan dan pemerintahan gaya Barat, yang merubah system pemerintahan dari semi feodal ke modern.

Persentase golongan yang mendapat status karena pendidikan Barat lambat laun semakin kuat, hingga lahirlah golongan intelektual pribumi dan intelektual keturunan Eropa yang mendukung dan bersifat kooperatif terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan kebudayaan yang dibawa.

Selain itu, pengaruh lain hadirnya Sandiwara di Indonesia adalah adanya Kebudayaan Indis, yaitu sebuah hasil Akulturasi antara Kebudayaan Barat yang dibawa oleh Eropa dan Kebudayaan Timur yakni Kebudayaan Pribumi itu sendiri.

Baca Juga:

  1. ‘Badut’ Belanda dan Kehidupan Kolonial di Batavia
  2. Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi, Ini Sederet Fakta Tentang Masyarakat Indis
  3. Snouck Hurgronje, Penyusup Jubah Agama Dalam Kejatuhan Aceh di Tangan Kolonial

Kebudayaan Indis mulai muncul akibat adanya perkawinan silang antara Pria Eropa dengan Wanita Pribumi Indonesia yang melahirkan anak-anak berdarah campuran yang disebut dengan anak-anak Indo Europees.

Mereka inilah yang merupakan pendukung kebudayaan Indis, di samping mereka mendapatkan ajaran Kebudayaan Barat dari Ayahnya sekaligus mendapat ajaran tentang Kebudayaan Timur dari Ibunya.

Beberapa sebab lain juga mengatakan bahwa faktor adanya Kebudayaan Indis juga disebabkan oleh adanya orang-orang Pribumi yang dipekerjakan di Rumah Eropa, sehingga para bangsawan Eropa ini juga menggunakan Kebudayaan Timur khas Indonesia sebagai gaya hidup mereka.

Bacaan Roman atau Sastra Hindia Belanda menjadi hiburan favorit bagi para wanita-wanita Belanda dan Wanita-wanita Indis. Roman yang berisikan tentang percintaan, perselingkuhan, ambisi yang disertai kecemburuan, keangkuhan, iri dengki, dan kesedihan pada kehidupan di Hindia Belanda menjadi hiburan sendiri yang mampu membangkitkan imajinasi pembacanya.

Karya-karya sastra Hindia Belanda mayoritas berisi tentang dukungan maupun kritik masyarakat Hindia Belanda atas perlakuan mereka terhadap kaum pribumi rendahan. Sebagian besar Roman Hindia Belanda lebih banyak menjelaskan tentang bagaimana keadaan masyarakat Hindia Belanda pada masa kolonial.

Namun karena pada masa Abad 18-19 yang sedang ‘populer’ adalah aliran Realisme, bisa disimpulkan bahwa Roman atau Karya Sastra Belanda juga menggambarkan realitas Hindia Belanda pada masa kolonial.

Pada awal Abad 19, Komedi Stamboel cukup populer di kalangan masyarakat HindiaBelanda. Hal ini dikarenakan belum adanya tontonan lain yang serupa atau mendekati Tooneel Barat.

Penonton Komedi Stamboel sebagian besar berasal dari tiga golongan social besar masyarakat kolonial, yakni golongan Belanda dengan Bahasa Belanda, golongan priyayi dan feodal yang masih menggunakan Bahasa Daerah dan Sebagian Bahasa Belanda serta lingua franca (Bahasa Melayu Rendah).

Kemudian, golongan Timur Asing yang sebagian besar didominasi oleh orang-orang Cina peranakan yang berbahasa Melayu.

Mereka inilah yang rela menghabiskan uangnya untuk mengisi waktu luang dengan menyaksikan Opera (Komedi Stamboel).

Bahkan mereka tak segan-segan memborong karcis layaknya pertunjukan sandiwara ini seperti tontonan khusus untuk satu keluarga.

Bagi penontonnya, telah lazim adanya bahwa penonton menggunakan setelan jas bagi pria dan gaun bagi wanitanya. Hal tersebut diberlakukan karena Komedi Stamboel dinilai oleh masyarakat sebagai seni pertunjukan yang hanya dihadiri oleh golongan yang beradab, yakni golongan tinggi Eropa, Masyarakat Indis, golongan priyayi feodal, dan kalangan Cina peranakan.

Namun kejayaan Komedi Stamboel tak berlangsung lama, dikarenakan mulai munculnya Tooneel gaya Barat yang lebih digemari oleh kalangan teratas kolonial.

Komedie Stamboel atau stambulan yang ada di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ini, bersiftat temporal dimana mereka hanya manggung selama beberapa malam saja.

Cerita-cerita yang diangkat dalam stambulan mayoritas “dipinjam” dari cerita-cerita yang berkembang pada masyarakat Turki, sehingga belum bersifat orisinil dan lebih terkenal dengan pertunjukan 1001 Malam.

Stambulan ini dibawa oleh Mahieu, Yap Goan Thay dan Qassim yang tiba di Surabaya pada akhir abad ke-19. Komidi ini biasanya memiliki target audience yang spesifik, hal ini dikarekan tujuan adanya Stambul biasanya khusus untuk menghibur komunitas Tionghoa yang ada di Surabaya.

Maka dari itu, pemain yang ikut dalam baik produksi maupun pementasan Stambul biasanya juga dating dari komunitas Tionghoa.

Tonil sendiri pada awalnya muncul untuk dikonsumsi oleh masyarakat Eropa yang hadir di kota-kota besar seperti Surabaya, Batavia, dan Semarang sebagai penanding dari film pendek pada era tersebut.

Tonil Eropa pada awalnya biasanya menggunakan Bahasa Belanda atau Inggris sebagai pengantar pertunjukan, dan berbasis dari buku-buku atau cerita Eropa sehingga masih eropsentris.

Di Surabaya, kelompok Tonil eropa yang terkenal ialah Nederlandsch Indie Toneel Ensemble, dengan munculnya grup ini juga menandakan adanya perubahan dalam pertunjukan Tonil yang awalnya temporal menjadi permanen dengan didirikannya Gedung pertunjukkan untuk mengakomodasi kelompok-kelompok ini.

Kematian Tonil Eropa pada tahun 1925 disebabkan dengan adanya kompetisi yang ketat antar kelompok tonil, adanya kemunduran dalam Tonil Eropa juga dikarenakan adanya pengurangan yang signifikan dalam jumlah penonton dari kaum Eropa.

Kematian Tonil Eropa seakan-akan menjadi panggilan dan jalan masuk bagi maraknya Tonil Melayu dengan narasi-narasi baru yang lebih refreshing untuk ditonton, terutama bagi penonton-penonton dari kaum Pribumi.

Histori

Mengorek Luka Lama, Riset Perang Indonesia-Belanda dan Narasi Kejahatan Perang Pejuang Indonesia

Published

on

ilustrasi prajurit dalam perang

Akhir tahun 2017, Belanda mengucurkan dana 4,1 juta euro untuk membiayai penelitian sejarah perang dekolonisasi tahun 1945-1950 di Indonesia yang melibatkan Lembaga Penelitian Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH),  Lembaga Penelitian Perang, Holocaust dan Genosida (NIOD), serta Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda (KITLV). 

Ketiga lembaga penelitian itu mulai membuka arsip perang yang telah lama tersimpan. Komunitas pencinta dan pemerhati sejarah yang terhimpun dalam grup-grup Facebook membagikan foto serdadu Belanda menjalin keakraban bersama warga sipil dari kalangan anak-anak, petani tua hingga tukang becak.

Tentu, terdapat maksud dan agenda tersembunyi dari Belanda yang selama ini menutup-nutupi kenyataan kejahatan perang dalam sejarah perang Indonesia-Belanda dengan menggunakan istilah kekerasan eksesif. Selain itu, kejahatan perang dari pihak Indonesia pasti akan terbongkar juga.

Mengorek Luka Lama

Perang Indonesia-Belanda tahun 1945-1950 merupakan kisah sensitif yang memendam ribuan cerita, rahasia, luka, duka, derita dan bahkan dusta. Situasi politik menggiring kedua belah pihak yang bertikai menempatkan posisi masing-masing dalam memandang. 

Pemerintah Republik Indonesia yang telah mendeklarasikan kemerdekaan secara otomatis menganggap tindakan Belanda sebagai upaya menjajah kembali.

 Sehingga pihak Indonesia mempersiapkan diri untuk membendung serbuan serdadu Belanda.  Sementara Belanda menganggap kedatangannya ke Indonesia untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Belanda merasa berhak melanjutkan aksi polisional South East Asia Command yang terdiri dari gabungan pasukan Inggris dan tentara Jepang di Hindia Belanda.

Persoalan sejarah berikut dendam-dendamnya, menceburkan Indonesia dan Belanda dalam peperangan yang memicu konflik berkelanjutan, bahkan belum tuntas hingga kini.

Identitas penjajah-terjajah membentuk sudut pandang Indonesiasentris dan Nerlandosentris yang menimbulkan polemik.

Kabar buruknya, sejarah adalah ilmu pengetahuan dengan kadar politis yang tinggi. Akibatnya, pemerintah Belanda dengan seenak jidat menggambarkan tindakan kejahatan perang dalam sejarah perang Indonesia-Belanda tahun 1945-1950 sebagai kekerasan eksesif belaka. 

Sedangkan pemerintah Indonesia yang mengetahui kenyataan bahwa pejuang Indonesia juga menjadi pelaku kejahatan perang memilih untuk menyembunyikannya meski dengan skala jauh lebih kecil.

“Anehnya, kejahatan keji yang dilakukan oleh pihak Indonesia justru lebih banyak di arahkan ke orang Indonesia lainnya. Bagi para elit, revolusi Indonesia lebih baik tetap tertutup karena menyinggung isu yang sangat sensitif, dari persoalan perpecahan secara politik, geografis maupun etnisitas yang melibatkan berbagai tindakan kekerasan” tulis Gert Oostindie dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950: Kesaksian Perang pada Sisi yang Salah.

 Kekisruhan multidimensional pasca kemerdekaan Indonesia merupakan konsekuensi yang harus ditebus atas pengusiran orang-orang Eropa.

Di lain sisi para pemimpin TNI yang bertanggung jawab atas tindakan bawahannya mengaku kewalahan sebab situasi mendesak mereka untuk merekrut tentara amatir dari dunia gelap seperti pencuri, preman, pelacur dan jenis penjahat lainnya.

Narasi Kejahatan Perang Pejuang Indonesia

Aksi polisional South East Asian Command bagi orang-orang Indonesia merupakan upaya menjajah kembali karena mengikut sertakan musuh bebuyutan, Belanda.

Pertempuran meletus di berbagai tempat. Di Surabaya, arek-arek Suroboyo mempercundangi tentara Inggris. Misi menjaga keamanan dan ketertiban serta melindungi warga berkebangsaan Eropa dan Jepang di Indonesia menjadi pengalaman buruk yang membunuh pamor Inggris di kancah internasional.

 Selain karena menelan banyak kerugian, korban dan keuangan, juga merasa terhina, sebab kekuatan dunia terusir oleh bambu runcing dan senapan para pejuang amatiran.

Akibatnya, dari bulan Juni sampai Desember 1946, bertahap pasukan Inggris angkat kaki dari Indonesia sedangkan Belanda dengan terburu-buru menghimpun kekuatan militer baru melalui perekrutan terkoordinir rapi tapi terkadang bahan seringkali ngawur.

Baca Juga:

  1. Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik
  2. Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia
  3. Siti Rohana Kudus: Nyala Kebangkitan Pergerakan Perempuan di Minangkabau

Semenjak Jepang menyerah, situasi chaos mewarnai kehidupan sehari-hari di Indonesia selama dua bulan. Republik yang baru merdeka ini belum mempunyai sistem keamanan yang mumpuni.

Warga sipil mengambil senjata bekas perang atau merampasnya di gudang persenjataan Jepang. Warga sipil bersenjata yang rentan bertikai, karena latar belakang mereka dari santri sampai penjahat.

Seringkali sentimen kebencian dan emosi maskulinitas mendorong sikap superioritas yang berujung klaim kekuasaan sehingga aksi penjarahan brutal bebas berkeliaran, pembunuhan dan intimidasi terjadi dimana-mana serta menjadi hal biasa. 

Orang Jepang, Eropa dan Indo-Eropa mengalami kekerasan hebat, bagi yang lolos dari musibah harus mengidap trauma berkepanjangan.

Manda Firmansyah dalam skripsinya yang berjudul Jejak Keturunan Nuh: Orang-orang Armenia di Surabaya dari akhir abad ke-19 sampai 1960-an menulis pada 29 September 1945, pasukan South East Asian Comman dari Devisi 23 British-Indie meluncur ke Surabaya untuk menjemput korban-korban revolusi. Orang-orang Armenia yang berkewarganegaraan Eropa menjalani kehidupan penuh ketidakpastiaan, diselimuti nuansa kesedihan dan dilanda teror ketakutan. Sesampai Surabaya pada tahun 1945, keluarga Ms. Knape tergores luka yang memberikan bekas kenangan pahit.

“Suatu hari ekstrimis muda Indonesia yang berkendaraan militer melaju ke rumah yang digunakan sebagai tempat persembunyian tiga ekonom tersebut. Dua ekonom memilih bunuh diri sempat terjadi ritual tembak-menembak. Seorang ekonom yang tersisa memutuskan untuk melarikan diri, memasuki kebun sayur tetangga sebelah kanan melalui halaman belakang rumah Ms.Knape.

Ia dikejar-kejar oleh pemuda-pemuda itu hingga mencapai pekarangan Ms. Knape. Pemuda-pemuda Indonesia itu bersiap-siap mengambil alih rumah Ms. Knape dengan mengadakan pengepungan terlebih dahulu … Ms. Knape bergegas keluar dari rumah menyambut pemuda-pemuda yang mengepung pekarangannya lalu memohon kepada mereka dengan berkata,

Tuan, Djangan tembak, aku bangsa Arab

Sir, kita tidak menembak orang Arab

Hanya ada perempuan dan anak-anak di rumah ini!

Akan tetapi, pemuda-pemuda justru malah mendorong Ms. Knape lalu mengobrak-abrik semua kamar. Salah satu pemuda melihat noda darah pada dinding menengah lalu melompat ke atasnya untuk memastikan. Rupanya mereka menyadari keberadaan ekonom Jepang yang sedang bersembunyi dan langsung membunuhnya… ” curhat Ms. Knape.

“Lalu pemuda-pemuda Indonesia itu keluar dari rumah Ms Knape dengan baju penuh darah sambil mengatakan,

Aku mandi sendiri dalam darahnya

Kemudian ia merogoh kantong Ms. Knape yang berdiri di atas meja dan mengambil uangnya. Seketika itu, Ms. Knape menengaskan hak miliknya,

Tapi itu uang saya

Tapi, itu milikku, dan jika anda butuh sesuatu, anda boleh datang meminta jawab pemuda-pemuda Indonesia itu…”.

Ms. Knape juga masih ingat peristiwa tragis ketika terjadi konvoi truk, perempuan Belanda dan anak-anak dari kamp-kamp interniran diserang pemuda-pemuda bringas dengan brutal.

Para wanita dan anak-anak ditarik dan dibunuh langsung di lokasi kejadian. Toko-toko dan rumah-rumah di sekitar lokasi kejadian yang merupakan milik pedagang China menawarkan bantuan meskipun berakhir dengan sia-sia.

Huru-hara pasca-kemerdekaan tercipta sebagai akibat dari kekosongan kekuasaan.

Continue Reading

Histori

Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik

Published

on

ilustrasi kisah asmara

“Dari mana datangnja linta Dari sawah toeroen kepadi Dari mana datangnja tjinta Dari mata toeroen di hati”.

Diberlakukannya politik etis sejak awal abad ke-20 memberikan kesempatan kepada kaum Bumiputra untuk menikmati pendidikan modern. Tersedianya akses pendidikan menjadi pintu bagi sebagian elite pribumi untuk meraih kemajuan yang diperkenalkan oleh peradaban Barat.

Dibukanya sekolah-sekolah dengan sistem pendidikan Barat memungkinkan terjadinya pergaulan yang lebih bebas antara lelaki dan perempuan Bumiputra untuk bergaul secara akrab.

Hal itu juga kemudian menyebabkan semakin banyak tempat-tempat perkumpulan pemuda seperti tempat olah raga, kesenian, rekreasi dan lain-lain yang memungkinkan mereka untuk lebih sering berinteraksi.

Pendidikan modern membuat mereka bertemu dengan gagasan-gagasan baru, salah satunya kebebasan memilih pasangan hidup. Dalam kehidupan kaum bumiputra di periode sebelumnya, dominasi orang tua berperan sangat besar terhadap pilihan hidup anak-anaknya termasuk urusan jodoh.

Pergaulan antara lelaki dan perempuan juga sangatlah dibatasi, mereka hanya tinggal menunggu orang tua mencarikan suami atau istri.

Beriringan dengan terbentuknya gagasan persatuan meraih kemerdekaan, muncul pula hasrat dalam diri kaum muda terutama orang-orang yang sudah berpendidikan untuk mencari dan menemukan cinta mereka atas kehendak sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun termasuk orang tua.

Pada titik ini orang-orang pergerakan, sampai batas tertentu, melakukan perlawanan terhadap struktur sosial yang dominan pada masa itu. Fenomena tersebut banyak direkam oleh sumber-sumber sezaman.

Oleh karena itu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana karya-karya sastra sezaman menangkap persoalan percintaan pada masa pergerakan nasional? Apa gagasan atau kritik yang ingin disuarakan oleh para pengarang itu? Bagaimana semangat memperjuangkan kemerdekaan bangsa turut memengaruhi idealisme tokoh-tokoh pergerakan nasional dalam mencari pasangan hidup?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, marilah mendasarkan pemikiran kita pada pembacaan karya sastra sezaman baik dari terbitan Balai Pustaka misalnya novel-novel Abdoel Moeis yang berjudul Pertemuan Jodoh dan Salah Asuhan, novel Marah Rusli berjudul Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, novel-novel Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, kemudian St. Takdir Alisjahbana dengan karyanya Layar Terkembang serta penulis-penulis lain yang hidup pada periode pergerakan nasional.

Selain itu juga dilakukan pembacaan atas karya-karya sastra terbitan non-Balai Pustaka seperti Student Hidjo karangan Mas Marco Kartodikromo dan Hikayat Kadiroen karangan Semaoen.

Suara penulis novel berbahasa Sunda yaitu Moh. Ambri yang menulis Lain Eta turut menambah keragaman pada penggunaan sumber karya sastra sezaman dalam penelitian ini.

Dari pembacaan terhadap karya sastra yang terbit pada masa pergerakan nasional dapat ditemukan gambaran kondisi sosial dan budaya pada masa itu, dari situ dapat dianalisis suara-suara para pengarang yang sering mencurahkan gagasan atau pun kritik mereka melalui media sastra.

Mereka mengangkat persoalan rasialisme, perlawanan terhadap adat, serta ketimpangan struktural yang menjadi permasalahan-permasalahan pada masa kolonial ke dalam karya sastra.

Atas dasar itu, karya-karya sastra sezaman dapat dijadikan salah satu sumber sejarah, sebab dari sana dapat ditemukan fakta mental.

Dilakukan juga pembacaan atas memoar dan autobiografi orang-orang yang hidup pada masa kebangkitan nasional, sehingga kesaksian tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti S.K. Trimurti, Soekarno, atau dr. Soetomo mengenai pengalaman cinta mereka serta pengamatan mereka terhadap kondisi masyarakat di masa itu bisa memberikan gambaran nyata kisah asmara saat itu.

Kemudian, berbagai artikel dari surat kabar Sin Po menjadi perwakilan dari suara kaum peranakan Tionghoa.

Terakhir, artikel dari surat kabar Doenia Bergerak menjadi pelengkap untuk suara Mas Marco Kartodikromo dalam dua media yang berbeda yaitu surat kabar dan karya sastra.

Ini menunjukkan bahwa pergerakan kebangsaan tidak hanya bekerja di bidang politik, tetapi juga memengaruhi ranah privat yaitu urusan percintaan, serta menunjukkan pula bahwa cinta mampu mendobrak batas-batas adat, kelas, ataupun ras.

Asal Mula Tumbuhnya Cinta

Bertemunya perempuan dan lelaki di sekolah modern tidaklah lazim bagi masyarakat tradisional yang terbiasa membangun benteng amat tinggi pada pergaulan dua jenis kelamin yang berbeda.

Kaum kolot mempercayai jika cinta akan tumbuh sendirinya setelah terikat perkawinan sehingga mereka tidak memerlukan pacaran atau bertunangan.

Mereka hanya perlu menerima apapun keadaan dan kepribadian dari pasangan yang dipilihkan oleh orang tua.

Baca Juga:

  1. Bertentangan dengan Hukum Islam, Ini Empat Sultan Wanita yang Pernah Memimpin Aceh
  2. Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia
  3. Siti Rohana Kudus: Nyala Kebangkitan Pergerakan Perempuan di Minangkabau

Pada awal abad ke-20, ketika modernitas semakin memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan, lahir pola-pola baru dalam mencari cinta.

Kaum pribumi di masa pergerakan mulai mendapat kesempatan untuk mengalami proses penemuan cinta dengan beragam cara; mereka bisa jatuh cinta sejak kali pertama bertemu dan bisa pula melalui proses pertemanan yang karib sampai akhirnya saling mencintai.

Tidak lagi sekadar dijodohkan oleh orang tua atau dipaksa kawin dengan pilihan orang tua. Berbagai macam karya sastra pada masa pergerakan nasional mengangkat tema cinta pada pandangan pertama.

Misalnya Swan Pen dalam novelnya yang berjudul Melati Van Agam membuka ceritanya dengan dengan sebuah pantun yang dapat menerangkan bahwa cinta bisa lahir hanya dari tatapan mata.

Kemudian seorang penulis peranakan Tionghoa bernama Thio Tjin Boen dalam novel Cerita Nyai Soemirah atawa Peruntungan Manusia Jilid 1 menggambarkan proses terlahirnya cinta pandangan pertama.

Thio Tjin Boen dalam novelnya itu mengatakan “Kalu dibilang orang punya mata ada punya kekuatan penarik”.

Kalimat tersebut merupakan pengantar dari cerita tokoh Soemirah dan Bi Liang yang tidak sengaja bertemu di sebuah hajatan seorang kopral oppas di Sumedang.

Sejak kedatangan Soemirah yang turut bergabung ke tengah-tengah para tamu, Bi Liang tidak mau melepaskan pandangannya pada Soemirah yang dinilainya sangat cantik.

Soemirah merasa gelisah karena sejak lama dia merasakan ada yang memperhatikan dirinya. Lalu gadis itu melayangkan pandangan ke sekitar, dari situlah Soemirah dan Bi Liang beradu tatap.

Pada generasi sebelumnya, mengirim surat percintaan dan mengajak perempuan untuk pelesiran tentu tidak mudah dilakukan sebab urusan jodoh menjadi otoritas orang tua, ruang bergaul antara perempuan dan lelaki masih sangat terbatas sehingga sulit bagi mereka untuk pacaran berdua-duaan.

Kalau kita cermati memanglah novel-novel pada masa pergerakan nasional banyak menampilkan tokoh-tokoh terpelajar yang tidak sungkan lagi melakukan pendekatan pada orang yang mereka suka.

Untuk berbalas-balasan surat dibutuhkan kemampuan menulis dan membaca, bangsa pribumi maupun Timur asing yang pernah menempuh sekolah modern akan memiliki akses untuk berbalas-balasan surat percintaan sebab mereka mampu menulis dan membaca bahkan pintar berbahasa Belanda.

Sekolah merupakan tempat mutasi pola pikir dan perilaku menuju modernitas bagi orang-orang pribumi yang berusaha menyelami cara berpikir Barat, terutama golongan priyayi dan kalangan atas karena merekalah yang pertama kali mendapat kesempatan belajar di sekolah-sekolah modern kemudian menyebar ke semua kalangan pribumi.

Dengan dibukanya sekolah-sekolah bagi pribumi maka antara perempuan dan lelaki mulai bisa bercampur gaul secara akrab dan bebas, kesempatan untuk menemukan pasangan tanpa otoritas orang tua ataupun keluarga menjadi lebih terbuka.

Selain cinta pada pandangan pertama, cinta terlahir pula dari sebuah persahabatan. Sepasang manusia bisa saling tertarik satu sama lain ketika kedekatan di antara keduanya semakin rapat, setelah bergaul cukup lama mereka mampu memahami karakter masing-masing.

Misalnya, seorang sahabat yang pada awalnya hanya teman berdebat atau bertukar pikiran dapat bertransformasi menjadi sepasang kekasih bahkan teman hidup.

Semuanya berawal dari rasa hormat dan kekaguman atas pemikiran-pemikiran yang dilontarkan oleh kawan debatnya.

Kasus ini dialami oleh Surastri Karma Trimurti dan Sayuti Melik yang keduanya merupakan tokoh pergerakan nasional. Percintaan antara S.K. Trimurti dan Sayuti Melik terjalin dengan tidak diduga-duga oleh mereka.

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh S.K. Trimurti kalau teman berdebatnya akan menjadi pasangan hidup. Mereka sering terlibat diskusi mengenai siasat perjuangan dan menghadapi perdebatan sengit karena pandangan mereka tidak selalu sama.

Ajakan menikah keluar begitu saja dari mulut Sayuti saat mereka berdebat soal politik, lelaki itu berkata “Kelihatannya kita bisa bekerja sama. Bagaimana kalau kau menjadi istri saya?”.

Dari perkataan Sayuti Melik dapat kita lihat sosok pribumi terpelajar yang tidak bersikap patriarki, alih-alih melarang pasangannya berhenti bekerja ataupun merasa tersaingi dengan kesibukan perempuan di dunia pergerakan justru Sayuti Melik menginginkan pasangannya bisa bergerak bersama melalui jalur politik.

Meskipun S.K. Trimurti sangat terkejut dengan lamaran yang spontan keluar dari mulut Sayuti Melik, pada akhirnya dia menerima lamaran tersebut karena sosok seperti Sayuti merupakan pasangan yang dia idam-idam sejak lama.

S.K. Trimurti ingin sekali menikah dengan lelaki yang mampu berjuang bersama dalam pergerakan bumiputra, sehingga tidak sulit bagi keduanya untuk saling memahami mimpi masing-masing.

S.K Trimurti dan Sayuti Melik akhirnya menikah di Solo pada tahun 1938. S.K. Trimurti menyadari bahwa tujuan hidupnya semata-mata hanya untuk pergerakan kebangsaan sehingga ketika dia menemukan sahabat yang cocok dari segi semangat perjuangan, dia dengan mudah menerima lamaran lelaki tersebut.

Bersama pasangan yang pikiran dan cita-citanya selaras tentu lebih memudahkan seseorang untuk menempuh tujuan hidupnya, itulah pertimbangan-pertimbangan ketika memutuskan untuk mencintai sahabat sendiri.

Apa yang dialami oleh S.K. Trimurti mencerminkan realitas orang-orang pada masa pergerakan terutama tokoh-tokoh politik menjadi lebih idealis ketika memilih pasangan hidup, mereka menginginkan pasangan yang mampu mengiringinya menggapai cita-cita.

Kasus lain dari tokoh pergerakan nasional yang menemukan cintanya melalui proses pertemanan yaitu kisah cinta Soetomo dengan Everdina Broering.

Semua bermula ketika Everdina menjadi suster rumah sakit zending di Blora pada tahun 1917. Soetomo sebagai seorang dokter yang praktek di sana sering melihat Everdina menampakkan wajah murung. Dia memberanikan diri untuk bertanya soal kesedihan suster itu.

Kelembutan sikap Soetomo membuat Everdina mau menceritakan pengalaman hidupnya, ternyata perempuan itu telah kehilangan suami yang sangat dicintainya ketika masih tinggal di Belanda.

Benih-benih cinta tumbuh dalam persahabatan mereka karena Soetomo mampu menghibur kesedihan Everdina.

Setelah mereka memutuskan untuk menikah, Everdina berjanji akan selalu berada di samping Soetomo suka maupun duka.

Everdina bahkan melarang suaminya untuk mempersamakan hak-hak dengan orang Belanda karena dia memahami bahwa Soetomo mempunyai harapan besar untuk pergerakan bangsanya.

Sikap Everdina yang melarang suaminya melakukan gelijkstelling dengan bangsa Eropa memiliki makna bahwa Everdina tidak mau suaminya melanggar cita-cita perjuangan bumiputra untuk melawan kolonialisme.

Apabila Soetomo sampai mempersamakan hak-haknya dengan bangsa Eropa artinya sama saja dengan melanggengkan praktik rasialisme di Hindia Belanda.

Kisah cinta Soetomo dan Everdina menunjukkan bahwa percintaan yang dibangun atas persahabatan karib mampu meruntuhkan batas-batas rasial, dalam suasana perkawinan mereka telah tercipta kesetaraan antara satu ras dengan ras lainnya.

Continue Reading

Histori

Klub dan Politik: Panti Harsojo Sebagai Candradimuka Pergerakan di Surabaya

Published

on

rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya

Satu perkembangan menarik lainnya sejak kedatangan Tjokroaminoto di Surabaya adalah pembentukan Panti Harsojo yang oleh pers Belanda disebut sebagai “klub atau soos pribumi”.

Pengakuan klub tersebut sebagai badan hukum terbit dalam sebuah pengumuman kecil di suratkabar Het Nieuws van den Dag pada 28 April 1908, sebulan sebelum deklarasi Boedi Oetomo di STOVIA.

Meski akte pendirian resminya menyusul setahun kemudian, tetapi serangkaian aktivitas telah dilakukan pengurus klub tersebut.

Surat kabar Soerabajasch Handelsblad mengabarkan sebuah kegiatan ceramah yang diselenggarakan pengurus klub pada 27 Agustus 1908 yang menampilkan Raden Tjokrosoedarmo sebagai sekretaris klub dan menyampaikan pembahasan tentang “Asal-usul kelahiran gamelan Jawa”.

Dalam pemberitaan tersebut, disebutkan pula bahwa ceramah itu “cukup banyak dihadiri banyak pengunjung, termasuk orang-orang Eropa yang memberikan donasinya.”

Gambaran menarik pemberitaan tersebut adalah sifat terbuka klub tanpa batasan rasial pengunjungnya. Posisi Tjokrosoedarmo sebagai sekretaris klub cukup menarik. Ia telah memulai karirnya sebagai juru tulis di firma hukum de Bruyn pada 1900.

Lima tahun kemudian, karirnya meningkat menjadi chef-notaris (notaris kepala) di firma hukum Ter Kuile, Surabaya. Riwayat pekerjaan profesional terakhirnya adalah sebagai rekanan di firma hukum H.W. Hazenberg sampai masa pensiunnya pada 1940.

Sementara terkait posisi Tjokroaminoto, sampai periode penulisan artikel ini informasi yang cukup kuat tentang kedudukan Tjokroaminoto pada masa awal pembentukan klub tersebut masih belum dapat ditegaskan dengan pasti.

Sejumlah surat-menyurat pejabat pemerintah di Surabaya menyebutkan serangkaian rapat-rapat yang dilakukan tokoh-tokoh SI di Surabaya di dalam klub tersebut. Informasi tentang kedudukan Tjokroaminoto baru mulai terlihat kemudian saat pembentukan Sarekat Islam di Surabaya seperti disampaikan Korver dalam Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil? yang menyebutkan sosoknya sebagai “ketua perkumpulan tersebut”.

Sayangnya, informasi yang disampaikan Korver belum memberikan rujukan terhadap sumber yang kuat tentang posisi Tjokroaminoto dalam kepengurusan klub.

Bagaimanapun, beberapa kemungkinan keterkaitan Tjokroaminoto dengan klub tersebut dapat ditemukan dalam catatan kenangan putra ketiga Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto, yang menguraikan pengalaman masa kecilnya di Surabaya bersama sang ayah.

Harsono banyak menyinggung soal betapa sibuk bapaknya berkegiatan di klub. Dua minggu sekali Tjokroaminoto terlibat dalam kegiatan rutin berlatih pertunjukan wayang orang yang menjadi salah satu kegiatan andalan di dalam klub tersebut.

Selain itu, indikasi tempat tinggal Tjokroaminoto di Paneleh di tempat sama yang menjadi lokasi awal Panti Harsojo memberi petunjuk tentang kemungkinan peran pentingnya dalam kepengurusan klub pada saat awal pembentukan klub tersebut.

Kemunculan klub Panti Harsojo memberi indikasi penting tentang sejauh mana aktivitas kalangan terpelajar di kota Surabaya saat itu dan pandangan-pandangan mereka tentang persoalan-persoalan yang muncul di lingkungan kota mereka tinggal dan kehidupan masyarakat pribumi di Hindia-Belanda pada umumnya.

Baca Juga:

  1. Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia
  2. Tri Koro Dharmo, Lahirnya Kaum Terpelajar yang Fokus Pada Isu Pendidikan
  3. Pena dan Lisan: Mengenal Buya Hamka, Strategi Pendidikan dan Dakwahnya

Pengurus dan anggota klub juga kerap tampil dalam rangkaian kegiatan yang dilangsungkan komunitas Eropa di Surabaya, misalnya pertunjukkan di klub Eropa seperti Concordia, gedung kesenian Schouwbourg, dan mengisi pertunjukkan seni dalam acara pasar malam tahunan (Jaarmarkt) di Stadstuin atau taman kota.

Dalam dekade-dekade selanjutnya, klub itu menjadi simpul kegiatan warga pribumi di kota Surabaya melalui kegiatan diskusi, debat, dan pertunjukkan kebudayaan.

Di luar kegiatan seni dan budaya serta diskusi, salah satu aktivitas menarik dari klub tersebut pada awal pembentuknya adalah penggalangan sebuah petisi yang diorganisir pengurus Panti Harsojo terkait usulan pembangunan sekolah dasar bagi siswa pribumi di Surabaya.

Petisi itu ditandatangani 110 warga pribumi Surabaya dan ditujukan kepada dewan kota untuk meminta dukungan terhadap rencana mereka membangun sebuah sekolah dasar bagi siswa-siswa pribumi.

Petisi itu menyebutkan bahwa “Ada sekitar 50.000 warga pribumi di kota Surabaya yang mampu mengeluarkan 10 sen setiap bulan untuk pendidikan anak-anaknya.”

Dengan jumlah itu, diperkirakan dalam setahun akan terkumpul sejumlah f 60.000 yang cukup untuk membangun dua gedung sekolah bagi siswa pribumi.

Persoalannya adalah dana tersebut belum mencukupi kebutuhan operasional membayar gaji guru. Oleh karena itu para penandatangan petisi yang terdiri dari warga pribumi “berkedudukan tinggi” di pemerintahan dan “warga partikelir dengan gaji tinggi” menyampaikan permintaan dukungan pemerintah menyiapkan tenaga pengajar.

“Semoga anggota dewan yang mulia berkenan membantu warganya dalam persoalan yang sangat penting ini,” demikian penutup petisi tersebut sebagaimana ditulis oleh Soerabajasch Handelsblad, 20 oktober 1908.

Peran pengurus Panti Harsojo dalam proses penggalangan dan penyerahan petisi kepada dewan mewakili gambaran menarik tentang peran klub dalam kehidupan politik dan intelektual di lingkungan kota Surabaya.

Melalui petisi yang digalang klub itu, kalangan terpelajar tampil sebagai kelompok pembaharu dengan ide-ide kemajuan bagi sebuah kota.

Studi Peter Clark tentang klub dan perkembangan sosial politik masyarakat Inggris abad ke-17 memberikan gambaran menarik tentang posisi klub yang menjadi wadah kelompok-kelompok sukarela di dalam masyarakat.

Dalam perkembangannya, klub-klub itu menjelma sebagai suatu lembaga sosial yang “menyumbangkan integrasi politik dan budaya” warga seiring proses industrialisasi yang menjadi kekuatan utama pembentukan kota-kota modern di Inggris sepanjang periode kajiannya.

Dalam konteks perkembangan Surabaya sebagai kota kolonial saat itu, keberadaan Panti Harsojo mewakili keberadaan ruang publik yang mengintegrasikan kalangan terpelajar dengan persoalan-persoalan nyata masyarakat pribumi di lingkungan kota tempat mereka tinggal dan menautkannya dengan kepentingan yang lebih luas: politik kolonial Hindia Belanda.

Continue Reading

Trending