Connect with us

Culture

Sabung Ayam: Kebiasaan Aneh Mengadu Ayam ala Indonesia

Published

on

ilustrasi sabung ayam

“Francois Leguat Mengungkap Kebiasaan Aneh di Batavia, 1708”, – salah satu judul catatan pengelana dalam bunga rampai pada buku Jawa Tempoe Doeloe; 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985

Sabung ayam adalah sejenis permainan adu ketangkasan. Akan tetapi, bidak dalam permainan sabung ayam bukanlah manusia, melainkan ayam jago yang memiliki taji.

Perkelahian ayam jago yang merangsang sorak-sorai penontonnya ini acapkali melibatkan unsur perjudian. Meskipun demikian, adat kebiasaan menyabung ayam tetap lestari hingga kini.

Asal usul sabung ayam di Nusantara masih misteri. Adanya sabung ayam berkaitan erat dengan naluri manusiawi untuk mencari hiburan.

Akan tetapi, sabung ayam tidak hanya sekedar mencerminkan hiburan semata, melainkan juga kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.

Permainan adu ketangkasan berurat akar dari tradisi maskulinitas yang menghargai kekuatan, keberanian dan kekuasaan.

Sabung ayam sesungguhnya hampir serupa dengan permainan kuno berjenis laga lainnya, seperti gladiator yang mempersembahkan pertarungan antara budak dan prajurit atau manusia dengan binatang buas.

Oleh karena itu, kerapkali permainan sabung ayam merambah ranah politik sebagaimana gladiator.

Hal itu tercermin dalam cerita panji, Cindelaras, dikisahkan seorang raja Jenggala menatang ayam sakti milik Cindelaras dengan pertaruhan yang besar.

Sepertihalnya cerita-cerita panji umumnya yang menggambarkan stagnansi mobilitas sosial dalam masyarakat agraris Jawa, kisah Cindelaras juga demikian, pertaruhan Cindelaras tergantung pada ayam jagonya.

Cindelaras akan dikirim ke tiang gantung dan kepalanya dipancung jika ayam jagonya kalah sedangkan apabila ayam jago Cindelaras menang, raja wajib menyerahkan separuh harta kekayaannya.

Cerita panji lainnya ialah tentang tragedi terbunuhnya Prabu Anusapati saat sedang menyaksikan sabung ayam dan Ciung Wanara yang memaparkan secara eksplisit pertaruhan nasib dalam sabung ayam. Bahkan cerita-cerita panji yang mengabarkan hiburan sabung ayam juga terdapat dalam kisah Seribu Satu Malam.

Philip K. Hitti dalam bukunya History of the Arabs menyebut jika Khalifah Harun ar-Rasyid yang menggandrungi sabung ayam, bahkan, memperkerjakan pelatih adu ayam dan memberi makan ayam peliharaan dengan kacang almond dan kenari serta susu untuk minumnya. Akan tetapi, tradisi sabung ayam lebih eksis di daerah kepulauan Nusantara.

Baca Juga :  Pemerintah Uji Coba Kendaraan Biodiesel B40 Februari 2022

Baca Juga:

  1. Awal Mula Suku Tengger dan Tradisi Unan-Unan
  2. Binarundak, Tradisi Makan Bersama Pakai Bambu untuk Reuni Lebaran di Sulawesi Utara
  3. Ragam Fakta & Mitos Ayam Cemani, yang Harganya Capai Ratusan Juta

Menengok perseteruan antara kaum religius, Padri, dan kaum adat di Sumatera Barat pada paruh pertama abad ke-19, sabung ayam juga disebut-sebut sebagai tradisi yang melanggar syariat Islam.

Selain dari pulau Sumatera, di pulau Dewata Bali, sabung ayam tercatat dalam lontar Siwa Tattwapurana sebagai bagian dari serangkaian ritual keagamaan.

Di Sulawesi Selatan, tepatnya merujuk pada keterangan kitab La Galigo yang mengisahkan kegemaran Sawerigading terhadap sabung ayam. Pada sekitar pertengahan abad ke-16, sabung ayam juga mengisi acara kunjungan resmi raja Gowa ke kerajaan Bone.

Kebiasaan Aneh Sabung Ayam

Orang-orang Barat menganggap sabung ayam sebagai kebiasaan aneh masyarakat pribumi di kepulauan Nusantara. Peradaban Barat tidak mengenal permainan sabung ayam, maka mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh.

Perjumpaan peradaban Barat dan Timur seringkali menimbulkan gesekan-gesekan yang mengandung muatan politis.

Kita mengenal kajian Orientalisme. Edward Said membedah bagaimana orang-orang Barat memandang dunia Timur yang eksotis, unik dan mengundang rasa penasaran. Atas dasar itulah, orang-orang Barat gemar mengumpulkan informasi atau mengkoleksi barang antik dari Timur.

Mulanya tradisi sabung ayam diperkenalkan para penjelajah Eropa yang mengkhususkan penulisan laporan pengamatan atas kehidupan masyarakat Timur. Para penjelajah Eropa yang asing dengan tradisi semacam itu mengomentarinya seakan aneh (bagi bangsa Eropa dan budaya Barat).

Baca Juga :  Taman Purbakala Cipari, Gambaran Hidup Masyarakat Prasejarah Jawa Barat

Seorang penjelajah berkebangsan Italia yang mencapai pulau Jawa pada 1444 terpikat hiburan sabung ayam, sehingga Nicolo Conti menuliskan deskripsi tentang sabung ayam bersama kebiasaan-kebiasaan orang Jawa lainnya, tentunya yang ia anggap aneh.

Berdasarkan pengamatan Nicolo Conti, dalam buku Jawa Tempoe Doeloe; 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985, sabung ayam merupakan hiburan paling digemari orang Jawa, pertandingan adu sabung bergemuruh dengan sorak-sorai penonton dan diselimuti atmoster ketegangan akibat dari pertaruhan.

Selain Nicolo Conti, Francois Leguat yang terpaksa menetap di Batavia pada 1708 menyingkap kebiasaan aneh orang Jawa dari menguyah siri, ramuan cinta hingga permainan sabung ayam.

Francois Leguat mendeskripsikannya ulang, bahkan lebih detail daripada Nicolo Conti. Ia menulis gambaran umum orang Jawa terkait tradisi sabung ayam, seperti tata cara mengembangbiakkan ayam jago, mempersenjatai ayam dengan taji tajam dari besi, aturan main, strategi, biaya menonton, perbandingan budaya Jawa dengan di Inggris serta alam pikir orang Jawa terhadap permainan sabung ayam.

Sementara menurut Bernard Dorleans dalam bukunya Orang Indonesia & Orang Perancis; Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX menyebut bahwa pengelana berkebangsaan Perancis lainnya lebih sering merekam aktivitas sabung ayam di sekitar kepulauan Melayu.

Kesaksian Francois de Vitre selama menetap di pulau Sumatera pada 1601 mengabarkan bahwa raja Pedir gemar menyaksikan sabung ayam.

Masing-masing bangsawan mempunyai seekor ayam jantan andalan untuk diadu dalam arena sabung ayam. Seperti kebiasaan umumnya dalam sabung ayam, status dan kelas sosial dipertontonkan dalam ajang taruhan.

Pada hari Rabu, 10 Maret 1621, Augustin de Beaulieu, pengelana berkebangsaan Perancis lainnya, bersama syahbandar memasuki istana kerajaan Aceh.

Baca Juga :  Akhir Tahun Ini, Otorita IKN Nusantara Mulai Beroperasi

Augustin de Beaulieu mengantarkan hadiah upeti kepada raja demi mendapat ijin membeli lada dari penduduk setempat, namun, ia justru terabaikan. Raja Aceh terlampau menggemari sabung ayam, ayam-ayamnya lebih menyita perhatian daripada urusan perniagaan.

Oleh karena itu, ketika ayam jantan andalan raja kalah dalam arena sabung ayam, maka raja murka dan mencari kambing hitam. Augustin de Beaulieu menceritakan betapa bengisnya raja itu, bahkan menghukum orang yang tak bersalah untuk melampiaskan kekesalannya.

Mulanya raja menyalahkan ayamnya yang salah makan, lalu memerintahkan algojo untuk memotong tangan pemenang sabung ayam.

Tak hanya itu, ia juga menyiksa dan membunuh semua wanita beserta wanita penjaga di istananya karena tidak dapat tidur sebab masih terbayang-bayang akan kekalahannya dalam sabung ayam. Puncaknya, ia membunuh keponakannya sendiri, putra raja Johor.

Kesaksian demi kesaksian pengelana Eropa serupa dengan cerita panji dan kisah-kisah sabung ayam lainnya yang berdampak, bahkan mempengaruhi perpolitikan pada masa lampau.

Sabung ayam juga tergolong permainan egaliter yang tidak memandang kelas sosial, dari   bangsawan dan keluarga kerajaan maupun rakyat jelata, semua dapat membaur.

Sabung ayam merupakan hiburan rakyat yang juga dinikmati kaum ningrat. Fenomena yang cukup unik, atau mungkin aneh bagi kacamata orang Eropa.

Permulaan abad ke-20, banyak ditemukan foto sabung ayam dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Sepertihalnya semangat menggali informasi dan mengkoleksi barang untuk dari dunia Timur yang dianggap eksotis, fotografer Eropa mulai memburu dan mengabadikan momen sabung ayam.

Para fotografer menjual foto-foto kegiatan sabung ayam untuk keperluan komersial. Di era itu, citra foto menjembatani perbedaan budaya antara Barat dan Timur yang merangsang keingintahuan karena dianggap aneh.

Culture

Liburan ke Jepang Apa Saja yang Tidak Boleh Dilakukan?

Published

on

Jepang/KumparanJepang/Kumparan

Mycity.co.id – Setiap negara memiliki tata krama dan aturan yang berbeda. Bahkan di Indonesia pun setiap daerah memiliki aturan dan tata kramanya sendiri.

Saat berkunjung ke luar negeri ada baiknya kita mempelajari aturan dan tata krama negara itu. Salah satunya adalah Jepang yang memegang teguh etika. Hal ini menyangkut kepercayaan serta norma yang berlaku di masyarakat.
Berikut hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan saat berada di Jepang!

1. Memberi Uang Tip Saat di Restoran

Memberi uang tip/Lifepal

Memberi uang tip/Lifepal

Tidak disarankan memberi uang tip di restorang Jepang. Sudah hal yang biasa untuk memberikan uang tip di restoran sebagai tanda terima kasih. Namun, dinegeri sakura ini dilarang melakukan hal tersebut karena memberi tip kepada pegawai restoran bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan. Bagi mereka, memberikan pelayanan terbaik sudah menjadi kewajiban agar para pelanggan senang dan kembali datang ke restoran.

Baca Juga :  Daftar 14 Cagar Budaya Baru DKI Jakarta

2. Menggunakan Telunjuk untuk Menunjukkan Arah

Menujuk arah/Depositphotos

Menujuk arah/Depositphotos

Saat bertanya arah dengan orang Jepang sebaiknya jangan menggunakan telunjuk untuk menunjuk peta karena ini dianggap mengancam dan tidak sopan lebih baik mengarahkan dengan tangan terbuka daripada menggunakan telunjuk.

3. Bersalaman

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Menyapa ala orang Jepang/Koku Jepang

Salaman dianggap kurang sopan di Jepang kalau ingin berbaur dengan orang Jepang harus membungkuk untuk memberi salam, berterima kasih atau meminta maaf.

4. Meremehkan Kartu Bisnis Orang Lain

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Bertukar kartu nama/Maxmanroe

Di Jepang kartu nama bukanlah benda yang dianggap remeh karena kartu bisnis berisi identitas dan segala detail diri dari sang pemilik, maka hargai itu. jika diberi kartu nama bisnis terima dengan kedua tanganmu dan baca baik-baik. kalau saat itu sedang dalam pertemuan bisnis taruh kartu nama di atas meja di hadapan kita. jangan langsung menyimpannya di kantong ini dianggap sangat kasar kamu harus memasukkannya dengan hati-hati ke dalam kotak atau dompet kartu nama.

Baca Juga :  Batik Diklaim Milik Cina, Warganet Indonesia Naik Pitam

5. Jangan Langsung Membuka Pintu Taksi

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang/Fun! Japan

Taksi di Jepang punya pintu yang terbuka secara otomatis jadi saat taksi berhenti jangan langsung buka pintunya, sopir akan membukanya dengan menekan tombol kalau kamu buka sendiri kebanyakan sopir akan tersinggung

Baca Juga :  Taman Purbakala Cipari, Gambaran Hidup Masyarakat Prasejarah Jawa Barat

6. Awasebashi

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Memberi orang lain makanan dengan sumpit/Jakarta Beauty Blogger

Dilarang karena dianggap membawa kesialan. Salah satu hal yang tabu untuk dilakukan di Jepang adalah Awasebashi, yaitu kegiatan memberikan makanan kepada orang lain dari satu pasang sumpit ke sumpit lainnya. Di tradisi kremasi, di mana tulang yang tersisa dari abu kremasi akan dioper kepada anggota keluarga dengan menggunakan sumpit. Karena Awasebashi mirip seperti itu, maka bisa dianggap membawa kesialan.

7. Memetik Bunga Sakura

Bunga sakura/Klik dokter

Bunga sakura/Klik dokter

Memetik bunga sakura dilarang di Jepang. Bunga ini merupakan kebanggaan bangsa Jepang yang dianggap istimewa karena tergolong berumur pendek dan hanya mekar di musim tertentu. Jadi, jangan coba untuk memetiknya langsung dari tangkai. Kalau mau, lebih baik mengambil bunga sakura yang telah berguguran di bawah pohon.

Sumber: Berbagai sumber

Continue Reading

Culture

Nasi Tumpeng di Acara Syukuran, Ini Tradisinya

Published

on

Nasi Tumpeng : IDN News

Nasi Tumpeng : IDN News

mycity.co.id Nasi tumpeng selalu menjadi bagian penting dalam beragam perayaan di Indonesia. Kegiatan memotong nasi tumpeng seringkali menjadi puncak sebuah acara.

Mengapa nasi tumpeng menjadi elemen yang penting dalam perayaan di Indonesia khususnya Pulau Jawa?

Tradisi ini dulu sering dilakukan oleh umat Hindu di nusantara. Seiring dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia, tradisi tumpeng pun tetap dilakukan namun falsafahnya disesuaikan dengan ajaran Islam.

Menurut tradisi Islam di Jawa, tumpeng ini dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Pada tradisi kenduri selametan oleh masyarakat Islam di Jawa, sebelum tumpeng disajikan, terlebih dahulu digelar pengajian dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Baca Juga :  Inilah 5 Rukun Haji Sesuai Syariat Islam

Menurut tradisi Islam di Jawa, “tumpeng” merupakan akronim dari bahasa Jawa, yakni yen metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh). Hal ini mempunyai makna agar maksud pemangki hajat akan tercapai dengan hasil yang paling baik yang dilambangkan dengan bagian yang paling atas. Potongan tumpeng biasanya diberikan pada seseorang yang dianggap paling istimewa atau yang dihormati sebagai ungkapan ras aahoramat dan sayang.

Biasanya, lauk-pauk yang mengiringi gunungan nasi tumpeng jumlahnya ada tujuh. Hal ini pun bukan tanpa alasan. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan pitu, maksudnya adalah pitulungan (pertolongan).

Baca Juga :  Daftar 14 Cagar Budaya Baru DKI Jakarta

Setiap komponen pada nasi tumpeng memiliki filosofi tertentu. Mulai dari nasinya yang melambangkan sesuatu yang kita makan seharusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal.

Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera.

Sementara itu, dari segi lauk-pauknya, ayam yang menjadi lauk wajib pada sajian tumpeng biasanya menggunakan ayam jantan yang dimasak utuh.

Pemilihan ayam jantan in memiliki makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago: sombong, congkak, dan tidak setia. Selain itu ada ikan teri yang diartikan sebagai contoh kebersamaan dan kerukunan.

Baca Juga :  Marsinah Menggugat: Keadilan untuk Buruh yang Menemui Jalan Buntu

Nasi tumpeng juga sering dilengkapi dengan telur rebus utuh. Telur juga menjadi perlambang jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Pelengkap lainnya yang tidak boleh tertinggal adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain. Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting.

Continue Reading

Culture

Mengenal Tradisi Afternoon Tea di Inggris

Published

on

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

mycity.co.id – Cityzen, pernahkah kalian bermimpi menjadi seorang putri kerajaan dan mengadakan pesta minum teh bersama para Putri, dan para bangsawan lain?

Jika iya, pasti penasaran bagaimana tradisi minum teh yang dimaksud. Dirangkum mycity.co.id  dari berbagai laman sumber,  ‘Afternoon Tea’ atau sering disebut sebagai tradisi minum teh, pada mulanya hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan atau bangsawan Inggris saja.

Ini karena pada masa itu, sekitar pertengahan abad ke-17 kebanyakkan teh diimpor dari China sehingga harga teh hanya bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan atas. Pada tahun 1840 Afternoon Tea diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang bangsawan bernama Anna Dutchess.

Pada tahun ini pula penemuan lampu minyak sudah ditemukan, sehingga waktu makan malam diundur menjadi lebih malam sekitar pukul 08.00 malam. Dalam keluarga bangsawan Inggris, waktu memakan makanan berat hanya pada pagi hari dan malam hari saja. saat siang hari mereka hanya diperkenankan makan makanan ringan.

Baca Juga :  42.000 Hektar Lahan Sudah Dicadangkan Demi Bangun IKN Nusantara

Sementara itu Anna Dutchess kerap kali dilanda lapar pada pukul empat sore, hal itu menjadikan Dutchess meminta nampan berisi teh, roti, dan mentega untuk dibawakan ke kamarnya pada sore hari. Akhirnya, hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya.

Baca Juga :  Marsinah Menggugat: Keadilan untuk Buruh yang Menemui Jalan Buntu

Ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung bersama untuk sekedar minum teh serta memakan kue dan cemilan-cemilan pada sore hari saat ia datang ke London. Kebiasan itu didukung oleh kerajaan dan diikuti oleh kerajaan lainnya juga. Teh yang disajikan selalu menggunakan teko perak nan elegan dan dituangkan ke dalam cangkir porselen yang indah.

Acara minum teh pada masa itu merupakan cara untuk menunjukkan kemewahan pada para tamu yang hadir. Pada 23 September 1658, surat kabar republik London Mercurius Politicus memuat iklan teh pertama di Inggris. Iklan ini mengumumkan bahwa minuman China yang disebut tcha, atau bangsa lain menyebutnya tay alias tea tersedia di beberapa kedai kopi. Dari situlah teh semakin populer.

Baca Juga :  Taman Purbakala Cipari, Gambaran Hidup Masyarakat Prasejarah Jawa Barat

Pada akhir abad ke-19, harga teh mulai terjangkau oleh masyarakat luas, sehingga orang-orang kelas menengah pun dapat melakukan tradisi afternoon tea.  Kegiatan tersebut pun menyebar luas ke seluruh Inggris dan bahkan ke Amerika Serikat.

Masyarakat Inggris biasanya menikmati kegiatan minum teh di tempat-tempat favorit mereka, misalnya kafe, rumah atau taman sambil sambil membaca buku atau mengobrol bersama teman. Kegiatan minum teh ini sekarang menjadi agenda yang selalu dilakukan dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Continue Reading
Advertisement

Trending