Connect with us

Culture

Pulau Siompu: Kampung Penduduk Mata Biru

Published

on

Penduduk Pulau Siompu : Lokadata.ID

Penduduk Pulau Siompu : Lokadata.ID

mycity.co.id Secara administratif, Pulau Siompu dibagi menjadi dua kecamatan, yakni Siompu Timur dan Siompu Barat. Pulau Siompu bisa dijangkau lewat perjalanan laut dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara, dengan tujuan ke Kota Baubau, Pulau Buton. Perjalanan itu butuh waktu enam jam dengan menumpang feri.

Pulau satu ini letaknya di barat daya dari Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Siompu, itulah nama pulau seluas 41,5 kilometer persegi (km2) yang dihuni 10.742 jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statisik Buton Selatan pada 2018.

Gili Trawangan, Pulau Indah yang Bebas Polusi

Jamak diketahui bahwa salah satu ciri khas bangsa Asia terkhusus masyarakat Indonesia yakni memiliki warna iris mata yang coklat hingga kehitaman. Namun berbeda dengan para penduduk pulau Siompu, mereka memiliki warna mata yang unik seperti orang eropa yaitu berwarna biru.

Baca Juga :  Melihat Mata Cantik Biru Eropa di Siompu

Hal ini tentu saja dikarenakan genetik yang mengalir dari persilangan antar budaya di masa lalu. Bahkan mereka mempunyai postur tubuh tinggi dan rambut pirang.

Desa Kaimbulawa jaraknya sekitar 10 kilometer dari Lapara, ibu kota Siompu Timur. Untuk bisa bertemu dengan para pemilik mata biru harus menaklukkan jalanan terjal hingga ke perbukitan Kaimbulawa. Di kawasan perbukitan inilah kelompok mata biru bermukim dan menjadi bagian dari populasi 1.010 jiwa masyarakat Kaimbulawa.

Fenomena ini pertama kali disingkap oleh La Ode Yusrie, seorang peneliti dari lembaga Summer Institute Linguistic (SIL) yang pada 2016 sedang melakukan riset mengenai dialek lokal unik di Siompu Timur. Secara historis, saat bangsa Eropa berlomba menguasai rempah-rempah dunia, para pelaut Portugis menjadikan Pulau Siompu sebagai persinggahan sebelum menuju ke Maluku. Selama berlabuh ini, Portugis menjalin hubungan baik dengan warga lokal dan pihak kerajaan, bahkan beberapa pria Portugis diijinkan mempersunting gadis Siompu.

Baca Juga :  Pulau Sombori, Surga Tersembunyi di Sulawesi Tengah

Pujakusuma Adu Nasib di Ujung Pulau Sumatera

Menurut La Dala, pewaris mata biru dan juga ciri fisik khas masyarakat eropa seperti tinggi, hidung mancung, kulit putih dan juga rambut pirang yang merupakan keturunan ke-5 dari pernikahan putri Siompu, Wa Ode Kambaraguna dengan Pitter, dari pernikahan moyangnya tersebut lahir beberapa anak, salah satunya La Ode Raindabula, generasi pertama mata biru di Siompu.

Lalu alasan penduduk pulau ini mengasingkan diri adalah ketika Belanda menguasai Buton, mereka melancarkan propaganda dan fitnah (devide et impera) terhadap keturunan Portugis, yang mereka sebut pengkhianat. Itu sesuai kepentingan Belanda yang menganggap Portugis sebagai saingan dalam berebut pengaruh di Kesultanan Buton.

Baca Juga :  Pertama di Dunia, Bank di Portugal Ini Tawarkan Kripto Kepada Nasabah

Propaganda itu berdampak kepada generasi hasil perkawinan Buton-Portugis. Mereka pun memilih menyingkir ke beberapa wilayah, seperti Liya di Kabupaten Wakatobi, Ambon, hingga Malaysia.

Inilah 10 Daerah Pemilik Penduduk Miskin Paling Sedikit di Indonesia

Stigma penjajah Belanda terus membekas pada komunitas bermata biru di Siompu selama berpuluh tahun dan mendesak mereka membangun tempat tinggal di wilayah perbukitan Kaimbulawa.

Mereka semakin menutup diri dan membatasi komunikasi dengan orang asing dan cenderung menghindari keramaian. Namun seiring  jalannya waktu penduduk Pulau Siompu ini mulai terbuka dengan dunia luar, mereka sering di undang ke acara-acara di Lingkungan Kesultanan Buton.

Culture

Shinto Itu Agama atau Sistem Keyakinan Saja?

Published

on

Shinto sudah diyakini oleh orang jepang selama ratusan tahun yang lalu. foto: Pinterest.

Shinto sudah diyakini oleh orang jepang selama ratusan tahun yang lalu. foto: Pinterest.

mycity.co.id – Cityzen, kalian pasti sudah sering dengar tentang istilah Agama Shinto, bukan? Ini adalah sistem kepercayaan asli orang Jepang dan konsepnya hampir sama seperti Buddhanisme. Jika budha sudah dianggap sebagai agama, lalu bagaimana dengan shinto?

Sebenarnya, Shinto bukanlah sebuah agama, melainkan hanya sistem keyakinan masyarakatnya saja. Shinto sudah ada sejak ratusan tahun lalu dari pengaruh Konfusianisme (Kepercayaan China) dan Buddhanisme (Kepercayaan Budha).

Faktor yang membuat Shinto dikatakan bukan sebuah agama, karena tidak memiliki aturan hidup, larangan dan printah. Shinto juga tidak memiliki seorang utusan tuhan dan kitab suci. Shinto hanyalah sistem kepercayaan dari suatu budaya secara turun menurun. Pada penerapannya, Shinto menekankan kepada apa yang kita lakukan daripada apa yang kita percayai dari Kitab suci

Baca Juga :  Horor dan Mistis: Mengupas Asal-Usul Tradisi Satu Suro

Shinto sudah mengakar pada diri masyarakat jepang. Sekolah-sekolah di Jepang secara tidak langsung mengajarkan prinsip dan moral yang diajarkan oleh sistem kepercayaan ini. Berikut mycity.co.id telah merangkum beberapa prinsip Shinto yang diterapkan oleh Masyarakatnya:

  1. Manusia adalah Anak Dewa dan Dewi

Seperti dewa dan dewi yang tidak memiliki kekuatan yang diceritakan pada kitab Nihonshoki. Menurut sistem keyakinan Shinto, manusia adalah anak dari dewa dan dewi. Dari pemikiran itulah, manusia harus saling menghormati satu sama lainnya tanpa memendang bulu. Sebab, semua manusia sama yaitu anak Dewa dan Dewi.

  1. Makoto no Kokoro (Kebenaran Hati)
Baca Juga :  Wulla Podu, Cara Masyarakat Sumba Barat untuk Mendekatkan Diri dengan Tuhan

Shinto mengajarkan Makoto no Kokoro atau Kebenaran Hati. Manusia akan mencapai kehidupan yang baik, jika memiliki prinsip Mako no Kokoro. Prinsip ini merupakan sikap dasar pada Jiwa-jiwa manusia di mana lebih menekankan pada kebajikan, ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati manusia.

Kita dapat melihat orang Jepang selalu disiplin dan jujur dalam melakukan suatu hal. Orang Jepang tidak akan mengambil barang milik orang lain jika berada di tempat umum. Contohnya, orang yang kejatuhan dompet di jalan, jarang kehilangan barangnya karena dicopet atau diambil orang lain. Orang Jepang cenderung akan mengembalikan barang tersebut jika mereka tahu siapa pemiliknya. Jika mereka tidak tahu, maka mereka akan membiarkannya begitu saja di jalan.

  1. Tidak ada Kehidupan Setelah Kematian
Baca Juga :  Melihat Mata Cantik Biru Eropa di Siompu

Mereka tidak meyakini adanya kehidupan surga dan neraka setelah kematian. Oleh karenanya, mereka akan memanfaatkan kehidupan yang mereka miliki sebaik mungkin. Dapat memanfaatkan waktu dengan baik, pola hidup sehat, sopan dalam bersikap dan disiplin merupakan bentuk memanfaatkan kehidupan dengan baik.

Namun, karena tidak percaya akan ada kehidupan setelah kematian. Orang Jepang yang menganggap dirinya sudah tidak berguna lagi, memutuskan untuk bunuh diri.

Continue Reading

Culture

Tradisi Berdarah di Bali Timur Bernama Mekare-kare

Published

on

Tradisi perang pandang di Bali Timur bernama Mekare-kare. (kompas)
Tradisi perang pandang di Bali Timur bernama Mekare-kare. (kompas)

mycity.co.id – Tradisi Mekare-kare atau dikenal dengan Mageret Pandan atau Perang Pandan. Tradisi unik ini hanya ada di desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, kawasan pariwisata Bali Timur.

Budaya dan tradisi di Karangasem tersebut cukup dikenal pada kalangan wisatawan. Sehingga menjadikan desa Tenganan sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat mengagendakan tour ke arah Bali Timur.

Selain Perang Pandan, desa Tenganan di Karangasem ini memiliki hasil kerajinan kain tenun yang khas, yakni kain Gringsing. Ini menjadi produksi tenun tradisional dengan teknik dobel ikat. Kerajinan ini cukup terkenal pula dan jarang anda bisa temukan di pulau Dewata Bali.

Baca Juga :  Mheibes, Tradisi Permainan Asal Irak yang Dimainkan saat Bulan Ramadhan

Proses pembuatan kain tenun Gringsing di desa Tenganan Pegringsingan tersebut, memerlukan waktu antara 2-5 tahun. Kain Gringsing tersebut, hanya digunakan pada saat-saat tertentu saja.

Tradisi Mekare-kare akan dimulai yang diawali dengan upacara memohon keselamatan dan ritual saling menuangkan tuak. Kemudian pemimpin adat di Desa Tenganan akan memberi sebagai tanda dimulainya Perang Pandan.

Baca Juga :  Beragam Tradisi Unik Lebaran dari Mancanegara

Aba-aba akan diberikan di antara dua orang yang akan saling menyerang dan bertahan dengan satu orang wasit sebagai penengah. Kedua peserta akan saling menyerang menggunakan pandan dengan diiringi alunan tabuhan gamelan.

Hal ini berlangsung selama kurang lebih satu menit hingga wasit menghentikan pertandingan. Perang Pandan berlangsung bergantian dengan peserta lain dan dilakukan secara bergilir.

Setelah Perang Pandan, hampir semua peserta akan mengalami luka di sekujur tubuhnya karena duri daun pandan.

Oleh karenanya selepas acara, tubuh peserta akan diolesi ramuan tradisional. Ramuannya dari parutan kunyit dan lengkuas dengan ditambah minyak kelapa untuk mengobatinya.

Baca Juga :  Melihat Mata Cantik Biru Eropa di Siompu

Tidak ada dendam atau amarah selepas pertandingan karena seluruh peserta melakukannya dengan ikhlas sebagai bagian dari upacara adat.

Setelah tradisi ini berlangsung peserta yang melakukan Mekare-Kare tidak ada yang kesakitan, menyesal, bahkan marah. Namun, peserta akan merasa gembira karena telah melakukan tradisi Mekare-Kare tersebut dengan ikhlas.

Diketahui juga, tradisi ini diyakini sebagai ritual pemujaan masyarakat Desa Tenganan kepada Dewa Indra. Penghormatan ditandai dengan adanya luka dan darah dari para peserta yang mengikuti Tradisi Mekare-Kare ini.

Continue Reading

CityView

Bikin Haru, Penampakan Peninggalan Pahlawan.

Published

on

mycity.co.id – Gerakan 30 September atau dikenal dengan G30S merupakan pemberontakan PKI di tahun 1965. Pada peristiwa tersebut menewaskan banyak tokoh dari TNI dan Lubang Buaya menjadi salah satu tempat kejadian para jenderal dan perwira dibunuh dan dikubur.

Di Lubang Buaya saat ini ada berbagi macam informasi yang bisa didapat, karena kini tempat pembantaian tersebut menjadi Museum yang memiliki Monumen Pancasila Sakti. Pengunjung yang mampir ke sini bisa melihat mobil bekas yang digunakan untuk menculik para jenderal dan perwira, lubang maut tempat mayat disembunyikan, ruang penyiksaan dan lainnya.

Baca Juga :  Kabar Baik, Festival Budaya Papua Akan Segera Digelar Kembali

Bagian dalam ruangan, terdapat banyak foto, informasi biografi dan hasil dari postmortem. Selain itu juga ada barang-barang milik tujuh pahlawan revolusioner yang gugur di Lubang Buaya.

Selain jenazah para jenderal dan perwira, ada juga barang yang ditemukan pada tubuh mereka baik yang dikenakan maupun tersimpan yakni sisir rambut dan sebungkus rokok milik Jenderal S Parman. Kemudian cincin yang terakhir ditemukan di jari manis Letnan Satu Pierre Andrean Tendean.

Baca Juga :  Aspal Buton, Harta Karun Dunia yang Ada di Sulawesi Tenggara

Ada pula cincin kawin dijari Brigadir Jenderal DI Pandjaitan yang menemaninya hingga akhir hayat dan kini terpampang di museum sebagai kenangan. Baju dan sarung terakhir dengan noda darah hitam milik Mayor Jenderal R Suprapto pun terpajang rapi di museum itu.

Sedangkan milik Letnan Satu Tendean diletakan dalam kotak kaca yakni duffle camera, kaset lagu favoritnya hingga raket tenis merek Wilson. Selain para jenderal dan perwira, anak dari Jenderal AH Nasution, Ade Irma Suryani yang juga meninggal dalam peristiwa G30S tersebut pun memiliki barang peninggal seperti foto di lemari khusus.

Baca Juga :  Wulla Podu, Cara Masyarakat Sumba Barat untuk Mendekatkan Diri dengan Tuhan

Lalu ada perlengkapan hobby seperti sepeda patroli dan senjata Polisi Agen II Sukitma, Aqualung yang digunakan untuk membuang jenazah tujuh pahlawan revolusi, radio tipe GRC-9. Beberapa benda mengerikan lainnya seperti peluru ditemukan di tubuh korban, termasuk pistol kaliber 5 mm yang ditemukan di punggung kanan Jenderal Ahmad Yani.

 

Continue Reading
Advertisement

Trending