Connect with us

Lifestyle

Pria Penderita Alzheimer Kembali Menikahi Istrinya

Published

on

Lisa dan Peter

Peter Marshall berusia 56 tahun bagaikan memiliki hari baru setiap hari. Ia menderita serangan awal Alzheimer. 

Pria Connecticut itu memulai kembali hidupnya setiap hari. Namun, cintanya pada istrinya tidak berubah. Peter yang melupakan siapa dirinya setiap hari, bahkan juga melupakan kalau mereka telah menikah. 

Peter Marshall melamar perempuan yang telah menjadi istrinya itu untuk kedua kalinya. Istrinya pun mengatakan ya!

Baca Juga:

  1. 5 Makanan Ini Bisa Bikin Anda Awet Muda di Usia 30 Tahun Lebih
  2. 5 Khasiat Cincau untuk Kesehatan
  3. Demi Perkuat Podcast, Spotify Akuisisi Podz

Marshall pertama kali menikahi Lisa pada 13 Agustus 2009 di Turks dan Caicos. Mereka sejak saat itu hidup bahagia selama beberapa tahun. 

Pada tahun 2017, Marshall mulai menderita masalah dengan ingatannya. Pria itu memang kehilangan sebagian besar ingatannya, tetapi tetap mengetahui kalau Lisa menjadi “orang favoritnya”. Dia melamarnya kembali setelah melihat adegan pernikahan di TV awal tahun ini.

Pada April 2021, pasangan itu memperbarui sumpah pernikahan mereka di depan teman dan keluarga. 

“Dia tidak tahu bahwa saya istrinya. Saya hanya orang favoritnya. Saya gadis paling beruntung di dunia. Saya bisa melakukannya dua kali. Itu begitu sempurna. Saya tidak bisa memimpikan hari yang lebih baik,” ujar Lisa kepada NBC News New York seperti yang dikutip pada meaww.com pada 25 Juni 2021. 

Tahun 2017 Peter menjadi semakin pelupa dan kesulitan mengingat kata-kata. Setahun kemudian, seorang ahli saraf mendiagnosisnya dengan penyakit Alzheimer dini.

“Ketika Peter didiagnosis, dia mulai mengatakan pada saya bahwa dia mencintai saya setiap memiliki kesempatan. Saya memahami dia ingin memastikan saya tahu perasaannya sebelum dia tidak bisa memberitahu saya lagi. Dia akan mengatakannya setiap ada kesempatan selagi dia masih bisa dan setiap kali kami bertemu,” 

Lisa tetap hadir untuk Peter meski suaminya itu terus-menerus lupa bahwa dia adalah istrinya. Peter hanya ingat bahwa Lisa  adalah “orang favoritnya”, karena “hati mereka terhubung”. 

Tahun 2020, Lisa terpaksa berhenti dari pekerjaannya untuk mengurus suaminya. 

“Ini sangat menghancurkan, tetapi saya telah melakukan yang terbaik untuk tetap positif dan fokus pada satu hari pada satu waktu. Mantra saya selalu tidak menyesal,” ungkap Lisa kepada Washington Post seperti yang dikutip dari meaww.com pada 25 Juni 2021. 

Awal tahun 2021, Lisa mengatakan saat itu dia sedang bersama Peter ketika adegan pernikahan muncul di TV. 

Peter pada saat itu mengajukan pertanyaan — dia menunjuk ke layar dan berkata, “Ayo kita lakukan,” Peter menjelaskan. ” Saya berkata, “Lakukan apa?” Peter menunjuk ke TV, ke tempat pernikahan itu dan saya berkata, “Apakah kamu ingin menikah?”

“Dia mengatakan ya dan memiliki seringai lebar di wajahnya. Dia tidak tahu bahwa saya istrinya,” katanya. Namun, saat besok harinya Peter lupa tentang pertanyaan tersebut.

Lisa tetapi ingin melakukannya dan dia berkata, “Saya berpikir, ‘mungkin kita benar-benar harus melakukan ini’.” Besok harinya, Peter kembali lupa. 

Lisa lalu mengambil tindakan sendiri dan menghubungi beberapa vendor. Mereka menawarkan layanan mereka secara gratis. 

Lisa dan Peter

Hari pernikahan yang kedua kalinya itu “sangat ajaib” menurut Lisa. Mereka mengucap sumpah pernikahan di depan keluarga dan teman-teman. Saat sesi dansa pertama mereka, Lisa berkata bahwa suaminya berbisik, “Terima kasih karena telah tinggal.” Lisa sudah lama tidak melihat Peter sebahagia itu.”

Sayangnya kondisi Peter memburuk sejak pernikahan kedua mereka. Peter sekarang membutuhkan pengawasan dan tidak dapat melakukan tugas sehari-hari 

Lisa saat ini menjalankan blog Facebook “Oh Hello Alzheimer” di mana dia berbagi pengalaman hidupnya dan suaminya. 

Advertisement

Lifestyle

Kopi Pakesang Khas Ternate Terpilih Jadi Kopi Rempah Terbaik se-Nusantara

Published

on

Umi Salama dan Ayub Assagaf

Melalui perlombaan kopi rempah dan original terenak yang berlangsung di IPB International Convention Center, Sabtu (21/5/2022), Kopi Rempah Pakesang dari Ternate dan Kopi Gamalama, Maluku Utara, terpilih sebagai kopi terbaik se-nusantara.

Festival dengan tema “Semarak Jelajah Kopi Rempah Nusantara dalam Menunjang Industri Kreatif Desa” ini digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian IPB University di IPB International Convention Center Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (21/5/2022).

Dalam festival tersebut, ada 59 peserta yang lulus terpilih berkompetisi mewakili setiap provinsi di Indonesia. Kopi Paksesang khas Ternate, Kopi Gamalala, dan Kopi Buli Halmahera Timur terpilih mewakili Provinsi Maluku Utara.

Baca Juga:

  1. Gandeng Pemprov DKI, WIR Group Kembangkan Metaverse Jakarta
  2. Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse
  3. Rusia Uji Coba Rudal Antar Benua, Putin: Musuh Pasti Bakal Was-Was

Kopi Pakesang tersebut adalah produk yang dibuat oleh Umi Salama. Sementara Kopi Gamalama milik Ayub Assagaf, dan Kopi Buli dari Halmahera Timur.

“Sebenarnya ada empat dengan Kopi Dabe dari Tidore, tapi berhalangan jadi tidak bisa ikut. Ini kita dikirim link dari panitia dan mendaftar, akhirnya terpilih dan Alhamdulillah Kopi Pakesang dan Gamalama menjadi juara 1 terbaik,” ucap Burhanuddin Syamsi Rope, perwakilan Kopi Pakesang dalam kegiatan tersebut.

Menurut Bur, dalam festival tersebut, ada beberapa hal yang dilombakan, mulai dari kemasan, higienis, rasa, hingga aroma.

“Jadi, ada kategori kopi rempah dan ada juga original. Pakesang mewakili kopi rempah dan kopi Gamalama mewakili original. Keduanya mengungguli 59 peserta se-nusantara dari 2 kategori itu,” katanya.

“Terima kasih dewan juri yang begitu objektif dalam penilaian, ini menguatkan kita sebagai Kota Rempah layak dipertahankan,” pungkas dia.

Continue Reading

Lifestyle

Apa Itu Hustle Culture yang Sering Melanda Kaum Milenial?

Published

on

ilustrasi bekerja

“Kerja keras akan selalu terbayar, kesuksesan harus dibayar dengan rasa sakit, atau kamu baru bisa bersenang-senang ketika kamu sukses.” Seberapa sering kamu mendengar kata-kata usang yang tidak berguna solah-olah menjadi dorongan ketika kamu merasa penat? 

Rata-rata seseorang bahkan mendengar itu setidaknya dua kali di hidup mereka, tidak peduli terucap dari teman atau lingkungan keluarga.

Kalimat ini diyakini benar dan dapat memotivasi milenial atau gen Z untuk terus-terusan bekerja menggapai mimpi mereka.

Motivasi inilah yang juga menghasilkan budaya hustle culture di kalangan anak muda. Sayangnya terlalu banyak mendengarkan motivasi baik justru sebenarnya buruk?

Riset dari Taylor’s College Malaysia yang dimuat dalam website mereka menunjukkan banyak salah kaprah terkait hustle culture.

Dalam standar modern, hustle culture dapat didefinisikan sebagai keadaan terlalu banyak bekerja dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Tidak ada satu hari pun dalam hidup di mana kamu tidak mengerahkan kemampuan terbaik untuk bekerja dan berujung tidak memiliki kehidupan pribadi.

Menurut kamus, kata hustle memang didefinisikan sebagai tindakan yang penuh energi. Namun, apakah hustle menjadi berbahaya sebagai gaya hidup?

Selama bertahun-tahun, terlalu banyak bekerja dianggap sebagai modernitas sampai kini dianggap sebagai hustle culture seperti apa yang tertulis dalam buku-buku yang dijual di toko, sosial media, atau pengusaha terkenal.

Baca Juga:

  1. Pekerja Rentan Mengalami Kecemasan, Begini Tips Mengatasinya
  2. Waspada Post Holiday Syndrome, Penyakit Parah Usai Libur Lebaran
  3. Crab Mentality, Sikap Dengki Terhadap Kesuksesan Orang Lain

Elon Musk yang juga pendiri Tesla berkicau di Twitter, bahwa tidak ada orang yang bisa mengubah dunia hanya dengan bekerja 40 jam per minggu. Kamu harus bekerja 80 jam secara berkelajutan atau bahkan 100 jam.

Banyak anak muda menjadikan berbagai buku, media sosial, dan pengusaha sebagai inspirasi ketika mengejar kesuksesan mereka sendiri.

Sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang secara ambisius bekerja untuk mecapai goals, tidak mengherankan jika orang-orang secara tidak sadar menjadi korban dari hustle culture.  

Bagaimana hustle culture bisa menjadi budaya berbahaya

Setelah gagasan tentang mencapai kesuksesan menjadi prominen dalam pola pikir masyarakat, lama-kelamaan kamu akan bertanya apa yang salah dengan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Pertama, bekerja keras tidak sama dengan sukses. Tidak peduli seberapa keras kamu bekerja, ada beragam faktor yang memengaruhi kesuksesan termasuk lingkungan kerja.

Selain itu, ada faktor-faktor seperti kesempatan, waktu, dan faktor-faktor lain yang tidak bisa kamu kendalikan.

Bekerja keras memang baik, namun bekerja dengan terburu-buru justru menjadi sesuatu yang buruk. Dari sini berhentilah untuk bekerja keras yang mengarah pada mengerjakan semua hal, yang lebih baik justru fokuslah pada tujuan personal dan hal-hal yang mengarah untuk mencapainya.

Terlihat sibuk juga dipresepsikan sebagai hal yang baik. Namun, jika kamu selalu menjadi orang yang hanya punya sedikit waktu beristirahat dan menganggapnya sebagai buang-buang waktu, itu adalah kebiasaan yang tidak sehat.

Namun, jika dilihat kembali, apakah beberapa hal yang dilakukan benar-benar berkontribusi pada produktivitas atau hanya akan membuatmu terlihat sibuk.

Budaya sibuk mendorong masyarakat untuk menciptakan ketidakseimbangan dalam hidup, di mana pekerjaan menjadi hidup dan hal-hal lain yang dilakukan mulai tidak memiliki tujuan.

Continue Reading

Lifestyle

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Published

on

By

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Saat ini telah ditandatangani oleh lebih dari 25 orang untuk petisi yang menuntut proses hukum atas kematian anjing Maxi, di salah satu pet shop.

Di mana petisi itu berisikan kalimat yang berbunyi, “Kami menuntut kepada Pemkot Tangerang Selatan atas pencabutan izin usahan Holy Pet Shop sesuai dengan UUD Pasal 302 KUHP atas penganiayaan hewan dan hukuman penjara 9 bulan kepada pihak pemilik atas kelalaiannya sehingga menghilangkan nyawa hewan kami.”

Telah ada setidaknya 25.358 yang telah menekan pestisi tersebut. Hal ini berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com pada Sabtu (21/5/2022).

Diketahui anjing Maxi dititipkan di Pet Shop selama 11 hari dengan biaya perawatan penuh, berdasarkan petisi itu. Namun pemiliki kaget saat melihat kondisi anjing tersebut dengan kaki dan testis terjepit di kandang besi yang sangat kecil, kala dirinya akan menjemput Maxi.

Baca Juga:

  1. Ayo Pelihara, 7 Hewan Ini Bisa Bantu Kita Jaga Kesehatan Mental
  2. Begini Tips Bawa Hewan Peliharaan ke Apartemen
  3. 5 Pilihan Hewan yang Mudah Kamu Pelihara di Rumah

Atas hal itu, berarti selama 11 hari pihak pet shop dikatakan tidak merawat Maxim dengan baik. Anjing bulldog itu padahal awalnya mereka janjikan untuk memberikan kandang yang besar.

Anjing Maxim yang mengalami penyiksaan ini membuatnya harus kehilangan testis dan jarinya hingga berujung kematian. Kepada pihak pet shop pun pemilik Maxim sudah meminta penjelasan terkait hal yang terjadi.

Akan tetapi pemilik pet shop justru menyangkalnya serta mengatakan telah dipindahkan ke kandang yang lebih besar untuk maxim. Kemudian karyawan pet shop lalu mengaku bahwa anjing tersebut tidak dikeluarkan selama 11 hari dari kandang kecil, usai diminta penjelasan secara tegas oleh pemilik Maxim.

Selain itu, pemilik pet shop pun mengakui selama 11 hari mereka tidak mengontrol Maxim. Sehingga atas hal tersebut, pemilik Maxim meminta Pemkot Tangerang agar izin usaha pet shop itu dicabut serta diproses secara hukum.

Continue Reading

Trending