Connect with us

Sport

Prestasi Piala AFF 2020: Timnas Indonesia Jadi Tim Paling Fair Play, Pratama Arhan Pemain Muda Terbaik

Published

on

Timnas Indonesia

Timnas Indonesia memang gagal tampil sebagai juara Piala AFF 2020. Meski demikian, kiprah Skuat Garuda di ajang ini mendapatkan banyak apresiasi.

Timnas Indonesia takluk di final Piala AFF dengan agregat 6-2 dari Thailand. Pada laga leg pertama, Timnas tumbang dengan skor 0-4. Adapun pada leg kedua, Evan Dimas dkk hanya mampu bermain imbang 2-2, Sabtu (1/1/2022).

Ini menjadi kegagalan Timnas Indonesia yang keenam untuk menjuarai Piala AFF ini sejak pertama kali digelar pada 1996. Dari total 13 edisi yang terselenggara, Skuad Garuda telah 6 kali melaju ke partai puncak, tapi tak satu pun gelar yang sukses dibawa pulang.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Meskipun demikian, perjuangan Timnas Indonesia pada Piala AFF 2020 turut diwarnai sejumlah catatan impresif, termasuk menyandang status sebagai tim paling Fair Play. Tidak hanya itu, full back andalan Indonesia Pratama Arhan juga berhasil dinobatkan sebagai “Best Young Player”.

Seusai laga final leg ke-2, Timnas Indonesia diganjar penghargaan tim paling Fair Play di Piala AFF 2020. Penghargaan ini tak terlepas dari kemampuan Skuad Garuda bermain bersih sepanjang kompetisi.

Timnas Indonesia memang cukup banyak menerima kartu kuning di Piala AFF 2020. Akan tetapi, tidak ada pemain Skuad Garuda yang mendapatkan kartu merah hingga turnamen berakhir. Hal itu yang mendasari terpilihnya Timnas Indonesia sebagai tim Fair Play Piala AFF 2020.

Penghargaan ini rasanya jarang sekali didapat Timnas Indonesia. Meski berisikan anak-anak muda dengan rata-rata usia tim 23 tahun, mereka tetap mampu tampil tenang, dan tidak mudah terpancing emosi.

Terlepas dari itu, keputusan AFF tetaplah mutlak. Sama dengan Thailand, Indonesia memang bermain lebih banyak (8 kali) karena mampu lolos hingga partai puncak. Hal ini menjadi salah satu penyebab koleksi kartu kuning Indonesia lebih banyak dibandingkan tim lainnya.

Penghargaan ini diterima langsung oleh sang kapten, Evan Dimas Darmono, seusai laga final leg ke-2 (1/1/2022). Penghargaan ini juga seakan menjadi pelipur lara, setelah gagal juara.

Tidak hanya mendapatkan penghargaan sebagai Fair Play Team, full back andalan Indonesia yang tengah naik daun, Pratama Arhan, juga dinobatkan sebagai pemain muda terbaik (Best Young Player) di Piala AFF 2020.

Penghargaan tersebut ia dapat berkat penampilan ciamiknya sepanjang turnamen. Arhan mampu mengungguli dua rekannya yang masuk nominasi, yakni Witan Sulaeman dan Alfeandra Dewangga. Pemain asal klub PSIS Semarang mendapat penilaian tertinggi dengan 60.122 suara, diikuti Witan dan Dewangga di posisi 2 dan 3.

Pemain muda berusia 20 tahun ini dinilai begitu cakap dalam bertahan maupun membantu serangan. Arhan merupakan ancaman bagi tim-tim yang dihadapi Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. Ia juga beberapa kali menjadi penyelamat Timnas Indonesia di Piala AFF 2020.

Tentu yang paling menjadi perhatian, Arhan menjadi penyelamat Timnas Indonesia ketika menghadapi Singapura di leg ke-2 semifinal Piala AFF 2020. Saat Timnas Indonesia tertinggal 1-2, Arhan mencetak gol di menit 87, sekaligus memaksa skor berubah menjadi 2-2. Hingga akhirnya Indonesia memenangi laga (4-2) dan lolos ke final.

Untuk urusan bertahan, Arhan juga tak mengecewakan. Sepanjang turnamen, ia membuat 6 sapuan, 2 blok, 10 intersep, 80 persen tekel sukses, hingga 50 persen duel udara sukses. Ia juga memiliki kemampuan lemparan ke dalam jarak jauh yang bagus.

Absennya Arhan di leg pertama final Piala AFF 2020 melawan Thailand juga meninggalkan celah di lini pertahanan Indonesia. Setidaknya ada 2 gol ‘The War Elephants’ yang berasal dari serangan di sisi kiri.

Penampilan memukau dan segala hal yang telah ditunjukkan Arhan selama Piala AFF 2020 meyakinkan para juri dan suporter untuk memilihnya sebagai pemain muda terbaik.

Sport

Raffi Ahmad Siap Kelola Banten International Stadium

Published

on

Banten International Stadium
Banten International Stadium

Artis Raffi Ahmad bersama tim RANS mengaku siap berkolaborasi dengan Pemprov Banten dalam mengelola mengelola Banten International Stadium (BIS) atau kawasan Sport Center Provinsi Banten di Kota Serang.

Gubernur Banten, Wahidin Halim (WH) menyatakan RANS siap mengembangkan kawasan sekitar BIS untuk bidang olahraga, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, gaya hidup, dan hiburan.

“Saya senang sekali. Baru saja mendengarkan paparan rencana-rencana RANS. Yang saya harapkan bahwa Provinsi Banten harus ada perubahan,” kata Gubernur Banten Wahidin Halim usai menerima kunjungan Rafi Ahmad.

Baca Juga:

  1. Kabar Baik, Studi Terbaru Menujukkan 3 Dosis Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Omicron
  2. Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi
  3. Omicron Makin Merebak, Pemerintah Tambah Hotel Isolasi

“Tadi dibicarakan tentang stadion, tentang kuliner, dan bermacam-macam. RANS memang luar biasa, bersinergi untuk kemajuan Provinsi Banten,” Wahidin Halim menambahkan. Dalam kesempatan itu, Raffi Ahmad mengaku bangga bahwa sebentar lagi Provinsi Banten di bawah kepemimpinan Gubernur Wahidin Halim akan memiliki Banten International Stadium yang bertaraf internasional.

“Kita juga ingin memajukan daerah-daerah yang sedang berkembang, khususnya Provinsi Banten,” katanya. Rafi mengatakan, sudah seharusnya masyarakat Banten bangga, karena Provinsi Banten punya Banten International Stadium yang berstandar internasional.

Pembangunan Banten International Stadium ditargetkan selesai pada akhir Maret 2022. Saat ini atap, sound system, lampu, serta papan skor sudah terpasang.

Continue Reading

Sport

Usai Dapat Kritik Pedas Haruna Soemitro, Begini Nasib Shin Tae-yong Sebagai Pelatih Timnas

Published

on

Pelatih Timnas Shin Tae-yong

Anggota Exco PSSI, Haruna Soemitro, beberapa waktu lalu melayangkan kritikan pedas kepada Pelatih Timnas Shin Tae-yong. Lantas, bagaimana kelanjutan nasib Shin Tae-yong setelah menerima kritik itu?

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi, memastikan masa depan Shin Tae-yong tak terpengaruh dengan kritik tersebut.

Yunus Nusi menyebut, masa depan Shin Tae-yong ditentukan secara kolektif, bukan perorangan. Dengan begitu, Shin Tae-yong dipastikan bertahan sebagai pelatih Timnas Indonesia hingga kontraknya berakhir pada 31 Desember 2023.

Baca Juga:

  1. Peuyeum, Si Manis Ikonik Kota Bandung yang Disukai Orang Eropa
  2. 8 Makanan yang Mendadak Viral Selama Pandemi Covid-19
  3. Sambel Colek Ikan Wader, Hidangan Para Raja Majapahit

“Dalam diskusi dan rapat di internal PSSI, semua tetap menghargai sebuah keputusan yang bersifat kolektif kolegial. Keputusan kolektif kolegial PSSI itu antara lain tetap memberikan kepercayaan kepada Shin Tae-yong hingga 2023 sesuai kontrak,” kata Yunus Nusi dalam keterangan pers.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk memperpanjang kontrak jika performa timnas terus meningkat,” dia menambahkan.

Shin Tae-yong juga sebelumnya telah menyatakan komitmennya terhadap Timnas Indonesia. Pelatih berkebangsaan Korea Selatan dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu mengaku fokus untuk mempersiapkan Timnas menghadapi berbagai turnamen di tahun 2022.

Haruna Soemitro mengkiritik Shin Tae-yong dalam rapat evaluasi yang diadakan PSSI pada Kamis, 13 Januari 2022.

Saat itu, rapat dihadiri Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan, Waketum Iwan Budianto, Yunus Nusi, Wasekjen Maaike Ira Puspita, Exco Endri Erawan, Vivin Sungkono, dan Direktur Teknik Indra Sjafri. Bahkan kritikan itu kembali disampaikan Haruna Soemitro saat hadir di salah satu podcast.


“Tidak penting itu sebuah proses. Yang paling penting adalah hasil. Apa pun latihannya kalau tidak juara, ya belum dikatakan juara. Indonesia sudah enam kali masuk final Piala AFF. Kalau sekarang tetap runner-up, ya bukan prestasi,” kritik Haruna soal hasil Timnas Indonesia di Piala AFF 2020.

Continue Reading

Sport

Disebut Haruna Soemitro Tak Kompeten, Penerjemah Shin Tae-yong Isyaratkan Mundur

Published

on

Jeong Seok-seo

Kritik pedas yang dilayangkan anggota Exco PSSI, Haruna Soemitro, kepada Shin Tae-yong dan penerjemahnya, Jeong Seok-seo, berbuntut panjang. Kini, sang penerjemah mempertimbangkan untuk menanggalkan jabatannya.

Ya, beberapa waktu lalu Haruna Soemitro menyebut Shin Tae-yong cukup mudah tersinggung. Bahkan, Haruna Soemitro menyatakan ada beberapa penghambat komunikasi yang terjalin antara PSSI dan pelatih berdarah Korea Selatan itu.

Haruna menyebut Jeje, sapaan akrab Jeong Seok-seo, tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai penerjemah. Dia dinilai tak bisa menyampaikan dengan baik keinginan PSSI kepada Shin Tae-yong.

Baca Juga:

  1. Peuyeum, Si Manis Ikonik Kota Bandung yang Disukai Orang Eropa
  2. 8 Makanan yang Mendadak Viral Selama Pandemi Covid-19
  3. Sambel Colek Ikan Wader, Hidangan Para Raja Majapahit

Dalam unggahan di Insta Story-nya, Jeje tampaknya sedang kebingungan terkait masa depannya. Pasalnya, kontrak Jeje sebagai penerjemah Shin Tae-yong juga segera berakhir pada Januari 2022.

“Bisa lanjut gak ya? Hmmm,” tulis jeje dalam akun Instagram-nya, @jeongseokseo

Dia juga memosting unggahan lain di Insta Story miliknya. Dalam unggahan tersebut Jeje seperti memberi isyarat terkejut dengan sesuatu yang bisa jadi sedang dihadapinya.

“Haha luar biasa memang. Paling top. Kenapa ya hahaha,” tulis Jeje

Kontrak Jeje sebagai penerjemah Shin Tae-yong memang sebentar lagi akan berakhir. Sayangnya, hingga kini PSSI disebut belum memberikan penawaran kontrak baru untuk mempertahankan Jeje lebih lama.

Continue Reading

Trending