Connect with us

Sosial-Budaya

Pohon Nibung, Maskot Riau Sumber Semangat & Persaudaraan

Published

on

Pohon Nibung

Pohon Nibung (Oncosperma tigillarium) adalah tanaman sejenis palma (palem) yang tumbuh di Asia Tenggara termasuk hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pohon Nibung dianggap sebagai simbol semangat persatuan dan persaudaraan masyarakat Riau karenanya tidak heran jika pohon Nibung ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Riau.

Nibung (Oncosperma tigillarium) termasuk kelompok Palem yang biasanya tumbuh liar, tumbuh berumpun seperti bambu. Satu Palem Nibung memiliki 5-30 anakan. Tinggi batang/pohon Nibung dapat mencapai 30 meter, lurus dan berduri, garis tengah batang sekitar 20 cm. Batang dan daunnya terlindungi oleh duri keras panjang berwarna hitam.

Daunnya tersusun majemuk menyirip tunggal (pinnatus) hampir mirip daun kelapa ujungnya agak melengkung dan anak-anak daun menunduk sehingga tajuknya nampak indah. Warna tangkai perbungaan kuning cerah.

Baca Juga:

  1. NATO Vs SCO, Siapa yang Lebih Kuat?
  2. Bulan Depan, PeduliLindungi Dapat Diakes dengan 11 Aplikasi Ini
  3. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Tolak Program Nuklir Iran

Bunga pohon Nibung berbentuk tandan seperti mayang kelapa yang menggantung, warna bulir kuning keunguan. Dalam setiap mayang ada 2 jenis bunga, bunga jantan dan bunga betina. Umumnya 1 bunga betina diapit oleh 2 bunga jantan. Seludang pembungkus perbungaannya juga berduri. Buahnya bundar, berbiji satu permukaan halus warna ungu gelap.

Nibung dapat dimanfaatkan mulai dari batang, buah, hingga daunnya. Batangnya dapat digunakan untuk bahan bangunan (lantai, pipa saluran air, dan sebagainya), dan tongkat.

Nibung adalah tumbuhan identitas Provinsi Riau, dan sudah lama menyatu dengan kehidupan masyarakat Riau. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa tempat, yakni Tanjung Nibung, Teluk Nibung, yang mengabadikan nama tumbuhan tersebut. Selain itu keterkaitan ini tampak pula dalam pantun ataupun ungkapan tradisionalnya.

Dalam upacara adat, Tongkat Nibung merupakan bukti bentuk besarnya peranan nibung pada masa silam terhadap kehidupan kebudayaan Melayu Riau. Tongkat ini menjadi semacam lambang kehormatan bagi seseorang yang dianggap berjasa ataupun orang yang dijadikan sesepuh atau dituakan serta dihormati.

Pohon nibung juga banyak dimamfaatkan oleh masyarakat di Desa Jangkang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Di sini nibung banyak dimanfaatkan nelayan sebagai bahan pembuatan pondok untuk penjemuran udang rebon.

Pohon Nibung

Nelayan juga memanfaatkan batang nibung untuk keperluan perikanan seperti renovasi bagan, sarip dan kilung. Selain itu, di daerah pasang surut, nibung diperjualbelikan sebagai bahan bangunan dan tiang rumah di lahan gambut.

Di mana pohon nibung hidup, disitulah terdapat sumber mata air yang jernih. Begitulah kepercayaan dari orang-orang terdahulu. Hal ini bedasarkan pepatah, nibung bangsai bertaruk muda yang menggambarkan tentang manusia yang masih berjiwa muda dan kuat, sekuat pohon nibung.

Pohon nibung memang memiliki karateristik batang yang khas dengan tekstur yang kuat, kokoh dan tahan rayap. Batang pohon nibung menyerupai susunan lidi berwarna cokelat tua, dilapisi oleh kulit batang berwarna abu-abu yang dipenuhi oleh duri-duri tajam.

Batangnya lurus tinggi menjulang tidak bercabang seperti kelapa. Antara satu pohon dengan lainnya tingginya berkisar 9-25 meter. Diameter batangnya kisaran 38-40 cm. Bentuk daunnya tersusun menyirip tunggal (pinnatus) yang kesannya dekoratif, dengan tipe daun majemuk dan bertulang daun sejajar.

Pohon Nibung

Saat muda, warna daunnya hijau muda kekuningan yang berubah menjadi hijau tua. Sementara warna pelepah daun hijau kecoklatan, warna pucuk hijau kekuningan. Batang dan daunnya terlindungi oleh duri keras panjang berwarna hitam.

Selain di Indonesia, pohon ini juga tumbuh alami di wilayah Indocina, Thailand, Malaysia, Filipina. Sementara di Sumatra tersebar mulai dari Sungai Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan (Sumsel), Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, juga Jambi mulai Sungai Indragiri hingga ke pesisir Pantai Bengkalis, Provinsi Riau.

Sosial-Budaya

Lais, Kesenian Tradisional Ekstrem Garut yang Bikin Jantung Berdebar

Published

on

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Garut adalah sebuah kota atau kabupaten kecil namun dengan sejuta keindahan yang terdapat didalamnya. Garut juga dikenal sebagai kota penghasil dodol khas yang dibuat untuk oleh–oleh bagi pelancong yang datang ke kota ini.

Meski demikian, Kota ini juga masih menyimpan dan melestarikan kesenian yang menjadi salah satu budaya kebanggaan warga Garut, salah satu kesenian itu adalah kesenian Lais.

Kesenian ini adalah sebuah pertunjukan kesenian akrobatik dimana seorang pemain bermain diatas seutas tali yang memiliki panjang 6 meter yang terbentang dan di ikat diantara dua buah bambu yang ketinggian bambu tersebut sekitar 12–13 meter.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Kesenian ini sudah ada sejak zaman belanda, tepatnya di kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening, Garut, Jawa Barat. Nama kesenian ini diambil dari seseorang bapak – bapak bernama “Laisan” yang terampil dalam memanjat pohon kelapa, yang sehari – harinya dipanggil Pak Lai

Pertunjukan yang ditampilkan pertama–tama pelais memanjat bambu lalu berpindah ke tambang sambil menari dan berputar di atas tali tanpa menggunakan sabuk pengaman yang di iringi dengan musik kendang pencak, reog, terompet dan dog–dog.

Kesenian ini mempertontonkan ketangkasan pemainnya dan sebenarnya hampir mirip dengan akrobat yang ada di acara sirkus. Pemain Lais yang beratraksi dapat membuat penonton terpesona karena selalu membuat atraksi ini berdebar–debar.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Lais merupakan kesenian yang menggabungkan dua budaya, yaitu Budaya Sunda dan Budaya Jawa Timuran. Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya gerakan akrobatik yang serupa dengan akrobatik khas Reog Ponorogo melalui Gerakan yang dinamakan Kucingan.

Kucingan sendiri mengisahkan tentang seekor kucing yang diperankan singo barong tanpa dadak merak sedang mengejar Tikus yang diperankan oleh Bujang Ganong, karena telah mengganggu tidurnya. Hanya saja di Lais tidak menggunakan cerita kucingan dan seragam reyog serta topengnya yang menyulitkan pandangan penari Lais.

Atraksi yang diberikan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog dan terompet.

Seni budaya Lais
Seni budaya Lais

Di era sekarang, tradisi akrobatik khas Kabupaten Garut tersebut masih dimininati dan terdapat padepokan Lais yang masih terus bergerak melakukan kegiatan atraksinya, yaitu Padepokan Panca Warna Medal Panglipur. Menurut Ade Dadang selaku pimpinan, Ia terus berupaya mencari inovasi agar kesenian khas kota Garut tersebut tidak hilang.

Menurutnya, potensi tradisi Lais cukup besar bagi kalangan muda, mengingat kalangan muda merupakan generasi yang masih semangat dan tertarik akan hal-hal yang bersifat tantangan.

Dadang melanjutkan, jika tradisi Lais di Padepokan Panca Warna Medal Panglipur masih banyak dilirik oleh kalangan muda karena diyakini mampu mengasah keberanian dan ketangkasan, dua aspek penting dalam atraksi lais yang disukai oleh anak muda.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Buka Pekan Kebudayaan Nasional 2021, Jokowi: Indonesia Kaya Budaya & Hayati

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), resmi membuka hajatan akbar Pekan Kebudayaan Nasional 2021 secara virtual pada Jumat (19/11/2021) malam.

Acara pembukaan virtual tersebut disiarkan melalui indonesiana.tv dan akun YouTube Budaya Saya milik Kemendikbudristek. Peresmian Pekan Kebudayaan Nasional 2021 berlangsung selama satu jam.

Dalam kata sambutannya, Presiden Jokowi menuturkan tantangan terberat yang dihadapi bangsa Indonesia di masa kini bukanlah hal pertama yang terjadi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Pandemi bukan yang pertama, bencana alam bukan juga yang pertama. Banyak sekali tantangan yang sudah dialami oleh bangsa Indonesia sebelum menjadi Republik ini berdiri,” ujar Jokowi.

Jokowi melanjutkan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari ilmu pengetahuan dan kearifan lokal masa lalu yang diturunkan melalui nenek moyang kita. Kearifan itu yang terangkum dalam bentuk narasi lisan misalnya skrip drama maupun pewayangan.

Berangkat dari kekayaan kebudayaan dan alam, Indonesia pun berpeluang menjadi pusat peradaban.

“Saya menegaskan bahwa berangkat dari kekayaan kebudayaan dan kekayaan hayati kita, Indonesia memiliki peluang besar untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan yang berbasis dari peradaban Indonesia,” tegasnya.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Sasi, Tradisi Turun-temurun Maluku untuk Jaga Sumber Daya Alam

Published

on

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan manusia meninggalkan cukup banyak masalah. Namun, masyarakat Maluku memiliki tradisi turun-temurun untuk menjaga sumber daya alam mereka. Tradisi tersebut bernama Sasi.

Ya, Maluku memang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Jika eksploitasi sumber daya alam dilakukan dengan cara semena-mena, bakal ada banyak masalah seperti bencana alam hingga kelangkaan sumber daya alam.

Sangat masuk akal sekali memang, apabila sumber daya alam dikeruk terus menerus. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti sumber daya tersebut akan habis dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Apabila sumber daya tersebut habis, yang dirugikan juga manusia sendiri.

Baca Juga:

  1. Ducati Murka ! Panitia WorldSBK Indonesia 2021 Buka Kargo Motor Secara Ilegal
  2. Kemendagri: Elkan Baggot Sudah Lama Jadi WNI
  3. Maguire Selebrasi Gol Sindir Kritik, Keane: Memalukan!

Lantas, apa itu Sasi? Bisa dibilang, Sasi adalah sasi adalah sebuah hukum adat yang berlaku di masyarakat Maluku, khususnya mengatur pemanfaatan SDA. Sasi ini adalah sebuah larangan untuk mengambil hasil alam pada waktu-waktu tertentu.

Tradisi ini sebenarnya lebih difokuskan untuk pengelolaan hasil laut, terutama perikanan. Namun, di luar itu juga terdapat sasi yang mengatur pengelolaan hasil alam di daratan yang disebut sebagai sasi darat.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Dalam tradisi sasi juga melarang penggunaan alat pancing yang bisa merusak ekosistem laut. Masyarakat hanya boleh mencari ikan dengan cara yang tidak merusak ekosistem laut, seperti menggunakan pukat atau alat peledak.

Dalam pelaksanaan sasi terdapat dua istilah penting, yaitu sasi buka dan sasi tutup. Sasi buka adalah masa saat masyarakat Maluku diperbolehkan untuk mengambil hasil alam, sedangkan sasi tutup adalah masa ketika masyarakat dilarang untuk mengambil hasil alam.

Masa sasi buka dan sasi tutup ini ditentukan berdasarkan masa saat sumber daya siap panen, kebutuhan ekonomi masyarakat untuk dijual ke pasar, dan kebutuhan konsumsi dari masyarakat itu sendiri.

Sasi memiliki sebuah makna yang sangat dalam, yaitu apabila alam dimanfaatkan secara berlebihan dan secara tidak bertanggung jawab, akan terjadi ketidakseimbangan antara alam dan manusia.

Sasi mengajarkan pentingnya menjaga alam dan tidak mengeksploitasinya dengan semena-mena. Apabila alam dieksploitasi dengan semena-mena, yang akan merasakan kerugian juga manusia sendiri.

Tradisi Sasi
Tradisi Sasi

Sasi tercipta di Maluku karena kesadaran bahwa sumber daya alam di Maluku memiliki batas. Apabila dimanfaatkan dengan tidak beraturan, sumber daya itu bisa habis. Dari kesadaran itulah kemudian muncul sasi untuk menjaga ketersediaan SDA, tidak hanya untuk masyarakat, tetapi juga untuk generasi selanjutnya.

Continue Reading

Trending