Connect with us

Histori

Petir Terbesar di Dunia Ternyata Ada di Depok

Published

on

Kelurahan Pondok Petir (istimewa)
Kelurahan Pondok Petir (istimewa)

Seperti yang dimuat dalam kumparan menyebutkan bahwa sumber petir berarus listrik terbesar di dunia ternyata terdapat di wilayah Depok. penelitian yang dilakukan pada 2002 lalu oleh seorang ahli petir sekaligus peneliti dari Laboratorium Arus Tinggi dan Tegangan Tinggi Jurusan Teknik Listrik Fakultas Teknik Industri ITB, Dr. Ir. Dip Ing Reynaldo Zoro.

Pada penelitiannya di daerah Depok kala itu, Zoro mendapat arus petir negatif berkekuatan 379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positif mencapai 441,1 kA. Arus petir yang besar itu khusunya ia temukan di wilayah di Depok bagian barat.

Penelitian yang disponsori PLN Cabang Depok, pada bulan April, Mei, dan Juni 2002, dengan menggunakan teknologi lighting position and tracking system (LPATS), itu mendapati arus petir negatif berkekuatan 379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positif mencapai 441,1 kA.

Baca Juga:

1.Margonda Depok dan Aneka Kisahnya

2.SuperApp SiKasep, Bikin Pengajuan KPR Subsidi Makin Mudah

3.Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia

“Dengan kekuatan arus sebesar itu, petir mampu meratakan bangunan gedung yang terbuat dari beton sekalipun,” kata Zoro kepada Warta Kota.

Selama ini, Indonesia memang dikenal sebagai negara dengan sambaran petir cukup tinggi. Zoro menjelaskan, kondisi meteorologis Indonesia memang sangat ideal bagi terciptanya petir.

Tiga syarat pembentukan petir – udara naik, kelembapan, dan partikel bebas atau aerosol – terpenuhi dengan baik di Indonesia sebagai negara maritim.

Sebelumnya, penelitian Zoro dipusatkan di kawasan Tangkuban Perahu, Jawa Barat, dengan anggapan di daerah itu sambaran petir cukup besar.

Tak disangka, penelitian mutakhir justru menemukan daerah Depok, khususnya wilayah selatan seperti Sawangan dan Cinere.

Menurut Zoro, Depok merupakan daerah yang dipengaruhi angin regional dan angin lokal. Yakni angin dari lembah dan angin gunung dari Bukit Barisan, serta angin lokal dari angin darat dan angin laut Kepulauan Riau dan Selat Malaka.

Gerakan angin itulah yang menyebabkan pembentukan awan petir dengan kerapatan dan sambaran petir sangat tinggi.

Zoro mengibaratkan Bumi sebagai kapasitor. Antara ionosfer dan Bumi, jika langit cerah, ada arus listrik yang mengalir terus-menerus, dari ionosfer yang bermuatan positif ke Bumi yang bermuatan negatif.

Tapi Bumi tidak terbakar, karena ada awan petir yang bermuatan listrik positif maupun negatif sebagai penyeimbang. “Yang positif turun ke Bumi, dan yang negatif naik ke ionosfer,” kata Zoro.

Ketika langit berawan, tidak semua awan adalah awan petir. Hanya awan cumulonimbus yang menghasilkan petir. Petir terjadi karena pelepasan muatan listrik dari satu awan cumulonimbus ke awan lainnya, atau dari awan langsung ke Bumi.

 Dalam terminologi Perusahaan Listrik Negara (PLN), instansi yang paling sering menanggung kerugian karena petir, sambaran dibedakan menjadi tiga jenis yang semuanya didata. Selain sambaran positif dan sambaran antarawan, ada juga sambaran negatif, yakni lompatan listrik dari Bumi ke ionosfer.

Dalam catatan PLN Depok, sepanjang tahun 2001 terjadi 340 kali sambaran positif, 8.520 kali sambaran negatif, dan 1.151 sambaran antarawan. Kekuatan maksimum yang tercatat 290,2 kA.

Sambaran negatif yang jumlahnya jauh lebih tinggi daripada sambaran positif atau antarawan, diduga karena kandungan besi tanah di Depok terbilang tinggi. Penelitian ahli geologi UI mendapati tingginya kandungan besi di sekitar Depok, khususnya di danau buatan di Kampus UI.

Menurut Zoro, sambaran petir di Depok terjadi hampir sepanjang tahun. Yang tertinggi pada bulan Maret, April, dan Mei, atau pada musim hujan. Sambaran agak mereda di bulan Februari.

Mengutip data yang didapat pada laboratorium yang dipimpin Zoro di ITB, Jaringan Deteksi Petir Nasional, Indonesia memiliki hari guruh (hari terjadinya petir dalam setahun) 200 hari. Sementara Brasil 140 hari, Amerika Serikat 100 hari, dan Afrika Selatan 60 hari.

Kuatnya petir membuat PLN menderita kerugian. Trafo terbakar, jaringan putus, pemadaman listrik sehingga sejumlah KWh tak terjual, sampai peralatan elektronika rumah tangga rusak.

Dari data yang ada, keluhan konsumen dan kerusakan instalasi PLN, 75% disebabkan oleh petir.

Sebagai gambaran betapa petir membuat PLN merugi: dalam sebulan ada tujuh – delapan trafo PLN rusak. Padahal untuk memperbaikinya dibutuhkan biaya sekitar Rp150-an juta.

  Akibat pemadaman listrik, PLN Depok juga kehilangan (kWh yang tidak terjual) sekitar 0,5% pendapatan dari hasil penjualan, atau sekitar Rp150 juta akibat padamnya listrik.

Secara keseluruhan, kerugian akibat petir dalam tahun 2001 senilai Rp1,1 miliar, dan kerugian karena kerusakan trafo Rp1 miliar.

Atas dasar itulah Zoro melakukan penelitian dan kemudian melakukan langkah pengamanan sehingga kerugian bisa ditekan.

Masyarakat sendiri sebenarnya sudah memiliki kearifan lokal dalam menghadapi petir ini. Di Pondok Petir, Bojongsari, Depok, misalnya.

Di Kelurahan Pondok Petir Kecamatan Bojongsari Kota Depok ini ada nasihat turun temurun ketika hujan turun segera masuk ke dalam rumah. Kalaupun berteduh di bawah pohon, misalnya, tidak boleh memegang pohon.

Di rumah pun harus naik ke atas kursi atau balai-balai, tidak membiarkan kaki terjuntai ke bawah agar terhindar dari amukan petir.

Advertisement

Histori

Rawa Belong, Pabriknya Para Jawara Betawi

Published

on

Rawa Belong

Cityzen tentunya tidak asing lagi jika mendengar nama Rawa Belong. Lokasi ini dipercaya sebagai tempat lahirnya Pitung, jawara Betawi yang namanya amat melegenda.

Meski nama Rawa Belong sendiri cukup sering diperbincangkan, dari mana asal-usulnya? Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra dalam acara Jangan Lupakan Sejarah (Jamlurah) menyatakan Rawa Belong berasal dari dua kata, yakni rawa dan balong.

Rawa adalah daerah yang digenangi air dan biasanya cukup dalam dan tidak terawat, sedangkan balong menunjukkan empang yang dalam. Rawa Belong bisa jadi dulunya adalah kawasan rawa yang dalam-dalam.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Pembahasan mengenai nama Rawa Belong, termasuk tentang legenda si Pitung, yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat berlangsung sekitar satu jam dalam acara yang digagas oleh Lembaga Kebudayaan Betawi di Jalan Anggrek Cakra, Kebon Jeruk, ini.

Acara ini memang dimaksudkan untuk menggali sejarah lokal dan toponimi atau penamaan tempat suatu daerah, sehingga bisa memberi pengetahuan dan melahirkan kecintaan yang lebih dalam terhadap lokasi tempat mereka tinggal.

Walau memiliki beragam versi mengenai toponimi Rawa Belong, semua sejarawan sepakat bahwa wilayah ini adalah kampungnya para jawara. Di sinilah tumbuh sumber aliran silat cingkrik dan lainnya.

Padahal awalnya lokasi sepanjang tak lebih dari 25 meter ini cuma sederetan warung kopi tempat berkumpul warga kampung. Mereka berasal dari beragam tempat seperti Sukabumi Ilir, Kemanggisan, Kemandoran, Palmerah, Kebon Nanas, dan kampung lainnya.

Rawa Belong
Rawa Belong

Tidak jauh dari pertigaan, arah ke Kebayoran Lama, ada istal (bengkel kereta dan tempat istirahat kuda). Kala itu pertigaan ini menjadi bagian dari jalur utama delman.

Menurut Windoro, karena lokasinya yang strategis membuat warga sejumlah kampung tadi memberi alamat rumah mereka dengan nama Rawa Belong. Dengan harapan, bila ada kenalan datang bisa bertanya kepada orang-orang yang berada di pertigaan.

Berjalannya waktu, Rawa Belong yang awalnya merupakan tempat nongkrong menjadi arena para jawara Betawi. Di tempat inilah mereka menguji dan mengembangkan kemampuan.

Di wilayah ini juga terdapat Jalan Kemandoran yang menandai pemukiman para mandor dan tuan tanah lainnya. Tidak heran Rawa Belong menjadi gudang para jagoan, karena bila ingin menjadi mandor atau lurah harus jadi jawara dahulu.

Sebelum menjadi mandor, seorang jagoan baru harus menjadi centeng atau penjaga dahulu. Makna penjaga kemudian bergeser lebih khusus menjadi penjaga gudang hasil bumi para tuan tanah pemilik kebun.

Istilah centeng pertama kali dikenal di daerah onderneming (perkebunan) Tuan Tanah China Gow Hok Boen, di Kedaung, Tangerang. Di antara centeng akan terjadi saling adu jago.

Semakin mereka menang, akan semakin disegani. Wilayah kekuasaannya pun semakin luas. Sampai pada hari, ketika dia diangkat seorang tuan tanah menjadi mandor pengawas perkebunan, pemungut pajak dan penagih hutang.

Rawa Belong
Rawa Belong

Salah satu jawara dari Rawa Belong yang cukup disegani adalah Mat Item. Dia menjadi legenda karena kesaktiannya yang tidak mempan senjata tajam maupun senjata api, berkat jimat-jimat yang dikenakannya.

Dirinya memang bukan seperti Si Pitung, Si Jampang, dan Entong Gendut yang dianggap pahlawan. Tetapi malah menggunakan kesaktiannya untuk merampok, membegal, dan memperkosa anak gadis dan isteri orang lain.

“Dia dan anak buahnya sangat ditakuti masyarakat karena kekejamannya dan tindakan merampok tanpa pandang bulu. Siapa pun kalau perlu dirampok akan dirampoknya, sehingga hal ini sangat menakutkan penduduk lebih-lebih pada malam hari,” ungkap Abdul Chaer.

Continue Reading

Histori

Margonda Depok dan Aneka Kisahnya

Published

on

Margonda (istimewa)
Margonda (istimewa)

Depok sebuah Kota yang berbatasan langsung dengan Daerah Ibu Kota Jakarta memiliki kisah heroik dari salah satu tokoh pejuang dan namanya pun diabadikan menjadi salah satu nama jalan protokol yang ada di Kota Ini. Dia adalah Margonda.

Menelusuri sejarah Margonda berarti kembali ke masa-masa revolusi saat peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Dalam buku ‘Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955’ sang penulis Wenry Wanhar menyebut Margonda adalah nama seorang pemuda yang belajar sebagai analis kimia dari Balai Penyelidikan Kimia Bogor.

Lembaga ini bermula bernama Analysten Cursus. Didirikan sejak permulaan perang dunia pertama oleh Indonesiche Chemische Vereniging, milik Belanda. pada1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda. Lembaga ini tidak berlangsung lama, karena 5 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, kekuasaan beralih ke Jepang. Margonda lantas bekerja untuk Jepang.

Baca Juga:

  1. Yuk Intip, Fasilitas Komersial Super Mewah Baru di Gading Serpong
  2. Inilah 10 Gereja Tertua & Terindah di Indonesia
  3. Properti Vs Deposito, Mana Lebih Untung?

Saat Jepang menyerah tanpa syarat ke Amerika menyusul pemboman di Nagasaki dan Hiroshima pada 1945, Margonda akhirnya ikut aktif dengan gerakan kepemudaan yang membentuk laskar-laskar.

Margonda bersama tokoh-tokoh pemuda lokal di wilayah Bogor dan Depok mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor.

Sayangnya, umur AMRI di bawah pimpinan Margonda relatif singkat.

Mereka pecah dan anggotanya bergabung dengan BKR, Pesindo, KRISS dan kelompok kecil sejenis lainnya. Sementara itu, wilayah Depok sejak lama menjadi ‘daerah istimewa’.

 Nama Margonda tercatat di Museum Perjuangan Bogor bersama ratusan pejuang yang gugur.

Semasa berjuang, Margonda berkawan dekat dengan Ibrahim Adjie dan TB Muslihat. TB Muslihat senasib dengan Margonda.

Dia gugur dalam pertempuran. Pemerintah Bogor membangun patung TB Muslihat di Taman Topi, sekitar stasiun Bogor.

Sementara Ibrahim Adjie, berhasil selamat. Dia berkarir menjadi tentara dengan jabatan akhir Pangdam Siliwangi.

Margonda lahir dan besar di Bogor, ia dan keluarganya tinggal di Jalan Ardio Bogor.

Waktu masih sekolah, Margonda terkenal sebagai atlet berprestasi. Nama aslinya adalah Margana. Dia menikah dengan keponakan MS Mintaredja yang pernah menjadi menteri Sosial dalam kabinet Presiden Soeharto dan bermukim sampai hayatnya di Beji, Depok.

Sejarah juga menyebut, Depok sudah lebih dulu merdeka sejak 28 Juni 1714. Mereka punya tatanan pemerintahan sendiri yakni Gemeente Bestuur Depok yang bercorak republik.

Pimpinannya seorang presiden yang dipilih tiga tahun sekali melalui Pemilu. Pemerintah Belanda di Batavia menyetujui Pemerintahan Chastelin ini dan menjadikannya sebagai Kepala Negara Depok yang pertama.

Tak ayal jika mereka enggan bergabung dengan republik baru bernama Indonesia. Mengingat mereka sudah merdeka dan sudah punya presiden sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh SoekarnoHatta.

Karena Depok tidak mengakui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, akibatnya wilayah yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Jakarta diserbu para pejuang kemerdekaan. Depok dikepung dari seluruh penjuru mata angin. Depok dijarah takluk di bawah todongan senjata, orang Depok dipaksa mengibarkan Bendera Merah Putih dan teriak Merdeka!! Siapapun yang membangkang kena hantam, tak sedikit korban berjatuhan.

Huru-hara yang meletus pada tanggal 11 Oktober 1945 itu dikenal dengan Peristiwa Gedoran Depok untuk merebut Depok dari penjajah oleh para pejuang kemerdekaan. Namun tak berlangsung lama, NICA kembali menguasai Depok. Pasukan NICA yang datang membonceng sekutu menyerbu Depok untuk ‘membebaskan’ orang Depok yang ditawan TKR. Pejuang berhasil dipukul mundur. Tawanan wanita dan anak-anak Depok dibebaskan, dibawa ke kampung pengungsian di Kedunghalang, Bogor.

Semenjak itu, kantor Gemeente Bestuur yang tadinya dijadikan markas TKR berubah menjadi markas NICA. Memasuki bulan November, para pejuang yang tercerai-berai kembali menjalin koordinasi dan menyusun kekuatan. Mereka berencana merebut kembali Depok dari tangan NICA. Para pejuang bersepakat menyerbu Depok tanggal 16 November 1945. Sandi perangnya saat itu serangan kilat.

Pada saat itulah Margonda berencana kembali merebut Depok bersama para pejuang lain. Diantara ratusan pejuang yang gugur hari itu, terdapat Margonda, pimpinan AMRI. Margonda gugur 16 November 1945 di Kali Bata Depok. Daerah bersungai di kawasan Pancoran Mas dan bermuara di Kali Ciliwung itu menjadi saksi gugurnya Margonda.

Peristiwa Gedoran Depok ini sering disebut sebagai revolusi sosial di pinggiran Jakarta. Melalui peristiwa inilah lahir tokoh-tokoh, seperti Margonda, Tole Iskandar dan Mochtar. Nama pejuang itu kini diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Depok.

Continue Reading

Histori

Syair Smong, Penyelamat Masyarakat Smeuleu dari Tsunami Aceh

Published

on

Tsunami Aceh
Tsunami Aceh

Bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu menorehkan luka bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Aceh.

Gempa berkekuatan 9,3 skala richter itu meluluhantakkan Aceh. Bencana ini mengakibatkan 128.645 korban jiwa, 37.036 orang hilang, dan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal. Bencana ini telah menimbulkan kerusakan bangunan dan mengganggu aktivitas ekonomi, kegiatan pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Bencana alam bahkan berpengaruh besar terhadap kondisi demografi di beberapa lokasi bencana. Tsunami di Kabupaten Aceh Besar tahun 2004, misalnya, mengakibatkan penurunan jumlah penduduk secara signifikan, sebanyak 70 persen di Kecamatan Leupung.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

Tsunami juga telah menghilangkan sebagian besar penduduk Desa Dayah Mamplam di Kecamatan Leupung. Penduduk di desa ini yang selamat hanya sebanyak 12 persen.

Meski demikian, ada cerita unik dari daerah Pulau Simeuleu. Meski rumah dan bangunan milik mereka hancur. Namun, tsunami hanya menelan tujuh korban. Ternyata, cerita turun-temurun dari leluhur telah menyelamatkan nyawa mereka.

Pulau Simeulue merupakan kabupaten tersendiri yaitu pemekaran dari Aceh Barat. Terletak sekitar 150 km lepas pantai barat Aceh, gugusan pulau ini berada di atas persimpangan tiga palung laut terbesar dunia, yaitu pertemuan lempeng Asia dengan Australia dan Samudra Hindia.

Dalam Katalog Tsunami Indonesia 418 – 2018 terbitan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (2019) disebutkan pada tahun 1907, tsunami pernah menghantam Simeulue. Korban jiwa cukup banyak, kerugian materiil dan psikologis tidak dapat dihitung.

Sebagai pengingat bencana ini, tsunami yang dalam Bahasa Jepang berarti “ombak besar di pelabuhan” punya nama sendiri di Simeulue, yaitu smong. Masyarakatnya Simeulue lalu menceritakan tentang peristiwa ini dalam nafi-nafi yang biasa diceritakan kepada anak-anak.

nafi-nafi mengajarkan mengenai bentuk mitigasi bencana tsunami. Cerita ini mengajarkan kepada masyarakat jika ada gempa kuat yang kemudian diikuti dengan air laut yang surut, segeralah lari agar selamat dari terjangan gelombang besar.

Cerita inilah yang membuat warga Simeulue selalu waspada saat gempa bumi mengguncang pulau mereka. Melalui pengetahuan lokal seperti yang direpresentasikan melalui sebuah nyanyian (smong), masyarakat dapat terselamatkan dari kejadian bencana.

Dikabarkan dalam laman Pemprov Aceh, syair smog selalu dituturkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui nafi-nafi.Nafi merupakan budaya lokal masyarakat Simeulue yang berisikan cerita nasihat, petuah kehidupan, terutama smong.

Nantinya para tetua dan tokoh adat menyampaikan nafi-nafi kepada kaum muda untuk menjadi pelajaran. Cerita ini akan disampaikan kepada generasi muda, terutama anak-anak dalam berbagai kesempatan, seperti saat menaman cengkih.

Dahulu Simeulue terkenal dengan cengkihnya, anak-anak sering ikut membantu orang tua mereka saat memanen cengkih. Maka tidak heran jika setiap memanen cengkih, kisah-kisah smong jadi selingan di tengah kesibukan.

Nafi-nafi juta disampaikan ketika mengaji di surau-surau setelah salat magrib. Kadang juga menjadi pengantar tidur anak-anak di malam hari oleh orang tua sembari menunggu buah hati mereka terlelap.

Semua orang tua melakukan hal yang sama, sehingga tradisi ini menjadi kearifan lokal masyarat Simeulue. Penghayatan kearifan lokal smong esensinya bagaimana memahami tanda-tanda alam di sekitar mereka dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Para tetua meyakini suatu saat smong akan datang lagi, walaupun mereka sangat berharap agar kejadian itu tidak pernah terulang lagi. Dari kisah nafi-nafi tersebutlah masyarakat Simeulue belajar yang kemudian dijadikan sebagai alat mengomunikasikan mitigasi bencana.

“Smong adalah air mandimu, gempa adalah ayunan tidurmu, hujan badai adalah musikmu, guntur adalah lampumu. Begitulah penggalan nafi-nafi yang dituliskan dalam dalam Bahasa Devayan,” ujar Alfi Rahman dosen FISIP dan Magister Kebencanaan Universitas Syiah Kuala yang menerjemahkan penggalan syair nafi-nafi tersebut dinukil dari Aceh trend.

Menurut skripsi Rasli Hasan Sari dan kawan-kawan yang berjudul Kearifan Lokal Smong Masyarakat Simeulue dalam Kesiapsiagaan Bencana 12 Tahun Pasca Tsunami menyebut pemahaman pratanda smong, dapat dideteksi melalui beberapa gejala alam.

Seperti gempa bumi yang kuat, disusul air laut surut dengan kecepatan tinggi, sampai ikan-ikan menggelepar di pantai, air sungai mengering, air sumur tiba-tiba menyusut, dan angin dingin berhembus dari arah laut hingga penampakan gelombang raksasa disertai suara gemuruh yang sangat keras.

Pengetahuan masyarakat Pulau Simeulue akan terjadi smong tidak terbatas pada gejala alam saja namun dapat pula ditandai dengan perubahan perilaku pada hewan ternak. Salah satu tandanya adalah sesaat setelah gempabumi, gerombolan kerbau, sapi, dan kambing yang berada di pinggir pantai tiba-tiba melarikan diri ke arah hutan.

“Pengetahuan ini berdasarkan kesaksian penyintas bencana gempabumi dan tsunami tahun 2004” tulis Rasli.

Karena itulah, masyarakat dunia pun mempelajari smong sebagai salah satu cara untuk mitigasi tsunami. Belajar dari smong, kesiapsiagaan masyarakat merupakan kunci dalam menghadapi bencana.

Sikap kesiapsiagaan itu biasanya terbentuk dari perilaku yang telah dijaga secara turun-temurun. Cara tersebut menjadi satu budaya yang masih dipelihara oleh masyarakat lokal di setiap daerah-daerah di tanah air.

Apalagi melihat kondisi Indonesia yang begitu rawan bencana, dari catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 1-16 Januari 2021 ada 136 bencana alam terjadi di Indonesia. Bencana alam terbanyak adalah banjir lalu disusul kejadian tanah longsor, puting beliung, gempa bumi, dan gelombang pasang.

“Kebijakan–kebijakan publik kita harus didasarkan pada kearifan lokal yang telah hidup ratusan bahkan ribuan tahun agar tercipta ketahanan terhadap bencana, sehingga dapat menjadi bangsa Indonesia yang berkepribadian nasional dan keanekaragamannya menjadi sumber kekuatan atau energi positif,” ungkap Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Sarwono Kusumaatmadja.

Continue Reading

Trending