Connect with us

Internasional

Perpusnas Jalin Kerjasama dengan Perpustakaan dan Arsip Nasional Iran

Published

on

Ilustrasi Perpustakaan Nasional.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia menjalin kerjasama dengan Perpustakaan dan Arsip Nasional Republik Islam Iran. MoU direncanakan berlaku tiga tahun sebagai kelanjutan kerja sama pada 2015.

Kerja sama ini dilakukan pada Senin (31/5/2021), melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dengan Kepala Perpustakaan dan Arsip Nasional Republik Islam Iran (Perpustakaan Nasional Iran) Ashraf Boroujerdi secara virtual.

Syarif Bando menjelaskan melalui rilis resmi (1/6/2021), kerja sama ini dilakukan guna memperkuat layanan perpustakaan. Hiingga kini, tercatat ada 63 judul buku tercetak mengenai Iran yang tersedia di Layanan Koleksi Mancanegara Perpusnas.

‚ÄúPenandatanganan MoU antara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Nasional Iran hari ini untuk memastikan fungsi masing-masing lembaga dapat berkontribusi secara signifikan melalui layanan informasi yang kita miliki,” ungkap Syarif Bando.

Baca Juga:

  1. Saat Buka Puasa, Sebaiknya Tak Konsumsi 5 Makanan Ini Secara Berlebihan
  2. Hindari 5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Saat Berbuka Puasa
  3. Catat! Ini 5 Cara Makan untuk Hindari Asam Lambung Saat Puasa

Ia berharap adanya kerja sama ini menguatkan perpustakaan nasional masing-masing negara sehingga dapat memberikan dukungan terhadap pembangunan nasional, perkembangan sosial budaya masyarakat, termasuk edukasi dan pengembangan iptek, agama, dan kebudayaan.

Kerjasama yang dijalin yaitu dalam lima ruang lingkup, diataranya :

  • Pertukaran informasi dan pengalaman dalam bidang perpustakaan dan informasi
  • Pertukaran dan kunjungan para ahli
  • Layanan dan sumber daya perpustakaan seperti bertukar daftar bahan perpustakaan dan bahan perpustakaan
  • Pelatihan, lokakarya, pameran, seminar dan konferensi antarperpustakaan
  • Kolaborasi dalam penelitian.

Pada kesempatan tersebut, Syarif Bando juga mengundang Perpustakaan Nasional Iran untuk menyelenggarakan pameran di Perpusnas.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran sudah berlangsung selama 70 tahun terakhir. Selama tujuh dekade ini, kerja sama di berbagai bidang dibangun menggunakan kemampuan satu sama lain untuk mencapai kepentingan bersama.

Advertisement

Internasional

Indonesia Pertanyakan Alasan Arab Saudi Larangan Warganya Kunjungi Tanah Air

Published

on

Ilustrasi hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi

Kementerian Luar Negeri akhirnya buka suara mengeni larangan Pemerintah Arab Saudi kepada warganya yang ingin pergi ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Kemlu RI, Teuku Faizayah. Dia menyatakan, Indonesia telah meminta pemerintahan Raja Salman meninjau kembali aturan tersebut menyusul kondisi Covid-19 di RI yang terus membaik.

“Kemlu sudah menyampaikan ke pihak Saudi untuk meninjau kebijakan tersebut karena kondisi di Indonesia sudah jauh lebih baik, bahkan jika dibandingkan dengan beberapa negara Barat sekalipun,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Meski demikian, Faizasyah engaku belum mendapat info terbaru terkait apakah Saudi telah merespons permintaan Indonesia itu.

Arab Saudi diketahui melarang warga negaranya bepergian ke 16 negara termasuk Indonesia.

Menurut laporan Saudi Gazette, selain Indonesia, Saudi melarang warganya pergi ke Lebanon, Suriah, Turki, Iran, Afghanistan, India, Yaman, Somalia dan Ethiopia.

Saudi juga melarang warganya berpelesir ke Republik Demokratik Kongo, Libya. Vietnam, Armenia, Belarus dan Venezuela.

Sementara itu, kasus Covid-19 di Indonesia tampak menurun dibanding pada Februari lalu.

Kasus Covid-19 di Indonesia dalam sepekan rata-rata tercatat 263 kasus baru per hari.

Continue Reading

Internasional

Arab Saudi Mendadak Larang Warganya ke Indonesia, Ada Apa?

Published

on

By

Arab Saudi Mendadak Larang Warganya ke Indonesia

Kini warga Arab Saudi dilarang untuk ke Indonesia. Hal ini berdasarkan dengan pengumuman Direktorat Jenderal Paspor (Jawazat) setempat pada Sabtu (21/5/2022).

Diketahui alasan dari itu semua, yakni terkait kasus Covid-19. Bahkan tidak hanya Indonesia saja, melainkan 15 negara lain juga termasuk.

Mengutip dari laman media Saudi Gazette pada Senin (23/5/2022) Jawazat mengatakan bahwa, “Warga negara Arab Saudi dilarang bepergian ke 16 negara karena kasus Covid-19 di negara-negara tersebut.”

“Daftar negara tersebut antara lain Lebanon, Suriah, Turki, Iran, Afghanistan, India, Yaman, Somalia, Ethiopia, Republik Demokratik Kongo, Libya, Indonesia, Vietnam, Armenia, Belarusia dan Venezuela” lanjutnya.

Baca Juga:

  1. Tak Main-Main, Israel Simulasi Serangan Militer Besar-besaran ke Iran
  2. Ambang Kehancuran Meksiko
  3. Kibarkan Bendera LGBT, Menlu Retno Marsudi Panggil Kedubes Inggris

Aturan baru soal masa berlaku paspor warga negeri Raja Salman pun yang ingin bepergian baik ke negara Arab atau non Arab juga diumumkan oleh Jawazat. Jadi bukan hanya soal larangan berpergian saja.

Di mana untuk ke negara Arab, masa berlaku paspor harus lebih dari tiga bulan. Sementara ke negara non Arab, masa berlaku paspor harus lebih dari enam bulan.

Berlaku juga hal yang sama bagi warga negara yang melakukan perjalanan ke negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Di mana harus lebih dari tiga bulan untuk masa berlaku identitas.

Di sisi lain, harus telah menerima tiga dosis vaksin corona atau tidak melewati tiga bulan setelah suntikan dosis kedua vaksin bagi warga Arab Saudi yang berpergian ke luar kerajaan. Bahkan dua dosis vaksin juga diharuskan terhadap anak di bawah 16 dan 122 tahun.

“Akan ada pengecualian untuk kelompok-kelompok yang telah diberikan pengecualian, dengan alasan medis sesuai dengan status pada aplikasi Tawakkalna,” ucap badan tersebut.

Continue Reading

Internasional

Kibarkan Bendera LGBT, Menlu Retno Marsudi Panggil Kedubes Inggris

Published

on

Kedubes Inggris kibarkan bendera LGBT

Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia (RI), Retno Marsudi, memanggil pihak Kedutaan Besar Inggris terkait pengibaran bendera LGBT di kedubes mereka yang bertepatan dengan Hari Anti-Homofobia pada 17 Mei lalu.

“Kementerian Luar Negeri akan meminta klarifikasi kepada Duta Besar Inggris di Jakarta atas kejadian ini. Menlu RI telah meminta pejabat terkait memanggil Dubes Inggris,” kata Juru Bicara Kemlu Teuku Faizasyah.

Kemenlu menyatakan, pengibaran bendera LGBT seperti itu dan mempublikasikannya bentuk sikap tidak sensitif dari Kedubes Inggris terhadap Indonesia.

Baca Juga:

  1. Gandeng Pemprov DKI, WIR Group Kembangkan Metaverse Jakarta
  2. Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse
  3. Rusia Uji Coba Rudal Antar Benua, Putin: Musuh Pasti Bakal Was-Was

“Tindakan tersebut, disertai mempublikasikannya melalui akun resmi sosial media Kedubes Inggris [Instagram @ukindonesia], sangatlah tidak sensitif dan menciptakan polemik di tengah masyarakat Indonesia,” kata Faizasyah.

“Kementerian Luar Negeri mengingatkan perwakilan asing untuk dapat menjaga dan menghormati sensitivitas nilai budaya, agama, dan kepercayaan yang berlaku di Indonesia,” tegas dia.

Kedutaan Besar Inggris di Jakarta mengibarkan bendera LGBT dalam rangka melawan homofobia. Pengibaran bendera LGBT bertepatan pada Hari Anti-Homofobia di dunia yang diperingati setiap tanggal 17 Mei.

Dalam unggahan tersebut, Kedubes Inggris menyatakan hak LGBT+ adalah bagian hak asasi manusia. Kerajaan Bersatu (United Kingdom) juga berjanji akan terus mendukung hak tersebut.

“UK bersikap bahwa hak LGBT+ adalah hak asasi manusia yang fundamental. Cinta itu tak ternilai. Semua orang, di mana pun, harusnya bebas untuk mencintai siapa yang mereka cintai dan mengekspresikan diri mereka tanpa takut kekerasan atau diskriminasi. Mereka seharunya tak perlu merasa malu atau merasa bersalah karena menjadi diri mereka sendiri,” tulis postingan @UKinIndonesia.

Continue Reading

Trending