Connect with us

Teknologi

Perempuan Sama Baiknya Membaca Maps dengan Laki-laki

Published

on

mycity.co.id – Perempuan tidak bisa baca maps? Kerap kali pernyataan ini membuat perempuan selalu salah ketika membaca maps bila disandingkan dengan para lelaki. Padahal dikenyataannya baik perempuan maupun laki-laki ternyata memiliki kemampuan yang sama dalam membaca maps.

Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Psychological Science pada 2016, secara historis, laki-laki memiliki kemampuan spasial yang rata-rata lebih baik dari perempuan. Namun, masih ada hal hal yang juga harus diperhatikan.

Baca juga: Indonesia Kembali Tertinggal, India Punya Teknologi Pengganti GPS!

Dilansir mycity.co.id dari huffpost.com, Margaret Tarampi dari University of California-Santa Barbara bersama tim kemudian melakukan studi mereka sendiri. Dalam studi itu, mereka menemukan kemampuan membaca peta atau maps ternyata bisa dipengaruhi oleh berbagai hal dengan salah satunya adalah stereotip.

Yang mana stereotip perempuan lebih susah membaca maps ketimbang laki-laki, membuat perempuan merasa buruk dalam hal tersebut. Hal itu yang kemudian mengakibatkan perempuan memiliki kemampuan yang tidak berfungsi dengan baik.

Baca juga: Bukan Azab Kubur! Teknologi Kian Maju, Pelayat Bisa Ngobrol dengan Orang Meninggal

Margaret dan tim menguji dua terori ini pada mahasiswa di UCSB melalui tiga eksperimen terpisah. Hasilnya adalah, pria mendapat niali lebih baik dari perempuan hanya saat para peneliti memaparkan stereotip superioritas pria itu sebelum melakukan tes.

Meski begitu, saat mereka tidak menyebutkan stereotip tersebut dan memberikan konteks sosial untuk membaca maps, nilai perempuan justru meningkah secara keseluruhan. Perempuan pun tampil lebih baik ketika maps menyuguhkan figur manusia, bukan hanya objek maupun bangunan acak.

Baca juga: Rajata, Drone Kamikaze Perpaduan Teknologi Aerodinamik dan Explosive

“Ketika kami memberi tahu peserta bahwa ini adalah ujian pengambilan perspektif dan pengambilan perspektif adalah tentang empati, maka dalam hal ini perempuan melakukan hal yang sama dengan laki-laki,” kata Margaret.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa, stereotip budaya bisa menyebabkan perempuan benar-benar kehilangan fungsi membaca peta dengan baik. Sebab pada intinya, perempuan atau laki-laki memiliki kemampuan membaca yang sama-sama pandai.

Advertisement

Teknologi

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi

Published

on

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi/Antara

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi/Antara

mycity.co.idPihak kepolisian menyatakan perkembangan teknologi kamera ETLE yang digunakan untuk melakukan tilang elektronik. Kini pihak kepolisian diketahui tengah membuat fungsi kamera tersebut agar menjadi lebih canggih.

Selama ini, Kamera ETLE hanya memiliki fungsi untuk mengetahui pelanggaran lalu lintas berdasarkan pelat nomor kendaraan pelaku.

Tetapi, teknologi kamera ETLE tengah dikembangkan untuk kemampuan lebih canggih lagi.

Ke depannya kamera ETLE bisa mendeteksi alamat hingga status SIM pelanggar lalu lintas yang nantinya akan diincar oleh polisi.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Latif Usman menyatakan hal ini dimungkinkan berkat adanya teknologi baru bernama Face Recognition.

Teknologi baru ini akan mendeteksi wajah pengguna kendaraan lalu mencocokannya dengan data yang ada di dokumen kependudukan hingga kepengurusan SIM.

“Jadi nanti itu (ETLE) bisa nangkap wajah, namanya siapa, alamatnya di mana, punya SIM atau tidak,” ujar Latif Usman dikutip mycity.co.id dari NTMC Polri, Jumat (9/12/2022).

“Itu semua bisa terdeteksi gitu. Kamera ini sudah ada alatnya demikian,” paparnya.

Dengan kemampuan seperti itu, polisi hanya perlu bekerja sama dengan beberapa pihak untuk nantinya melakukan pencocokan data.

Data pelanggar lalu lintas bisa diketahui menggunakan dokumen Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).

“Jadi kami nanti kerja sama dengan Dukcapil. Nanti data orang akan berkembang dan dicari menggunakan face recognition,” pungkasnya.

Continue Reading

Teknologi

Satelit ICON Milik NASA Hilang Kontak, Belum Pasti Pulang ke Bumi

Published

on

Ilustrasi satelit. Satelit ICON milik NASA hilang kontak sejak akhir November lalu. Foto: AFP PHOTO / CNES

Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) kehilangan kontak dengan salah satu satelitnya bernama Ionospheric Connection Explorer (ICON). Satelit itu hilang kontak sejak 25 November dan tidak bisa lagi dilacak sejak saat itu.

“Tim saat ini masih bekerja untuk menjalin koneksi. Kami bekerjasama dengan Jaringan Pengawasan Luar Angkasa dari Departemen Pertahanan dan telah memverifikasi satelit itu tetap utuh,” tulis pernyataan resmi NASA seperti dikutip Space.

Satelit ICON sebenarnya memiliki ‘command loss timer’ yang didesain untuk mengatur ulang satelit itu jika tak merespon kepada tim kontrol di Bumi selama delapan hari. Akan tetapi, satelit tersebut tetap diam sejak pengaturan ulang tuntas pada Senin (5/12).

ICON merupakan satelit yang diluncurkan pada Oktober 2019 dan mengeksplorasi lapisan ionosfer Bumi yang belum pernah dilakukan satelit manapun sebelumnya. Ionosfer sendiri merupakan lapisan atmosfer Bumi yang membentang dengan jarak 80-640 kilometer.

Melansir Space News, satelit ICON berharga $252 juta atau Rp3,9 triliun. ICON dirancang untuk memelajari interaksi cuaca luar angkasa dengan cuaca terestrial di lapisan ionosfer.

Hal itu bertujuan memberi pemahaman lebih baik soal variasi di ionosfer. Salah satunya adalah pengukuran yang menunjukkan erupsi gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai pada Januari 2022 punya efek hingga lapisan ionosfer dan merusak gelombang listrik.

Lebar lapisan ionosfer memang secara teratur berganti karena merespon radiasi matahari. Pergantian itulah yang bisa berdampak kepada teknologi komunikasi.

ICON didesain untuk mengeksplorasi ionosfer hingga Desember 2021. Saat ini, ia masih dalam status menjalani misi perpanjangan. ICON juga akan menjadi bagian dari misi tinjauan heliofisik pada 2023 untuk menentukan apakah misi itu harus diperpanjang.

Namun NASA menemukan sejumlah masalah pada ICON antara lain dengan sistem aviasi dan sub sistem komunikasi frekuensi radionya. Belum diketahui apakah ICON akan pulang ke Bumi.

“Tim saat ini belum bisa menentukan kesehatan satelit itu dan kurangnya sinyal downlink bisa jadi indikasi kegagalan sistem,” kata tim NASA.nasa

Continue Reading

Teknologi

Gandeng Google, Pemprov DKI Atur Kemacetan Pakai Kecerdasan Buatan

Published

on

Pemprov DKI Jakarta menggandeng Google untuk membuat kecerdasan buatan guna mengatur lalu lintas. (detik)
Pemprov DKI Jakarta menggandeng Google untuk membuat kecerdasan buatan guna mengatur lalu lintas. (detik)

mycity.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerjasama dengan Google untuk mengatur lalu lintas ibu kota dengan teknologi kecerdasan buatan.

Hal itu diungkapkan Kepala Unit Pengelola Sistem Pengendalian Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Emanuel Kristanto.

Emanuel menyebut kedua pihak telah menandatangani nota kesepahaman pada November 2022 bertajuk proyek Green Light.

“Kami tengah bekerjasama dengan google indonesia untuk optimasi traffic light di persimpangan. Mereka akan gunakan teknologi AI,” ujar Emanuel kepada wartawan, Jumat (9/11/2022).

Emanuel menyatakan AI dari Google dapat melakukan analisa mengenai kepadatan lalu lintas secara langsung atau real time.

Data analisa tersebut nantinya akan dikirimkan ke Dishub untuk dijadikan pengaturan waktu lambu lalu lintas di persimpangan.

Durasi lampu lalu lintas akan berbeda tiap jam dan berdasarkan kondisi kepadatan kendaraan yang melintas. Proyek ini, kata Emanuel, rencananya akan mulai diterapkan pada tahun 2023.

“Secara garis besar Google akan menggunakan teknologi AI mereka untuk menganalisa volume lalu lintas di persimpangan dan merekomendasikan waktu nyala hijau yang optimal di masing-masing kaki persimpangan,” jelasnya.

Continue Reading
Advertisement

Trending