Connect with us

COVID-19Update

Perbedaan Vaksin Nusantara dengan Vaksin Covid-19 Lain

Published

on

Vaksin Nusantara yang diprakarsai oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ini menjadi bahan perbincangan pasalnya vaksin ini diklaim lebih baik dibanding vaksin lain.

Meski sudah disuntikkan kepada relawan namun vaksin Nusantara masih belum lolos uji klinis oleh BPOM. Vaksin Nusantara saat ini masih terus dikembangkan oleh para ahli sampai bisa disebarkan ke masyarakat.

Ketua tim Laboratorium Professor Nidom Foundation (PNF) Nidom menjelaskan vaksin konvensional secara umum disuntikkan ke seseorang dengan antigen (virus inaktif atau subunit protein). Kemudian tubuh dibiarkan melakukan proses pembentukan antibodi.

Perbedaan vaksin ini dari vaksin umumnya terletak pada motor aktivitasnya yang tidak
gunakan antigen (virus inaktif atau subunit protein si virus). Vaksin Nusantara memanfaatkan sel dendritik yang dipanen dari darah, tapi bisa diambil juga dari sumsum tulang, si pasien yang akan disuntikkan vaksin.

Baca Juga :

  1. Ledakan Keras Terdengar, Margo City Depok Ambruk
  2. Stop Kasus Mural “404 Not Found”, Polri: Mural Itu Ekspresi Seni Dari Masyarakat
  3. Dedi Mulyadi Geram Soal Prilaku Buzzer Sok Pancasilais dan Agamis

Seperti yang telah dilakukan oleh vaksin Sinovac yang telah didistribusikan di negara lain. Vaksin Nusantara berbeda vaksin ini berbasis sel dendritik sebagai pabrik antibody, sel tersebut dirangsang diluar lalu disuntikan ke seseorang, sel dendrintik ini diharap akan memproduksi antibody yang menetralisir virus yang menginfeksi.

Vaksin Nusantara, antigennya merupakan produksi perusahaan AS, LakePharma. Prosesnya berawal dari pengambilan darah pasien. Lalu, sel darah putih dikenalkan dengan rekombinan SARS-CoV-2 alias Covid-19. Proses ini memakan waktu tiga hari sampai seminggu. Setelah itu, hasilnya disuntikkan kembali ke dalam tubuh pasien.




COVID-19Update

Kasus Omicron Pertama Tanpa Perjalanan ke Luar Negeri Ditemukan di Jerman

Published

on

Covid-19 Jerman
Covid-19 Jerman

Pemerintah Jerman melaporkan satu kasus Covid-19 varian Omicron tanpa riwayat perjalanan. Pasien yang terpapar varian ini diketahui tak melakukan perjalanan ke luar negeri dalam beberapa pekan terakhir.

Seperti dinukil dari CNN International, Selasa (30/11/2021), orang yang terpapar Varian Omicron adalah pria berusia 39 tahun. Dia tinggal di wilayah Leipzig, Jerman Timur.

Pria ini menjadi kasus varian Omicron pertama di Jerman yang terkonfirmasi tidak memiliki riwayat perjalanan. Direktur Departemen Kesehatan Leipzig, Regine Krause-Doring, menyebut pria 39 tahun itu diketahui tidak bepergian ke luar negeri dalam beberapa waktu terakhir dan tidak juga melakukan kontak dekat dengan siapapun yang baru saja pergi ke luar negeri.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Hingga kini Departemen Kesehatan Jerman belum mengetahui secara pasti penularan Varian Omicron pada kasus terbaru ini. Di sisi lain, ini menjadi kasus keempat Varian Omicron yang ditemukan di wilayah Jerman.

Dua kasus varian Omicron lainnya adalah merupakan kasus varian Omicron pertama di Jerman. Kasus ini terdeteksi di Munich dan satu kasus lainnya terdeteksi di wilayah Hesse.

Baik dua orang yang terinfeksi varian Omicron di Munich maupun satu orang yang terinfeksi varian Omicron di Hesse sama-sama diketahui baru tiba dari Afrika Selatan.

Usai mendeteksi kasus varian Omicron di wilayahnya, otoritas Jerman mengklasifikasikan Afrika Selatan sebagai ‘area varian virus’ dan memberlakukan pembatasan perjalanan udara dari negara tersebut mulai Minggu (28/11/2021) waktu setempat.

Itu berarti maskapai-maskapai penerbangan hanya bisa menerbangkan warga negara Jerman saja untuk pulang dari Afrika Selatan, dengan mereka yang baru tiba diwajibkan menjalani karantina selama 14 hari.

Continue Reading

COVID-19Update

Varian Covid-19 Omicron Hantui Dunia, Ini Strategi Jokowi

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Dunia saat ini dihantui oleh varian baru Cvid-19 bernama Omicron. Terkait hal itu, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), menegaskan semua pihak untuk waspada.

“Kita harus tetap waspada karena pandemi belum berakhir dan di tahun 2022, pandemi COVID-19 masih menjadi ancaman dunia dan juga ancaman bagi negara kita Indonesia,” kata Jokowi dalam kegiatan penyerahan DIPA dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Desa Tahun 2022 seperti ditayangkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (29/11/2021).

Jokowi juga menyadari sejumlah negara yang telah ditemukan varian Omicron. Jokowi meminta penanganan dilakukan sedini mungkin agar varian tersebut tak masuk ke Indonesia.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Selain varian lama, di beberapa negara telah muncul varian baru, varian Omicron yang harus menambah kewaspadaan kita. Antisipasi dan mitigasi perlu disiapkan sedini mungkin agar tidak mengganggu kesinambungan reformasi struktural yang sedang kita lakukan, serta program pemulihan ekonomi nasional yang sedang kita laksanakan,” ujar Jokowi.

Jokowi berpesan agar seluruh elemen tetap bersiap diri menghadapi risiko pandemi COVID-19. Semua negara di seluruh dunia masih dibayangi pandemi.

“Ketidakpastian di bidang kesehatan dan perekonomian harus menjadi basis kita dalam membuat perencanaan dan melaksanakan program,” Jokowi mengakhiri.

Continue Reading

COVID-19Update

WHO Soroti Kasus Covid-19 di DKI Jakarta, Ada Apa?

Published

on

logo WHO

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti kasus Covid-19 di DKI Jakarta. Ada apa?

Pada laporan yang dirilis Rabu (24/11/2021), WHO menyoroti kenaikan kasus yang cukup tinggi terhadap pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Laporan WHO menyebutkan ada kenaikan 10% dalam kurun waktu sepekan pada kasus rawat indap hingga 21 November.

“Pada 21 November, jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan dirawat di rumah sakit di DKI Jakarta adalah 200, sedikit meningkat dari 180 kasus satu minggu sebelumnya,” demikian keterangan dari WHO.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Meski ada kenaikan pada pasien rawat inap, dalam laporan yang sama disebutkan jumlah kasus isolasi mengalami penurunan. Jumlahnya pun menurun cukup signifikan dari 514 kasus menjadi 296 kasus di minggu ini.

“Pada saat yang sama periode waktu, jumlah kasus yang dilaporkan dalam isolasi diri menurun dari 514 menjadi 296 kasus,” kata WHO.

Bukan hanya di DKI Jakarta, WHO juga memperingatkan wilayah lain yang juga mengalami kenaikan signifikan. Terdapat kenaikan kasus di beberapa titik karena ada peningkatan mobilitas masyarakat.

Peningkatan signifikan terjadi di seluruh provinsi Pulau Jawa yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten.

“Peningkatan signifikan dalam mobilitas masyarakat di ritel dan rekreasi diamati di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten, di mana tingkat mobilitas pra-pandemi telah tercapai,” jelas WHO.

Angka positivity rate Indonesia dilaporkan konsisten di bawah 2% selama sembilan minggu terakhir. Artinya laju penularan virus masih berada pada risiko terendah.

Seluruh provinssi Indonesia juga masih ada di level 1 dalam pemantauan hingga 15 November lalu, ungkap WHO.

WHO mengingatkan untuk Indonesia bisa mempertahankan standar testing. Yakni sebanyak 1:1.000 populasi, dengan begitu dapat melihat risiko penularan.

Continue Reading

Trending