Connect with us

Properti

Penjualan Properti di Surabaya Melonjak Pesat

Published

on

Amesta Living
Amesta Living

Produk rumah tapak masih sangat digemari termasuk di wilayah Surabaya. Amesta Living di Surabaya Timur bisa menjual ratusan unit hanya dalam waktu satu hari saat acara peluncurannya. Hal ini membuat pengembang kembali membuka blok baru untuk merespon permintaan yang tinggi tersebut.

Kawasan terpadu Amesta Living di Gunung Anyar, Surabaya, Jawa Timur, meraih sukses penjualan sejak dipasarkan akhir tahun lalu. Perumahan hasil pengembangan PT Graha Abdael Sukses yang merupakan kolaborasi antara PT Intiland Development Tbk dan PT Abdael Nusa ini membuka tambahan satu blok baru untuk memenuhi tingginya minat konsumen.

Menurut Direktur Pemasarn Intiland untuk Surabaya Harto Laksono, saat diluncurkan akhir tahun lalu Amesta Living berhasil memasarkan sebanyak 259 unit rumah hanya dalam waktu satu hari acara launching. Dari transaksi saat launching ini perusahaan meraih pendapatan marketing sales senilai Rp318 miliar.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

“Kami sendiri sudah memperkirakan kalau penjualan perdana ini akan sukses karena berbagai keunggulan konsep Amesta yang ditawarkan. Ternyata minat konsumen melebihi ekspektasi hingga melampaui target yang ditetapkan dari hanya menawarkan 200 unit bisa terserap 259 unit,” ujarnya.

Karena itu dibuka satu blok baru untuk memenuhi ekspektasi konsumen ini. Amesta Living merupakan kawasan mixed use seluas 60 hektar yang lokasinya sangat strategis berada di titik nol Outer East Ring Road (OERR) atau Jalan Lingkar Luar Timur Surabaya. Bukan hanya residensial, kawasannya juga menyediakan SOHO, ritel, komersial, hingga lifestyle mall.

Proyek ini diperkenalkan pada bulan November 2021 untuk merespon pesatnya pengembangan kawasan Surabaya bagian timur. Konsep, fasilitas, lokasi strategis, hingga segmen harga yang tepat membuat proyek ini begitu diminati oleh konsumen. Respon yang sangat baik ini juga menjadi pondasi baru bagi perusahaan untuk terus memperkuat pangsa pasar pengembangan kawasan terpadu di Surabaya Timur.

Direktur PT Graha Abdael Sukses Hans Wibisono menambahkan, hasil penjualan yang sangat baik ini menjadi capaian yang luar biasa di tengah situasi pandemi Covi-19. Di sisi lain, hal ini juga menjadi indikator minat konsumen yang mulai pulih dan bisa dijadikan momentum untuk terus melahirkan optimisme di sektor properti.

“Selain rekam jejak pengembang, konsep kawasan, lokasi strategis, dan keterjangkauan harga, membuat Amesta Living yang menyasar segmen harga mulai Rp800 jutaan bisa mendapatkan tempat untuk kembali menggairahkan pasar. Konsumen akan mendapatkan rumah yang nyaman di dalam lingkungan asri dengan beragam fasilitas yang juga membuat produk ini sebagai investasi yang menarik,” katanya.

Amesta Living memasarkan rumah dua lantai dengan tipe 54/40, 63/60, 72/60, dan 75/71. Pembangunan tahap pertama meliputi 300 unit rumah yang akan dilaksanakan pada triwulan kedua 2022 dengan proses serah terima triwulan ketiga 2023. Kelebihan lain Amesta Living kawasannya dikelola oleh property management profesional Provest. Kawasannya juga menyediakan berbagai ekosistem untuk untuk membuat penghuni saling terkoneksi dan berkolaborasi dengan fasilitas komersial, pendidikan, social living, area publik seluas 8.500 m2 dan Community Center seluas 2.000 m2.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Properti

Kabar Baik, BTN Tingkatkan Pembiayaan KPR untuk Pekerja Informal

Published

on

Ilustrasi Properti
Ilustrasi Properti

Bank BTN akan lebih fokus menyalurkan KPR untuk kalangan pekerja informal menggunakan skema BP2BT. Pekerja informal menjadi fokus Bank BTN karena potensinya sangat besar bahkan lebih banyak dibandingkan pekerja formal.

Indonesia merupakan pasar yang sangat besar untuk sektor properti yang ditopang dari besarnya populasi anak muda dan keluarga muda. Hal ini membuat kebutuhan rumah pertama selalu dicari dan pasar besar ini menjadi jaminan betapa sustain-nya bisnis properti di negeri ini.

Di sisi lain, aksesibilitas pembiayaan bank masih berkutat pada kalangan pekerja formal karena lebih mudah untuk dilakukan penilaian kelayakannya. Sementara itu ada potensi pembiayaan dari kalangan pekerja informal di Indonesia juga sangat besar bahkan jauh lebih besar dibandingkan pekerja formal.

Baca Juga:

  1. Inilah 6 Pasar Tertua di Indonesia
  2. Gunung Semeru: Tempat Bersemayam Para Dewa & Catatan Sejarah Panjang Letusannya
  3. Jejak Peradaban Sejarah Berusia Ribuan Tahun di Ibu Kota Negara Baru

Hal ini disadari oleh Bank BTN dan bank yang fokus dalam pembiayaan perumahan ini terus mencari cara untuk bisa menyalurkan pembiayaan kepada kalangan pekerja informal. Menurut Kepala Divisi Subsidized Mortgage Lending Bank BTN M. Yut Penta, realisasi KPR untuk sektor pekerja informal baru tergarap sekitar 12 persen oleh Bank BTN.

“Makanya untuk tahun 2022 ini kami akan terus tingkatkan penyaluran KPR untuk pekerja informal karena pasarnya sangat besar dan potensial. Dibutuhkan strategi yang tepat untuk bisa terus mendorong realisasi penyaluran pembiayaan dari segmen pekerja informal ini,” ujarnya.

Bila melihat data penyaluran KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (PPDPP) yang tahun lalu disalurkan oleh Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP), untuk sektor pekerja informal baru tesalurkan sebesar 9,88 persen atau setara 17.666 orang tahun 2021 lalu.

Untuk itu Bank BTN akan mendorong pembiayaan perumahan bagi pekerja informal melalui skema KPR subsidi Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). Dengan skema ini kalangan pekerja informal diharuskan menabung terlebih dulu 6-12 bulan sehingga bank bisa menilai kelayakan maupun kemampuan mencicilnya.

“Tahun lalu kami menyalurkan KPR BP2BT mencapai 10.968 debitur dan ini yang akan terus ditingkatkan. Tahun lalu skema KPR subsidi BP2BT ini juga belum spesifik untuk pembiayaan kalangan pekerja informal tapi tahun ini sesuai dengan arahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kami akan dorong BP2BT ini untuk pekerja informal,” imbuhnya.


Continue Reading

Properti

Keren, Bakal Ada Hotel di Rest Area Jalan Tol Trans Jawa

Published

on

Hotel di Rest area trans jawa
Hotel di Rest area trans jawa

Untuk meningkatkan pelayanan dan fasilitas di area jalan tol, PT Jasamarga Related Business menggandeng Omega Hotel Management untuk menghadirkan fasilitas hotel di berbagai rest area jalan tol. Tahap awal ini terus dikaji hotel di Trans Jawa sehingga pengguna tidak perlu keluar tol bila hendak beristirahat.

Bisnis properti telah menarik minat banyak sektor usaha yang lain termasuk infrastruktur jalan tol. Perusahaan BUMN sektor jalan tol, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, melalui anak usahanya PT Jasamarga Related Business menggandeng Omega Hotel Management (Alfaland Group) untuk mengembangkan penginapan di rest area jalan tol.

Menurut Direktur Utama Jasamarga Related Business Cahyo Satrio Prakoso, kerja sama pengembangan rest area ini dilakukan setelah adanya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR) No. 28 Tahun 2021 tentang tempat istirahat dan pelayanan (TIP) atau rest area di jalan tol.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

“Melalui permen itu kualitas pelayanan bagi pengguna jalan tol bisa terus ditingkatkan dan kawasan rest area bisa dikembangkan dengan menambah fasilitas penunjang untuk kebutuhan pengguna jalan tol. Fasilitas penunjang itu bisa berupa sentra bisnis lokal, area logistik, kawasan industri, hingga destinasi penunjang wisata termasuk fasilitas penginapan,” ujarnya.

Untuk fasilitas penginapan atau hotel ini terus dikaji oleh PT Jasamarga Related Business dan Omega Hotel Management. Dari identifikasi awal, ruas jalan tol yang cocok untuk dikembangkan fasilitas hotel yaitu jalan tol Trans Jawa. Target pasar yang akan menggunakan sarana hotel ini pengguna jalan yang melakukan perjalanan menerus atau jarak jauh.

Pengguna jalan tol dari Merak menuju Semarang atau Surabaya maupun sebaliknya, selama ini harus keluar jalan tol untuk mendapatkan fasilitas penginapan. Kondisi jalan tol Trans Jawa yang panjang dan ramai, 85 persen rest area-nya dikelola oleh Jasamarga Related Business sehingga potensi untuk pengembangan fasilitas penginapan ini sangat terbuka.

“Tentu tidak menutup kemungkinan juga rest area yang kami kelola di luar tol Trans Jawa bisa ditambah dengan fasilitas penginapan. Kami juga sangat terbuka untuk rekanan maupun mitra strategis yang akan bekerja sama untuk memaksimalkan sumber daya yang dimiliki masing-masing pihak seperti yang kami lakukan dengan Omega Hotel Management,” imbuhnya.

Sementara itu Director of Operations Omega Hotel Management Aswin Drajat Sukrisna menuturkan, pihaknya akan terus berkarya dan berinovasi dengan menggandeng mitra potensial seperti Jasamarga Related Business. Hal ini juga bagian untuk mewujudkan perekonomian lewat sektor perhotelan dan pariwisata.

“Saat ini kami telah bersepakat untuk menghadirkan fasilitas hotel di tol Trans Jawa dan itu tentunya akan menambah daya tarik, kenyamanan, dan keamanan para bleisure (business & leisure) maupun travelers jalur darat. Kami juga membuka opsi untuk mengembangkan fasilitas ini di rest area di luar Trans Jawa,” bebernya.

Continue Reading

Properti

Plus & Minus Ruang Perkantoran di Masa Pandemi Covid-19

Published

on

Ruang perkantoran
Ruang perkantoran

Ruang perkantoran di Jakarta masih terus melakukan berbagai adaptasi terkait kendala karena pandemi Covid-19. Semua pihak harus menyesuaikan baik developer maupun owner dan di sisi lain situasi ini membuat ada berbagai kemudahan bagi pengguna baik sewa maupun beli (strate title).

Sektor perkantoran masih suffer di tengah situasi pandemi Covid-19 kendati berbagai adaptasi dan penyesuaian terus dilakukan. Suplai ruang perkantoran di Jakarta juga relatif tidak berubah khususnya untuk ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta seluas 6,96 juta m2 sementara di luar CBD 3,62 juta m2.

Menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia (CII), pada tahun 2022 ini akan ada tujuh perkantoran baru yang akan selesai dan menambah suplai ruang kantor baru di CBD seluas 350 ribu m2. Sementara itu area non CBD juga mendapatkan tambahan tujuh gedung baru yang akan menambah 200 ribu m2.

Baca Juga:

  1. Tren Baru, Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Tanah di Metaverse
  2. Elon Musk Akui Tak Tertarik dengan Metaverse
  3. Bill Gates: Bakal Banyak Orang Berkantor di Metaverse

“Situasi ini masih akan membuat pasokan ruang perkantoran baru sangat terbatas hingga tahun 2024 dan 2025 baik di CBD maupun non CBD. Sementara itu untuk tingkat hunian atau okupansi di CBD tercatat 78,4 persen atau turun sekitar 5 persen dibandingkan situasi sebelum pandemi tahun 2019 lalu,” katanya.

Untuk perkantoran di luar CBD tingkat huniannya tercatat 79,2 persen atau turun sekitar 3 persen dibandingkan situasi sebelum pandemi. Hal ini membuat beberapa perusahaan tidak memperpanjang masa sewanya atau beberapa lainnya melakukan downsizing atau mengurangi luasan kantornya.

Dari sisi pengguna, perusahaan di sektor tekonologi, produk konsumsi harian, logistik, telekomunikasi, serta instansi dan perusahaan yang berhubungan dengan pemerintah masih terlihat aktif mencari ruang kantor baru. Dengan adanya penambahan ruang perkantoran pada tahun 2022 ini juga akan kembali memicu penurunan tingkat hunian.

Beberapa strategi diterapkan perusahaan developer, pemilik gedung, maupun landlord. Salah satunya dengan terus memberikan berbagai insentif untuk menjaga tingkat keterisian gedung yang dikelolanya. Hal ini juga berimbas pada tarif sewa yang masih stagnan bahkan menurun maupun diskon yang relatif besar dari patokan price list.

Continue Reading

Trending