Connect with us

COVID-19Update

Penderita Covid-19 Kerap Alami Sesak Napas, Ini Penyebabnya

Published

on

Ilustrasi Pasien yang Terdampak Covid-19

Virus COVID-19 bisa berdampak pada semua organ tubuh. Meskipun penyakit ini tergolong menyerang sistem pernapasan, sesak napas menjadi salah satu dampak infeksi virus Corona yang harus diwaspadai.

Sebab, kesulitan bernapas, sesak napas, dan nyeri dada menjadi tanda-tanda COVID-19 menyebar cepat melalui saluran pernapasan. Selain itu, sesak napas juga sering menjadi tanda keparahan infeksi virus COVID-19.

Pada beberapa orang, gejala virus Corona yang ringan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, ada pula yang membutuhkan perawatan medis rumah sakit karena gejalanya cukup berat.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Intensitas sesak napas bisa menjadi berbeda-beda antara pasien COVID-19. Tapi umumnya, kondisi ini membuat orang merasakan sesak di dada atau terus terengah-engah setiap detiknya.

Dalam beberapa kasus, sesak napas juga dapat menyulitkan seseorang untuk mengambil napas panjang dan lega. Kondisi ini juga bisa berubah menjadi sensasi sesak atau nyeri mendadak, serta ketidaknyamanan ketika menghembuskan napas.

Meskipun kamu sering terengah-engah ketika melakukan aktivitas fisik berat, sesak napas bisa kamu rasakan ketika istirahat atau mengalami peradangan aktif akibat virus.

Gejala yang dialami pasien virus COVID-19 tergantung pada awal mula virus menginfeksi organ vital. Sesak napas misalnya, merupakan sensasi yang sulit dideteksi ketika terjadi peradangan dan gangguan pada fungsi paru-paru.

Karena virus Corona menyerang jaringan dan lapisan paru-paru, virus juga bisa menyebar dengan cepat dan merusak saluran udara. Sistem kekebalan tubuh akibat serangan virus juga akan melepaskan sel-sel yang menyebar bersamaan dengan peradangan sehingga menyulitkan seseorang bernapas.

Sesak nafas juga bisa mengganggu fungsi paru-paru dalam mengangkut nutrisi dan cairan penting, suplai oksigen, dan menyebabkan penumpukan racun yang bisa mengakibatkan komplikasi tambahan.

Kekurangan aliran oksigen juga dapat mempengaruhi aliran darah. Semua faktor ini menggabungkan kesulitan bernapas dan menyebabkan gejala pernapasan lainnya.

Masa inkubasi virus Corona COVID-19 antara 5 hingga 14 hari. Seseorang dapat mengalami gejala sesak napas pada 5 hingga 6 hari setelah timbulnya gejala virus Corona lain, meskipun sesak napas bukan menjadi gejala utamanya.

Namun, perlu dipahami bahwa sesak napas bisa menjadi tanda keparahan infeksi virus corona COVID-19 dan bisa menjadi indikator cepat kasus virus Corona ringan menjadi parah.

Beberapa faktor yang bisa menyebabkan infeksi virus Corona ringan berubah menjadi parah, termasuk orang dengan riwayat penyakit, obesitas, orang dengan gangguan pernapasan kronis, infeksi paru dan infeksi saluran pernapasan.

COVID-19Update

Kasus Omicron Pertama Tanpa Perjalanan ke Luar Negeri Ditemukan di Jerman

Published

on

Covid-19 Jerman
Covid-19 Jerman

Pemerintah Jerman melaporkan satu kasus Covid-19 varian Omicron tanpa riwayat perjalanan. Pasien yang terpapar varian ini diketahui tak melakukan perjalanan ke luar negeri dalam beberapa pekan terakhir.

Seperti dinukil dari CNN International, Selasa (30/11/2021), orang yang terpapar Varian Omicron adalah pria berusia 39 tahun. Dia tinggal di wilayah Leipzig, Jerman Timur.

Pria ini menjadi kasus varian Omicron pertama di Jerman yang terkonfirmasi tidak memiliki riwayat perjalanan. Direktur Departemen Kesehatan Leipzig, Regine Krause-Doring, menyebut pria 39 tahun itu diketahui tidak bepergian ke luar negeri dalam beberapa waktu terakhir dan tidak juga melakukan kontak dekat dengan siapapun yang baru saja pergi ke luar negeri.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Hingga kini Departemen Kesehatan Jerman belum mengetahui secara pasti penularan Varian Omicron pada kasus terbaru ini. Di sisi lain, ini menjadi kasus keempat Varian Omicron yang ditemukan di wilayah Jerman.

Dua kasus varian Omicron lainnya adalah merupakan kasus varian Omicron pertama di Jerman. Kasus ini terdeteksi di Munich dan satu kasus lainnya terdeteksi di wilayah Hesse.

Baik dua orang yang terinfeksi varian Omicron di Munich maupun satu orang yang terinfeksi varian Omicron di Hesse sama-sama diketahui baru tiba dari Afrika Selatan.

Usai mendeteksi kasus varian Omicron di wilayahnya, otoritas Jerman mengklasifikasikan Afrika Selatan sebagai ‘area varian virus’ dan memberlakukan pembatasan perjalanan udara dari negara tersebut mulai Minggu (28/11/2021) waktu setempat.

Itu berarti maskapai-maskapai penerbangan hanya bisa menerbangkan warga negara Jerman saja untuk pulang dari Afrika Selatan, dengan mereka yang baru tiba diwajibkan menjalani karantina selama 14 hari.

Continue Reading

COVID-19Update

Varian Covid-19 Omicron Hantui Dunia, Ini Strategi Jokowi

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Dunia saat ini dihantui oleh varian baru Cvid-19 bernama Omicron. Terkait hal itu, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), menegaskan semua pihak untuk waspada.

“Kita harus tetap waspada karena pandemi belum berakhir dan di tahun 2022, pandemi COVID-19 masih menjadi ancaman dunia dan juga ancaman bagi negara kita Indonesia,” kata Jokowi dalam kegiatan penyerahan DIPA dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Desa Tahun 2022 seperti ditayangkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (29/11/2021).

Jokowi juga menyadari sejumlah negara yang telah ditemukan varian Omicron. Jokowi meminta penanganan dilakukan sedini mungkin agar varian tersebut tak masuk ke Indonesia.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Selain varian lama, di beberapa negara telah muncul varian baru, varian Omicron yang harus menambah kewaspadaan kita. Antisipasi dan mitigasi perlu disiapkan sedini mungkin agar tidak mengganggu kesinambungan reformasi struktural yang sedang kita lakukan, serta program pemulihan ekonomi nasional yang sedang kita laksanakan,” ujar Jokowi.

Jokowi berpesan agar seluruh elemen tetap bersiap diri menghadapi risiko pandemi COVID-19. Semua negara di seluruh dunia masih dibayangi pandemi.

“Ketidakpastian di bidang kesehatan dan perekonomian harus menjadi basis kita dalam membuat perencanaan dan melaksanakan program,” Jokowi mengakhiri.

Continue Reading

COVID-19Update

WHO Soroti Kasus Covid-19 di DKI Jakarta, Ada Apa?

Published

on

logo WHO

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti kasus Covid-19 di DKI Jakarta. Ada apa?

Pada laporan yang dirilis Rabu (24/11/2021), WHO menyoroti kenaikan kasus yang cukup tinggi terhadap pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Laporan WHO menyebutkan ada kenaikan 10% dalam kurun waktu sepekan pada kasus rawat indap hingga 21 November.

“Pada 21 November, jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan dirawat di rumah sakit di DKI Jakarta adalah 200, sedikit meningkat dari 180 kasus satu minggu sebelumnya,” demikian keterangan dari WHO.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Meski ada kenaikan pada pasien rawat inap, dalam laporan yang sama disebutkan jumlah kasus isolasi mengalami penurunan. Jumlahnya pun menurun cukup signifikan dari 514 kasus menjadi 296 kasus di minggu ini.

“Pada saat yang sama periode waktu, jumlah kasus yang dilaporkan dalam isolasi diri menurun dari 514 menjadi 296 kasus,” kata WHO.

Bukan hanya di DKI Jakarta, WHO juga memperingatkan wilayah lain yang juga mengalami kenaikan signifikan. Terdapat kenaikan kasus di beberapa titik karena ada peningkatan mobilitas masyarakat.

Peningkatan signifikan terjadi di seluruh provinsi Pulau Jawa yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten.

“Peningkatan signifikan dalam mobilitas masyarakat di ritel dan rekreasi diamati di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten, di mana tingkat mobilitas pra-pandemi telah tercapai,” jelas WHO.

Angka positivity rate Indonesia dilaporkan konsisten di bawah 2% selama sembilan minggu terakhir. Artinya laju penularan virus masih berada pada risiko terendah.

Seluruh provinssi Indonesia juga masih ada di level 1 dalam pemantauan hingga 15 November lalu, ungkap WHO.

WHO mengingatkan untuk Indonesia bisa mempertahankan standar testing. Yakni sebanyak 1:1.000 populasi, dengan begitu dapat melihat risiko penularan.

Continue Reading

Trending