Connect with us

Nasional

Pemberitaan Media Soal BPJS Ketenagakerjaan Dinilai Masih Minim

Published

on

Anggota Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Ketenagakerjaan, Yayat Syaiful Hidayat.
Anggota Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Ketenagakerjaan, Yayat Syaiful Hidayat.

Anggota Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Ketenagakerjaan, Yayat Syaiful Hidayat, menilai pemberitaan media mengenai BPJS Ketenagakerjaan sejauh ini masih minim.

Yayat Syaiful Hidayat memaparkan hal itu dalam webinar bertajuk Diskusi Publik: Peran Media Dalam Mensosialisasikan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan hari ini, Selasa (28/12/2021).

“Media berfungsi sebagai corong apa yang terjadi di lapangan, sebagai kontrol kepada mereka yang diberi amanah. Media menjadi amat penting dalam menyajikan informasi ke publik yang benar-benar terjadi,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

“Saya meyakini kode etik jurnalistik selalu dipegang. Independesi tetap terjaga. Pola informasi tetap digalakkan demi mencegah hoaks, atau berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan,” dia menambahkan.

Untuk itu, Yayat berharap media menerapkan empat fungsi pers dalam memberitakan mengenai BPJS Ketenagakerjaan, yakni sebagai media informasi, media pendidikan, hiburan, dan sebagai media social control.

“Berita mengenai BPJS Ketenagakerjaan masih di bawah 20 ribu berita. Jadi, masih sangat minim sekali pemberitaan mengenai BPJS Ketenagakerjaan. Jika dihitung-hitung, maka dalam satu tahun, berita mengenai BPJS Ketenagakerjaan hanya satu berita per hari,” tegas dia.

Di sisi lain, Pemerintah melalui BPJS Ketenagakerjaan secara resmi akan program Jaminan Kehilangan Pekerjaan pada tahun 2022. Program ini dikhususkan bagi pekerja atau buruh yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Seperti dilansir dari situs resmi BPJS Ketenagakerjaan, Jaminan Kehilangan Pekerjaan atau disingkat JKP ini merupakan jaminan yang diberikan kepada pekerja atau buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja.

Nantinya pekerja atau buruh akan mendapatkan setidaknya tiga manfaat dari program ini. Ketiga manfaat tersebut yaitu uang tunai, akses informasi pasar kerja, hingga pelatihan kerja.

“Ini bukti kehadiran negara terhadap masyarakatnya. Masih banyak di tempat terpencil yang tidak tahu tentang BPJS Ketenagakerjaan. Para nelayan, tukang ojek, tukang becak butuh BPJS Ketenagakerjaan. Misalnya jaminan kecelakaan kerja (JKK), dijamin sampai dia benar-benar sembuh atau menurut dokter masih bisa dinayatakan sembuh,” tegas Yayat.

“Teman-teman nelayan, buruh tani, ojek yang rentan mengalami kecelakaan kerja perlu mengetahui ini. Teman-teman pers perlu menginformasikan persoalan-persoalan ini. BPJS Ketenagakerjaan BPJS ketenagakerjaan bukan hanya berbicara pekerja formal, para pekerja informal. Pers sebagai sarana komunikasi publik memiliki pengaruh kuat untuk melakukan framing terhadap permasalahan,” Yayat menutup.

Uraian tentang JKP tertuang dalam pasal 46A UU Cipta Kerja yang merevisi UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dalam pasal yang sama, disebutkan bahwa program Jaminan Kehilangan Pekerjaan ini akan dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Pada tahap awal, sumber pendanaan JKP berasal dari anggaran negara (pemerintah). Selanjutnya, sumber iuran JKP akan mengandalkan rekomposisi iuran program jaminan sosial dan dana operasional BPJS Ketenagakerjaan.

Nasional

Potensi Besar Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia

Published

on

By

Ilustrasi Pengembangan EBT

Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia cukup besar. Belum lama ini direktur EBT, dan Konservasi Energi pun menyampaikan data terbaru dari potensi EBT.

Pengembangan EBT sekarang mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006. Pepres tersebut membahas tentang kebijakan energi nasional. Pada tahun 2005, EBT berkontribusi dalam bauran energi primer nasional. Yaitu sebanyak 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%.

Pemerintah mengambil langkah untuk menambah kapasitas terpasang pembangkit listrik mikro hidro, menjadi 2,846 MW pada tahun 2025. Tahun 2020, kapasitas terpasang Bioma 180 MW, tahun 2024 terpasang surya 0,87 GW, dan pada tahun 2024 terpasang nuklir 4,2 GW. Sedangkan tahun 2025, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW. Sekitar 13,197 juta USD, untuk jumlah investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 yang diproyeksikan.

Untuk mengembangkan biomasa, pemerintah melakukan upaya dengan mendorong pemanfaatan limbah industri pertanian serta kehutanan sebagai sumber energi secara terintegrasi. Dengan kegiatan ekonomi masyarakat juga dapat mengintegrasi pengembangan biomassa, pengembangan pemanfaatan limbah termasuk sampah kota untuk energi, meningkatkan penelitian, dan juga mendorong pabrikasi teknologi konversi energi biomassa dan usaha penunjang.

Baca Juga:

  1. Kekuatan Militer Indonesia Nomor 1 di ASEAN
  2. Pemerintah Resmi Larang Ekspor Minyak Goreng & Kelapa Sawit
  3. Potensi Besar Budidaya Kakao Organik, Dulang Banyak Keuntungan

Kemudian untuk mengembangkan energi angin, upaya yang dilakukan mencangkup pengembangan energi angin untuk listrik dan non listrik (pemompaan air untuk irigasi dan air bersih). Selain itu, mendorong pabrikan memproduksi SKEA skala kecil dan menengah secara massal, serta skala kecil dan skala menengah untuk pengembangkan teknologi energi angin yang sederhana.

Selanjutnya, PLTS di perdesaan dan perkotaan yang merupakan hal yang dicangkup untuk pengembangan energi surya. Dengan memaksimalkan keterlibatan swasta, demi mendorong komersialisasi PLTS. Hal tersebut juga untuk menciptakan pola pendanaan yang efisien dengan melibatkan dunia perbankan, dan mengembang industri PLTS dalam negeri.

Setelah itu untuk mengembangkan energi nuklir, pemerintah mebngambil langkah sosialisai. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan penguasaan teknologi, dengan mendapatkan dukungan masyarakat, serta melakukan kerjasama dengan berbagai negara.

Terakhir untuk pengembangan mikrohidro yaitu dengan memaksimalkan potensi saluran irigasi untuk PLTMH, mengintegrasikan program pengembangan PLTMH dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Serta masih banyak lagi langkah-langkah yang dilakukan pemerintah, untuk pengembangan EBT yang sangat berpotensi.

Continue Reading

Nasional

Mengenal Ransomware Conti, yang Menyerang Data Bank Indonesia

Published

on

By

Ilustrasi Peretasan Data Ransomware Conti

Diketahui pada Desember 2021 lalu, ada upaya serangan ransomware conti pada Bank Indonesia. Hal tersebut pun dibenarkan oleh pihak Bank Indonesia.

Juru Bicara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Anton Setiawan mengatakan, insiden peretasan terjadi pada Desember 2021, Dikutip dari Kompas.id, Selasa (26/1/2022). Walau begitu, serangan itu tidak ada data yang berhasil diretas dan tidak ada data strategis pula yang terdampak.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, yang bernama Erwin Haryono mengatakan bahwa, “Bank Indonesia menyadari adanya upaya peretasan berupa ransomware pada bulan lalu. Tidak ada data yang diretas.”

Kemudian pada tanggal 17 Desember, Bank Indonesia telah melaporkan kasus ini ke Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi, pihak Bank Indonesia segera melakukan berbagai upaya pencegahan. Serangan ini membuat pihak mereka lebih berhati-hati, dan memberikan pengawasannya yang lebih.

Baca Juga:

  1. Impian Besar Erick Thohir untuk Desa Wisata Indonesia
  2. Jangan Khawatir, Perubahan Warna Pelat Kendaraan Gratis
  3. Pemerintah Resmi Larang Ekspor Minyak Goreng & Kelapa Sawit

Perangkat lunak perusak (malware), yang menargetkan perangkat keras untuk memperoleh informasi berharga pengguna, adalah pengertian dari Ransomware Conti itu sendiri. Selain itu juga, perangkat lunak perusak tersebut mengenkripsi semua data yang ditemukannya, lalu mengunci file yang memuat semua data yang didapat.

Ransomware-as-a-Service (RaaS), adalah jenis Conti Ransomware yang menyerang salah satu kantor cabang Bank Indoesia di Sumatera.

“Di mana Conti Ransomware bisa masuk ke komputer korban dengan cara penyebaran malware menggunakan teknik Spear-Phishing,” ucap Ruby, dikutip dari Kompas.id, Selasa (26/1/2022).

Di mana pelaku menggunakan komunikasi email berpura-pura menjadi orang tertentu (atau bagian kantor tertentu seperti HRD) dan menampilkan nama korban secara spesifik di email tersebut. Hal tersebut merupakan teknik dari Spear-Phising itu sendiri.

Kemudian ketika pelakau mengklik, ia akan menuju ke sebuah website palsu. Website ini hanya merupakan kedok untuk berpura-pura sebagai website resmi, seperti Login Page pada Microsoft 365 Online. Informasi username dan password akan diketahui pelaku, ketika ia meminta korban untuk memasukkan username dan password. Saat korban mengisinya dengan benar, pelaku telah berhasil menjalankan aksi jahatnya ini.

Setelah itu, pelaku melakukan penguncian kepada folder yang ada melalui enkripsi tertentu dan password yang hanya bisa diketahui pelaku, mereka melakukan pemerasan kepada institusi korbannya tersebut. Selanjutnya, agar folder pada komputer bisa diakses kembali, mereka meminta korban membayar sejumlah uang dengan nilai tertentu.

Continue Reading

Nasional

Kekuatan Militer Indonesia Nomor 1 di ASEAN

Published

on

By

Militer Indonesia

Negara dengan militer terkuat di Asia Tenggara atau ASEAN, di pegang oleh Indonesia. Pernyataan tersebut berdasarkan dengan data terbaru dari situs Global Fire Power.

Indonesia memiliki skor 0.2684 untuk bidang kekuatan militer, dilansir dari CNN berdasarkan data situs tersebut yang menyatakan hal demikian. Dengan begitu, Indonesia berada pada posisi paling atas sebagai negara dengan militer terkuat se-ASEAN. Untuk posisi nomor dua dinobatkan kepada Vietnam, dan peringkat ketiga di raih oleh Thailand.

Perhitungan skor, dihitung dari berbagai macam aspek kekuatan militer. Kemudian, oleh Global Fire Power dikalkulasikan menjadi indeks skor. Total keseluruhan personel TNI lebih dari 1 juta, dan yang masih aktif sebanyak 400 ribu orang. Dilihat dari jumlah pasukan militer tersebut, membuat Indonesia berada di peringkat ke-4 ASEAN.

Sedangkan total personel sebanyak 5,5 juta, dan yang masih aktif 482.500 dipegang oleh Vietnam. Sementara thailand, memiliki personel 701 ribu, dan untuk yang masih aktif sekitar 316 orang.

Baca Juga:

  1. Pemerintah Gelar Side Events G20, Promosikan Wisata dan Produk Lokal
  2. Pemerintah Gelar Side Events G20, Promosikan Wisata dan Produk Lokal
  3. Bertemu PM Singapura, Jokowi Bawa Pulang Investasi Rp131 Triliun

Indonesia memiliki beberapa keunggulan dalam sistem kemiliterannya. Maka dari itu, Indonesia berhasil menempati posisi paling utama. Seperti alutsista yang dimiliki Indonesia ada 458 pesawat, 15 jet tempur, 1 unit tank, 17 pesawat misi khusus, 41 pesawat pencegat, 38 pesawat penyerang,188 helikopter, dan 64 transportasi lain. Hal itu semua ada pada Angkatan Udara (AU) Indonesia.

Untuk Angkatan Lautnya sendiri (AL) mempunyai 179 kapal patroli, 24 kapal korvet, 7 kapal forgat, 5 kapal selam, dan 10 kapal ranjau. Sedangkan pada pos Angkatan Darat (AD) Indonesia memiliki 1.430 kendaraan berlapis baja, 332 tank, 63 proyektor roket, 366 artileri, dan 153 artileri lagi.

Sekitar Rp 130 miliar, dana anggaran militer Indonesia. Hal ini membuat Indonesia kalah, dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya dengan anggaran dana yang lebih besar. Bahkan Singapura memiliki dana anggaran sebesar Rp 151 miliar, yang artinya lebih besar dari Indonesia. Oleh sebab itu ia berada diurutan ke-5 di Asia Tenggara, dan peringkat 140 secara global.

Akan tetapi, ternyata negara Vietnam masih berada di bawah Indonesia dengan dana anggarannya yang hanya mencapai Rp 97 miliar saja. Hal ini membuat Indonesia masih unggul, dibandingkan dengannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil mengalahkan beberapa negara besar lainnya seperti Arab Saudi yang berada di peringkat ke-17, dan Australia yang menduduki urutan ke-19. Diketahui, Indonesia sendiri menduduki posisi ke-16 secara global.

Continue Reading

Trending