Connect with us

COVID-19Update

Pembekuan Darah Dikaitkan dengan Vaksin AstraZeneca, Ini Gejalanya

Published

on

Vaksin AstraZeneca

Beberapa waktu lalu, komite keamanan dari Badan Obat Eropa (EMA) mengeluarkan pernyataan resmi soal keterkaitan antara vaksin Corona AstraZeneca dan kejadian pembekuan darah. Kondisi ini memang bisa saja terjadi sebagai efek samping langka setelah pemberian vaksin.

Menanggapi ini, Kepala Eksekutif Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan (MHRA) Dr June Raine mengatakan memang ada bukti yang menguatkan hubungan antara vaksin Corona dengan pembekuan darah. Tetapi, menurutnya risiko itu sangat kecil.

Sementara itu, profesor neurologi klinis dari Institut Neurologi UCL, Prof David Werring, menekankan perlu lebih banyak penelitian lagi terkait kondisi tersebut. Terutama untuk mengetahui siapa saja yang paling berisiko mengalami pembekuan darah setelah divaksinasi hingga sebab-akibatnya.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

“Kami masih sangat membutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami individu mana yang memiliki risiko tinggi untuk mengalami pembekuan darah yang tidak biasa ini di otak, meski sangat jarang, seringkali bisa berakibat fatal,” jelas Prof Werring.

“Meskipun sebagian besar kasus terjadi pada wanita di bawah usia 60 tahun, ini bervariasi di berbagai negara dengan strategi vaksinasi yang berbeda, sehingga tidak memungkinkan faktor risiko tertentu (seperti usia atau jenis kelamin) untuk diidentifikasi,” lanjutnya.

Meski begitu, Prof Werring tetap menekankan agar program vaksinasi harus terus dilanjutkan. Tetapi, ia juga mengarahkan agar orang-orang tetap perlu mewaspadai gejala dari pembekuan darah, terutama di otak, yang mungkin terjadi.

Terkait pembekuan darah, Dr Raine juga menyebutkan beberapa tanda atau gejala yang bisa saja muncul, yaitu:

  • Sakit kepala: Sakit kepala parah yang terjadi secara tiba-tiba atau progresif.
  • Adanya masalah neurologis: Masalah neurologis yang dimaksud misalnya mengalami kelemahan di wajah, lengan, atau kaki. Selain itu, mengalami gangguan bicara atau penglihatan, kebingungan, kantuk, hingga kejang-kejang.
  • Sesak napas: Seseorang bisa mengalami sesak napas saat terengah-engah atau kesulitan untuk menghirup udara seperti biasanya.
  • Nyeri dan bengkak: Kondisi ini bisa terjadi pada kaki, yang terlihat membengkak atau memerah.

Prof Werring mengatakan jika mengalami gejala-gejala tersebut antara 4-21 hari setelah vaksinasi, segeralah mencari pertolongan medis untuk mengatasinya.

COVID-19Update

Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi

Published

on

By

Ilustrasi Omicron

Kementerian Kesehatan (Kemenkes), memperkirakan kasus Covid-19 Varian Omicron puncak gelombang pertamanya terjadi pada pertengahan Februari sampai awal Maret 2022.

Omicron merupakan nama dari jenis varian covid-19 yang sedang melanda Indonesia. Nama omicron itu sendiri berasal dari huruf ke-15 alfabet Yunani, dan merupakan variants of Concern (VOC) kelima yang diidentifikasikan oleh WHO.

Hal tersebut dipilih untuk menghindari pemberian nama berdasarkan lokasi di mana mereka pertama kali terdeteksi, sebab akan memunculkan diskriminasi dan stigmatisasi. Selain itu juga penggunaan nama omicron dinilai dapat diingat dan memudahkan setiap orang menyebutnya.

Wilayah Jabodetabek diperkirakan akan menjadi daerah yang tinggi untuk lonjakan kasus covid-19 jenis omicron ini, khususnya Jakarta. Disebabkan karena tingginya angka mobilitas di tempat tersebut, serta terlihat juga dari penularan varian omicron yang terdeteksi lebih banyak terjadi di sana.

Baca Juga:

  1. Tegas, Jokowi Minta Orang Tua Murid Tak Tanda Tangan Surat Tanggung Jawab Risiko Vaksinasi Covid-19
  2. Pandemi Covid-19, Biaya Bangun & Desain Kantor Naik 10%
  3. Jokowi Ungkap Kunci Sukses Berantas Covid-19 yang Tak Dimiliki Negara Lain

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg Widyawati, MKM dalam rilis resmi Kemenkes RI, Senin (17/1/2022) Mengatakan bahwa, “Mengingat dari hasil identifikasi Kemenkes, mayoritas transmisi lokal varian Omicron terjadi di DKI Jakarta, dan diperkirakan dalam waktu dekat juga akan meluas ke wilayah Bodetabek. Mengingat secara geografis daerah-daerah tersebut berdekatan dan mobilitas masyarakatnya sangat tinggi.”

Kekebalan imunitas masyarakat perlu dipertahankan agar tidak mudah tertular oleh varian omicron ini, Kemenkes pun turut memperhatikan hal teserbut dengan memprioritaskan wilayah Jabodetabek sebagai penerima vaksin booster.

Warga dihimbau agar tidak panik namun tetap waspada jika nantinya kasus varian omicron melonjak, Menkes berupaya untuk menangani kasus ini sebaik dan semaksimal mungkin.

Continue Reading

COVID-19Update

Kabar Baik, Studi Terbaru Menujukkan 3 Dosis Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Omicron

Published

on

Vaksin Sinovac
Vaksin Sinovac

Ada kabar baik soal varian Omicron bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya menggunakan vaksin Sinovac. Studi terbaru menunjukkan bahwa tiga dosisi CoronaVac memiliki antibodi untuk varian Omicron.

Seperti dilansir Resuters, Senin (17/1/2022), studi yang diterbiktkan bioRxiv yang diselenggarakan di China menunjukkan tingkat serokonversi atau perkembangan dari antibodi penetralisir terhadap Omicron meroket dari 3,3 menjadi 95 persen untuk rangkaian dua dan tiga dosis vaksin.

Studi tersebut dilakukan kepada 120 orang peserta riset. Tujuannya untuk meneliti respons imun CoronaVac.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Pada partisipan yang menerima tiga dosis, peneliti juga mengisolasi 323 antibodi monoklonal yang berasal dari memori sel B.

Setengahnya dilaporkan mengenali receptor binding domain (RBD) dan menampilkan bahwa sebagian dari mereka memberikan netralisasi pada SARS-CoV-2 variants of concerns (VOCs) atau Omicron.

Juru bicara Sinovac, Pearson Liu, menyatakan penelitian itu memberikan kepastian bahwa tipe vaksin dari virus yang nonaktif sebagai jenis vaksin yang paling banyak digunakan secara global, tetap efektif melawan Covid-19. Dia membandingkannya dengan jenis vaksin lain seperti mRNA.

“Hasil tersebut juga mendukung tiga dosis imunisasi untuk memastikan perlindungan terhadap Covid-19,” katanya lewat keterangan tertulis yang diterima Jumat, 14 Januari 2022.

Data terbaru itu muncul karena adanya penemuan yang menunjukkan bahwa satu bulan setelah dosis kedua, CoronaVac memberikan respon Sel-T yang lebih tinggi dibandingkan dengan vaksin jenis mRNA.

Hasil itu dianggap penting untuk mencegah penyakit serius, rawat inap, dan kematian, dan meng-counter temuan yang dipublikasikan pada Desember 2021 dari penelitian oleh beberapa fakultas kedokteran di Hong Kong yang menyebut hasil sebaliknya.

Saat ini Vaksin Sinovac, CoronaVac, telah disetujui untuk penggunaan darurat atau penggunaan pemasaran bersyarat oleh WHO dan badan pengawas obat lokal di lebih dari 50 negara dan wilayah.

Continue Reading

COVID-19Update

Bill Gates: Masyarakat Bakal Memperlakukan Covid-19 Bagai Flu Biasa

Published

on

Bill Gates

Pendiri Microsoft Bill Gates optimistis pandemi Covid-19 akan segera berakhir dan masyarakat akan memperlakukan virus ini bagaikan flu biasa.

Sejak pengujung tahun 2021, Bill Gates sudah yakin pandemi Covid-19 akan segera berakhir. Keyakinan Bill Gates berpedoman pada efektifnya vaksin dalam mencegah Covid-19.

Kini Gates duduk bersama secara virtual bersama Ketua Kesehatan Global di Universitas Edinburgh dan Direktur Program Tata Kelola Kesehatan Global Devi Sridhar untuk membahas fungsi sains di tengah pandemi dan apa yang Gates lihat pada masa mendatang

Kini Gates duduk bersama secara virtual bersama Ketua Kesehatan Global di Universitas Edinburgh dan Direktur Program Tata Kelola Kesehatan Global Devi Sridhar untuk membahas fungsi sains di tengah pandemi dan apa yang Gates lihat pada masa mendatang.

Percakapan selama 45 menit tersebut berlangsung di media sosial Twtitter dalam format tanya jawab.

Selama obrolan tersebut, pernyataan yang paling menonjol adalah komentar Gates tentang dua faktor utama yang hilang dalam vaksin yang ada saat ini.

“Vaksin yang kami miliki mencegah penyakit parah dan kematian dengan sangat baik, tetapi mereka kehilangan dua hal utama,” tulisnya.

“Pertama mereka masih membiarkan infeksi [‘menembus’] dan durasinya [perlindungan] tampaknya terbatas. Kami membutuhkan vaksin yang mencegah infeksi ulang dan memiliki durasi bertahun-tahun,” tambahnya.

Gates kemudian berbicara tentang kesulitan proses vaksinasi global yang luas, dia menjelaskan bahwa ketika vaksin pertama kali diluncurkan, mereka terbatas dan bergerak ke ‘negara-negara kaya.’

Namun sekarang masalahnya bukan pasokan melainkan logistik dan permintaan, seraya menyebut sistem perawatan kesehatan di negara-negara berkembang dan miskin sebagai ‘faktor pembatas.’

Sridhar kemudian bertanya kepada Gates tentang penyebaran teori konspirasi Covid-19 dan informasi yang salah, serta bagaimana dia menyarankan kita untuk memerangi itu.

“Media sosial tertinggal dalam upaya untuk mendapatkan informasi faktual – akan ada banyak perdebatan tentang bagaimana melakukannya dengan lebih baik pada hal itu,” katanya, seperti dikutip dari Entrepeneur.

“Orang-orang seperti Anda dan saya dan Tony Fauci telah menjadi sasaran banyak informasi yang salah. Saya tidak mengharapkan itu. Beberapa di antaranya seperti saya meletakkan chip di lengan tidak masuk akal bagi saya – mengapa saya ingin melakukan itu?” imbuhnya.

“Saya akan membuat lelucon tetapi akan dapat menyebabkan badai,” jawab Sridhar disertai dengan emoji tertawa.

Continue Reading

Trending