Connect with us

Market

Pekerja Lepas di Argentina Dibayar Pakai Kripto

Published

on

mata uang kripto

Argentina bersiap memasuki era pembayaran digital. Freelancer atau pekerja lepas di Argentina kini dibayar dengan menggunakan mata uang kripto.

Seperti dilansir dari bitcoin.com, Senin (14/3/2022), laporan berjudul “State of Global Hiring 2021” yang dibuat oleh Deel, sebuah perusahaan perekrutan global, telah menemukan orang Argentina, dan Amerika Latin pada umumnya, semakin fokus pada perusahaan dan pekerjaan internasional.

Laporan tersebut menjelaskan, ini kemungkinan merupakan akibat dari penurunan ekonomi dan pekerjaan lokal karena efek samping dari pandemi Covid-19.

Baca Juga:

  1. Presiden Ukraina: Rusia Tebar Teror Nuklir!
  2. Tentara Rusia Larang Ukraina Padamkan Kebakaran di Pembangkit Nuklir Terbesar di Eropa
  3. Gawat, Rusia Serang Pembangkit Nuklir Terbesar Eropa yang Ada di Ukraina

Namun, saat ini banyak perusahaan internasional mempekerjakan lebih banyak orang Argentina daripada sebelumnya. Ini telah menciptakan peningkatan upah orang Argentina dalam enam bulan terakhir, yang berpenghasilan 21 persen lebih banyak dengan bekerja di sektor pemasaran, produk, dan penjualan.

Cryptocurrency yang paling banyak digunakan untuk penarikan global adalah Bitcoin, dengan 63 persen transaksi menggunakannya, menurut laporan Deel.

Ethereum berada di tempat kedua yang jauh, hadir dalam 23 persen dari penarikan yang dilakukan. USDC, Solana, dan Dash juga digunakan secara marginal.

Sementara negara lain memiliki situasi hukum yang berbeda, di Argentina, menerima cryptocurrency telah menjadi penyelamat bagi banyak pekerja lepas, membantu mereka menjaga daya beli mereka dengan cara yang lebih efektif.

Platform lepas ini, bersama dengan kripto, juga dikatakan membuka pasar baru untuk pekerja seperti itu, yang sekarang dapat dipekerjakan di tingkat dunia dengan proses pembayaran yang disederhanakan.

Argentina saat ini berusaha untuk mengatur dan mengontrol dompet digital, karena bank sentralnya mengusulkan untuk memperkuat langkah-langkah yang harus diambil oleh penyedia layanan seperti Mercado Pago dan Uala terkait proses KYC.

Market

Mengenal CBDC Kripto, Mata Uang Digital dari Bank Sentral

Published

on

CBDC Kripto

Digitalisasi dalam bidang teknologi dan komunikasi memicu revolusi baru dalam berbagai dunia industri, tak terkecuali keuangan. Setelah menghadirkan beragam layanan digital, kini perbankan mesti menghadapi kehadiran aset kripto.

Seiring popularitasnya yang turut meningkat, nilai aset kripto pun kini makin diperhitungkan. Tidak sedikit orang yang akhirnya beralih ke aset kripto untuk investasi. Sementara yang lainnya mulai menggunakan aset kripto sebagai alat transaksi jual beli.

Kendati penggunaan aset kripto di Indonesia sebagai alat tukar dianggap ilegal. Nyatanya di banyak negara asing, sudah banyak merchant yang menambahkan aset kripto sebagai salah satu metode pembayaran. Bahkan Pemerintah Amerika Serikat kini telah mengeluarkan aset kripto berupa stablecoin bernama USDT yang mengacu pada harga dolar AS di pasar.

Baca Juga:

  1. Make Up ‘Nyebrang’ Sunburn Blush, Sempat Trending bikin Rias Wajah Makin Natural
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Mudah! Ini Cara Buat Air Mawar Di Rumah

Peningkatan minat masyarakat pada aset kripto membuat industri perbankan konvensional berjuang untuk mengendalikan aset kripto populer. Dua di antaranya adalah Bitcoin dan Ethereum. Sayangnya, kedua aset digital tersebut sudah dikenal luas sebagai cryptocurrency yang terdesentralisasi dan bebas regulasi.

Dalam operasinya pun, Bitcoin dan Ethereum berjalan di atas blockchain. Sehingga, konfirmasi transaksi yang dilakukan tidak tergantung pada satu pihak saja. Melainkan melalui proses mining yang berisi teka-teki operasi matematis rumit dan tentu saja persetujuan dari seluruh nodes yang terlibat.

Ketidakmampuan bank sentral atau otoritas pusat untuk mempengaruhi serta mengontrol Bitcoin dan Ethereum lantas membuahkan ide baru. Ide tersebut adalah membuat mata uang resmi dalam versi aset kripto. Cryptocurrency itu lantas akan bersifat sentralisasi. Sehingga diatur, dioperasikan, dan dikontrol oleh otoritas moneter masing-masing negara.

Sebelum membahas mengenai daftar negara yang mulai mengembangkan CBDC, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan konsep CBDC itu sendiri.

Sebagai mata uang digital, CBDC memiliki berbagai manfaat. Di antaranya memungkinkan proses transaksi menjadi lebih cepat, fleksibel dan berbiaya rendah, memudahkan sistem pengiriman uang di dalam dan antar negara, serta mendorong orang untuk dapat berdagang.

Layaknya angin segar, CBDC dapat menjadi pertanda baik bagi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Dikarenakan CBDC adalah mata uang digital, maka seluruh transaksi dapat dengan mudah untuk dilacak dan diverifikasi. Hal ini tentu akan memudahkan pemerintah untuk menemukan aktivitas yang mencurigakan atau ilegal.

Saat ini, pemerintah melihat CBDC sebagai sebuah inovasi keuangan yang bisa meringankan tugas negara dalam manajemen risiko dan memvalidasi berbagai investasi pada lembaga keuangan.

Kendala keamanan finansial yang kerap dialami oleh beberapa bank dan lembaga keuangan dapat ditingkatkan dengan mengimplementasikan CBDC. Uang CBDC dapat ditransfer menggunakan dompet digital (digital wallet) tanpa rekening bank atau negara tertentu dapat menggunakan bank sentral sebagai fasilitator.

Adapun fungsi nyata CBDC adalah dapat meminimalkan biaya pencetakan, pengangkutan, penyimpanan, dan pembuangan uang kertas yang cukup tinggi.

Di sisi lain, CBDC adalah subjek dari beberapa masalah keamanan dunia maya. Secara khusus, kehadiran CBDC dapat mengundang serangan siber yang membahayakan sistem pembayaran dan kliring.

Sebagai penemuan keuangan yang relatif baru, CBDC perlu usaha yang lebih dalam mempertahankan reputasi untuk keselamatan dan operasi bebas risiko. Untuk mengatasi masalah ini, sistem AML, CTF, dan KYC (Know Your Customer) CBDC harus diperketat semaksimal mungkin.

CBDC adalah mata uang digital yang mengandalkan sistem terpusat. Kendati begitu, masih banyak pihak yang mempertanyakan apakah pemerintah akan membocorkan data pengguna ke pihak lain atau apakah iklan politik akan muncul dari eksploitasi data atau tidak.

Persoalan ini adalah kekhawatiran CBDC lain yang perlu kamu waspadai. Mata uang versi kripto tersebutlah yang dikenal sebagai CBDC (Central Bank Digital Currency).

Berdasarkan data terakhir, sekitar 87 dari 195 negara di dunia telah mengeksplorasi CBDC. Masing-masing melalui tahapan eksplorasi yang berbeda, seperti Launched, Piloted, Development, Research, Inactive, Canceled, dan lain-lain.

CBDC menyediakan berbagai fungsi. Yang paling umum adalah ritel dan grosir. CBDC Ritel diterbitkan secara digital untuk transaksi yang melibatkan masyarakat dan usaha kecil. Sedangkan, CBDC Grosir diberikan kepada lembaga keuangan untuk menyelesaikan transaksi skala besar.

Continue Reading

Market

Keren, Singapura Mulai Terima Pembayaran dengan Kripto

Published

on

By

Ilustrasi Aset Kripto

Kini pembayaran dengan mata uang kripto atau cryptocurrency telah diterima oleh berbagai bisnis di Singapura. Diantaranya yaitu, e-retailer peralatan rumah tangga “&glazed”.

Bahkan &glazed menerima pembayaran menggunakan mata uang kripto sebelum memiliki opsi pembayaran tanpa uang tunai (cashless) yang sudah biasa ada di toko-toko, dikutip Channel New Asia (CNA) pada Kamis (19/5/2022).

Bitcoin, Ethereum, dan Litecoin merupakan sejumlah jenis cryptocurrency yang diterima untuk pembayaran di toko online mereka dari awal tahun. Minatnya pada sektor yang terus berkembang tersebut membuat pendiri &glazed Lionel Lim mengambil keputusam tidak biasa itu.

Di bursa kripto yang berbasis di Singapura, Lim berinvestasi dalam cryptocurrency serta juga memiliki pekerjaan penuh waktu. Diketahui, alasan lain toko online mereka menirima aset digital tersebut, karena baginya akan semakin banyak orang berbelanja di toko onlinenya jika memiliki metode pembayaran yang banyak.

Baca Juga:

  1. Ini yang Wajib Dilakukan Investor Ketika Harga Kripto Anjlok
  2. Ini 5 Saran untuk Pemula yang Ingin Mulai Investasi Kripto
  3. Atasi Ponzi, AS, Kanada, Australia, & Belanda Sepakat Berbagi Data Kriminal Kripto

Kepada CNA dirinya mengatakan bahwa, “Kami ingin membuatnya semulus mungkin-sejauh apa pun yang Anda ingin bayar, kami mendapatkannya.”

Lim mengatakan sampai sekarang masih sangat sedikit yang mau membayar menggunakan kripto, meski telah cukup lama menerima pembayaran dengan kripto. Menurutnya, dengan pembayaran mata uang kripto hanya menghasilkan 1 persen dari total pesanan tingkat penerimaannya begitu rendah.

Ia menyebutkan sudah disimpan pemasukan itu dari dompet digital perusahaan di platform pembayaran yang digunakan untuk menerima cryptocurrency, yakni Coinbase Commerce. Untuk mencairkannya, dirinya juga mengaku tidak terlalu terburu-buru.

Continue Reading

Market

Curhat Bos Bursa Kripto Terbesar di Dunia yang Kini Kembali Miskin

Published

on

By

Perusahaan Pertukaran (exchange) Kripto Terbesar di Dunia, Binance

Setelah adanya kejatuhan dua kripto besutan Terra yakni Terra Luna (LUNA) dan TerraUSD (UST), perusahaan pertukaran (exchange) kripto terbesar di dunia Binance alami kerugian yang cukup besar.

Diketahui Binance menempatkan dananya sebesar US$ 3 juta dalam bentuk token LUNA serta sebagai imbalannya, menerima 15 juta token tersebut pada tahun 208 lalu. Dana Binance yang ditempatkan di LUNA melonjak menjadi US$ 1,6 miliar kala harga LUNA mencapai rekor tertingginya pada April kemarin.

Akan tetapi token LUNA yang dimiliki Binance pun menyusut parah hingga kini bernilai sekitar US$ 2.391 saja ketika harganya ambruk.

Mengutip Fortune, dalam sebuah tweet CEO Binance Changpeng Zhao mengatakan bahwa, “Modal kami di LUNA mencapai US$ 3 juta, kemudian melonjak menjadi US$ 1,6 miliar. Tetapi saat harga LUNA jatuh, kami menderita kerugian yang amat besar, di mana nilai LUNA kami kini hanya mencapai US$ 2.391 saja.”

Baca Juga:

  1. Ini yang Wajib Dilakukan Investor Ketika Harga Kripto Anjlok
  2. Ini 5 Saran untuk Pemula yang Ingin Mulai Investasi Kripto
  3. Mengenal BTR Coin, Token Asli Pertukaran Kripto Bitrue

Namun dirinya masih ingin memberikan kompensasi kepada trader ritel yang kehilangan dananya yang cukup besar saat LUNA mengalami koreksi parah pada pekan lalu. Hal ini terlepas dari kerugian besar yang di alami oleh Binance.

Mengenai kerugian yang diderita oleh trader-nya kepada LUNA, Binance menyerahkan sepenuhnya. Di mana atas kesalahan yang berimbas pada kerugian yang diderita trader Binance, mereka meminta pertanggungjawabannya.

“Binance akan memberikan kompensasi kepada setelah trader kami mendapatkan kompensasi dari tim proyek Terra. Kami meminta Terra bertanggung jawab atas kejatuhan dua tokennya yang membuat trader Binance mengalami kerugian besar,” ujar Zhao dalam tweetnya.

Stablecoin algoritmik besutan Terraform Labs TerraUSD (UST) turun menjadi sekitar 13 sen dolar Amerika Serikat (AS), secara teoritis terkait dengan harga dolar AS pada pekan lalu.

LUNA mata uang kripto yang dimaksudkan untuk membantu stablecoin UST mempertahankan pasak dolarnya pun runtuh akibat dari kecelakaan itu. Saat ini harganya hanya sekitar 1 sen dolar AS, setelah sebelumnya sekitar sekitar US$ 119 pada April silam.

Continue Reading

Trending