Connect with us

Culture

Papua Selatan, Suku Korowai yang Masih Menganut Sistem Kanibalisme

Published

on

Semua orang pasti tahu keindahan provinsi Papua. Banyak orang yang ingin pergi kesana karena keeksotisan bawah lautnya. Namun siapa sangka dibalik kemewahan alam yang ada disana, ternyata Papua masih mempunyai sisi gelap yang jarang orang ketahui. Khususnya bagian Papua selatan, di sana terdapat suku Korowai yang ternyata masih melakukan kanibalisme.

Suku Korowai ini lebih tepatnya berada di wilayah Kaibar, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua, letaknya berdekatan dengan perbatasan Papua Nugini di sebelah barat. Sebenarnya suku ini sudah diketahui oleh orang Belada pada tahun 1980. Pada saat itu orang Belanda yang merasa diterima dengan baik disana, ia perlahan mempelajari suku Korowai. Suku Korowai menggunakan bahasaAwyut-Damut, yang mereka gunakan untuk berkomunikasi sehari-hari.

Baca Juga :  Mengenal Upacara Adat Mongubingo, Sunat Perempuan Ala Masyarakat Gorontalo

Suku korowai menganut sistemkanibalisme ini terindentifikasi sudah ada sejak 30 sampai 35 tahun yang lalu. Sebelumnya, suku Korowai tidak pernah ada komunikasi dengan dunia luar. Seiring berjalannya waktu suku ini mulai menrima bantuan dari pemerintah. Tapi kenapa mereka masih menganut sistem kanibalisme meski sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah?

Baca juga: Terhindar dari Penyakit Saat Musim Hujan, Ini Tipsnya

Ternyata kanibalisme ini berhubungan dengan adat dan hukum Khakhua yang masih mereka jalani. Khakhua adalah penyebutan bagi orang yang diduga sebagai dukun. Menurut mereka seseorang yang menyerupai Khakhua adalah orang yang menyebabkan kematian anggota lainnya karena dianggap bisa melakukan sihir dan Khakhua tersebut harus dihukum mati. Tidak hanya Khakhua yang akan dihukum mati tetapi ada juga suku Korowai yang melakukan kejahatan seperti mencuri istri orang lain, membunuh, bahkan jika ada yang merusak pertahanan makanan mereka sekali pun.

Baca Juga :  Tradisi Menangkap Paus di Pulau Lembata

Prosesi ini dilakukan dengan cara memisahkan tubuh dan memakan dagingnya. Setelah melakukan prosesi mereka akan bernyanyi dan memukul-mukul dinding rumah tinggi mereka dengan kayu semalaman.

Sebenarnya suku Korowai ini untuk bertahan hidup, mereka memburu hewan seperti ular,rusa,kadal,babi dihutam, mereka juga menangkap ikan dan udang disungai dengan menggunakan perahu yang disebut ketinting.

Baca juga: Mie Kocok, Makanan Berkuah Legendaris Bandung

Baca Juga :  5 Olahan Ikan Tradisional Indonesia yang Wajib di Coba

Menurut Hari Suroto, peneliti Balai Akeolog Papua mengatakan bahwa kebenaran kanibalisme tidak bisa disangkal. Namun, perhatian yang berlebih dan dimanfaatkan oleh para agen pariwisata menimbulkan kehebohan dalam Kongress Amerika Serikat di tahun 1995.

Saat ini budaya kanibalisme mulai ditinggalkan oleh sebagian suku Korowai, meski masih ada yang masih mempertahankan budaya tersebut.

Baca juga: 5 Tempat Wisata Tutup, Terbengkalai dai Beralih Fungsi

Culture

5 Jenis Pempek, Santapan Wajib Khas Palembang

Published

on

Pempek makanan Khas Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Foto: Istimewa.

Pempek makanan Khas Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Foto: depositphotos

mycity.co.id – Ada sebuah pribahasa Indonesia yang mengatakan ‘Rasanya seperti belum makan, jika belum makan nasi’. Pribahasa ini sangat umum ditemukan di Indonesia, sama halnya seperti orang Sumatra Selatan (Palembang), ‘Rasanya kurang afdol, jika belum makan pempek dalam sehari.’

Begitulah kebiasaan orang-orang Palembang, rasanya tak lengkap kalau lidah belum menyapa makanan olahan ikan satu itu. Biasanya pempek disajikan bersama mie telur, irisan timun dan siraman cuka atau orang palembang menyebutnya dengan cuko (campuran air gula merah, asam jawa, bawang putih, ebi, dan cabe rawit yang dimasak bersama).

Sejarah munculnya pempek bermula sejak pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Baharuddin II. Nama makanan ini awalnya disebut dengan ‘Kalesan’ yang tidak lain adalah alat yang digunakan dalam membuat pempek.

Apek, seorang pria keturunan Tionghoa adalah pecipta makanan satu ini. Apek yang tinggal di pinggiran Sungai Musi melihat potensi ikan yang melimpah, hingga ia pun memiliki ide untuk memanfaatkan keadaan tersebut  dengan mengolahnya menjadi makanan selain digulai dan digoreng. Maka, jadilah makanan percampuran tepung dan ikan yang dihaluskan.

Baca Juga :  Wayang Kulit, Jadi Aset Budaya Nasional dan Refleksi Kehidupan

Ia berkeliling menjajalkan makanan yang ia jual kepada masyarakat. Berkat kepopuleran makanan tersebut. Akhirnya, nama empek-empek atau Pekpek tercipta, berasal dari namanya. Ketika ia berkeliling, orang-orang pada saat itu selalu memanggilnya, “Pek.. Pek.. mampir sini”.

Dulunya pembuatan empek-empek menggunakan ikan belida, namun karena jenis ikan itu semakin langka dan harganya mahal.  Para penjual pempek menyiasatkan untuk mengganti dengan jenis ikan yang lebih lainnya, seperti tenggiri, lele dan lain-lain.

Umumnya pempek yang dijual di luar palembang hanya ada empek-empek kapal selam dan empek-empek lenjer saja. nah, ini dia beberapa jenis empek-empek:

Pempek Adaan

Jenis pekpek adaan yang berbentuk bola seperti baso ikan. Foto: Istimewa.

Jenis pekpek adaan yang berbentuk bola seperti baso ikan. 

Pempek adaan ini berbentuk bulat seperti bola dan terlihat seperti bakso ikan. Cara membuat pempek ini bisa langsung digoreng tanpa direbus terlebih dahulu. Rasanya lebih gurih dan aromanya wangi. Perbedaan lain dari pempek adaan dengan pempek lainnya ialah penggunaan santan di dalam adonan. Ini membuat pempek adaan lebih kaya rasa.

Baca Juga :  Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT

Pempek kulit krispi

Jenis pekpek kulit krispi yang renyah. Foto: Istimewa.

Jenis pekpek kulit krispi yang renyah.

Bagi Cityzen yang menyukai tekstur renyahnya pekpek, maka jenis pempek satu ini adalah pilihan yang tepat. Pempek kulit biasanya menggunakan campuran tepung dan adonan kulit ikan. Ikan yang paling sering digunakan adalah ikan tenggiri. Pekpek kulit tidak melalui proses rebus melainkan langsung digoreng. Pempek kulit ‘krispi’ dibuat dari daging ikan bagian kulit yang dibuat pipih dan digoreng hingga garing.

Pempek keriting

Jenis pempek keriting yang terlihat seperti otak. Foto: Istimewa.

Jenis pempek keriting yang terlihat seperti otak.

Cara membuat pempek keriting lebih rumit daripada jenis pekpek yang lain, karena harus menggunakan pirikan. Pirikan merupakan alat saringan yang lubang-lubangnya lebih besar daripada saringan pada umumnya, tetapi punya pegangan pada kedua sisinya. Dapat juga digunakan untuk menghaluskan ikan untuk pempek maupun tekwan. Dari segi bentuk, pempek Keriting memiliki bentuk seperti otak. Cara menyajikannya pun bisa digoreng atau hanya direbus, tergantung selera pemilik lidah.

Baca Juga :  Perang Sarung, Tradisi Bertarung Sampai Mati Demi Pertahankan Kehormatan Keluarga di Bugis

Pempek kapa selam

Jenis pempek kapal selam yang di dalamnya diisi dengan telur. Foto: Istimewa.

Jenis pempek kapal selam yang di dalamnya diisi dengan telur. 

Jenis pekpek satu ini paling terkenal, karena sering dijumpai di beberapa pedagang yang membawa grobak. Pempek kapal selam dibuat sedemikian rupa, menyerupai bentuk badan kapal. Pendapat lain menjelaskan bahwa pempek kapal selam didapatkan dari proses merebus pempek. Pembutan pekpek satu ini hanyalah adonan tepung dan ikan yang dibuat kalis, lalu dimasukan telur ke dalamnya.

Pempek lenjer

Jenis pempek lenjer merupakan rasa original dari pempek. Foto: Istimewa.

Jenis pempek lenjer merupakan rasa original dari pempek. 

Bersamaan dengan pekpek kapal selam, pekpek ini cukup populer di pasaran. Jenis pekpek sudah ada sejak pertama kali diciptakan dan merupakan rasa original dari pekpek, karena hanya adonan tepung terigu, kanji, ikan yang dicampur menjadi satu dan tidak ada isian apapun.

Nama lenjer tentu saja berasal dari bahasa Palembang “lenjeran” yang artinya bentuknya yang panjang dan menyerupai silinder. Rasa dari pekpek lenjer ini gurih dan terasa ikan yang khas.

Continue Reading

Culture

Tradisi Unik yang Hanya Ada di Indonesia

Published

on

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang punya banyak sekali budaya, enis,suku dan juga kepercayaan. Itu sebabnya dari Sabang sampai Merauke ada banyak sekali tradisi unik yang berbeda-beda dari setiap daerahnya.

Nah, dari beberapa tradisi-tradisi tersebut masih dijaga dan dilakukan sampai sekarang, hingga sampai sekarang kita masih bisa melihat budaya-dan tradisi yang ada di masyarakat. Berikut beberapa tradisi unik di Indonesia yang dirangkum mycity.co.id dari berbagai laman sumber.

1. Tradisi Potong Jari – Papua

Tradisi potong jari

Tradisi potong jari

Sebagai ungkapan kehilangan dan rasa duka Suku Dani di Papua biasanya akan menggelar tradisi potong jari atau dikenal sebagai tradisi Iki Palek. Tradisi ini dilakukan oleh anggota keluarga dari seseorang yang meninggal tersebut.

Adapun jumlah jari yang dipotong berdasarkan jumlah anggota keluarga meninggal. Jari memiliki arti yang sangat mendalam bagi Suku Dani karena jari menjadi simbol kerukunan dan kesatuan. Meski begitu, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan.

2. Titi/Menato – Mentawai

Titi Mentawai

Titi Mentawai

Selain punya tradisi meruncingkan gigi, suku Mentawai juga punya tradisi unik lain, yaitu Titi atau menato tubuhnya. Untuk melakukan tradisi ini, masyarakat setempat harus melakukan ritual upacara terlebih dahulu. Selain itu, motif tato yang digunakan pun nggak bisa sembarangan. Nantinya tato akan menunjukkan identitas sekaligus jati diri dari Suku Mentawai itu sendiri.

Baca Juga :  Begini Cara Membedakan Kucing Jantan & Betina

3. Sigajang Laleng Lipa – Sulawesi Selatan

Sigajang Lale Lipa

Sigajang Lale Lipa

Sigajang Laleng Lipa merupakan tradisi yang dilakukan oleh Suku Bugis. Bisa dikatakan, Sigajang Laleng Lipa salah satu tradisi ekstrem sekaligus mengerikan. Bagaimana tidak, dalam pelaksanaanya tradisi ini selalu memakan korban jiwa.  Saat menyelesaikan masalah, biasanya akan dilakukan musyawarah terlebih dahulu. Apabila cara tersebut nggak menemui titik terang, maka tradisi ini sebagai jalan terakhir.

Dalam tradisi ini, biasanya kedua belah pihak yang berselisih akan masuk ke dalam sarung. Keduanya masuk ke dalam sarung tanpa tangan kosong alias akan dibekali sebilah badik. Ketika badik telah dikeluarkan, maka pantang diselipkan lagi dipinggang sebelum menghujan tubuh lawan.

Baca Juga :  Wayang Kulit, Jadi Aset Budaya Nasional dan Refleksi Kehidupan

4. Waruga – Sulawesi Utara

Waruga Sulawesi Utara

Waruga Sulawesi Utara

Berasal dari kata waru yang berarti rumah dan ruga yang berarti badan atau raga, Waruga bisa dimaknai sebagai “rumah di mana raga akan kembali ke surga”. Tradisi Waruga dilakukan oleh Suku Minahasa di Sulawesi Utara.

Sejarah menjadi titik awal dari tradisi ini, di mana sejak zaman dahulu suku Minahasa memercayai jika roh memiliki kekuatan. Oleh karenanya, masyarakat setempat membuat kuburan khusus. Penguburan jenazah akan dilakukan dalam sebuah kotak batu berongga yang kemudian akan ditutup oleh batu berbentuk segitiga.

5. Kebo-Keboan – Banyuwangi

Kebo-Keboan Banyuwangi

Kebo-Keboan Banyuwangi : detik.com

Kebo-keboan digelar untuk memohon kesuburan sawah dan hasil panen yang melimpah. Tradisi ini dijalankan masyarakat Banyuwangi, khususnya Suku Osing. Setiap tahunnya, kamu bisa melihat Kebo-keboan di Desa Alasmalang dan Aliyan pada 10 Muharram atau Suro.

Baca Juga :  Tradisi Menangkap Paus di Pulau Lembata

Acara dimulai dengan mengarak orang yang kerasukan roh gaib untuk dibawa ke Rumah Kebudayaan Kebo-keboan. Terakhir, akan ada Dewi Kesuburan dan Dewi Sri yang menaburkan benih padi kepada para petani dan kebo.

6. Tatung – Kalimantan Barat

Tatung Kalimantan Barat

Tatung Kalimantan Barat

Layaknya debus, kamu yang belum terbiasa akan ngeri melihat tradisi Tatung di Singkawang. Dalam meramaikan Cap Go Meh Singkawang, ada ratusan orang yang melakukan tradisi tersebut. Tatung sendiri punya makna roh dewa dari bahasa Hakka.

Dalam menjaga kesaktiannya, mereka diharuskan melakukan beberapa ritual. Salah satunya puasa makan daging setiap tanggal satu dan 15 setiap bulannya dalam penanggalan Tiongkok.

7. Batombe – Sumatera Barat

Batombe Sumatra Barat

Batombe Sumatra Barat

Pantun sangat erat kaitannya dengan budaya Betawi. Tapi bukan hanya masyarakat Betawi saja yang punya tradisi ini, melainkan juga masyarakat Sumatera Barat. Tradisi tersebut berkembang pada masyarakat Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Sama halnya seperti tradisi pantun di daerah lain, tradisi yang dikenal sebagai Batombe ini juga merupakan seni berbalas pantun dengan iringan alat musik rabab.

Continue Reading

Culture

MUI Jember Keluarkan Fatwa Haram Joged Pargoy

Published

on

MUI keluarkan fatwa joget pargoy haram. Foto: kobaran

MUI keluarkan fatwa joget pargoy haram. Foto: kobaran

mycity.co.id – Joged pargoy cukup ramai dan terkenal semenjak aplikasi TikTok diminati generasi milenial dan generasi Z masa kini. Namun, karena dianggap erotis dan dinilai menimbulkan syahwat lawan jenis, membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember, Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram terkait hal ini.

Isi fatwa haram ini berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada 19 November 2022 kemarin. Dalam rapat tersebut, MUI Jember menjelaskan alasan joged pargoy diharamkan karena dinilai sebagai gerakan erotis yang memamerkan aurat tubuh.

Baca Juga :  Kesenian Senjang, Tradisi Lisan Sarat Sejarah Masyarakat Musi Banyuasin

Selain itu, MUI Jember menganggap bahwa joged pargoy tidak mencerminkan seorang muslim yang berakhlak. Yang mana hal tersebut dianggap menodai nilai-nilai kesopanan, moral dan adat istiadat khususnya di Jember.

Berkut ini, mycity.co.id mengutip dari idntimes, isi fatwa MUI Jember terkait joged pargoy.

Baca Juga :  5 Tradisi Unik Masyarakat Indonesia Selama Ramadhan

1. Mengajak umat Islam kabupaten Jember untuk mempertahankan kabupaten Jember sabagi kabupaten religius.
2. Memperlihatkan dan mempertahankan niali-nilai religius dalam setiap kegiatan sehari-hari.
3. Hukum joged pargoy adalah haram karena mengandung gerakan erotis, mempertontonkan aurat dan menimbulkan syahwat lawan jenis.
4. Joged pargoy tidak mencerminkan muslim yang berakhlak dan menodai nilai-nilai kesopanan, moral dan adat istiadat, khususnya yang berlaku di kabupaten Jember.
5. Mengimbau kepada pemerintah, pengambil kebijakan dan tokoh masyarakat untuk turut serta membantu melarang kegiatan joged pargoy.
6. Mengimbau para tokoh agama dan masyarakat untuk membimbing dan mengarahkan masyarakat pada kegiatan-kegiatan positif dan berakhlakul karimah.

Baca Juga :  Mengenal Upacara Adat Mongubingo, Sunat Perempuan Ala Masyarakat Gorontalo

Continue Reading
Advertisement

Trending