Connect with us

Traveling

Orchid Forest Cikole, Wisata Anggrek di Tengah Hutan Pinus

Published

on

Orchid Forest Cikole

Orchid Forest Cikole adalah salah satu tempat wisata di Bandung yang sangat menarik. Terlebih Orchid Forest Cikole ini menyuguhkan keindahan taman dan tumbuhan.

Orchid Forest Cikole menghadirkan nuansa asri dengan beraneka ragam jenis bunga anggrek, serta banyak spot dan wahana menarik yang wajib dicoba. Beragam fasilitas di sediakan di Tempat wisata, mulai dari fasilitas biasa seperti gazebo hingga fasilitas penginapan.

Kamu akan sangat mudah menemukan ribuan anggrek dari 125 jenis. Mulai dari anggrek Jawa, Kalimantan, sampai anggrek asal Amerika dan Jerman. Dari ribuan bunga, beberapa diantaranya merupakan jenis langka yang ditempatkan di rumah kaca khusus. Tentu, karena faktor kelembaban dan suhu udara.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Mengapa harus anggrek? Nexa Paisan Kepala Pemasaran Orchid Forest menjelaskan, Indonesia sangat kaya akan jenis anggrek, sehingga wajib dilestarikan. Salah satu cara melestarikannya, dengan membuat hutan anggrek. Anggrek juga bunga yang disukai oleh masyarakat, terutama kaum ibu.

Kamu tidak hanya bisa jalan-jalan melihat anggrek, tapi juga belajar mengenal dan mengetahui seluk –beluknya. Selain berfoto, pengunjung juga akan mendapat edukasi. Ibarat peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, kamu bisa berwisata sambil mencari ilmu.

Kalau membahas wisata alam, tentu, kamu akan jarang atau bahkan tidak akan menemukan wahana-wahana menggunakan mesin motor layaknya komidi putar di taman hiburan perkotaan. Tapi tenang, kamu tetap bisa menikmati liburanmu, yang tentu saja, bernuansa alam. Di Orchid Forest sendiri, fasilitasnya terbagi dalam tiga kelompok: outbound, olahraga dan leisure.

Untuk outbound, pengelola telah menyiapkan berbagai fasilitas yang bisa dinikmati semua usia, mulai anak-anak sampai dewasa. Ada area terbuka berupa hamparan hijau dikhususkan untuk aktivitas area bermain anak, tempat piknik keluarga, sampai keperluan company gathering. Fasilitas safety-nya juga terjamin, sehingga kamu tidak perlu kawatir mengenai keamanan kalau mengajak anak-anak.

Orchid Forest Cikole

Kamu suka permainan yang bisa menguji adrenalin? Ada flying fox, panjat tebing, downhill track, dan highrope yang bisa kamu jajal. Sempatkan juga berayun-ayun di atas ketinggian 23 meter dengan menaiki skybridge sepanjang 150 meter. Sambil berayun di atas jembatan gantung, kamu akan merasakan sensasi melewati pohon pinus yang berbaris rapi menjulang tinggi.

Kalau sudah, kamu bisa mengunjungi arena panahan, bermain Archery War Battle Games. Simpan tenagamu untuk berperang di wahana Air Soft Gun Activity. Kamu bisa menyewa peralatannya supaya bisa merasakan perang sungguhan. Permainan ini sangat seru kalau kamu berlibur bersama teman-teman seangkatan.

Jangan pernah khawatir untuk membawa adik atau anggota keluargamu yang masih kecil. Ada banyak fasilitas yang sayang untuk dilewatkan. Jika kamu sudah seru-seruan dengan adrenalinmu, saatnya ajak adik dan anggota keluargamu menikmati spot-spot lain.

Kamu bisa ajak adik dan keluargamu untuk bersantai di Taman Baca Anak, berinteraksi langsung dengan kelinci di Rabbit Forest, atau melihat rusa di penangkaran rusa. Tak ada salahnya mampir ke Orchid Castle, spot yang dikhususkan untuk pengunjung anak-anak.

Orchid Castle merupakan playground yang di dalamnya banyak sekali wahana yang bisa dinikmati anak-anak. Mulai dari seluncuran, sepeda mini, panjatan, flying fox mini, dan terowongan. Di tempat ini, anak-anak dijamin tidak akan merasa bosan.

Orchid Forest Cikole

Orchid Forest yang baru dibuka untuk umum pada 2017 ini secara khusus mengkategorikan diri sebagai ekowisata digital. Artinya, selain wisata alam, pengunjung bisa berfoto di banyak tempat menarik yang memang sengaja disediakan. Jadi, pastikan memori ponselmu masih penuh, Shopbackers.

Kamu bisa memulai kegiatan selfie-mu saat berada di jembatan gantung. Skybridge yang sangat instagenic ini berada diantara pohon-pohon yang menjulang tinggi. Apalagi kalau sudah malam, jembatan yang akan mengayun-ayunkanmu itu akan tampak sangat cantik dengan gemerlap lampu warna-warni. Kamu tentu tidak akan melewatkannya, bukan?

Selain itu ada spot bola pingpong. Satu area dimana puluhan bola pingpong ditata rapi sedemikian rupa sebagai latar belakang fotomu. Keren. Bola pingpong yang bergelantungan itu akan memberikan kesan salju putih yang sedang turun di tengah pepohonan.

Spot foto kece selanjutnya adalah atap payung. Belasan payung dengan macam-macam warna digantung berbaris-baris dan dikaitkan dengan tali di atas. Cocok untuk kamu yang suka memadupadankan warna.

Kamu juga bisa berfoto diantara banyaknya pohon pinus yang berjejer beraturan. Benar-benar membuatmu serasa berada di dalam hutan betulan. Masih di tempat yang sama, kamu bisa mengubah posisi berdirimu ke sisi yang lain untuk mendapatkan view jalanan meliuk-liuk di bawah pepohonan. Sangat indah.

Tidak jauh dari pepohonan pinus, sangkar raksasa bisa jadi spot berikutnya untuk selfie-mu. Kamu pastinya tidak akan melewatkan kesempatan berfoto di dalam sangkar besar dengan latar belakang pepohonan tinggi dan jalan setapak. Dedaunan hijau tentu akan membuat fotomu terasa lebih menyatu dengan alam.

Traveling

Pesona Desa Hilisimaetano Nias, Salah Satu Desa Wisata Terindah di Indonesia

Published

on

Desa Hilisimaetano

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, menganugerahkan Desa Hilisimateno menjadi Desa Wisata. Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 ini disambut hangat warga Desa Hilisimateno, Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Rabu (22/6/2022) petang.

Sandiaga Uno mengungkapkan ketakjubannya terhadap keindahan alam hingga kekayaan budaya lokal di Desa Hilisimaetano.

”Saya ucapkan selamat kepada Bapak Bupati yang telah bisa meningkatkan gairah ekonomi dalam tatanan ekonomi baru dengan Desa Wisata Hilisimaetano, tepuk tangan untuk kita semua,” ucap Sandi disambut riuh tepuk tangan warga Desa Hilisimaetano.

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Menurutnya, hal tersebut dapat terlihat pada saat memasuki desa, terdapat Batu Megalitik yang menandakan pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar.

“Kemudian 50 rumah adat yang bangunannya masih terpelihara dengan baik. Namun sangat disayangkan, ada satu rumah adat tertua yang runtuh akibat dampak dari tsunami Aceh tahun 2004,” ujarnya.

Tidak hanya itu, sistem pemerintahan yang dijalankan masih mengikuti sistem adat di mana sistem kepemimpinan adat desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias.

“Kemudian, para cendikiawan atau yang disebut Si’ila berperan sebagai pemberi nasihat kepada bangsawan. Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) yang terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa),” katanya.

Ketika mengunjungi desa wisata tersebut, pengunjung dapat melihat batu megalitik yang menjadi tanda bahwa pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar. Kemudian juga ada 50 bangunan rumah adat yang terpeliharan dengan baik, meski salah satu yang tertua runtuh akibat tsunami Aceh tahun 2004.

Desa Hilisimaetano

Keunikan lain dari desa ini adalah sistem pemerintahannya yang masih mengikuti adat. Sistem kepemimpinan desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias. Sementara itu Si’ila atau para cendekiawan berperan sebagai penasihat bangsawan. Dalam sistem ini, Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa).

Masyarakat desa ini juga punya tradisi kerajnan tangan yaitu membuat anyaman topi caping, pahatan, ukiran, dan pedang besi (manöfa) yang dulunya berfungsi sebagai alat perang. Pada zaman dahulu, ketika menang perang melawan musuh, maka kepala musuh akan disematkan di ujung sarung pedang.

Selain itu, Desa Hilisimaetano juga memiliki kawasan persawahan terbesar di Nias Selatan dan memiliki potensi besar untuk dijadikan daerah agrowisata.

“Sekarang kami sangat khawatir dengan adanya ancaman krisis pangan, krisis energi, tapi Nias Selatan ini khususnya di Desa Wisata Hilisimaetano justru memiliki potensi untuk bisa memiliki ketahanan pangan dan kemandirian energi ini bisa kita kembangkan ke depan,” ujar Sandiaga.

Untuk dikembangkan menjadi desa wisata berkelanjutan, Desa Hilisimaetano akan bebenah, mulai dari fasilitas toilet dan penginapan. Desa ini akan mengembangkan produk ekonomi kreatifnya agar lapangan kerja semakin terbuka dan meningkatkan penghasilan masyarakat.

“Kita akan memberikan pendampingan, pelatihan, kita akan ada peningkatan destinasi wisata lainnya, seperti toilet, begitupun dengan homestay karena di sini hanya ada satu, kita akan tingkatkan, juga kita ingin jadikan desa wisata ini sebagai tujuan wisata selagi ada WSL Pro, untuk membangkitkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Seperti yang sudah disebutkan, di Desa Hilisimaetano kita masih bisa melihat rumah adat Nias. Salah satunya adalah Oma Sebua, rumah tradisional yang dibangun di pusat desa khusus untuk kediaman para kepala negeri (tuhenori), kepala desa (salawa), atau kaum bangsawan.

Oma Sebua dibangun di atas tumpukan kayu uli besar dengan atap menjulang. Di budaya Nias dulunya sering terjadi perang antar desa sehingga desan rumah pun dibuat agar tahan terhadap serangan. Omo Sebua sendiri punya satu akses masuk lewat tangga sempit dengan pintu kecil. Omo Sebua juga terbukti tahan gempa karena pondasinya berdiri di atas lempengan batu besar dan balok diagonal.

Kemudian ada Omo Hada, yang dihuni masyarakat biasa. Rumahnya berbentuk persegi dengan pintu yang menghubungkan setiap rumah. Di Nias juga ada Osali, rumah yang dulunya dipakai secara khusus untuk menyimpan berhala.

Continue Reading

Traveling

Pesona Telaga Cicerem, Airnya Berwarna Biru

Published

on

By

Telaga Cicerem

Saat ini, Kabupaten Kuningan memiliki berbagai destinasi wisatanya yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya seperti Telaga Cicerem yang begitu banyak mengundang minat khalayak luas.

Bahkan tempat wisata yang satu ini diketahui begitu ramai dipadati pengunjung. Setiap mata wisatawan akan disuguhkan dengan jajaran pepohonan yang menjulang dan air terjun buatan, kala memasuki gerbang telaga.

Tak hanya itu saja, pengunjung akan semakin dimanjakan saat telah memasuki area telaga. Di mana beningnya air telaga dengan nuansa biru kehijauan tersaji di sana.

Bahkan, dari tepian telaga pun sampai dapat terlihat jelas ikan dewa dan kancra bodas yang berenang kesana kemari. Bagi para pengunjung juga turut disediakan spot foto yang keren oleh pihak pengelola.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 5 Tempat Wisata Alam yang Ngehits di Batu Malang
  2. Pesona Gunung Merbabu, Sang Primadona Jawa Tengah
  3. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia

Mereka bisa mengabadikan moment berayun diantara jernihnya telaga dengan pemandangan ikan-ikan di bawahnya. Sangat menarik bukan?

Selain itu, pengunjung yang ingin berenang di telah pun diperbolehkan. Namun, bagi kalian yang ingin tetap menikmati telaga tanpa berbasah-basahan bisa menaiki perahu dan juga bebek dayung yang telah disediakan.

Sementara itu untuk lokasinya sendiri, Telaga Biru Cicerem berada di kaki gunung Ciremai dengan ketinggian 315 mdpl. Tak ayal jika udara di tempat ini begitu sejuk atau adem.

Kalian yang ingin berkunjung ke tempat wisata menarik ini pun tak perlu khawatir soal tarifnya. Sebab, hanya denga mengeluarkan uang sebesar Rp 5.000 kalian sudah bisa menikmati pesona telaga yang airnya sebening kaca.

Continue Reading

Traveling

Indahnya Gunung Prau, Cocok untuk Pendaki Pemula

Published

on

By

Gunung Prau

Kini mendaki gunung telah menjadi kegemaran bagi banyak orang dari berbagai kelangan. Saat ini juga telah ada banyak gunung yang mudah untuk diakses pendaki pemula.

Salah satunya seperti Gunung Prau yang berlokasi di kabupaten wonosobo, jawa tengah yang cocok bagi mereka yang baru ingin mulai merasakan sensasi pendakian. Kawasan gunung yang satu ini mempunyai suhu yang begitu dingin. Hal ini dikarenakan letaknya yang berada di dataran tinggi Dieng.

Diketahui, via patakbanteng dan via dieng adalah nama jalur yang cukup terkenal bagi kalangan pendaki. Meski demikian, sebanarnya Gunung Prau memiliki sejumlah jalu pendakian yang lainnya.

Dikabarkan gunung ini sejak awal 2019 lalu telah ditambahkan beberapa fasilitas. Misalnya seperti sejumlah kursi untuk para pendaki duduk sambil menikmati keindahan pemandangn yang memanjakan mata.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 5 Tempat Wisata Alam yang Ngehits di Batu Malang
  2. Mantap, Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia
  3. Mantap, Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia

Berbicara soal keindahan gunung ini memang tak ada habisnya. Itu mengapa jika akhir pekan, Gunung Prau sangat ramai oleh pengunjung yang datang. Bahkan saat ingin mendaki, wisatawan haru rela mengantri.

Sementara itu, untuk jarak tempuhnya dari basecamp, yakni sekitar 4 jam. Namun hal tersebut jika pendaki melalui jalur dengan cepat, sedangkan untuk pemula membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam.

Bagi kalian yang ingin menjajal pendakian di gunung ini tak perlu khawatir soal biaya. Karena untuk perorangnya hanya perlu mengeluarkan uang senilai 10 ribu saja, dan untuk parkir permotonya pun juga sebesar 10 ribu.

Continue Reading

Trending