Connect with us

Inspirasi

Nawal El Saadawi, Tokoh Dunia Arab yang Berani dan Berbahaya

Published

on

Nawal El Saadawi.

Nawal El Saadawi, yang dikabarkan meninggal dunia pada usia 89 tahun, rupanya mengundang kemarahan sekaligus kekaguman di negara asalnya yang konservatif.

“Mereka bilang, ‘Kamu perempuan kurang ajar dan berbahaya.’

“Saya mengatakan kebenaran. Dan kebenaran itu kurang ajar dan berbahaya.”

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Demikian tulis Nawal El Saadawi, yang meninggal pada usia 89 tahun, menurut laporan media Mesir.

Sang dokter, feminis, dan penulis Mesir selama puluhan tahun membagi kisah dan perspektifnya sendiri – dalam novel, esai, otobiografi, dan gelar wicara yang dihadiri banyak orang.

Kejujurannya yang brutal dan dedikasinya yang tak tergoyahkan untuk memperbaiki hak-hak politik dan seksual perempuan menginspirasi berbagai generasi.

Tetapi karena keberaniannya berbicara, dia juga menjadi sasaran kemarahan, ancaman kematian, dan penjara.

“Dia lahir dengan semangat juang,” kata Omnia Amin, teman dan penerjemahnya, kepada BBC pada 2020.

Lahir di sebuah desa di luar Kairo pada tahun 1931, anak kedua dari sembilan bersaudara, El Saadawi menulis novel pertamanya pada usia 13 tahun. Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintah, dengan sedikit uang, sedangkan ibunya berasal dari latar belakang kaya.

Keluarganya berusaha menikahkannya pada usia 10 tahun, tetapi ketika dia menolak, ibunya membelanya.

Orang tuanya mendorong pendidikannya, tulis El Saadawi, tetapi dia menyadari sejak usia dini bahwa anak perempuan kurang dihargai daripada anak laki-laki.

Belakangan dia menceritakan bagaimana dia marah-marah ketika neneknya berkata kepadanya, “satu anak laki-laki berharga setidaknya 15 perempuan … Perempuan adalah hama”.

“Dia melihat ada yang salah dan dia bersuara,” kata Dr Amin. “Nawal tidak bisa memalingkan dirinya.”

Salah satu pengalaman masa kecil yang didokumentasikan El Saadawi dengan begitu jelas sehingga membuat pembacanya tidak nyaman adalah menjadi korban sunat perempuan atau female genital mutilation (FGM) pada usia enam tahun.

Dalam bukunya, The Hidden Face of Eve (terbit di Indonesia dengan judul ‘Perempuan dalam Budaya Patriarki’), dia menceritakan pengalamannya menjalani prosedur yang menyakitkan itu di lantai kamar mandi, sementara ibunya berdiri di sampingnya.

Dia berkampanye menentang sunat perempuan sepanjang hidupnya, dengan alasan bahwa praktik itu adalah alat yang digunakan untuk menindas perempuan.

Sunat perempuan resmi dilarang di Mesir pada tahun 2008, tetapi praktik tersebut masih berlanjut, dan El Saadawi terus mengutuknya.

El Saadawi, dipotret pada 1986, adalah pengkritik keras agama. (Getty Images)

El Saadawi lulus dengan gelar kedokteran dari Universitas Kairo pada tahun 1955 dan bekerja sebagai dokter, sebelum mengambil spesialisasi di bidang psikiatri.

Dia kemudian menjadi direktur kesehatan masyarakat untuk pemerintah Mesir, tetapi dia dipecat pada tahun 1972 setelah menerbitkan buku non-fiksi, Women and Sex (Perempuan dan Seks), yang mencela sunat perempuan dan penindasan seksual terhadap wanita.

Majalah Health, yang dia dirikan beberapa tahun sebelumnya, ditutup pada tahun 1973.

Namun dia tidak berhenti berbicara dan menulis. Pada tahun 1975, dia menerbitkan Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol), sebuah novel berdasarkan kisah kehidupan nyata seorang perempuan terpidana mati yang dia temui.

Novel tersebut diikuti pada tahun 1977 oleh Hidden Face of Eve (Perempuan dalam Budaya Patriarki), yang di dalamnya El Saadawi mendokumentasikan pengalamannya sebagai seorang dokter desa yang menyaksikan pelecehan seksual, “pembunuhan demi kehormatan”, dan prostitusi.

Buku itu menimbulkan kemarahan. Para pengkritik menuduh El Saadawi memperkuat stereotip perempuan Arab.

Kemudian, pada September 1981, El Saadawi ditangkap sebagai bagian dari penangkapan para pembangkang di bawah pemerintahan Presiden Anwar Sadat dan ditahan di penjara selama tiga bulan.

Di sana dia menulis memoarnya di atas kertas toilet, menggunakan pensil alis yang diselundupkan kepadanya oleh seorang pekerja seks yang juga dipenjara.

“Dia melakukan hal-hal yang tidak berani dilakukan orang, tetapi baginya itu normal saja,” kata Dr Amin.

“Dia tidak berniat untuk melanggar aturan, tapi mengatakan kebenaran menurut dirinya.”

Setelah Presiden Sadat dibunuh, El Saadawi dibebaskan. Tapi karyanya disensor dan buku-bukunya dilarang.

Pada tahun-tahun berikutnya, dia menerima ancaman pembunuhan dari kelompok fundamentalis agama, dibawa ke pengadilan, dan akhirnya diasingkan di AS.

Di sana dia terus melancarkan serangan terhadap agama, kolonialisme, dan kemunafikan Barat. Dia mencela jilbab, tetapi juga mengecam riasan wajah dan pakaian terbuka – bahkan membuat kesal sesama feminis.

Ketika presenter BBC Zeinab Badawi menyarankan dalam sebuah wawancara pada tahun 2018 agar dia memperhalus kritiknya, El Saadawi menjawab:

“Tidak. Saya harus lebih blak-blakan, saya harus lebih agresif, karena dunia menjadi lebih agresif, dan kami membutuhkan orang-orang untuk berbicara keras melawan ketidakadilan.

“Saya berbicara dengan keras karena saya marah.”

El Saadawi menghadiri unjuk rasa Occupy London di St. Paul’s pada ulang tahunnya yang ke-80, tahun 2011. (Getty Images)

Selain memicu kemarahan, El Saadawi mendapat banyak pengakuan internasional, dengan buku-bukunya diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa.

“Saya tahu orang tidak selalu setuju dengan politiknya, tapi yang paling menginspirasi saya adalah tulisannya, apa yang telah dia capai dan dampaknya bagi perempuan,” kata penulis dan penerbit Inggris Kadija Sesay, yang berperan sebagai agennya di London.

“Terutama jika Anda seorang perempuan Afrika, atau perempuan kulit berwarna, Anda akan terpengaruh oleh pekerjaannya.”

Dia menerima banyak gelar kehormatan dari universitas di seluruh dunia. Pada tahun 2020, majalah Time menobatkannya sebagai salah satu dari 100 Women of the Year dan mendedikasikan sampul depan untuknya.

Tetapi satu hal tetap berada di luar jangkauan.

“Satu-satunya impian atau harapannya adalah mendapatkan pengakuan dari Mesir,” kata Dr. Amin. “Dia bilang dia telah menerima penghargaan di seluruh dunia, tapi tidak pernah mendapat apa pun dari negaranya sendiri.”

El Saadawi kembali ke Mesir yang dicintainya pada tahun 1996 dan segera menimbulkan keributan.

Dia mencalonkan diri sebagai calon presiden pada pemilu 2004 dan berada di Lapangan Tahrir Kairo untuk pemberontakan tahun 2011 melawan Presiden Hosni Mubarak.

Dia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Kairo, dekat dengan putra dan putrinya. Saat surat kabar Mesir melaporkan kematiannya, pesan sederhana (dalam bahasa Arab) “Nawal Al-Saadawi …….. selamat tinggal” muncul di halaman Facebook-nya.

“Dia telah melalui banyak hal,” kata Dr Amin. “Dia telah mempengaruhi generasi.

“Generasi muda mencari panutan. Dia hadir.”

Kadija Sesay mengingat sang penulis atas kesediaannya untuk mendengarkan cerita perempuan lain dan berbicara kepada mereka tentang pengalaman berat mereka.

“Saya tidak mengenal banyak orang, terutama ketika mereka begitu terkenal, yang memberi,” katanya.

“Tapi dia tidak ingin menjadi pahlawan siapa pun – dia akan berkata, ‘Jadilah pahlawanmu sendiri’.”

Advertisement

Inspirasi

Arsad Sadik Sangaji, Tokoh Vokal Maluku Utara

Published

on

Arsad Sadik Sangaji

Direktur TOMA Malut, Arsad Sadik Sangaji, merupakan salah satu tokoh yang vokal dalam mengritik kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Maluku Utara (Malut).

Teranyar, pria yang akrab disapa Caken Kolano Waigitang ini mempertanyakan keseriusan dari Pemda Provinsi Maluku Utara soal keberpihakan terhadap masyarakat Pulau Obi, terutama dalam polemik Jalan Lingkar Obi.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Arsad Sadik Sangaji
Arsad Sadik Sangaji

Lantas, siapa itu Arsad Sadik Sangaji? Dia tercatat dua kali menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Halmahera Selatan, yakni pada periode 2009-2014 dan 2014-2019.

Dia mengawali kiprah di dunia politik di Universitas Pattimura Ambon. Selama berkuliah, dia aktif di berbagai organisasi seperti HMI Cabang Ambon, Organisasi Intra Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) dan Senat Mahasiswa Universitas Pattimura.

“Waktu kuliah itu pilihan jalur politik karena Kemauan dan cita-cita sebagai Politikus untuk melihat masyarakat yang lebih baik,” ujarnya kepada MyCity, Selasa (30/11/2021).

“Yang menjadi Dasar sebagai Aktivis itu karena mau menyampaikan aspirasi masyarakat lewat Jalur organisasi dan dunia Aktivis pada saat itu adalah momen yang tepat untuk menyuarakan kepentingan rakyat atau masyarakat,” dia menambahkan.

Arsad juga tercatat masuk dalam Tokoh Pemuda, Ormas, dan Mahasiswa Pembentukan Provinsi Maluku Utara tahun 1997-1999. Dia juga juga menjadi salah satu aktivis saat kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998.

Arsad Sadik Sangaji
Arsad Sadik Sangaji

“Suka dan duka jadi aktivis itu duka adalah dikejar-kejar sama aparat penegak hukum. Sukanya adalah pengalaman hidup,” kenang dia.

“Hal yang paling saya ingat adalah kerusuhan tahun 1998 yakni ketika Suharto menyerahkan mandat kepada BJ Habibi sebagai Presiden. Tokoh-tokoh yang hadir pada saat itu Gus Dur, MH Ainun Najib, Megawati, Amien Rais. Saya ada di Istana Negara dan Jakarta rusuh. Kebakaran di mana-mana, ada juga penjarahan dll,” ungkap dia.

Kini, Arsad telah meninggalkan dunia politik. Dia memilih fokus di bidang bisnis. Kendati demikian, dia mengaku tetap akan vokal melancarkan kritik demi kemajuan Maluku Utara.

“Sebenarnya saya tiga periode. Cuma periode tahun 2004-2009 saya kena Pergantian Antar Waktu (PAW) karena melawan keputusan partai dan sudah mau istirahat. Saya belum tahu ke depannya seperti apa,” ujarnya.

“Sebenarnya, pengabdian bukan hanya di DPRD. Di mana saja kita berada, kita bisa berbuat untuk rakyat,” tegas dia.

Arsad juga menilai Maluku Utara memiliki masa depan yang cerah. Namun, untuk menyongsong masa depan cerah tersebut, Malut harus memiliki nahkoda yang baik.

“Masa depan Malut ini sangat bergantung kepada nahkoda. Seorang nahkoda harus memiliki komitmen dan konsisten terhadap dunia interpreneurship dan mau memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, golongan, dan kelompok,” demikian Arsad.

Continue Reading

Inspirasi

Geser Jack Ma, Ini Orang Terkaya di China

Published

on

Zhong Shanshan
Zhong Shanshan

Pendiri Alibaba, Jack Ma, kini bukan lagi orang terkaya China. Posisinya kini diambialih oleh penguasaha air mineral kemasan, Zhong Shanshan.

Seperti dilansir dari Forbes, Selasa (9/11/2021), Pimpinan Nongfu Spring ini memiliki total kekayaan sebesar 65,907 miliar dolar AS atau Rp933 triliun. Padahal tahun lalu, dia hanya menempati posisi ketiga dengan kekayaan sebesar 53,9 miliar dolar AS.

Kekayaan Zhong melesat saat Nongfu Spring IPO di Hong Kong Stock Exchange pada September 2020. Kemudian, sekitar seperenam kekayaannya berasal dari perusahaan vaksin Beijing Wantai Biological Pharmacy yang melantai di bursa saham pada April 2020.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Zhong sendiri bukanlah berasal dari keluarga kaya. Dia putus sekolah sejak SD. Setelah itu, dia bekerja di bidang konstruksi. Dia juga pernah bekerja sebagai reporter di sebuah surat kabar.

Pada 1997, Zhong mendirikan perusahaan pendahulu Nongfu di kampung halamannya, Hangzhou. Perusahaan tersebut, yang dikenal dengan air mineral kemasan, juga menjual minuman kemasan lainnya seperti teh dan jus.

Adapun peringkat kedua orang terkaya China tahun ini diduduki oleh pendiri perusahaan pengembang TikTok ByteDance, Zhang Yiming, dengan nilai kekayaan US$59,4 miliar. Kemudian, petinggi produsen baterai kendaraan listrik Contemporary Amperex Technology Robin Zheng menduduki peringkat ketiga dengan harta US$50,8 miliar.

Continue Reading

Inspirasi

Profil Basaria Panjaitan, Presiden Komisaris PT Sentul City Tbk

Published

on

By

Foto Basaria Panjaitan, Presiden Komisaris PT Sentul City Tbk.

Basaria Panjaitan menjabat Presiden Komisaris PT Sentul City Tbk usai perseroan mengubah jajaran komisaris dan direksi dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu, 14 Oktober 2020.

Basaria Panjaitan menggantikan Tranggono Ting yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Komisaris PT. Sentul City TBK.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Sebelumnya Basaria Panjaitan, S.H., M.H. adalah perempuan pertama yang terpilih menjadi komisioner KPK.

Basaria Panjaitan terpilih dalam pemilihan yang dilakukan secara terbuka oleh Anggota Komisi III DPR RI pada bulan Desember 2015.

Basaria Panjaitan menjabat Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi RI Masa jabatan 21 Desember 2015 – 20 Desember 2019.

Masa jabatan 03 September 2015 – 20 Desember 2015.

Basaria Panjaitan Lahir 20 Desember 1957 di Pematangsiantar, Sumatra Utara.

Almamater

Sepamilsukwan Polri (1984).

Pangkat PDU IRJEN KOM.png Inspektur Jenderal PolisiSatuan Reserse (Polwan).

Basaria Panjaitan tercatat sebagai perempuan pertama yang berpangkat Inspektur Jenderal (bintang dua) di dalam sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia.

melalui kenaikan pangkat berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor: 81/ Polri RI/ Tahun 2015 dan Surat Telegram Kapolri Nomor: STR/843/X/2015 tertanggal 20 Oktober 2015.

Basaria Panjaitan adalah Sarjana Hukum lulusan Sepamilsukwan Polri I Tahun Angkatan 1983/1984.

Lulus sebagai polwan berpangkat Ipda, Basaria langsung ditugaskan di Reserse Narkoba Polda Bali.

Sementara Pendidikan pascasarjana yang ditempuhnya adalah Magister Hukum Ekonomi Universitas Indonesia.

Basaria Panjaitan mengabdi dalam bidang reserse di Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Basaria adalah Kabag Serse Narkoba Polda NTB (1997 – 2000), Kabag Narkoba Polda Jabar (2000 – 2004), Dirserse Kriminal Polda Kepri (2006 – 2008).

Jenderal bintang dua ini sebelumnya menjabat sebagai Kapusprovos Divpropam Polri (2009), Karo Bekum SDelog Polri (2010), Widyaiswara Madya Sespim Polri Lemdikpol.

Basaria masuk Sekolah Calon Perwira (Sepa) Polri di Sukabumi dan ditempa di sana. Lulus sebagai polwan berpangkat Ipda, Basaria langsung ditugaskan di Reserse Narkoba Polda Bali.

Dari sana, Basaria malang melintang di berbagai pos penugasan.

Dia pernah menjadi Kepala Biro Logistik Polri, Kasatnarkoba di Polda NTT dan menjadi Direktur Reserse Kriminal Polda Kepulauan Riau.

Dari Batam, Basaria ditarik ke Mabes Polri, menjadi penyidik utama Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim.

Dia pernah memeriksa mantan Kabareskrim, Komjen Susno Duadji, soal pelanggaran kode etik.

Tahun 2010 hingga 2015, Basaria menjabat sebagai Widyaiswara Madya Sespim Polri.

– Paur Subdisbuk Disku Mabes Polri (1984)

– Panit Sat. Idik Baya Ditserse Mabes Polri (1990)

– Kasat Narkoba Polda NTB (1997)

– Kabag Narkoba Polda Jabar (2000)

– Dir Reskrim Polda Kepri (2007)

– Penyidik Utama Dit V/Tipiter Bareskrim Polri (2008)

– Kapusprovos Divpropam Polri (2009)

Karobekum Sdelog Polri.

– Widyaiswara Madya Sespim Polri (2010).

– Sahlisospol Kapolri (2015)

– Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia (2015–2019).

Continue Reading

Trending