Connect with us

Bisnis

Nasib StartUp LeEco: Sukses IPO, tapi Bangkrut & Nunggak Bayar Sewa Kantor

Published

on

Nasib StartUp LeEco

Kini secara drastis nasib LeEco seolah berubah. Di mana berhasil masuk ke papan perdangan ChiNext, kelompok saham seperti Nasdaq Amerika Serikat (AS) untuk startup asal China tersebut.

Akan tetapi masalah dialaminya, bahkan bayar sewa kantor sampai harus menunggak. Diketahui untuk divisi streaming olahraga pada tahun 2015 lalu, LeEco tercatat mendapatkan 805 juta yuan dari pendanaan seri A.

Tak hanya itu saja, melainkan juga penjualan pada sekitar 500 juta saham. Tahun 2015, Induk usaha publik LeEco LeShi Internet dilaporkan mempunyai pendapatan sekitar 13 miliar yuan.

Kemudian ekspansi bisnis juga dilakukan LeEco. Antara lain mulai dari layanan streaming online ke ekosistem perangkat keras termasuk TV pintar, smartphone, sepeda dan mobil.

Baca Juga:

  1. Netflix & Spotify Bakal Kena Bea Impor Usai Indonesia Gertak WTO
  2. Badai PHK Hantui Startup, Ini Solusi dari Menkominfo
  3. Bermodal Dana Fantastis Rp810 Miliar, Tencent Pimpin Investasi untuk Flip

Namun, masa cemerlang ini pun perlahan meredup, seperti pendiri LeEco Jia Yueting yang terlilit utang RMB 16,8 miliar (Rp 36 triliun). Selain itu, masih banyak lagi anak usaha LeEco yang mengalami hal serupa. Misalnya LeSport yang mengalami kerugian serta berutang jutaan dolar.

Mengutip Mingtiandi pada Senin (20/6/2022), pers lokal mengungkapkan unit streaming itu tutup setelah menunggak sewa kantor selama berbulan-bulan.

Sementara itu, menurut berbagai pihak ekspansi bisnis yang terlalu cepat menyebabkan masalah yang dihadapi oleh LeEco. Caixin menyebutkan perusahaan menikmati 5 tahun pertumbuhan dua digit, namun tidak pernah mengungkapkan kinerja keuangannya untuk sebagian besar bisnisnya termasuk 39 anak perusahaan yang belum go-publik.

Sebagai cara menutupi keuangannya, LeEco memindahkan kas dari satu perusahaan ke yang lainnya. Hal ini dikatakan olehseorang mantan pegawai perusahaan kepada Engadget.

Selain itu mantan CEO layanan transportasi Yidao Yongche juga mengungkapkan perusaahan sudah menyalahgunakan modal untuk menutupi utang mereka. Dirinya pun pernah mempunyai saham LeEco sebesar 70 persen.

Founder Jia Yueting dipaksa mundur dari perusahaan pada September 2018 lalu. Hal ini terjadi ketika aksasa properti China, Sunac mengakuisisi LeEco.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bisnis

Lagi, Netflix PHK 300 Karyawan

Published

on

Netflix

Imbas menurunnya pendapatan secara siginifkan, layanan streaming Netflix kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 300 karyawan.

Juru Bicara Netflix menyatakan proses PHK ini melibatkan 3 persen dari total 11 ribu karyawan. Sebagian besar PHK itu terjadi di Amerika Serikat (AS). Demikian dilansir dari CNN International, Jumat (24/6/2022).

“Sementara kami terus berinvestasi secara signifikan dalam bisnis, kami membuat penyesuaian ini sehingga biaya kami tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan kami yang lebih lambat,” ujar sang Juru Bicara.

Baca Juga:

  1. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia
  2. Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho
  3. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata

Ini menandai proses PHK gelombang kedua yang dilakukan Netflix. Sebelumnya, mereka melakukan PHK terhadap 150 karyawan usai merugi karena kehilangan pelanggan dalam jumlah besar.

“Sayangnya, kami melepaskan sekitar 150 karyawan hari ini, sebagian besar berbasis di AS,” ungkap perwakilan perusahaan

Perusahaan layanan streaming itu menyatakan PHK dilakukan karena perkembangan bisnis, di mana pendapatan perusahaan menurun sejalan dengan berkurangnya jumlah pelanggan.

Continue Reading

Bisnis

Menteri Koperasi & UKM: Kerugian 8 Koperasi Bermasalah Capai Rp26 Triliun

Published

on

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki

Kementerian Koperasi dan UKM saat ini berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan dari koperasi yang bermasalah.

Menteri Koperasi dan UKM (MenKop UKM), Teten Masduki menyatakan, pihaknya tengah menangani delapan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) besar yang bermasalah. Dia mencatat, total nilai kerugian masyarakat yang ditimbulkan mencapai Rp26 triliun.

“Saat ini, KemenKopUKM sedang menangani 8 KSP bermasalah dengan total kerugian mencapai Rp26 triliun,” kata MenKopUKM Teten Masduki dalam pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan (Rakortekcan) Bidang Koperasi, UMKM dan Kewirausahaan Tahun 2022 di Bali, Senin (20/6/2022).

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Teten menyampaikan, permasalahan tersebut timbul lantaran masih banyak pengelola KSP yang memiliki pola berfikir lemah. Hal ini ditandai dengan minimnya pemanfaatan teknologi canggih untuk mengembangkan bisnis.

“Banyak koperasi jadul, mindsetnya masih lemah. Saya kira perlu reforma, bagaimana transformasi koperasi dengan mengadopsi teknologi digital,” jelasnya.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Kementerian telah membentuk Satgas guna memastikan delapan koperasi bermasalah menjalankan putusan PKPU.

“Terus terang jika ini tidak diatasi, bisa menjadi bom waktu di kemudian hari. Sebagaimana yang telah dilakukan Bareskrim dan PPATK, semoga ini berjalan baik,” bebernya.

Selain membentuk Satgas, pihaknya juga mendorong dilakukannya revisi Undang-Undang (UU) Perkoperasian dalam waktu dekat. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pengawasan dan tata kelola KSP.

“Kita mesti memperbaiki sektor pengawasan agar lebih baik. Sehingga kami melihat perlunya meninggalkan legacy perbaikan koperasi ke depan yang perlu diprioritaskan, yakni lewat Revisi Undang-Undang (UU) Perkoperasian,” tutupnya.

Continue Reading

Bisnis

Bebas Dari Ancaman Kepailitan, Ini 5 Fakta dibalik PT Garuda Indonesia

Published

on

maskapai garuda indonesia

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akhirnya bisa terus melanjutkan bisnisnya. Usai sempat menunda jadwal pemungutan suara (voting) dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), agenda pemungutan suara tersebut telah terlaksana di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (17/6).

Voting ini diketahui menjadi tahapan yang sangat penting bagi Garuda Indonesia, karena menentukan nasibnya untuk terus melanjutkan bisnis penerbangan atau dinyatakan pailit. Pada proses voting ini, ada lima fakta yang telah dirangkum oleh MyCity.co.id, yakni sebagai berikut;

  • 347 kreditor setujui rencana perdamaian PT Garuda Indonesia

Voting yang dilakukan sebagai respons proposal perdamaian dan rencana bisnis Garuda ini dilaksanakan oleh 365 kreditor konkuren, yakni 326 kreditor hadir secara fisik, dan 39 lainnya secara daring.

Melalui proses voting ini, sebanyak 347 kreditor atau 95,07 persen dari total suara menyetujui rencana perdamaian Garuda. Sedangkan yang menolak sebanyak 15 kreditor atau 4,11 persen, dan abstain sebanyak 3 kreditor atau 0,82 persen. Total jumlah suara yang dikumpulkan sebanyak 12.479.432 suara.

Baca Juga:

  1. Perdana Sejak Pandemi, Garuda Indonesia Berangkatkan Jemaah Haji
  2. 1 Juli, Garuda Indonesia Mulai Bayar Uang Pensiun Dini Karyawan
  3. Karyawan Garuda Ramai-Ramai Daftar Pensiun Dini

Dengan demikian, seluruh kreditor sepakat dengan perdamaian Garuda termasuk yang menolak dan abstain, karena mengikuti perolehan suara terbanyak.

  • Total utang PT Garuda Indonesia sebesar Rp142,42 triliun

Dari Daftar Piutang Tetap (DPT) yang dibuat oleh Tim Pengurus PKPU Garuda Indonesia pada 14 Juni 2022, Garuda memiliki total utang Rp142,42 triliun kepada 501 kreditor. Utang tersebut terdiri dari 123 lessor pesawat sebesar Rp104,37 triliun, 23 kreditor non-preferen sebesar Rp3,95 triliun, dan 300 kreditor non-lessor sebesar Rp 34,09 triliun.

  • PT Garuda Indonesia akan resmi akhiri kepailitan

Berdasarkan hasil voting yang unggul untuk berdamai, PT Garuda Indonesia dinyatakan bebas dari kepailitan. Hal ini akan disahkan atau homologasi oleh majelis hakim atau persetujuan antara debitor dan kreditor untuk akhiri kepailitan Garuda pada 20 Juni 2022.

  • Komitmen Garuda pasca rencana perdamaian

Pihak Garuda Indonesia berkomitmen untuk menghasilkan keuntungan dan terus melanjutkan rencana bisnis ke depan. Garuda juga akan kembali mengudara dengan jumlah dan jenis pesawat yang sesuai kebutuhan dan terukur. Garuda juga akan memangkas jumlah rute penerbangan.

  • Pembayaran utang oleh PT Garuda Indonesia

Garuda akan membayar utang yang besarannya di bawah Rp225 juta menggunakan kas perusahaan. Sedangkan utang di atas Rp225 juta, terutama utang kepada lessor dan pemegang sukuk, akan dibayarkan menggunakan penerbitan kupon surat utang baru senilai total US$825 juta dan konversi utang menjadi saham senilai total US$330 juta.

Utang Garuda terhadap bank dan perusahaan milik Negara, akan diperpanjang dengan tenor 22 tahun disertai bunga sebesar 0,1 persen per tahunnya.

Continue Reading

Trending