Connect with us

Traveling

Museum Bank Mandiri, Sebuah Alternatif Wisata Edukasi

Published

on

foto museum bank mandiri

Kala pertama turun dari halte bus Transjakarta Kota, coba tengok ke arah kiri. Kalian akan disambut dengan gedung warna putih bertuliskan NHM, atau Museum Bank Mandiri.

NHM atau Nederlandsche Handel Maatshappij merupakan perusahaan dagang milik pemerintah Belanda. NHM diinisiasi langsung oleh Raja Willem I. Dengan surat keputusan raja tanggal 29 Maret 1824 Nomor 163, NHM resmi menjadi perusahaan dagang sekaligus penyimpanan uang. Dua tahun setelah surat tersebut diteken, NHM membuka cabang di Batavia. Di Batavia, NHM lebih dikenal dengan nama Factorij, atau yang dalam Bahasa Indonesia berarti agen dagang.

NHM bisa dibilang merupakan reinkarnasi dari salah satu kongsi dagang terbesar kala itu, Vereenigde Oost-Indische Companie (VOC). Tak heran, NHM juga mengurusi Cultuurstelsel atau Tanam Paksa yang mulai berlaku di Indonesia pada tahun 1830.

Pada awalnya, NHM mengurusi pengiriman atau shipping dan menjual komoditi hasil dari tanam paksa, seperti gula, kopi, dan lain-lain dari Indonesia ke luar negeri. NHM memiliki peran yang cukup krusial bagi pemerintah Belanda, sebab pada waktu itu kas pemerintah Belanda sedang kosong-kosongnya akibat dari Perang Diponegoro di Jawa serta membiayai Perang Padri di Sumatera Barat.

Pada perkembangannya, NHM bergerak dan membangun keuangan sedemikian intensif dalam bidang industri gula sehingga bisa dikatakan jika NHM bergerak perlahan dari sebuah agen dagang menjadi sebuah bank. Setelah itu, NHM dinasionalisasikan oleh pemerintah Indonesia dan berubah menjadi Bank Exim pada tahun 1960, dan pada tahun 1999 dimerger bersama tiga bank lainnya, menjadi Bank Mandiri.

Jika kalian ingin memasuki museum ini, jangan lupa titipkan tas dulu ya di tempat penitipan yang disediakan! Harga tiketnya juga terbilang terjangkau. Hanya sekitar 5 – 10 ribu rupiah.

Kala pertama memasuki museum ini, kalian akan disambut dengan ‘diorama terpenjara’. Pengunjung tidak boleh menyentuh koleksi, hanya sebatas melihat, mendokumentasikan, serta membaca papan penjelasan saja. Diorama tersebut kebanyakan menggambarkan tentang orang-orang Belanda yang melakukan rapat dengan sejawat, dan juga priyayi dari pribumi.

Terdapat juga nama-nama yang tertera di diorama, jadi tidak khawatir bingung. Tak hanya diorama orang-orang belanda, ada juga diorama alat-alat musik tua khas kehidupan elit kolonial pada masa itu yang terpajang di sini. Ini adalah ruangan pertama, ruang sambutan yang ingin menunjukkan pada pengunjung, tentang kehidupan elit kolonial.

Di museum ini, terdiri beberapa lorong. Setelah melihat diorama, lorong yang kedua ialah lorong yang menceritakan tentang pelayaran orang-orang kolonial ke Nusantara. Banyak diorama serta miniatur yang menunjang informasi, sehingga pengunjung bisa memvisualisasi keadaan saat itu.

Beralih ke ruangan yang lain, berisi informasi tentang kedatangan koloni pertama di Indonesia, sampai dengan berkuasanya pendahulu NHM, yakni VOC. Pengaturan tempat di museum NHM ini terbilang tidak membosankan, sebab sudah memenuhi kaidah pengaturan tata letak museum. Pengunjung dibuat seolah-olah berputar-putar, padahal tidak. Ini dilakukan agar pengunjung tidak bosan. Di museum ini, visualisasi serta informasinya dibuat semenarik mungkin.

Baca Juga:

  1. Unik, Wisata Bogor Devoyage Memberikan Kesan Seperti di Eropa
  2. Segera Hadir di Jakarta, Lounge in The Sky: Sensasi Makan di Atas Langit
  3. Keren, Bekasi Punya 6 Taman di Zona Berbeda

Khas museum-museum, tidak lengkap jika tidak menyertakan potongan koran lawas atau transkrip belanda lama. Di museum ini juga ada demikian. Namun, kalian tidak perlu khawatir tidak bisa membaca transkrip, sebab di bawah koleksi tersebut, ada penjelasan singkatnya.

Rata-rata, transkrip tersebut menjelaskan tentang proses koloni yang sampai ke nusantara.  Bercerita tentang pelayaran mereka yang mendarat di pelabuhan nusantara, Bahkan mereka sudah membuat peta untuk bisa memetakan perjalanan ke nusantara. Inilah cikal bakal kolonialisme.

Tak hanya itu, ada juga transkrip yang menjelaskan tentang sistem pelayaran tahun 1595 – 1597.

Berpindah ke ruangan lain, kalian akan disambut dengan banyak diorama dengan penerangan redup. Berbeda dengan diorama sebelumnya, diorama di ruangan ini bercerita tentang kehidupan masyarakat Indonesia saat itu.

Ada diorama seorang ibu dan anak perempuannya depan rumah, sedang memegang celengan berbentuk ayam. Seolah-olah, si ibu ingin mengenalkan arti penting menabung bagi anaknya, zaman dulu tidak ada bank, masyarakat masih menyimpan uang dengan celengan, yang sewaktu-waktu dapat dipecah atau dibuka untuk uangnya digunakan kembali.

For your information, celengan memang terdiri dari berbagai bentuk. Namun, yang paling terkenal ialah bentuk babi. Celengan ditemukan pada abad pertengahan, orang-orang pada masa itu menciptakan celengan untuk menyimpan uang, lalu menamainya ‘Pygg’ atau ‘Kendi Babi’.

Kebanyakan celengan menggunakan tanah liat, sebab harga logam tentu mahal pada zaman itu. Sedangkan tanah liat adalah bahan yang murah, serta mudah dijumpai di mana saja.

Tak hanya di Eropa, celengan bentuk babi atau juga ditemukan di Trowulan, Mojokerto. Di Jawa, orang-orang menyebut babi sebagai celeng, untuk itu, celengan bentuk babi tersebut dikenal dengan celengan.

Sekarang, celengan dibentuk dengan berbagai macam bentuk yang menarik. Yang tentunya membuat anak tertarik untuk menabung.

Berpindah ke sudut lain, museum ini juga menyuguhkan televisi layar datang lengkap dengan penunjang lain yang digunakan untuk memutar film. Filmnya ialah Max Havelaar

Film Max Havelaar adalah film tahun 1976 yang diangkat dari buku dengan judul yang sama, karangan Multatuli. Bercerita tentang masyarakat yang menderita akibat tanam paksa. Film ini relatif tidak populer di Indonesia, bahkan sempat dilarang oleh pemerintah orde baru beredar setelah beberapa saat diputar di gedung bioskop. Film itu bisa kalian nikmati disini. Secara ekslusif.

Berpindah ke ruang selanjutnya, ada banyak informasi tentang praktik kolonialisme yang informatif. Diorama kompeni belanda yang naik gerobak berisi tebu dengan ditarik masyarakat pribumi menyambut pertama kali. seolah menunjukkan kejamnya kompeni yang mengeruk hasil bumi pertiwi.

Di sisi lain, pengunjung juga bisa membaca papan informasi di dinding yang berisi sejarah VOC, tokoh-tokoh VOC, dan para kolonialis lain.

VOC, kongsi dagang di Hindia Belanda, mencapai puncak kejayaannya pada periode abad ke – 17 hingga pertengahan abad ke -18. Mereka menguasai komoditas rempah-rempah, memonopoli perdagangan, serta menguasai jalur perdagangannya.

Tak hanya rempah-rempah, VOC juga menguasai tekstil, hingga pasar perkebunan seperti kopi dan teh. Ketiga komoditas sandang pangan tersebut terbilang sangat menguntungkan dalam pasar Eropa. Bahkan, dari hasil perkebebunan saja VOC bisa mendapatkan keuntungan ratusan gulden dalam satu tahun.

Pos-pos dagang VOC membentang dari Afrika hingga ke Asia. Kongsi dagang ini bahkan menjadikan Batavia sebagai markas besar sekaligus pusat perdagangan mereka.

Tak ayal, perusahaan dagang ini diberi banyak hak istimewa oleh pemerintah Belanda, sebelum runtuh sebab korupsi yang tak terbendung dari para anggotanya.

Beralih ke ruang inti, banyak koleksi yang berkaitan dengan perkembangan bank di Indonesia serta penjelasannya. Ada koleksi mesin ATM dari masa ke masa, ada koleksi uang-uang baik logam maupun kertas, serta beberapa penjelasan yang sangat informatif.

Bagi kalian yang ingin berwisata sekaligus mendapat informasi, kunjungi museum NHM ini. Museum ini cocok dijadikan destinasi wisata edukasi, terutama bagi anak-anak yang ingin mengenal sejarah lebih banyak. Bagi anak-anak muda, koleksi museum ini tak melulu soal benda-benda tua saja. Namun, ada juga spot lokasi foto yang instagramable dengan tata letak yang tak kalah menarik.

Traveling

Indahnya Gua Pindul Yogyakarta, Punya Mata Air Kehidupan

Published

on

Gua Pindul

Sebelum dibuka sebagai tempat wisata, Goa Pindul dulunya hanya sebuah tempat tak terawat yang dijadikan tempat untuk mandi, mencuci pakaian dan tempat memancing oleh warga sekitar.

Goa Pindul juga menjadi sarang kelelawar sehingga terkesan angker sebelum akhirnya para warga dengan sejumlah mahasiswa yang sedang melaksanakan pengabdian ke masyarakat desa Beji untuk membersihkan kawasan tersebut. Dibalik itu semua, ada juga kisah legenda yang populer dikalangan warga sekitar mengenai asal-usul Goa Pindul ini.

Berawal dari kisah perjalanan Joko Singlulung yang menelusuri hutan lebat, sungai dan gua untuk mencari ayahnya. Saat sedang menyusuri 7 gua yang memiliki aliran sungai di bawahnya, kepala Joko terbentur sebuah batu yang terdapat di dalam gua. Gua tempat Joko terbentur tersebut dinamai Gua Pindul yang berasal dari kata dalam bahasa Jawa yaitu pipi gebendul (pindul) yang artinya pipi yang terbentur.

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Ada juga yang menyebutkan bahwa awal mula Goa Pindul berasal dari kisah perjalanan Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang melakukan perjalanan ke arah timur yaitu ke (arah Gunungkidul) dengan membawa seorang bayi.

Sementara itu sang bayi terus menangis, Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan memutuskan untuk memandikan sang bayi. Ki Juru Mertani naik ke salah satu bukit dan menginjak tanah di puncak bukit. Dengan kesaktian yang dimiliki tanah yang diinjak pun runtuh dan mengangalah sebuah lubang besar dengan aliran air dibawahnya, kemudian sang bayi dimandikan di dalam goa di lubang tadi.

Sementara Sejarah Goa Pindul versi lain menceritakan bahwa di dalam goa tersebut terdapat sebuah mata air yang terkenal dengan istilah mbelik bagi orang jawa. Mata air tersebut oleh warga sekitar dikenal dengan nama mbelik panguripan yang artinya mata air kehidupan. Mata air yang terdapat dalam Goa Pindul itu juga berhubungan dengan kisah seorang yang bernama Kyai Jaluwesi yang berseteru dengan Bendhogrowong.

Gua Pindul

Keduanya lantas terlibat dalam adu kekuatan dan kesaktian. Kyai Jaluwesi nampaknya menang dalam adu kesaktian tersebut. Bendhogrowong kemudian mengeluarkan kesaktiannya untuk menyerang Kyai Jaluwesi. Namun kesaktian yang dikeluarkan tersebut meleset hingga mengenai anjing piaraan anak kembar Kyai Jaluwesi, Widodo dan Widadi.

Anjing yang bernaama Sona Langking itu terluka dan berlari kesana-kemari hingga kemudian menjumpai sumber mata air di semak-semak. Kyai Jaluwesi yang mengejar dan mengikuti anjing tersebut terkejut menemukan anjing itu telah sembuh. Dari situ Kyai Jaluwesi menamakan sumber mata air tersebut dengan nama mbelik panguripan karena dapat menyembuhkan seekor anjing.

Gua Pindul adalah objek wisata berupa gua yang terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Desa Bejiharjo sendiri terletak di kawasan perbukitan karst sehingga didominasi oleh batuan.

Gua ini dapat dicapai dari kota Yogyakarta menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor atau mobil melewati jalan Wonosari, letaknya sekitar 7 km ke arah utara. Setelah memasuki Desa Bejiharjo, perjalanan dilanjutkan mengikuti jalan aspal.

Gua Pindul

Lokasi sekretariat Gua Pindul berada di ujung jalan. Penelurusan di dalam gua akan terdapat formasi bebatuan stalaktit, yaitu sejenis mineral sekunder yang menggantung di langit-langit gua kapur.

Gua Pindul memang dikenal karena cara menyusuri gua. Hal ini dilakukan dengan menaiki ban pelampung di atas aliran sungai bawah tanah di dalam gua, kegiatan ini dikenal dengan istilah cave tubing.

Aliran sungai bawah tanah dimulai dari bagian mulut sampai bagian akhir gua, di dalam gua terdapat bagian sempit yang hanya bisa dilewati satu ban pelampung, sehingga biasanya wisatawan akan bergantian satu per satu untuk melewati bagian ini.

Panjang gua pindul adalah 350 meter dengan lebar 5 meter dan jarak permukaan air dengan atap gua 4 meter. Penelusuran Gua Pindul biasanya akan memakan waktu kurang lebih selama satu jam dan berakhir pada sebuah dam.

Gua Pindul juga memiliki stalaktit terbesar keempat di dunia dan ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri. Stalaktit ini bahkan membutuhkan lima orang untuk bisa memeluknya.

Beberapa batuan karst masih hidup dan meneteskan air. Gua Pindul terdapat tempat yang cukup lebar sehingga terlihat seperti kolam dan terdapat celah yang cukup lebar untuk tempat sinar matahari masuk.

Keindahan semakin lengkap dengan adanya ornamen di sepanjang dinding gua seperti mahakarya lukisan abstrak yang membuat kagum para pengunjung. Mata kelelawar yang bergelantungan bagaikan kristal yang menyala menghiasi lorong gua.

Celah ini juga dapat dilalui sebagai jalur masuk dengan cara memasuki gua secara vertikal. Tempat wisata sekitar Gua Pindul terdapat Gua Gelatik (gua kering), monumen peninggalan Jenderal Sudirman, serta situs purbakala Sokoliman.

Continue Reading

Traveling

Kebun Raya Baturaden, Taman Tanaman Terbesar di Indonesia

Published

on

Kebun Raya Batu Raden

Kebun Raya Baturaden diresmikan, Sabtu, 19 Desember 2015. Kebun Raya Baturaden yang diproyeksikan sebagai Taman Tanaman Pegunungan Jawa ini menambah daftar Kebun Raya yang dimiliki Indonesia. Selain untuk penelitian, diharapkan Kebun Raya Baturaden menjadi sarana wisata edukasi unggulan di Jawa Tengah.

Kebun Raya Baturaden terdapat di lereng Gunung Slamet, berdekatan dengan kawasan Wana Wisata Baturaden dan Bumi Perkemahan Baturaden. Secara administratif berlokasi di Desa Kemutuk Lor, Kec. Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kebun Raya yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki luas 143,5 hektar dan berada pada ketinggian antara 600-700 meter dpl.

Pembangunan Kebun Raya Baturraden berawal dari gagasan Ibu Megawati Soekarno Putri pada acara Penutupan Jambore Nasional Tahun 2001 di Baturraden. Pada Tahun 2002 gagasan ini ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan membentuk Tim Khusus untuk merintis pembangunan Kebun Raya Baturraden dan membuat studi kelayakan. Atas fasilitasi dari Kebun Raya Bogor sejak tahun 2002 telah dimulai ekplorasi dan pengiriman bibit dari Kebun Raya Bogor.

Baca Juga:

  1. Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha
  2. 5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
  3. 5 Cara Menenangkan Hati yang Gelisah Menurut Islam

Dari usulan yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah kepada Menteri Kehutanan, maka keluarlah SK Menteri Kehutanan No. SK.117/Menhut-II/2004 tgl 19 April 2004 tentang Penunjukan kawasan Hutan Produksi Terbatas seluas 150 Ha di Kab. Banyumas, Prov. Jateng sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk hutan penelitian dan pengembangan serta pendidikan lingkungan dalam bentuk Kebun Raya Baturraden.

Kebun Raya Baturaden mengusung tema “Tanaman Pegunungan Jawa.” Diharapkan menjadi kawasan konservasi dan pelestarian aneka tanaman khas pegunungan Pulau Jawa bahkan menjadi Taman “Flora of Java“. Kebun raya dengan luas mencapai 143,5 hektar ini berlokasi di lereng selatan Gunung Slamet dengan ketinggian antara 600-700 meter dpl. Suhu udaranya sejuk (berkisar antara 20-30 derajat Celcius) dengan curah hujan antara 5.000-6.174 mm/tahun dan tanah yang berjenis latosol berwarna merah kecoklatan.

Saat ini baru sekitar 11,5% dari total lahan yang telah dimanfaatkan secara intensif. Meskipun demikian Kebun Raya Baturaden telah mengoleksi hingga 2.600-an spesimen tumbuhan yang berasal lebih dari 500 spesies tumbuhan an 394 marga serta 196 suku. Koleksi ini kan terus ditambah dengan berbagai tumbuhan dari berbagai pegunungan di Pulau Jawa.

Kebun Raya Baturaden

Di dalam Kebun Raya Baturaden telah dibangun beberapa spot tanaman. Beberapa diantaranya adalah Taman Liana (tumbuhan merambat), Medical Garden (Taman Tanaman Obat), Taman Tumbuhan Paku, dan beberapa hamparan bunga (flower bed). Spot-spot ini pun akan terus ditambah sesuai dengan tematik ‘flora of java‘.

Selain koleksi tanaman, Kebun Raya Baturaden juga telah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung. Fasilitas tersebut seperti gapura pintu gerbang, rumah kaca, rumah kompos, rumah anggrek, rumah pohon, tempat pembibitan, gazebo, rumah dinas, kantor pengelola, wahana permainan keluarga, dan area parkir.

Kebun raya merupakan suatu area yang ditanami berbagai jenis tumbuhan yang ditujukan untuk penelitian, konservasi, dan wisata serta pendidikan. Saat ini Indonesia memiliki 27 kebun raya. 5 kebun raya diantaranya dikelola langsung oleh LIPI yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, Kebun Raya Bali (Bedugul), dan Kebun Botani Puspiptek Serpong. Sedangkan sisanya, 22 kebun raya dikelola oleh pemerintah daerah termasuk salah satunya Kebun Raya Baturaden yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Continue Reading

Traveling

Jokowi Beberkan Kekuatan Utama Labuan Bajo yang Tak Dimiliki Negara Lain

Published

on

Presiden RI Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), mengungkapkan salah satu kekuatan utama destinasi wisata prioritas nasional, Labuan Bajo, yang tak dimiliki oleh negara lain. Apa itu?

Jokowi menyampaikan hal itu kala memberikan sambutan saat meresmikan perluasan Bandar Udara Komodo Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (21/7/2022).

“Apa sih yang masih kurang dari Labuan Bajo? Labuan Bajo ini komplit, budaya ada, pemandangan sangat bagus, pantai cantik,” ungkap Jokowi.

Baca Juga:

  1. Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha
  2. 5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
  3. 5 Cara Menenangkan Hati yang Gelisah Menurut Islam

Jokowi menegaskan bahwa Pemerintah telah melakukan upaya maksimal untuk membenahi kawasan wisata Labuan Bajo, tak terkecuali infrastruktur pendukungnya. Mulai dari perbaikan jalan, hingga pemindahan pelabuhan ke lokasi yang lebih strategis bagi wisawatan.

Tak hanya itu saja, Jokowi juga mengungkapkan kekuatan tersembunyi yang dimiliki Labuan Bajo. Bahkan, tidak ada satu pun negara di berbagai belahan dunia yang memiliki kekuatan seperti yang dimiliki Labuan Bajo. Lantas, apa kekuatan yang dimaksud Jokowi?

“Di dunia yang gak ada, gak ada di tempat lain itu gak ada. Yaitu komodo yang ada di pulau komodo. Kekuatan ini yang harus kita pakai untuk menyejahterakan rakyat kita di sini,” demikian Jokowi.

Continue Reading

Trending