Connect with us

Menteri Agama: Shalat Idul Adha Berjamaah Boleh Asal Dapat Izin Pemda & Gugus Tugas

Published

on

Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, mengatakan jika pemerintah membolehkan masyarakat untuk menggelar shalat Idul Adha berjamaan di lingkungan rumah. Aasalkan, harus mendapatkan izin daru pemerintah daerah dan Gugus Tugas daerah setempat.

Peraturan itu tertuang dalam surat edaran (SE) Menag Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan kurban Tahun 1441 Hijriah 2020 Masehi. Masyarakat yang melakukan salat jemaah diimbau tetap mentaati protokol kesehatan.

“Pada prinsipnya salat Idul Adha 1441 Hijriah sudah dapat kita lakukan di lapangan, atau di masjid, kecuali di tempat, atau daerah tertentu yang tidak dibolehkan oleh pemerintah daerah, atau Gugus Tugas COVID setempat, karena alasan tidak aman covid,” ujar Fachrul saat konferensi pers yang disiarkan langsung di akun YouTube BNPB, Kamis (30/7/2020).

Baca Juga:

  1. Anies Baswedan Perpanjang PSBB dengan Masa Transisi
  2. New Normal, Risma Minta Kantin Sekolah Tak Buka
  3. Novel Baswedan Mengadu ke Jokowi Soal Hukuman Kasus Penyiraman Air Keras
  4. Lockdown 5 Bulan, Berat Badan Pria di Wuhan Naik 100 Kg

Menag Fachrul juga meminta setiap tempat yang menggelar Shalat Idul Adha benar-benar memastikan kebersihan tempat salat. Dia meminta masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan yakni memakai masker dan jaga jarak.

“Yakinkan bahwa lingkungan tempat salat aman COVID, batasi pintu atau jalan masuk untuk memudahkan pengecekan suhu tubuh jemaah,” ungkap dia.

“Bawa peralatan salat masing-masing, pakai masker, jaga jarak, tidak usah bersalaman atau berpelukan, pengumpulan infak tanpa bersentuhan kotak sumbangan, dan perpendek pelaksanaan salat dan khotbah tanpa mengurangi syarat dan rukunnya,” jelas dia.

Selain itu, panitia kurban juga diminta membawa alat sendiri untuk memotong hewan kurban. Dia juga meminta agar daging kurban yang telah dipotong disalurkan langsung ke rumah warga.

“Pemotongan hewan juga boleh dilakukan dengan mentaati protokol kesehatan, lakukan di tempat terbuka, hewan kurban dalam keadaan sehat, petugas pakai masker, membawa alat masing-masing, jaga jarak, cegah adanya kerumunan orang, dan daging kurban diantar petugas ke alamat penerima,” tutur Fachrul. (Arie Nugroho)

Advertisement

Teknologi

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi

Published

on

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi/Antara

Kamera ETLE Bakal Semakin Canggih, Alamat hingga Status SIM Pelanggar Bisa Dideteksi Polisi/Antara

mycity.co.idPihak kepolisian menyatakan perkembangan teknologi kamera ETLE yang digunakan untuk melakukan tilang elektronik. Kini pihak kepolisian diketahui tengah membuat fungsi kamera tersebut agar menjadi lebih canggih.

Selama ini, Kamera ETLE hanya memiliki fungsi untuk mengetahui pelanggaran lalu lintas berdasarkan pelat nomor kendaraan pelaku.

Tetapi, teknologi kamera ETLE tengah dikembangkan untuk kemampuan lebih canggih lagi.

Ke depannya kamera ETLE bisa mendeteksi alamat hingga status SIM pelanggar lalu lintas yang nantinya akan diincar oleh polisi.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Latif Usman menyatakan hal ini dimungkinkan berkat adanya teknologi baru bernama Face Recognition.

Teknologi baru ini akan mendeteksi wajah pengguna kendaraan lalu mencocokannya dengan data yang ada di dokumen kependudukan hingga kepengurusan SIM.

“Jadi nanti itu (ETLE) bisa nangkap wajah, namanya siapa, alamatnya di mana, punya SIM atau tidak,” ujar Latif Usman dikutip mycity.co.id dari NTMC Polri, Jumat (9/12/2022).

“Itu semua bisa terdeteksi gitu. Kamera ini sudah ada alatnya demikian,” paparnya.

Dengan kemampuan seperti itu, polisi hanya perlu bekerja sama dengan beberapa pihak untuk nantinya melakukan pencocokan data.

Data pelanggar lalu lintas bisa diketahui menggunakan dokumen Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).

“Jadi kami nanti kerja sama dengan Dukcapil. Nanti data orang akan berkembang dan dicari menggunakan face recognition,” pungkasnya.

Continue Reading

Otomotif

Toyota Klaim Innova Zenix Dipesan Nyaris 4.000 Unit, 80 Persen Hybrid

Published

on

Innova Zenix sudah terpesan mendekati 4.000 unit dalam tempo tidak sampai sebulan sejak peluncuran. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Toyota Astra Motor (TAM) mengklaim model baru Kijang Innova Zenix yang punya varian hybrid menuai reaksi positif dari konsumen Tanah Air. Total pemesanan mobil itu disebut nyaris 4.000 unit padahal belum genap satu bulan dirilis.

“Artinya kalau sudah sebulan pemesanan bisa lebih dari itu,” kata Direktur Pemasaran TAM Anton Jimmi di Jakarta, Kamis (8/12).

Generasi anyar atau ketujuh Kijang yang dinamakan Kijang Innova Zenix perdana meluncur pada 21 November 2022. Generasi ini membawa perubahan penuh pada Innova, yang salah satunya menyugukan teknologi ramah lingkungan hibrida.

Soal harga, Innova Zenix di Indonesia dijual mulai Rp419 juta-Rp470 juta. Sedangkan Innova Zenix Hybrid dibanderol Rp458 juta sampai Rp614 juta.

Anton melanjutkan permintaan varian Zenix Hybrid saat ini mendominasi ketimbang varian mesin bensin. Ada lebih dari 80 persen komposisi varian hybrid dari permintaan Zenix.

“Bahkan total pesanan atau SPK Kijang Innova Zenix mencapai hampir 4.000 unit meski belum sebulan diluncurkan, dengan 82 persen dari komposisinya adalah Innova Zenix Hybrid dan tipe Q Hybrid TSS paling banyak diminati dengan SPK mencapai 1.578 unit,” kata Anton.

Tak hanya Innova Zenix, menurut Anton mobil listrik baru berbasis baterai dari Toyota yakni bZ4X juga diklaim mendapat respons positif dari konsumen Indonesia.

bZ4X yang juga menjadi mobil delegasi KTT G20 ini meluncur lebih dahulu dari pada Innova Zenix meski dilakukan pada bulan yang sama. Mobil ini dijual Rp1,19 miliar on the road Jakarta.

“Untuk permintaannya sudah lebih dari 1.300 unit, ini melebihi dari perkiraan kami,” ucap Anton.

Continue Reading

Teknologi

Satelit ICON Milik NASA Hilang Kontak, Belum Pasti Pulang ke Bumi

Published

on

Ilustrasi satelit. Satelit ICON milik NASA hilang kontak sejak akhir November lalu. Foto: AFP PHOTO / CNES

Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) kehilangan kontak dengan salah satu satelitnya bernama Ionospheric Connection Explorer (ICON). Satelit itu hilang kontak sejak 25 November dan tidak bisa lagi dilacak sejak saat itu.

“Tim saat ini masih bekerja untuk menjalin koneksi. Kami bekerjasama dengan Jaringan Pengawasan Luar Angkasa dari Departemen Pertahanan dan telah memverifikasi satelit itu tetap utuh,” tulis pernyataan resmi NASA seperti dikutip Space.

Satelit ICON sebenarnya memiliki ‘command loss timer’ yang didesain untuk mengatur ulang satelit itu jika tak merespon kepada tim kontrol di Bumi selama delapan hari. Akan tetapi, satelit tersebut tetap diam sejak pengaturan ulang tuntas pada Senin (5/12).

ICON merupakan satelit yang diluncurkan pada Oktober 2019 dan mengeksplorasi lapisan ionosfer Bumi yang belum pernah dilakukan satelit manapun sebelumnya. Ionosfer sendiri merupakan lapisan atmosfer Bumi yang membentang dengan jarak 80-640 kilometer.

Melansir Space News, satelit ICON berharga $252 juta atau Rp3,9 triliun. ICON dirancang untuk memelajari interaksi cuaca luar angkasa dengan cuaca terestrial di lapisan ionosfer.

Hal itu bertujuan memberi pemahaman lebih baik soal variasi di ionosfer. Salah satunya adalah pengukuran yang menunjukkan erupsi gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai pada Januari 2022 punya efek hingga lapisan ionosfer dan merusak gelombang listrik.

Lebar lapisan ionosfer memang secara teratur berganti karena merespon radiasi matahari. Pergantian itulah yang bisa berdampak kepada teknologi komunikasi.

ICON didesain untuk mengeksplorasi ionosfer hingga Desember 2021. Saat ini, ia masih dalam status menjalani misi perpanjangan. ICON juga akan menjadi bagian dari misi tinjauan heliofisik pada 2023 untuk menentukan apakah misi itu harus diperpanjang.

Namun NASA menemukan sejumlah masalah pada ICON antara lain dengan sistem aviasi dan sub sistem komunikasi frekuensi radionya. Belum diketahui apakah ICON akan pulang ke Bumi.

“Tim saat ini belum bisa menentukan kesehatan satelit itu dan kurangnya sinyal downlink bisa jadi indikasi kegagalan sistem,” kata tim NASA.nasa

Continue Reading
Advertisement

Trending