Connect with us

Menristek: Sumber Daya Antariksa Berpotensi Jadi Tulang Punggung Perekonomian

Published

on

Pada Rabu (15/7/2020), Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) – LAPAN menggelar Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2020 bertema “Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.”

Seminar ini didukung oleh Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo), Pusat Unggulan Iptek (PUI), dan Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia. Topik yang dibahas adalah Dinamika, Fisika dan Kimia Atmosfer, Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan, Kebencanaan Hidrometeorologi, Atmosfer Maritim, Basis Data dan Teknologi Pengamatan Atmosfer, dan Lingkungan Atmosfer.

Baca Juga: Kejar SDG, Menristek Sebut 3 Langkah Eksplorasi Antariksa

Dalam seminar itu, Kepala PSTA-LAPAN Didi Setiadi menekankan pentingnya riset dan inovasi di bidang sains dan teknologi atmosfer untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Atmosfer merupakan salah satu lapisan tipis gas yang menyelimuti bumi dan mempengaruhi berbagai kegiatan seperti sektor pembangunan, pertanian, energi, transportasi, lingkungan hidup, kesehatan, kebencanaan, dan sebagainya.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (MenristekBRIN), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menjadi pembicara kunci di seminar itu. Ia memaparkan potensi SDA di angkasa yang belum dieksplorasi untuk kesejahteraan bangsa.

“Tentunya kita tahu di udara sampai antariksa, sebenarnya itu adalah bagian sumber daya alam kita yang seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal. Tentunya tidak hanya bagi kesejahteraan masyarakat tapi juga dapat menjadi tulang punggung daya saing perekonomian,” Bambang menjelaskan.

“Indonesia merupakan negara maritim di khatulistiwa yang dikenal dengan wilayah dinamika atmosfer yang paling kompleks di dunia. Hal ini karena wilayah ini menerima energi radiasi yang sangat besar serta mengandung uap air sehingga bersifat turbulensi, disipasi, proses non-adiabatik dan proses non-liniear sehingga wilayah ini lebih sulit diprediksi dibandingkan dengan wilayah di lintang tinggi. Dinamika atmosfer di wilayah ini juga sangat unik karena diatur oleh kesetimbangan antara gaya gravitasi dan bouyancy sehingga banyak didominasi oleh proses konvektif dan gelombang atmosfer yang saling berinteraksi,” terang Didi Setiadi.

Baca Juga: Ketua GTPPC-19: Bencana adalah Peristiwa yang Berulang

Senada dengan Didi, Kepala LAPAN juga mengatakan prakiraan aktivitas cuaca dan iklim di Indonesia adalah tantangan sekaligus peluang.

“Pemodelan untuk membuat prakiraan aktivitas cuaca dan iklim di wilayah Indonesia saat ini menjadi suatu tantangan yang sangat besar bagi para peneliti atmosfer dan ini membuka peluang untuk sinergi secara nasional dan internasional. Dinamika atmosfer yang sangat kompleks yang terkait dengan berbagai parameter atmosfer, berbagai proses fisis terkait dengan distribusi panas dan berbagai parameter yang lain menjadikan wilayah Indonesia menjadi wilayah yang sangat menarik untuk diteliti,” ujar Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin yang membuka acara SNSA 2020.

Seminar itu dihadiri pula oleh lima orang pembicara yang kompeten di bidangnya.

Pertama, Sekretaris Utama LAPAN, Prof. Dr. Erna Sari Adiningsih memaparkan tentang Sinergi Layanan LAPAN Berbasis Teknologi Sains dan Penerbangan dan Antariksa untuk Pembangunan Nasional.

Kedua, Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati memaparkan tentang Sinergi Penelitian dan Pengembangan dalam Mendukung Penyediaan Informasi Cuaca dan Iklim yang Akurat di Indonesia.

Baca Juga: Dokter Reisa: Tes Cepat Tidak Untuk Diagnosa

Ketiga, Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Dr. Hadiat memaparkan tentang Sinergi dan Prioritas Riset Nasional terkait Atmosfer di dalam Rencana Pembangunan Nasional 2020-2024.

Keempat, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr. Raditya Jati memaparkan tentang Sinergi Riset Atmosfer untuk Mendukung Penanggulangan Bencana Hidrometeorologis di Indonesia.

Kelima, Ketua Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I), Dr. Widada Sulistya memaparkan tentang Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I) dalam Membangun Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer.

Baca Juga: Ekosistem Riset dan Inovasi Teknologi, Solusi Masalah Multidimensi

Sustainable Development Goas (SDGs) nomor 11 berbunyi “Make cities and human settlements inclusive, safe, resilient and sustainable.” Tindakan untuk mengatasi perubahan iklim dilakukan melalui mitigasi dan perubahan iklim yang harus didukung oleh sains dan teknologi yang memadai, termasuk sains dan teknologi atmosfer.

Pengembangan sains dapat optimal jika didukung oleh perkembangan teknologi yang andal. Sebaliknya, teknologi juga membutuhkan sains untuk berkembang. Untuk itu, sinergisme antara teknologi dan kinerja yang antara instansi diperlukan untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan. (Al-Hanaan)

Foto: industry.co.id

Advertisement

Teknologi

Satelit ICON Milik NASA Hilang Kontak, Belum Pasti Pulang ke Bumi

Published

on

Ilustrasi satelit. Satelit ICON milik NASA hilang kontak sejak akhir November lalu. Foto: AFP PHOTO / CNES

Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) kehilangan kontak dengan salah satu satelitnya bernama Ionospheric Connection Explorer (ICON). Satelit itu hilang kontak sejak 25 November dan tidak bisa lagi dilacak sejak saat itu.

“Tim saat ini masih bekerja untuk menjalin koneksi. Kami bekerjasama dengan Jaringan Pengawasan Luar Angkasa dari Departemen Pertahanan dan telah memverifikasi satelit itu tetap utuh,” tulis pernyataan resmi NASA seperti dikutip Space.

Satelit ICON sebenarnya memiliki ‘command loss timer’ yang didesain untuk mengatur ulang satelit itu jika tak merespon kepada tim kontrol di Bumi selama delapan hari. Akan tetapi, satelit tersebut tetap diam sejak pengaturan ulang tuntas pada Senin (5/12).

ICON merupakan satelit yang diluncurkan pada Oktober 2019 dan mengeksplorasi lapisan ionosfer Bumi yang belum pernah dilakukan satelit manapun sebelumnya. Ionosfer sendiri merupakan lapisan atmosfer Bumi yang membentang dengan jarak 80-640 kilometer.

Melansir Space News, satelit ICON berharga $252 juta atau Rp3,9 triliun. ICON dirancang untuk memelajari interaksi cuaca luar angkasa dengan cuaca terestrial di lapisan ionosfer.

Hal itu bertujuan memberi pemahaman lebih baik soal variasi di ionosfer. Salah satunya adalah pengukuran yang menunjukkan erupsi gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai pada Januari 2022 punya efek hingga lapisan ionosfer dan merusak gelombang listrik.

Lebar lapisan ionosfer memang secara teratur berganti karena merespon radiasi matahari. Pergantian itulah yang bisa berdampak kepada teknologi komunikasi.

ICON didesain untuk mengeksplorasi ionosfer hingga Desember 2021. Saat ini, ia masih dalam status menjalani misi perpanjangan. ICON juga akan menjadi bagian dari misi tinjauan heliofisik pada 2023 untuk menentukan apakah misi itu harus diperpanjang.

Namun NASA menemukan sejumlah masalah pada ICON antara lain dengan sistem aviasi dan sub sistem komunikasi frekuensi radionya. Belum diketahui apakah ICON akan pulang ke Bumi.

“Tim saat ini belum bisa menentukan kesehatan satelit itu dan kurangnya sinyal downlink bisa jadi indikasi kegagalan sistem,” kata tim NASA.nasa

Continue Reading

Internasional

Ketika Sambutan Arab Saudi untuk Xi Jinping Lebih Mewah ketimbang Joe Biden

Published

on

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memberikan sambutan mewah untuk kunjungan Presiden China Xi Jinping. Ini sangat kontras dengan perlakuan Saudi pada kunjungan Presiden AS Joe Biden. Foto/SPA via REUTERS

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah memberikan sambutan mewah untuk kunjungan Presiden China Xi Jinping sejak Rabu lalu.

Sambutan itu sangat kontras dengan perlakuan kerajaan untuk kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Juli lalu.

Sambutan tak biasa untuk Xi Jinping diberikan ketika pemimpin China itu mengumumkan era baru dalam hubungan negaranya dengan Arab Saudi.

Anggota Pengawal Kerajaan yang menunggang kuda dan membawa bendera China dan Arab Saudi mengawal mobil Xi saat memasuki istana kerajaan di Riyadh.

Di sanalah Pangeran Mohammed bin Salman, penguasa de facto negara kayak minyak itu, menyambutnya dengan senyum hangat.

“Kedua pemimpin mengadakan pertemuan resmi dengan putra mahkota mengharapkan dia, delegasinya tinggal yang menyenangkan di Arab Saudi,” bunyi laporan Saudi Press Agency (SPA) yang dikutip Reuters, Jumat (9/12/2022).

Itu sangat kontras dengan sambutan rendah hati yang diberikan kepada Presiden AS Joe Biden pada kunjungannya Juli lalu, yang hubungannya telah tegang oleh kebijakan energi Arab Saudi dan kasus pembunuhan Jamal Khashoggi tahun 2018.

Amerika Serikat, dengan hati-hati menyaksikan pengaruh China yang semakin besar dan hubungannya dengan Riyadh berada di titik nadir, kemarin mengatakan bahwa kunjungan tersebut adalah contoh upaya China untuk memberikan pengaruh di seluruh dunia dan itu tidak akan mengubah kebijakan AS terhadap Timur Tengah.

Pangeran Mohammed bin Salman, yang dengan Biden melakukan tos tinju alih-alih berjabat tangan pada bulan Juli, telah kembali ke panggung dunia setelah kasus pembunuhan Khashoggi, yang merusak hubungan Saudi-AS, dan telah menentang tekanan Amerika agar meningkatkan produksi mintak untuk mengisolasi Rusia.

Mengatur nada untuk kunjungan Xi, pesawatnya dikawal oleh jet tempur Angkatan Udara Arab Saudi saat memasuki wilayah udara kerajaan dan 21 senjata ditembakkan sebagai penghormatan saat bangsawan senior Saudi menemuinya di bandara pada hari Rabu lalu.

Dalam artikel op-ed yang diterbitkan di media Arab Saudi, Xi mengatakan dia sedang dalam “perjalanan perintis”. “Untuk membuka era baru hubungan China dengan dunia Arab, negara-negara Arab di Teluk, dan Arab Saudi,” katanya.

Continue Reading

Nasional

Hari Antikorupsi Sedunia 2022: Korupsi Budaya Indonesia?

Published

on

Korupsi diduga sudah menjadi budaya di Indonesia. (Lampung Post)
Korupsi diduga sudah menjadi budaya di Indonesia. (Lampung Post)

mycity.co.id – Korupsi merupakan budaya bangsa Indonesia. Ungkapan tersebut sering kita dengar, dan bahkan secara tidak sadar, kita sering membenarkan ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut tentu lahir bukan tanpa sebab.

Apakah korupsi telah menjadi budaya? Jawabannya pasti akan bervariasi tergantung apa yang dimaksud dengan budaya. Serta, kekuatan ikatannya dalam menentukan pola dan norma kehidupan sosial masyarakat.

Mengutip Moh Hatta yang menyatakan bahwa korupsi di Indonesia telah menjadi budaya dengan melihat fenomena yang terjadi. Namun, bila budaya itu diwariskan apakah nenek moyang kita mengajarkan korupsi?

Masalahnya jelas jadi rumit oleh karena itu penyebutan tersebut. Jadi, perlu dilakukan hati-hati atau harus dengan referensi pemaknaan budaya yang spesifik dengan selalu memperhatikan continuity and change.

Dalam periode awal pada setiap daerah/bangsa termasuk Indonesia umumnya melalui fase-fase kehidupan sosial (August Comte). Dari mulai fase teologis, metafisik dan positif.

Budaya Korupsi di Indonesia

Budaya dalam arti nilai yang umum dijalankan dalam fase animisme (teologi, metafisik). Tujuannya mengendalikan berbagai kejadian yang merugikan atau merusak kehidupan masyarakat.

Pemberian sesajen menjadi salah satu instrumen penting untuk menenangkan dan memperkuat posisi kehidupan manusia. Dengan sesajen diharapkan penguasa supranatural dapat melindungi kehidupan mereka.

Sedangkan korupsi jelas secara nyata merupakan perbuatan busuk dan tidak bersandar pada budi maupun akal yang baik. Oleh karena itu korupsi bukanlah merupakan budaya.

Korupsi merupakan perbuatan yang merugikan orang lain dan bahkan merugikan bangsa dan negara. Korupsi merupakan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Prof. Mahfud MD, salah satu ahli hukum di negeri ini, korupsi bukan merupakan budaya bangsa Indonesia dengan menyebutkan tiga alasan. Pertama, yang namanya budaya pasti selalu berkaitan dengan kebaikan budi.

Budaya adalah hasil daya cipta, rasa, dan karsa manusia yang tentu melahirkan perilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Apalagi kita sudah mengklaim sendiri sebagai bangsa yang mempunyai budaya adiluhung (unggul), dan ini diamini pula oleh bangsa lain. Bahkan dalam tiga azimat revolusi yang dikemukakan oleh Bung Karno, bangsa Indonesia harus berkepribadian sesuai dengan budaya bangsa.

Apa iya, Bung Karno akan menyuruh Bangsa Indonesia berkepribadian korupsi? Tentu saja tidak bukan?

Yang kedua, apabila kita beranggapan dan percaya bahwa korupsi merupakan bagian dari budaya. Kita adalah bangsa yang pesimis dan takluk terhadap korupsi.

Berarti sama saja kita menganggap korupsi sebagai hal yang biasa dan amat sulit diberantas. Sebab yang namanya budaya itu sudah dihayati sebagai kebiasaan hidup yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad. Sehingga, sulit dihentikan juga sampai berabad-abad ke depannya. Dengan sikap “lemah” seperti itu bagaimana mungkin kita akan memerangi korupsi?

Yang ketiga, perjalanan bangsa Indonesia pada awal kemerdekaan kenyataan menunjukkan korupsi bisa diatasi atau diminimalisasikan melalui konfigurasi dan kebijakan-kebijakan politik.

Pada awal kemerdekaan sampai menjelang tahun 1950-an, negara kita relatif bisa memerangi korupsi. Pada era itu, korupsi besar bisa dihitung dengan jari dan tetap mudah diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.

Ada menteri-menteri diajukan ke pengadilan dan dihukum karena tindak pidana korupsi (seperti Menteri Agama dan Menteri Kehakiman).

Korupsi tidak hanya terjadi di lapisan “atas” negeri ini. Tidak hanya para pejabat, tidak hanya para ASN, pun tidak sesempit yang telah muncul diberitakan di media-media.

Korupsi jauh lebih luas dari itu semua. Ini juga telah mewabah di seluruh lapisan masyarakat kita. Korupsi bukanlah budaya bangsa kita.

Akan lebih tepat jika dikatakan bahwa korupsi merupakan wabah penyakit yang menjangkiti seluruh lapisan bangsa ini.

Continue Reading
Advertisement

Trending