Connect with us

COVID-19Update

Menlu Retno: Demokrasi Kunci Utama Setiap Negara Pulih dari Pandemi Covid-19

Published

on

Menlu Retno Marsudi
Menlu Retno Marsudi

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyatakan demokrasi merupakan hal yang dibutuhkan bagi seluruh negara untuk pulih dari pandemi Covid-19.

Retno menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara di Bali Democracy Forum (BDF) ke-14 yang berlangsung di Nusa Dua Bali, Kamis (9/12/2021).

“Demokrasi adalah katalis untuk terjadinya perubahan yang positif dan kita memerlukan demokrasi untuk pulih dari pandemi,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Saya menegaskan tidak dapat dimungkiri bahwa negara-negara yang paling baik menangani pandemi adalah negara-negara demokrasi,” dia menambahkan.

Maka dari itu, keseimbangan antara demokrasi dan aturan yang berlaku menjadi cara untuk mengatasi pandemi Covid-19. Demokrasi dalam pandemi Covid-19 dapat dicapai salah satunya dengan menerapkan prinsip kesetaraan.

“Setiap orang harus memiliki kesempatan yang setara untuk menang melawan pandemi Covid-19. Untuk itu, kita harus memastikan akses vaksin yang setara bagi semua,” ucap Retno lagi.

Retno menerangkan, kesenjangan vaksin di dunia masih sangat lebar. Sebanyak 64,94 persen populasi di negara kaya telah mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin Covid-19. Namun, baru 8,06 persen masyarakat di negara berpendapatan rendah yang mendapatkan vaksin.

Kesenjangan yang lebar ini juga disinggung oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Guterres menyampaikan, pandemi Covid-19 berpeluang untuk melebarkan kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang.

COVID-19Update

Kemenkes: Puncak Omicron Terjadi Sebentar Lagi

Published

on

By

Ilustrasi Omicron

Kementerian Kesehatan (Kemenkes), memperkirakan kasus Covid-19 Varian Omicron puncak gelombang pertamanya terjadi pada pertengahan Februari sampai awal Maret 2022.

Omicron merupakan nama dari jenis varian covid-19 yang sedang melanda Indonesia. Nama omicron itu sendiri berasal dari huruf ke-15 alfabet Yunani, dan merupakan variants of Concern (VOC) kelima yang diidentifikasikan oleh WHO.

Hal tersebut dipilih untuk menghindari pemberian nama berdasarkan lokasi di mana mereka pertama kali terdeteksi, sebab akan memunculkan diskriminasi dan stigmatisasi. Selain itu juga penggunaan nama omicron dinilai dapat diingat dan memudahkan setiap orang menyebutnya.

Wilayah Jabodetabek diperkirakan akan menjadi daerah yang tinggi untuk lonjakan kasus covid-19 jenis omicron ini, khususnya Jakarta. Disebabkan karena tingginya angka mobilitas di tempat tersebut, serta terlihat juga dari penularan varian omicron yang terdeteksi lebih banyak terjadi di sana.

Baca Juga:

  1. Tegas, Jokowi Minta Orang Tua Murid Tak Tanda Tangan Surat Tanggung Jawab Risiko Vaksinasi Covid-19
  2. Pandemi Covid-19, Biaya Bangun & Desain Kantor Naik 10%
  3. Jokowi Ungkap Kunci Sukses Berantas Covid-19 yang Tak Dimiliki Negara Lain

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg Widyawati, MKM dalam rilis resmi Kemenkes RI, Senin (17/1/2022) Mengatakan bahwa, “Mengingat dari hasil identifikasi Kemenkes, mayoritas transmisi lokal varian Omicron terjadi di DKI Jakarta, dan diperkirakan dalam waktu dekat juga akan meluas ke wilayah Bodetabek. Mengingat secara geografis daerah-daerah tersebut berdekatan dan mobilitas masyarakatnya sangat tinggi.”

Kekebalan imunitas masyarakat perlu dipertahankan agar tidak mudah tertular oleh varian omicron ini, Kemenkes pun turut memperhatikan hal teserbut dengan memprioritaskan wilayah Jabodetabek sebagai penerima vaksin booster.

Warga dihimbau agar tidak panik namun tetap waspada jika nantinya kasus varian omicron melonjak, Menkes berupaya untuk menangani kasus ini sebaik dan semaksimal mungkin.

Continue Reading

COVID-19Update

Kabar Baik, Studi Terbaru Menujukkan 3 Dosis Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Omicron

Published

on

Vaksin Sinovac
Vaksin Sinovac

Ada kabar baik soal varian Omicron bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya menggunakan vaksin Sinovac. Studi terbaru menunjukkan bahwa tiga dosisi CoronaVac memiliki antibodi untuk varian Omicron.

Seperti dilansir Resuters, Senin (17/1/2022), studi yang diterbiktkan bioRxiv yang diselenggarakan di China menunjukkan tingkat serokonversi atau perkembangan dari antibodi penetralisir terhadap Omicron meroket dari 3,3 menjadi 95 persen untuk rangkaian dua dan tiga dosis vaksin.

Studi tersebut dilakukan kepada 120 orang peserta riset. Tujuannya untuk meneliti respons imun CoronaVac.

Baca Juga:

  1. Demi Cegah Penyebaran Covid-19, Wagub Minta Warga Tak Nobar Timnas Indonesia
  2. Mampukah Timnas Balas Kekalahan Telak dari Thailand? Ini Jawaban Shin Tae-yong
  3. Ford Tahun Depan Siap Kembali Jualan Mobil di Indonesia

Pada partisipan yang menerima tiga dosis, peneliti juga mengisolasi 323 antibodi monoklonal yang berasal dari memori sel B.

Setengahnya dilaporkan mengenali receptor binding domain (RBD) dan menampilkan bahwa sebagian dari mereka memberikan netralisasi pada SARS-CoV-2 variants of concerns (VOCs) atau Omicron.

Juru bicara Sinovac, Pearson Liu, menyatakan penelitian itu memberikan kepastian bahwa tipe vaksin dari virus yang nonaktif sebagai jenis vaksin yang paling banyak digunakan secara global, tetap efektif melawan Covid-19. Dia membandingkannya dengan jenis vaksin lain seperti mRNA.

“Hasil tersebut juga mendukung tiga dosis imunisasi untuk memastikan perlindungan terhadap Covid-19,” katanya lewat keterangan tertulis yang diterima Jumat, 14 Januari 2022.

Data terbaru itu muncul karena adanya penemuan yang menunjukkan bahwa satu bulan setelah dosis kedua, CoronaVac memberikan respon Sel-T yang lebih tinggi dibandingkan dengan vaksin jenis mRNA.

Hasil itu dianggap penting untuk mencegah penyakit serius, rawat inap, dan kematian, dan meng-counter temuan yang dipublikasikan pada Desember 2021 dari penelitian oleh beberapa fakultas kedokteran di Hong Kong yang menyebut hasil sebaliknya.

Saat ini Vaksin Sinovac, CoronaVac, telah disetujui untuk penggunaan darurat atau penggunaan pemasaran bersyarat oleh WHO dan badan pengawas obat lokal di lebih dari 50 negara dan wilayah.

Continue Reading

COVID-19Update

Bill Gates: Masyarakat Bakal Memperlakukan Covid-19 Bagai Flu Biasa

Published

on

Bill Gates

Pendiri Microsoft Bill Gates optimistis pandemi Covid-19 akan segera berakhir dan masyarakat akan memperlakukan virus ini bagaikan flu biasa.

Sejak pengujung tahun 2021, Bill Gates sudah yakin pandemi Covid-19 akan segera berakhir. Keyakinan Bill Gates berpedoman pada efektifnya vaksin dalam mencegah Covid-19.

Kini Gates duduk bersama secara virtual bersama Ketua Kesehatan Global di Universitas Edinburgh dan Direktur Program Tata Kelola Kesehatan Global Devi Sridhar untuk membahas fungsi sains di tengah pandemi dan apa yang Gates lihat pada masa mendatang

Kini Gates duduk bersama secara virtual bersama Ketua Kesehatan Global di Universitas Edinburgh dan Direktur Program Tata Kelola Kesehatan Global Devi Sridhar untuk membahas fungsi sains di tengah pandemi dan apa yang Gates lihat pada masa mendatang.

Percakapan selama 45 menit tersebut berlangsung di media sosial Twtitter dalam format tanya jawab.

Selama obrolan tersebut, pernyataan yang paling menonjol adalah komentar Gates tentang dua faktor utama yang hilang dalam vaksin yang ada saat ini.

“Vaksin yang kami miliki mencegah penyakit parah dan kematian dengan sangat baik, tetapi mereka kehilangan dua hal utama,” tulisnya.

“Pertama mereka masih membiarkan infeksi [‘menembus’] dan durasinya [perlindungan] tampaknya terbatas. Kami membutuhkan vaksin yang mencegah infeksi ulang dan memiliki durasi bertahun-tahun,” tambahnya.

Gates kemudian berbicara tentang kesulitan proses vaksinasi global yang luas, dia menjelaskan bahwa ketika vaksin pertama kali diluncurkan, mereka terbatas dan bergerak ke ‘negara-negara kaya.’

Namun sekarang masalahnya bukan pasokan melainkan logistik dan permintaan, seraya menyebut sistem perawatan kesehatan di negara-negara berkembang dan miskin sebagai ‘faktor pembatas.’

Sridhar kemudian bertanya kepada Gates tentang penyebaran teori konspirasi Covid-19 dan informasi yang salah, serta bagaimana dia menyarankan kita untuk memerangi itu.

“Media sosial tertinggal dalam upaya untuk mendapatkan informasi faktual – akan ada banyak perdebatan tentang bagaimana melakukannya dengan lebih baik pada hal itu,” katanya, seperti dikutip dari Entrepeneur.

“Orang-orang seperti Anda dan saya dan Tony Fauci telah menjadi sasaran banyak informasi yang salah. Saya tidak mengharapkan itu. Beberapa di antaranya seperti saya meletakkan chip di lengan tidak masuk akal bagi saya – mengapa saya ingin melakukan itu?” imbuhnya.

“Saya akan membuat lelucon tetapi akan dapat menyebabkan badai,” jawab Sridhar disertai dengan emoji tertawa.

Continue Reading

Trending