Connect with us

Sosial-Budaya

Mengenal Urak Wedalan, Tradisi Tarawih Unik di Indonesia

Published

on

ilustrasi jajanan pasar

Kegembiraan dalam menyambut Bulan Ramadan dirayakan dengan berbagai macam cara oleh masyarakat dari berbagai daerah. Misalnya, membuat takjil khas yang hanya ada saat Ramadan dan merayakan tradisi khas menyambut bulan Ramadan.

Salah satunya adalah tradisi Urak Wedalan di daerah Kudus. Apa itu Urak Wedalan?

Masyarakat Kudus, tepatnya di desa Berugenjang, melestarikan Urak Wedalan dari tahun ke tahun sebagai tradisi unik dan khas mereka. Urak Wedalan memiliki arti ‘Kayu Sedekah’. tradisi ini adalah berupa membagi-bagikan jajanan pasar kepada para jamaah selepas shalat tarawih.

Dinamakan Urak Wedalan atau Kayu Sedekah sebab masyarakat ikut andil dalam tradisi ini. Pada prakteknya, panitia masjid yang menyelenggarakan Urak Wedalan ini akan memberikan sepotong kayu bertuliskan ‘Urak Wedalan – Sak Kuasane’ yang berarti kayu sedekah – seikhlasnya saja.

Mekanisme pelaksaannya yakni, masyarakat yang mendapatkan kayu ‘undian’ tersebut harus memberikan jajanan pasar ke masjid yang dibagikan oleh panitia masjid sebagai bagian dari tradisi.

Kemudian, warga yang mendapatkan kayu di malam sebelumnya harus memberikan kayu tersebut kepada tetangga di samping rumahnya. Begitupun seterusnya sehingga semua warga bisa merasakan memberi dan menerima.

Adapun tradisi Urak Wedalan ini dilaksanakan ketika hari pertama puasa sampai dengan malam takbir hari raya.

Baca Juga:

  1. Tradisi Nyorog, Simbol Hormat Orang Betawi ke Orang Tua Sebelum Melakoni Ibadah Puasa
  2. Tradisi Megibung Bali: Campuran Tradisi dalam Sambut Ramadan
  3. Mengenal Perlon Unggahan, Tradisi Unik Masyarakat Bonokeling Sambut Ramadan

Tradisi Urak Wedalan ini berlangsung dengan tertib sebab diurusi oleh takmir masjid setempat. Takmir masjid membagi beberapa kelompok masyarakat untuk memberikan jajan pasar ke salah satu masjid atau musholla.

Misalnya, daerah di blok A lebih dekat dengan Musholla daripada blok B yang lebih dekat dengan masjid. Maka dari itu, daerah blok A harus memberi jajan pasar di Musholla. Sedangkan blok B yang memberi jajan pasar ke masjid.

Karena konsepnya yang ‘sak kuasane’ atau seikhlasnya, jajan pasar yang dipatok juga tidak spesifik. Baik dari segi jenis maupun jumlahnya. Masyarakat tidak memandang jajan pasar itu entah kerupuk, tahu isi, roti, apem, klepon, bakwan, dan lain-lain.

Jajanan tersebut kemudian dibagian kepada seluruh jamaah seusai sholat tarawih tanpa terkecuali. Tak peduli mana yang kaya dan mana yang kekurangan. Masyarakat membaginya sama rata tanpa pilih-pilih. Pun, dengan porsi yang sama.

Yang dirindukan dalam suasana Urak Wedalan ini mungkin adalah gaduhnya bocah-bocah yang berebut jajanan ketika dibagikan.

Tradisi Berbagi dalam Kebersamaan

Makna dari tradisi ini ialah kebersamaan dan kekeluargaan. Urak Wedalan memberi warna tersendiri bagi masyarakat Berugenjang. Sebab, masyarakat terlanjur larut dalam kebersamaan di dalam tradisi ini.

Masyarakat membaur dalam nuansa kekeluargaan dan kebersamaan ketika jajanan dibagikan, dan setelah dibagikan. Setelah sholat tarawih, masyarakat biasanya pulang dnegan membawa jajan, atau memakannya di serambi masjid dan musholla sembari ngobrol dengan kawan sejawat tanpa memandang status sosial dan latar belakangnya.

Masyarakat juga kadang membuat sendiri jajanan pasar yang hendak dibawa ke masjid atau musholla. Seperti umumnya masyarakat Jawa, pasti tetangga sekitar datang membantu dalam proses tersebut. Terkadang, akan ada tetangga yang membawa bahan baku untuk membuat jajanan pasar yang akan dibagikan nantinya.

Ada suasana kebersamaan serta gotong royong dalam tradisi ini.

Meskipun jajanan yang diberikan sangatlah sederhana, namun hal tersebut tidak mengurangi suasana kebersamaan. Suasana kebersamaan ini tentu akan memberi makna tersendiri bagi masyarakat Berugenjang yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan hidup dalam budaya agraris yang selalu menopang satu sama lain.

Sosial-Budaya

Mengenal Mangenta, Tradisi Suku Dayak yang Sukses Pecahkan Rekor MURI

Published

on

Tradisi Mangenta

Provinsi Kalimantan Tengah berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas prosesi tradisi Mangenta dengan peserta terbanyak, dengan peserta seribu lebih.

Gubernur Kalteng Sugianto Sabran menyatakan, pencapaian ini sangat luar biasa. Ia memuji kekompakan masyarakat Kalteng.

“Capaian ini, berkat partisipasi dan dukungan masyarakat di Kalteng,” kata Gubernur Sugianto Sabran.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Setidaknya, sebanyak 1.043 peserta turut berpartisipasi dalam kegiatan itu, dan hal ini dinilai sebagai langkah untuk melastarikan warisan budaya kuliner Kalteng.

Orang nomor satu di Bumi Tambun Bungai ini juga berharap, melalui kegiatan tersebut masyarakat luas dapat mengenal kuliner khas Kalteng dan mengembangkannya menjadi aneka varian rasa, sehingga dapat dinikmati banyak orang termasuk generasi milenial.

“Tidak hanya sekadar varian original saja, sehingga kuliner kenta bisa menjadi kuliner modern yang digemari semua orang termasuk generasi milenial,” tambahnya.

Masih dalam perhelatan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Kalteng ke 62. Selain Mangenta, Pemerintah Daerah Provinsi Kalteng juga memecahkan rekor bakar jagung sebanyak 62 ribu bonggol atau tongkol. Hal ini menjadi penanda, direbutnya predikat Muri bakar jagung yang sebelumnya dipegang oleh Kota Jember, Provinsi Jawa Timur dengan total 52 ribu.

Tradisi Mangenta

Tradisi Mangenta berasal dari nenek moyang suku Dayak Kalimantan Tengah dahulu kala atau dengan kata lain sifatnya turun temurun. Mangenta merupakan suatu kegiatan kaum petani bersyukur atas dimulainya panen padi, pada saat musim tiba untuk menuai.

tradisi Mangenta berasal dari nenek moyang suku Dayak Kalimantan Tengah dahulu kala atau dengan kata lain sifatnya turun temurun. Mangenta merupakan suatu kegiatan kaum petani bersyukur atas dimulainya panen padi, pada saat musim tiba untuk menuai.

Setelah itu, beras disangrai dengan tungku di atas kayu bakar hingga matang. Apabila matang padi akan meletup dan terpisah dari kulitnya menjadi beras. Selanjutnya, beras ditumbuk dengan kayu ulin.

Kemudian, beras dibersihkan dari kotoran yang masih tertinggal dan siap dihidangkan bersama air hangat, gula pasir, gula merah, dan parutan kelapa muda.

Koordinator sekaligus keturunan suku dayak, Agus menuturkan, saat ini tradisi mangenta mulai ditinggalkan sebab wara juga sudah jarang bertani padi.

“Sebenarnya orangtua itu tahu, namun yang bertani sekarang sudah sedikit, penduduk lokal juga jarang yang bertani, sedangkan tradisi mangenta merupakan khas lokal suku Dayak,” dia menambahkan.

Continue Reading

Pojok

Mengenal Serunai, Alat Musik Tiup Kebanggaan Minangkabau

Published

on

Alat musik Serunai

Serunai bukanlah suling, namun lebih mirip clarinet dengan ujung mengembang seperti corong. Alat musik tiup khas Ranah Minang Sumatera Barat ini, terbuat dari batang padi, kayu, bambu, batang kelapa atau tanduk kerbau.

Alat musik tersebut, bisa dimainkan sendiri atau berbarengan dengan alat musik lain. Suaranya yang melengking dan khas kerap digunakan untuk mengiringi tarian, pencak silat, ataupun sekadar untuk menghibur diri kala di sawah atau ladang.

Bagian yang ujung mengembang seperti corong, biasanya terbuat dari kayu atau tanduk kerbau. Tapi bisa juga terbuat dari daun kelapa yang dililit. Serunai memiliki empat lubang dengan jarak antar lubang sejauh 2,5 cm.

Baca Juga:

  1. Ragam Potensi Besar Pengembangan Properti di Jakarta Timur
  2. Asal-usul Nama Kramat Jati, Tempatnya Pohon Keramat di Jakarta Timur
  3. Begini Potensi Jakarta Timur Hingga Karawang Jadi Jakarta Garden City

Kemudian bagian tengah serunai terdiri dari dua batang kayu atau bambu dengan ukuran berbeda. Ukuran yang lebih kecil disebut pupuik atau puput, fungsinya sebagai tempat untuk meniup. Sedangkan yang lebih besar berguna untuk mengatur nada, dan di bagian ini pula empat lubang itu berada. Membuka dan menutup lubang ini akan menghasilkan nada berbeda. Ukuran serunai hanya sekitar 20 cm.

Diceritakan dalam sejarah, alat musik Serunai ini berasal dari Lembah Kashmir, dataran India Utara dengan nama Shehnai. Alat musik Shehnai ini diperkirakan merupakan produk budaya hasil perkembangan dari alat musik pungi yang dipakai dalam musik para pemikat ular tradisional India.

Setelah banyak dikenal luas di dataran tinggi Minangkabau, Sumatera Barat, kemudian Serunai menjadi alat musik tiup yang populer khas Minang. Alat musik ini dikenal merata di daerah Sumatera Barat, terutama di bagian dataran tinggi seperti di daerah Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh Kota, serta sepanjang pesisir pantai Sumatera Barat.

Alat musik Serunai telah dipopulerkan ke seluruh Indonesia oleh para imigran dari Minang. Selain itu, Serunai juga banyak dikenal sebagai alat musik tradisional Malaysia dan masyarakat Banjar di Kalimantan dengan sebutan nama yang sama.

Alat musik Serunai

Alat musik Serunai biasanya dimainkan dalam berbagai acara adat yang identik dengan keramaian, seperti upacara adat pernikahan, penghulu atau batagak pangulu, dan lain sebagainya.

Alat musik jenis ini juga biasa dimainkan secara bebas, seperti dimainkan secara perorangan pada saat memanen padi atau di kala luang setelah bekerja di ladang. Maupun dimainkan bersama-sama untuk mengiringi pertunjukan pencak silat Minang.

Alat musik Serunai atau juga dikenal dengan sebutan puput Serunai adalah alat musik tradisional yang memiliki bentuk menyerupai Seruling. Serunai memiliki ukuran panjang sekitar 10 sampai 12 cm.

Alat musik Serunai ini juga hampir menyerupai dengan Saluang, namun bagian ujungnya lebih mengembang semacam terompet. Bagian mengembang tersebut berguna sebagai media untuk memperkeras volume suara yang dikeluarkan.

Continue Reading

Histori

Kesenian Senjang, Tradisi Lisan Sarat Sejarah Masyarakat Musi Banyuasin

Published

on

kesenian senjang

Sejarah kebudayaan Sumatera Selatan memiliki ciri khas yang unik dan tidak semua provinsi di Indonesia memiliki ciri-ciri tersebut.

Ciri budaya Sumatera Selatan dibangun selama berabad-abad, lapisan demi lapisan mulai dari lapisan kebudayaan Austronesia yang datang ke kawasan ini sejak lebih kurang dari 5000 tahun yang lalu.

Tradisi Autroneisa ini bertahan dan mampu menyesuaikan dengan kebudayaan-kebudayaan yang masuk ke seluruh daerah yang ada di Sumatera Selatan dan juga seiring perkembangan zaman maka kebudayaan tersebut kelak akan menjadi kebudayaan Melayu Sumatera Selatan.

Sumatera Selatan di ibaratkan pot raksasa tempat munculnya beragam kebudayaan sehingga menghasilkan kebudayaan muda yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri.

Faktor lingkungan memberi kontribusi yang besar bagi perkembangan kebudayaan campuran tersebut. Bentang alam berupa laut, rawa-rawa, sungai, dan daratan rendah dan perbukitan membentuk ciri khas sub-sub kebudayaan Melayu Sumatera Selatan.

Kebudayaan Sumatera Selatan yang juga dikenal dengan kebudayaan Batanghari Sembilan karena masyarakat pendukungnya yang hidup dan berkembang di daerah sepanjang aliran sungai Musi dan anak sungainya.

Kebudayaan Sumatera Selatan mampu bertahan di tengah gempuran kebudayaan asing yang mulai masuk dan berkembang seperti sekarang ini.

Maka banyak kebudayaan asli pada akhirnya mulai tergerus dan terancam keberadaannya sebagai akibat kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan kebudayaan asli yang ada di daerah Sumatera Selatan.

Senjang sebagai salah satu warisan budaya tak benda masyarakat Musi Banyuasin yang hadir sebagai salah satu hasil dari kebudayaan nenek moyang masyarakat pada zaman dahulu.

Senjang hadir sebagai salah satu dari tujuh unsur kebudayaan yang ada di masyarakat, berupa hasil dari kebudayaan masyarakat Melayu Sumatera Selatan yang ada di daerah Musi Banyuasin. Dan juga disebut sebagai salah satu dari tradisi masyarakat Batanghari Sembilan. Mengingat kabupaten Musi Banyuasin di lintasi oleh sungai Musi.

Sungai berfungsi sebagai tempat perdagangan dan perniagaan ini memiliki arti dan posisi strategis dalam membesarkan kebudayaan Musi Banyuasin.

Melalui fungsi ini, dapat dilihat bagaimana kebudayaan Musi Banyuasin adalah kebudayaan yang terbuka terhadap pertukaran dan penyerapan budaya dari daerah lain.

Melalui perdagangan juga, maka masyarakat Musi Banyuasin membiasakan diri menjadi komunitas yang terbuka, toleran, dan memuliakan tamunya.

Senjang tidak hanya menggambarkan kondisi geografis, flora, dan fauna yang ada di kabupaten tersebut tetapi juga menjelaskan berbagai penguasaan teknologi membuat perangkap ikan, seperti membuat rawai, bubu.

Selain itu, pemukiman seperti bentuk pemukiman pada lingkungan sungai yang mengikuti alur sungai dan bentuk-bentuk rumah selalu menghadap ke sungai yang disebut rumah rakit adalah pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Musi Banyuasin.

Penyampaian Senjang Pada awalnya senjang di sampaikan di balai-balai desa setempat dan musik pengiringnya pun menggunakan kenong karena belum adanya musik pengiring senjang, setelah itu barulah seiring perkembangan zaman pada masa kolonial Belanda senjang disampaikan memakai alat musik.

Alat musik yang digunakan pertama kali untuk mengiring seni senjang adalah Tanjidor. Tanjidor alat musik yang berkembang luas di masyarakat Sumatera Selatan ketika Belanda dapat memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke pedalaman Sumatera Selatan.

Pada saat Kesultanan Palembang Darussalam sedang berperang melawan Belanda yang dikenal dengan perang Menteng.

Perang ini berakhir pada tahun 1821 yang dimenangkan oleh pihak Belanda yang ditandai dengan ditangkapnya Sultan Mahmud Badaruddin II dan diasingkan ke Ternate hingga akhir hayatnya.

Budaya Eropa yang masuk seiring masuknya bangsa Belanda ke Sumatera Selatan ditandainya dengan percampuran kebudayaan Nusantara dengan kebudayaan Eropa yang sering dikenal dengan kebudayaan Indies.

Setelah menguasai Sumatera Selatan Belanda membagi daerah tersebut menjadi Iliran dan Uluan dan sebagai pusat pemerintahan berpusat di Palembang.

Baca Juga:

  1. Kesenian Ketoprak, Dulunya Hiburan Tani
  2. Lais, Kesenian Tradisional Ekstrem Garut yang Bikin Jantung Berdebar
  3. Seni Reog: Dilarang Semasa Penjajahan, Jadi Alat Politik Setelah Merdeka

Daerah Iliran disebut sebagai daerah yang berada di kawasan delta sungai Musi dan daerah Uluan disebut sebagai daerah yang berada di pedalaman atau daerah luar Keresidenan Palembang.

Selanjutnya pemerintah kolonial Belanda membagi Palembang menjadi dua daerah yang disebut Afdeeling, dan daerah yang berada secara langsung dibawah pengawasan Belanda mengakui secara langsung pemerintahan Belanda.

Pada saat itu pemerintah Belanda membentuk sistem pemerintahan yang dikendalikan oleh seorang residen yang berkedudukan di Palembang.

Sedangkan di pedalaman Sumatera Selatan Belanda mengangkat Controleur sebagai pendamping divisi.

Wilayah pemerintahan Karesidenan Palembang, kemudian dibagi menjadi tiga Afdeeling dan Onder-Afdeeling yang meliputi: Afdeeling Palembangsche Bendenladen Palembang Ilir dan Afdeeling Palembangsche Bovenlanden Palembang Ulu. 

Afdeeling Palembangsche Afdeeling Bendenlanden Palembang Ilir dengan Asisten Residen berkedudukan di Palembang yang membawahi beberapa Onder-Afdeeling yaitu: Palembang, Ogan Ilir Komering Ilir, Banyuasin, Musi Ilir dan Rawas.

Afdeeling Palembangsche Bovenlanden Palembang Ulu dengan Asisten Residen berkedudukan di Lahat yang membawahi beberapa Onder- Afdeeling yaitu: Lematang Ulu, Lematang Ilir, Tanah Pasemah, Tebing Tinggi dan Musi Ulu.

Ogan dan Komering Ulu, dibawah Asisten Residen yang berkedudukan di Baturaja yang membawahi Onder-Afdeeling yaitu: Ogan Ulu, Muara Dua, dan Komering Ulu.

Ketika Sekayu menjadi Onder- Afdeeling dari Afdeeling Palembangsche Bendenladen, maka seluruh adat dan budaya masyarakat Sekayu pun sebagian bercampur dengan kebudayaan orang Eropa. 

Percampuran itulah menyebabkan dari segi alat musik pengiring senjang pun mengalami perubahan dahulu sebelum Belanda masuk ke Sumatera Selatan.

Senjang di sampaikan dengan cara tidak memakai alat musik melainkan disampaikan secara sederhana barulah ketika masuknya kekuasaan Belanda di Onder-Afdeeling Musi Hilir barulah senjang disampaikan memakai musik pengiring Tanjidor.

Selain disampaikan di dalam acara pernikahan senjang disampaikan dalam acara resmi seperti acara khitanan dan acara pemerintahan dalam menyambut tamu.

Pelakon senjang ingin menunjukkan kepada khalayak yang mendengar bahwa mereka punya budaya lama yang bernama senjang.

Bersenjang agar hati bisa terhibur. Tapi pelakon senjang menyadari jika budaya lama terancam. Globalisasi membuat budaya lama perlahan (begoyo) hilang.

Namun demikian, pelakon senjang berusaha optimis karena masih berusia muda masih ada kesempatan untuk mempertahankan tradisi ini, apalagi dengan diadakannya festival randik atau festival tradisi makin ada harapan agar budaya lama tidak akan terendam.

Senjang disampaikan sebagai informasi dan pesan pada acara pernikahan agar nanti perkawinannya berjalan langgeng dan tidak akan ada masalah yang timbul di kemudian hari nanti.

Senjang bukan hanya disampaikan acara pernikahan saja tetapi juga disampaikan dalam acara perpisahan sekolah, acara penyambutan tamu penting dan juga acara lainnya.

Senjang sebagai budaya lama dan milik Musi Banyuasin terus menerus disuarakan, tidak hanya dalam acara perkawinan semata-mata tetapi juga dalam acara-acara festival.

Bahasa yang digunakan dalam bersenjang memakai bahasa Musi. Bahasa Musi digunakan sebagai salah satu bahasa yang digunakan sebagai bersenjang, penyampaian senjang yang salah dapat menyebabkan arti dan pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan ini senjang.

Senjang berbentuk seperti pantun yang terdiri dari 4 sampiran dan juga ter diri dari 4 sisi dan juga ada yang 8 sampiran dan 8 sisi.

Ada juga yang 10 sampiran dan juga 10 isi dan juga senjang memiliki nada penyampaian yang berbeda misalkan senjang sungai Keruh dan senjang Babat Toman senjang sungai Keruh.

Perbedaan senjang sungai Keruh berbeda dengan senjang Sekayu senjang sungai Keruh lebih cenderung bahasanya yang berbeda dari bahasa Sekayu justru juga senjang Sanga Desa berbeda juga dengan senjang sungai Keruh perbedaannya ialah dari segi logat bahasannya saja tetapi mengandung arti yang sama.

Continue Reading

Trending