Connect with us

Pojok

Mengenal Upacara Adat Mongubingo, Sunat Perempuan Ala Masyarakat Gorontalo

Published

on

bayi yang hendak disunat

Secara historis, upacara adat Mongubingo tidak dapat dilepaskan dari sejarah islamisasi di Gorontalo. Hassanudin & Basri Amin dalam buku Gorontalo Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial, menuliskan bahwa proses islamisasi Gorontalo dimulai ketika tokoh elite politik yaitu Raja Amai dari Kerajaan Gorontalo melakukan pernikahan dengan Putri Owutango dari Kerajaan Palasa.

Raja Amai beserta istrinya dan didampingi 8 raja-raja kecil di bawah vasal Palasa yaitu Tamalate, Lemboo, Sitendeng, Hulangato, Siduan, Sipayo, Songinti dan Bunuyo membimbing masyarakat serta merancang adat istiadat yang berpedoman pada Islam.

Pada tahun 1530 agama Islam secara resmi menjadi agama kerajaan dan mengatur adat istiadat dengan memasukkan pengaruh Islam didalamnya. Di dalam kerajaan mulai ditetapkan tentang pentingnya adat istiadat disesuaikan dengan syariat Islam.

Hasil rumusan ini dikenal dengan prinsip “saraa topa-topango to adati” artinya “syarah bertumpu pada adat”. Proses Islamisasi di Gorontalo semakin meluas dan terstrukturisasi.

Hal ini terbukti setelah diberlakukannya suatu pengembangan prinsip hukum adat yang berbunyi:“Aadati hulahulaa to saraa; saraa hulahulaa to adati” (adat bersendi syara, syara bersendi adat).

Upacara adat Mongubingo merupakan salah satu peninggalan berlakunya adat menggunakan dasar ajaran Islam di Gorontalo.

Hal ini dilakukan sebagai salah satu upacara rangkaian kehidupan pada masyarakat suku Gorontalo yang berupa serangkaian prosesi adat khitan bagi anak perempuan yang menginjakkan usia 1-3 tahun.

Upacara ini terdiri atas prosesi lihu lo limo (prosesi khitan anak perempuan), mo polihu lo limu (mandi lemon), dan mopohuta’a to pinggae (injak piring).

Makna filosofis upacara adat Mongubingo pertama yakni dalam prosesi momonto dan lihu lo limu. Sebelum anak memasuki prosesi khitan, anak perempuan terlebih dahulu menjalani prosesi pemberian tanda sunci (momonto) dengan dengan memberikan alawahu tulihi (kunyit yang dicampur kapur) di dahi, leher, di bawah tenggorokan, di bahu, dan pada lekukan tangan dan kaki sang anak perempuan oleh orang tua.

Makna tanda yang diberikan di dahi menunjukkan suatu pernyataan untuk tidak menyembah selain kepada Allah.

Tanda di leher bermakna agar anak tidak memasukkan makanan yang haram di dalam tubuhnya. Tanda di tenggorokan merupakan representasi bahwa setiap nafas manusia harus senantiasa diiringi dengan dzikir.

Tanda di bahu merupakan suatu bentuk kesiapan manusia untuk memikul tanggung jawab atas amanah yang diberikan oleh Allah.

Sedangkan tanda yang diberikan pada lekukan tangan dan kaki bermakna agar senantiasa melakukan perbuatan yang sesuai dengan ajaran dan menghindarkan dari perbuatan tercela.

Baca Juga:

  1. Tradisi Mitoni, Adat Tujuh Bulanan Masyarakat Jawa
  2. Eksistensi Kampung Adat Dukuh Garut di Tengah Gempuran Modernisasi
  3. Jamasan Pusaka Kabupaten Ngawi, Ritual Adat Jawa Penolak Bala

Pada prosesi lihu lo limu (pengkhitanan), anak perempuan dikhitan oleh bidan kampung (hulango); bagi masyarakat Gorontalo, hulango memiliki otoritas terkait adat kelahiran hingga kematian.

Prosesi khitan dilakukan di dalam ruangan yang gelap dengan mengambil sedikit selaput tipis yang ada di alat vital anak perempuan, dalam prosesi khitan digunakan tohetutu (lampu tradisional) sebagai penerang prosesi khitan dan saat prosesi khitan hulango menutupi dirinya dan sang anak dengan alumbu (kain putih).

Tohetutu bermakna sebagai penerang kehidupan, sedangkan kain putih sebagai lambang kesucian.

Secara garis besar prosesi khitan bermakna bahwasannya seorang perempuan perlu dibatasi hasratnya terhadap lawan jenis, karena pada dasarnya perempuan perlu dibatasi agar bisa mengontrol dirinya untuk menjadi perempuan yang sesuai dengan adat dan budaya Gorontalo, serta agama Islam.

Prosesi mo polihu lo limu (mandi lemon) dilakukan di suatu tempat sekitar rumah penyelenggara yang telah dihiasi oleh berbagai macam benda, seperti pisang gapi, batang tebu, tunas kelapa, mayang pinang, daun puring. Setiap benda-benda yang digunakan mengandung makna filosofis.

Pisang gapi dan tebu memiliki rasa yang manis sehingga anak yang diadat diharapkan menjadi anak yang manis di mata orang lain, tidak membeda-bedakan antar manusia, dan serta memiliki hati yang manis.

Tunas kelapa merepresentasikan bagaimana pohon kelapa dapat tumbuh secara kuat, oleh karena itu diharapkan sang anak menjadi manusia yang kuat, bermanfaat, dan memiliki rasa cinta yang tumbuh dan bertahan dengan kuat.

Mayang pinang pada dasarnya berbau harum, hal ini bermakna suatu harapan agar kelak menjadi manusia yang harum baik secara fisik maupun batin.

Sedangkan daun polohungo bermakna sebagai tolak balak, karena bagi masyarakat Gorontalo tanaman poluhungo ditanam di pekarangan rumah dan dipercaya dapat menghindarkan hal-hal yang buruk bagi penghuninya.

Kemudian sang anak didudukkan di pangkuan ibu di atas kukuran kelapa (dudungata) dan menghadap ke timur.

Kukuran kelapa mewakili salah satu perangkat dapur bagi masyarakat Gorontalo, anak perempuan diharapkan dapat memenuhi kodratnya yaitu mengerjakan tugas-tugas rumah tangga bagi keluarga.

Upacara mandi lemon diselenggarakan di pagi hari dan dengan menghadap ke arah Timur. Hal ini dikarenakan arah Timur merupakan arah terbitnya matahari yang merupakan sebuah harapan agar anak selalu dalam keadaan segar seperti halnya matahari terbit di pagi hari.

Prosesi berikutnya yaitu siraman menggunakan air harum yang sudah diramu. Air yang diharumkan tersebut yang terdiri atas kulit lemon yang dihaluskan, bunga melati, daun onumo (daun harum), umonu (ramuan yang sudah ditumbuk halus), tujuh macam daun polohungo (puring) yang dihaluskan lalu dan diiris-iris, dan tujuh buah limututu (lemon Sowanggi) yang sudah diiris-iris.

Sedangkan makna tujuh buah perian bambu kuning yaitu untuk mendapatkan kemuliaan, perlu mensucikan diri dari dosa lahir yang dilakukan oleh tujuh anggota badan, yaitu mulut, mata, telinga, hidung, kaki, tangan, dan kemaluan.

Makna prosesi siraman adalah mengharumkan dan membersihkan diri anak perempuan sebelum mencapai usia yang lebih dewasa. Prosesi dilanjutkan dengan tepuk pinang.

Masyarakat Gorontalo percaya apabila dalam prosesi tersebut pinang mudah pecah, maka sang anak akan mudah dalam menempuh hidupnya, sedangkan apaila tidak mudah pecah, maka sang anak dipercaya akan banyak menghadapi rintangan dalam hidupnya.

Selanjutnya prosesi pecah telur, penggunaan telur merupakan suatu harapan agar anak hatinya bulat seperti telur. Dalam prosesi pecah telur, apabila dalam prosesi kuning telur pecah, dipercaya maka masa depan sang anak buruk dan tidak dapat menjaga kehormatannya karena tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, apabila tidak pecah maka kelak masa depan sang anak akan baik dan dapat menjaga kehormatannya.

Prosesi yang terakhir adalah mopohuta’a to pinggae (injak piring). Dalam prosesi ini terdapat tujuh buah piring yang telah diisi berbagai macam benda, yaitu segeggam tanah dan tanaman rumput, biji jagung, padi, uang koin, daun puring, bakohati, dan tangkai mayang pinang.

Piring pertama, berisi tanah dan tumbuhan rumput bermakna kehidupan di bumi yang dilambangkan dengan tanah, perlu memperkuat pendirian, keimanan, dan ketakwaan yang dilambangkan dengan tumbuhan rumput.

Piring kedua yang berisi jangung bermakna sang anak wajib mempertahankan kesucian dan kehormatan dirinya.

Piring ketiga berisi padi bermakna kerendahan hati yang dilambangkan dengan buah padi yang semakin berisi maka semakin menunduk.

Piring keempat berisi uang koin bermakna rejeki yang halal. Piring kelima berisi daun puring bermakna adat, yaitu menghindarkan diri dari perbuatan yang memalukan diri sendiri dan keluarga.

Piring keenam berisi bakohati bermakna penataan diri anak. Piring ketujuh berisi tangkai mayang pinang bermakna keharuman nama pribadi dan keluarga perlu dijaga.

Injak piring dilakukan dengan bantuan sang ibu sedangkan sang ayah memayungi perjalanan menginjak piring.

Prosesi injak tujuh piring memiliki makna bahwa sang anak harus berjuang untuk menghadapi berbagai macam bentuk jalan kehidupan, peran seorang ibu adalah membimbing anak sedangkan ayah melindungi.

Setelah injak piring, kemudian beras lima warna (pale yilulo) ditabur ke seluruh ruangan rumah dengan maksud agar tidak memperoleh gangguan dari makhluk halus, lima warna menggambarkan lima aliran yang ada dalam tubuh manusia.

Merah merupakan gambaran atas darah merah yang mengalir pada tubutuh manusia, putih simbolisasi atas darah putih, ungu merepresentasikan warna daging manusia, hijau simbol dari urat yang ada di dalam diri manusia, sedangkan warna kuning adalah simbol dari sumsum manusia.

Pojok

Tanagupa, Surganya Orang Utan dari Kalimantan Barat

Published

on

By

Orang Utan

Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa) diketahui sebagai surga atau rumahnya bagi orang utan. Tempat ini terletak Jl. Gajah mada No.41, 78813, Ketapang, Kalimantan Barat.

Di mana taman ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi di daerah Kalimantan Barat dengan status sebagai Kawasan Suka Alam.

Diketahui, hal tersebut ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Het Zelfbestuur Van Het Landschap Simpang Nomor: 4/13.ZB/1937 tanggal 4 Februari 1937. Kemudian De Resident Der Westerafdeling Van Borneo mengesahkannya di Pontianak tanggal 29 April 1937.

Pada tahun 2021 lalu pun tempat ini kembali menerima seekor orangutan jantan liar dewasa hasil penyelamatan bersama antara Tim Wildlife Rescue Unit (WRU), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan IAR Indonesia, Yayasan Palung dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan.

Baca Juga:

  1. Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT
  2. Mengenal Upacara Adat Mongubingo, Sunat Perempuan Ala Masyarakat Gorontalo
  3. Adu Zatua, Tradisi Menghormati Roh Leluhur Ala Suku Nias

Usai mendapat laporan dari masyarakat tentang keberadaan orangutan yang terjebak di kebun warga di Desa Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, barulah kemudian upaya penyelamatan dan translokasi tersebut dilakukan.

Akhirnya orang utan bernama ‘Jala’ itu pun dipindahkan ke ke kawasan hutan Tanagupa. Berdasarkan hasil survei, kawasan tersebut mempunyai tingkat keamanan yang tinggi, jauh dari pemukiman dan memiliki tumbuhan pakan yang melimpah.

Selain itu juga kerapatan individu orang utan yang masih rendah di sana. Kegiatan translokasi orangutan ke Taman Nasional Gunung Palung selama tahun 2021 merupakan upaya yang kedua kalinya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, M. Ari Wibawanto pada keterangan tertulisnya (7/5/2021).

Continue Reading

Edukasi

Catat, Ini Jadwal Libur Sekolah 2022-2023

Published

on

Libur sekolah

Sebentar lagi pelajar jenjang SD, SMP, dan SMA di Jawa Barat akan menyambut datangnya libur kenaikan kelas 2022 sebelum memulai tahun ajaran baru.

Libur kenaikan kelas biasanya disambut dengan antusias karena termasuk masa libur panjang sekolah yang umumnya berkisar antara dua hingga empat minggu.

Terlebih sebelum libur panjang kenaikan kelas, para pelajar harus melewati rangkaian ujian kenaikan kelas (UKK) atau penilaian akhir semester (PAS) yang melelahkan.

Baru setelah penerimaan rapor serta momen kenaikan kelas, pelajar bisa menikmati masa libur panjang kenaikan kelas 2022 sebelum memasuki kelas yang baru.

Baca Juga:

  1. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho

Jadwal Libur Sekolah dalam Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023

Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari Raya Idul Adha: Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Tahun Baru Islam 1444 Hijriah: Sabtu, 30 Juli 2022
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Rabu, 17 Agustus 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Maulid Nabi Muhammad SAW: Sabtu, 8 Oktober 2022
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari Raya Natal: Minggu, 25 Desember 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Isra Mi’raj: Sabtu, 18 Februari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Hari Suci Nyepi: Rabu, 22 Maret 2023
Perkiraan Libur Ramadhan: Kamis-Sabtu, 22-25 Maret 2023
Jumat Agung: Jumat, 7 April 2023
Perkiraan Libur Idul Fitri: Jumat, 21 April 2023 – Jumat, 28 April 2023
Hari Raya Idul Fitri: Sabtu-Minggu, 22-23 April 2023
Hari Buruh: Senin, 1 Mei 2023
Hari Waisak: Sabtu, 6 Mei 2023
Kenaikan Isa Almasih: Kamis, 18 Mei 2023
Hari Lahir Pancasila: Kamis, 1 Juni 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023
Tahun Baru Hijriyah: Rabu, 19 Juli 2023

Continue Reading

Pojok

Polusi Fotografis dan Konsumerisme Visual

Published

on

ilustrasi fotografer

Plato pernah mengajukan sebuah alegori paling terkenalnya soal gua. Dalam cerita klasiknya, orang-orang dirantai di gua yang gelap. Mereka dihadapkan pada dinding gua, membelakangi sumber cahaya.

Mereka hanya bisa melihat bayang-bayang obyek yang datang dan pergi, dari hal-hal yang terjadi, terpantul ke dinding gua.

Bagi mereka, bayang-bayang itulah semua yang mereka ketahui tentang dunia, semua itu yang benar-benar eksis bagi mereka. Gua tersebut adalah batas semesta bagi mereka.

Kisah tadi belum selesai, tapi konsep dasar soal realitas tadi yang coba diulas Susan Sontag dalam esai In Plato’s Cave. Manusia, sebutnya dalam esai pembukanya di On Photography tersebut, masih terkurung dalam gua Plato.

Namun fotografi mengubah kondisi pemenjaraan tersebut. Fotografi menciptakan semacam “penglihatan” dan perasaan bahwa kita dapat memuat seluruh dunia dalam kepala kita. Realitas baru, sekaligus masalahnya, terbentuk.

Penulis Amerika cum aktivis sosial ini banyak menulis beragam topik selama hidupnya. Salah satu karya kritisnya yang paling terkenal, On Photography, pertama kali diterbitkan pada tahun 1977.

Meski ditulis sebelum era seseorang bisa menangkap ratusan gambar lewat ponsel cerdas mereka hanya dengan satu sentuhan, namun berbagai gagasan Sontag tetap sangat relevan dan menjadi salah satu teks definitif tentang kultur visual hari ini.

Manusia gua tadi sekarang punya ponsel pintar dan teknologi informasi yang mutakhir. Sejak penemuan camera obscura tahun 1838, hari ini kita mengambil lebih banyak foto setiap dua menit daripada keseluruhan abad ke-19.

Sontag menulis On Photography di masa sebelum penemuan citra digital, namun menengok kembali gagasannya, serasa membaca suatu ramalan.

Fotografi berkembang bersamaan dengan salah satu aktivitas modern yang paling khas: turisme. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, segerombolan besar orang secara teratur melakukan perjalanan untuk jangka waktu yang singkat, keluar dari lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam melakukan perjalanan, tampaknya tidak wajar untuk bersenang-senang tanpa membawa kamera. Foto akan menawarkan bukti yang tak terbantahkan bahwa perjalanan telah dilaksanakan, kesenangan telah diperoleh.

Mengambil foto menjadi cara untuk mensertifikasi pengalaman kita. Foto menyimpan pengalaman menjadi sebuah souvenir, sekaligus sebuah trofi.

Dalam hal ini, turisme sangat beririsan dengan yang namanya konsumerisme. Ketika ada foto di Instagram akan suatu tempat, yang menawarkan kebaruan dan keunikan, secara serempak banyak orang yang ingin mengunjunginya. Masyarakat kapitalis, sebut Sontag, membutuhkan sebuah kultur yang berbasis citraan guna merangsang pembelian. Tidak dapat disangkal bahwa budaya konsumerisme diberi makan oleh visual.

Dilema lainnya, foto-foto akan penderitaan dan kekejaman sekarang memiliki akses yang tak berkesudahan. Sebagian besar dari kita tak bisa menahan banjir informasi itu tetap mengalir di saku kita atau di telapak tangan kita, atau di mana saja ponsel kita berada.

“Perasaan iba adalah emosi yang tidak stabil,” tulis Susan Sontag dalam kumpulan esainya yang terakhir, Regarding the Pain of Others, yang diterbitkan pada 2003. “Perasaan iba perlu diterjemahkan ke dalam tindakan, atau akan jadi layu.” Pernyataan ini seharusnya bikin kita semua merasa tidak nyaman.

Baca Juga:

  1. WhatsApp Kini Punya Fitur untuk Hapus Foto & Video Otomatis
  2. Fotonya Diedit untuk Fantasi, Enzy Ancam Tempuh Jalur Hukum
  3. Selebgram Cantik Ini Untung Rp80 M dari Jual Foto Selfie di NFT

Kita mungkin jijik, ngeri, atau tersentuh pada suatu foto, tapi hanya dengan didorong oleh welas asih saja, tidak akan membawa kita pada semacam pemahaman. Apa yang coba ditunjukkan oleh Sontag adalah bahwa emosi tidak dapat dipercaya ketika harus mempertimbangkan tindakan yang benar.

Kita perlu berhenti menonton untuk mempertimbangkan bagaimana kita menanggapi gambar penderitaan, kesakitan, dan kekejaman, dan dengan kejam memikirkan peran kita sendiri sebagai pemirsa secara historis dan filosofis.

Masalahnya, kita lebih cepat tergerak untuk ngeri dan jijik, sekaligus kita lebih cepat lupa, karena deretan gambar yang jauh lebih banyak menuntut perhatian kita.

Kita dipaksa mengelola lebih banyak informasi melalui gambar daripada era-era sebelumnya, dan ini membuat hubungan kita dengan kasih sayang, kemarahan, dan rasa ketidakberdayaan yang terangsang oleh foto-foto tadi semakin kompleks. Polusi fotografis bikin kita mati rasa.

Fotografi, yang dulu dianggap sebagai media yang menggambarkan “kebenaran,” sekarang ironisnya merupakan penyumbang terbesar tentang manipulasi psikis masyarakat kapitalis. Kita dibombardir dengan gambar setiap hari, sebagian besar dari iklan; di papan reklame, di majalah, dan paling sering di layar kita.

Namun, pada saat yang sama, fotografi adalah percobaan penangkal paradoks kematian kita dan kesadaran yang mendalam akan hal itu.

Segala foto adalah memento mori, tulis Sontag. Mengambil foto adalah berpartisipasi dalam kemortalan, kerentanan, ketidaktetapan orang lain. Lewat mengiris suatu momen dan membekukannya, semua foto menjadi kesaksian atas melelehnya waktu yang tanpa henti.

Hal ini begitu benar, saat kita mengisi linimasa media sosial kita dengan gambar, seolah-olah untuk membuktikan bahwa garis waktu biologis kita, kehidupan kita, dipenuhi dengan momen penting. Sekaligus mengingatkan kita bahwa semuanya pasti akan segera menuju titik akhir dari garis waktu itu sendiri: kematian.

Foto mengkonfirmasi keberadaan kita di dunia, memberi semacam pinjaman bahwa ada bobot dalam eksistensi kita. Kenyataannya, kultur visual ini telah dikonfirmasi lebih lanjut dengan penemuan media sosial; sebuah fenomena yang Sontag lihat sekilas sebelum kematiannya akibat leukemia pada 2004.

Mallarmé, mengatakan bahwa segala sesuatu ada di dunia ini untuk berakhir dalam sebuah buku. Masa kini, tulis Sontag, semuanya ada untuk berakhir dalam sebuah foto.

Continue Reading

Trending