Connect with us

Inspirasi

Mengenal Sosok Sandiah Ibu Kasur, Sang Maestro Lagu Anak-Anak

Published

on

Sandiah Ibu Kasur

Sandiah Ibu Kasur adalah seorang seniman dan tokoh pendidikan. Dia dikenal sebagai pencipta lagu anak-anak yang amat populer.

Bernama asli Sandiah, atau lebih akrab disapa dengan panggilan Bu Kasur. Beliau lahir di Jakarta, 16 Januari 1926. Tepat kemarin dirinya berulang tahun, dan dalam rangka memperingatinya, wajahnya ditayangkan dalam Google Doodle (16/1/2022).

Dia bersekolah di Meer Uirgetreid Lager Onderwijs (Mulo) tahun 1930. Kemudian setelah menikah dengan Soerjono atau Pak Kasur, beliau jadi ikut dikenal dengan nama Bu Kasur. Di eranya, mereka berdua sering sekali hadir di berbagai acara radio maupun televisi karena karyanya sebagai pencipta lagu anak-anak.

Begitu banyak lagu anak yang telah beliau ciptakan, untuk menghibur anak-anak di Indonesai. Antara lain seperti lagu yang berjudul Kucingku, Bertepuk Tangan, dan Main Sembunyi. Lagu tersebut sangat terkenal, dan disukai oleh banyak anak.

Baca Juga:

  1. Gabriel Boric, Presiden Termuda Sepanjang Sejarah Chile dari Kaum Milenial
  2. Kisah Inspiratif Prajogo Pangestu: Dulu Sopir Angkot, Kini Orang Terkaya ke-5 Indonesia
  3. Mengenal 2 Sosok Srikandi Indonesia yang Masuk Daftar Pebisnis Perempuan Paling Berpengaruh di Asia Versi Forbes

Rekam jejak Bu Kasur

Kepeduliannya terhadap anak-anak sangatlah tinggi, membuatnya menjadi pembicara di seminar-seminar yang berhubungan dengan dunia anak. Bu Kasur dinilai begitu tulus dalam menyayangi anak kecil, beliau sangat dekat dengan anak-anak.

Pada tahun 1965, beliau mengelola TK Mini. Presiden Megawati Soekarno Putri, Guruh Soekarnoputra, Hayono Isman, dan Ateng, merupakan tokoh-tokoh ternama yang juga mengenyam pendidikan di TK Mini tersebut.

Tidak hanya sebatas itu saja, dirinya juga merupakan pemimpin Yayasan Setia Balita yang memiliki lima TK di Jakarta. Kemudian Bu Kasur melebarkan sayapnya sampai kepada bidang publikasi, beliau menjadi pengasuh sebuah rubrik di majalah anak Bocil.

Bu Kasur juga pernah memegang sebuah acara anak di radio dan televisi. Pertama, bersama Pak Kasur mengasuh siaran anak-anak di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Setelah itu tahun 1970-an, Bu Kasur memegang acara Taman Indria di TVRI. Kemudian memegang acara Hip Hip Ceria di RCTI, saat televisi swasta telah muncul.

Atas jasa-jasanya di dunia hiburan anak, beliau mendapatkan berbagi penghargaan pembawa acara anak-anak legendaris di televisi. Serta dalam pendidikan anak, beliau juga mendapatkan sejumlah penghargaan seperti di tahun 1976, dirinya mendapatkan penghargaan dari Centro Culture Italiano Premio Adelaide Ristori Anno II oleh pemerintah Italia. Kemudian pada tahun 1988, mendapatkan penghargaan dari Presiden dalam rangka hari Anak Nasional. Selanjutnya tahun 1922, penghargaan seperti Bintang Budaya Para Dharma.

Bu Kasur wafat pada usia 76 tahun, pada 22 Oktober 2002. Di makamkan tepat di sebelah makam suaminya, yang terletak di Desa Kaliori, Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah. Bu Kasur diketahui wafat akibat serangan stroke.

Advertisement

Inspirasi

The Sage of Monticello, Kisah Anak Ajaib dari Perkebunan Virginia

Published

on

lukisan thomas jefferson

It is the strong in body who are both the strong and free in mind ~ Peter Jefferson”

Washington, DC, Musim Dingin 1801. Terik cahaya matahari menyilaukan membangunkan Thomas Jefferson dari tidur pulasnya. Spontan Thomas Jefferson menganyunkan kakinya yang panjang dari kasurnya menuju baskom berisi air.

Bagi Thomas Jefferson mendinginkan kaki merupakan upaya menjaga kesehatan, jadi aktivitas semacam itu telah menjadi kebiasaannya seumur hidupnya.

Saat masih berkebun di perkebunan dekat Blue Ridge Virginia, setiap pagi Thomas Jefferson membawa ember logam untuk ditaruh di lantai sebelah ceruk di mana ia tidur.

Kini, Thomas Jefferson berusia hampir lima puluh delapan tahun. Rambut hitamnya mulai memutih, kulit berbintik-bintik kemerahan di masa mudanya yang selalu rentan terhadap matahari kini mengernyit sedikit. 

Sorot matanya tajam namun sulit dipahami, ada yang menggambarkan bola matanya berwarna biru meskipun ada pula yang berkata bola matanya berwarna cokelat. Akan tetapi semua sepakat, jika Thomas Jefferson memiliki rahang kuat dengan gigi yang besar.

John Meacham dalam bukunya Thomas Jefferson; The Art of Power menulis, sejak awal Februari 1801, ia terlibat dalam kekacauan dan berupaya menenangkannya dengan merendam kakinya pada baskom berisi air.

Thomas Jefferson terjerumus dalam kegundahan menunggu hasil pemilihan umum di mana ia telah menantang John Adams dan akan mengalahkannya pada pemungutan suara.

Thomas Jefferson lahir pada 13 April 1743 di area perkebunan Shawell yang terletak tepat di luar Charlottesville, Virginia. Thomas Jefferson adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara.

Ibunya, Jane Randolph Jefferson berasal dari keluarga yang mengklaim masih keturunan dari Inggris-Skotlandia sedangkan ayahnya, Peter Jefferson, merupakan seorang petani sukses, surveyor terampil dan kartografer handal yang bisa menghasilkan peta pertama Provinsi Virginia dengan akurat.

Thomas Jefferson senang bermain-main di hutan. Ia juga rutin berlatih biola dan gemar membaca. Pendidikan formalnya dimulai pada usia sembilan tahun, ia mempelajari bahasa Yunani dan Latin di sebuah sekolah swasta lokal yang dijalankan oleh Pendeta William Douglas. Saat usianya menginjak 14 tahun, ia belajar bahasa klasik, sastra dan matematika dari Pendeta James Meury.

Sejak tahun 1760, Thomas Jefferson mendalami filsafat, sastra dan sejarah di College of William and Mary di Williamsburg, ibukota Provinsi Virginia.

Thomas Jefferson harus menelan mentah-mentah perasaan kecewanya, ternyata disana hanya berisi pelajar-pelajar penyuka pertaruhan pacuan kuda, terobsesi hubungan percintaan dan gemar menghabiskan waktu bermain kartu. 

Baca Juga:

  1. Ambang Kehancuran Meksiko
  2. 5 Fakta Unik Thailand Izinkan Warga Tanam Ganja di Rumah
  3. Anak Menangi Pilpres Filipina, Inilah Keluarga Marcos yang Penuh Kontroversial

Setamat belajar College of William and Mary Thomas Jefferson menemui pakar-pakar keilmuan seperti Profesor William dan Letnan Gubernur Francis Fauquier.

Ia juga belajar ilmu hukum dari George Wythe, seorang pengacara terkemuka. Selama lima tahun belajar dengan George Wythe, Thomas Jefferson langsung menjelma menjadi salah satu pengaca paling terpelajar di Amerika.

Selama menekuni profesi sebagai pengacara, Thomas Jefferson hampir memenangkan semua kasusnya.

Selama itu pula, Thomas Jefferson mengenal dan mencintai janda terkaya di Virginia, Martha Wayles Skelton. Akhirnya, mereka menikah pada tanggal 1 Januari 1772 dan dikaruniai enam anak.

Thomas Jefferson pernah membacakan catatan-catatan tentang cita-citanya kepada temannya, Will Fleming. Thomas Jefferson dan Will Fleming merupakan pemuda yang berkemauan keras dan selalu optimis terhadap masa depannya.

Jefferson dan Fleming akan membeli perkebunan, menikah dengan perempuan setempat, mendirikan rumah bersebelahan dan bekerja di pengadilan yang sama.

Thomas Jefferson menikahi Rebecca Burwell sedangkan Will Fleming menikahi Sukey Potter. Thomas Jefferson terus-menerus berusaha mewujudkan rencana masa depan yang indah meskipun sejak remaja telah kehilangan ayahnya, Peter Jefferson.

Thomas Jefferson tumbuh dewasa dengan pandangan dunia sebagai bangsawan terpelajar. Lorri Glover dalam Founders as Fathers; the Private Lives And Politics of the American Revolutaniries menggambarkan bahwa Thomas Jefferson menjaga citra keluarganya sekaligus menjamin reputasinya dengan menemukan pendamping hidup yang tepat.

Rebecca Burwell adalah pilihan yang tepat. Gadis berparas jelita, cerdas dan cantik ini diasuh oleh pamannya, William Nelson, seorang politisi kaya dari keluarga terpandang meskipun pada akhirnya mereka bercerai.

Karir Politik Thomas Jefferson

Dilansir dari biography.com, Thomas Jefferson merupakan salah satu pihak oposisi radikal terhadap kebijakan Stamp Act yang dikomandoi oleh Patrick Henry dan George Washington.

Pada tahun 1774, Thomas Jefferson menulis Summary View of the Rights of British America sebagai penegasan atas sikapnya. Pada tahun 1775, ia menghadiri Kongres Kontinental Kedua dan ditunjuk oleh George Washington sebagai komandan.

Setahun kemudian, Kongres menunjuk Thomas Jefferson, John Adams, Benjamin Franklin, Roger Sherman dan Robert Livingston untuk menyusun Deklarasi Kemerdekaan.

Thomas Jefferson adalah penulis draft pertama yang berisi wasiat paling indah life, liberty, and the pursuit of happiness

Setelah menyusun Deklarasi Kemerdekaan, Thomas Jefferson kembali ke Virginia untuk mengisi jabatan sebagai anggota dari Virginia House of Delegates (1776-1779).

Thomas Jefferson merevisi undang-undang Virginia agar bisa selaras dengan cita-cita Amerika yang telah digariskan dalam Deklarasi Kemerdekaan.

Pada tahun 1777, Thomas Jefferson menulis Virginia Statuta yang bertujuan untuk melindungi kebebasan beragama masing-masing individu sekaligus mengatur  pemisahan gereja dan negara.

Dokumen itu merupakan prestasi paling membanggakan bagi Thomas Jefferson, meskipun pada akhirnya Virginia Statuta tidak diadopsi sebagai hukum resmi oleh Provinsi Virginia. 

Pada tahun 1797, Partai Republik mengusung Thomas Jefferson sebagai kandidat presiden. John Adams dari Partai Federalis, pesaing politik paling tangguh yang menang tipis atas Thomas Jefferson.

Oleh karena itu, John Adams berhasil menjadi presiden kedua Amerika dan secara otomatis Thomas Jefferson menjadi wakil presidennya.

Perbedaan pemikiran politik antara John Adams dan Thomas Jefferson mengakibatkan John Adams tidak mau berkonsultasi kepada wakil presidennya saat akan mengambil keputusan penting.

Selama empat tahun menjabat sebagai wakil presiden, Thomas Jefferson menulis panduan paling berguna dalam proses legislatif.

Pemilihan umum pada tahun 1804 memberikan Thomas Jefferson kemenangan mudah. Namun, ia masih kesulitan menyingkirkan lawan-lawan politiknya (Federalis) yang banyak menjabat sebagai hakim.

Sebagai presiden Amerika ketiga, Thomas Jefferson berusaha mengakhiri masalah bajak laut yang telah lama mengganggu pengiriman produk – produk Amerika.

Para perompak berasal dari Afrika Utara (Tunisia, Tripoli, Aljazair) yang menguasai perairan Mediterania dibasmi kapal perang Amerika, Louisiana Purchase. 

Tantangan eksternal masih berlanjut, serangkaian penaklukan Napoleon yang spektakuler atas Eropa daratan berujung pemboikotan atas semua jalinan perdagangan.

The Sage of Monticello

Aktivitas ekspor ke Eropa terhambat, perekonomian Amerika pun melemah sehingga memicu ketidakperacayaan dan kebingungan internasional.

Perang tahun 1812 atau Perang Kesalahan Komunikasi menandai berakhirnya masa jabatan Thomas Jefferson. Setelah pulang ke Monticello, pada tanggal 7 Maret 1825 Thomas Jefferson membuka Universitas Virginia, universitas sekuler pertama di Amerika yang menghidupkan kembali korespondensi antara politik, filsafat, sastra dan sejarah.

Krisis keuangan yang melebihi batas gaji pesiunannya mengakibatkan Thomas Jefferson terlilit hutang dan tidak mampu membayarnya sehingga terpaksa menjual seluruh buku di perpustakaan pribadinya.

Koleksi buku-buku Thomas Jefferson kini dapat ditemui di Perpustakaan Kongres. Thomas Jefferson meninggal dunia pada 4 Juli 1860, hanya selisih beberapa jam sebelum John Adams menyusulnya.

Rekan sekaligus musuh politiknya, John Adams dimakamkan bersamanya di tanah Messachuttes.

Kini, Thomas Jefferson tetap dikenal sebagai The Sage of Monticello (cerita sejarah seorang anak ajaib dari perkebunan Monticello, Virginia), gelar atas kecakapan intelektual, kecerdasan (bahkan menguasai berbagai bidang keilmuan termasuk arsitektur, ilmu pemerintahan, literatur klasik, bahasa dan musik) dan kebijaksanaannya.

Continue Reading

Inspirasi

Muhammad Ibn Abdullah dan Kebangkitan Arab-Islam

Published

on

ilustrasi arab

Terik sinar matahari menyengat. Padang pasir kering berdebu. Kafilah-kafilah berjubah kumal berjalan menuntun unta yang pundaknya dipenuhi barang dagangan.

Melaju memanjang, gerombolan unta tersebu patuh membuntuti tuannya. Menyisakan jejak kaki sepanjang rute yang membakar kulit. Konon jalur kuno itu disebut jalur sutra. Lintasan tradisional yang melewati kekaisaran Sasanid Persia dan kekaisaran Byzantium.

Serangkaian pertempuran akbar seringkali terjadi di daerah perbatasan, tepatnya berada provinsi Irak.

Orang-orang Persia, bukanlah rumpun semit sepertihalnya bangsa Arab atau Yahudi, melainkan rumpun bangsa Arya yang gemar berperang.

Selama berabad-abad, orang-orang Persia menghegemoni tanah Sabit Subur (wilayah subur yang dibatasi sungai Efrat dan Tigris) dengan kekuatan militer yang disiplin dan terorganisir dengan baik.

Demikian pula, orang-orang Romawi sudah melegenda melahirkan legion-legiun gagah berani, administrator ulung dan armada penguasa Laut Mediterania.

Kedua kekaisaran tersebut adalah perpanjangan tangan dari kekaisaran kuno yang pernah berjaya sebelumnya.

Byzantium adalah kekaisaran Romawi Timur, peradaban yang tersisa semenjak kejatuhan kekaisaran Romawi Barat di Roma sedangkan Sasanid dibangun kembali diatas puing-puing reruntuhan kekaisaran Persia yang hancur akibat ekspansi Alexander Agung.

Perseteruan selama 400 tahun berakhir dengan perjanjian damai. Kekaisaran Byzantium berpindah fokus ke masalah Eropa yang kerapkali di teror oleh suku-suku Jermanik yang beringas.

Sementara kekaisaran Sasanid sibuk memadamkan pemberontakan di sepanjang pegunungan Kaukakus yang selalu bergejolak. Kekaisaran Sasanid maupun Byzantium, membiarkan orang-orang Arab seliweran keluar masuk negerinya.

 Dua kekaisaran raksasa tersebut tidak menaruh curiga atau mendeteksi potensi bahaya dari Jazirah Arab-yang berselimut gurun tandus.

Kawasan pelosok yang terpencil ini senantiasa mengurungkan minat siapapun yang ingin menguasainya. Miskin, kesulitan logistik yang parah dan tanah yang tidak dapat ditanami tumbuhan, bahkan tidak ada sumber pendapatan yang berarti disana.

Baca Juga:

  1. Tha’un, Wabah Paling Mengerikan Dalam Sejarah Umat Islam
  2. Bertentangan dengan Hukum Islam, Ini Empat Sultan Wanita yang Pernah Memimpin Aceh
  3. Kisah Kaum Homoseksual di Jantung Peradaban Islam

Menurut Philip K. Hitti dalam The History of Arabs, Seseorang akan dianggap gila jika pada tahun ketiga abad 5 M meramalkan tiga dekade kedepan akan muncul kekuatan tersembunyi dan tak terduga dari kawasan Jazirah Arab.

Orang-orang Arab dinilai sangat dekat dengan dua kekaisaran raksasa tersebut, namun dianggap asing dan barbar. Semua pemahaman tentang itu akan berubah drastis ketika seorang laki-laki yang dikenang sebagai manusia paling berpengaruh di dunia, lahir di wilayah tersebut.

Kegelapan malam yang sunyi selama akhir Ramadhan. Cahaya rembulan redup bulan kesembilan, sekitar tahun 610 M.

Muhammad Ibn Abdullah, seorang pedagang berusia empat puluh tahun sedang tidur nyenyak di sebuah gua dekat Gunung Hirah. Ia merasa nyaman berada dalam gua, menghabiskan waktu malamnya untuk berdoa dan meditasi.

Muhammad Ibn Abdullah seketika terbangun, setelah mendengar suara surgawi yang mengatakan kepadanya bahwa dia adalah Rasulullah.

Menurut tradisi Islam, Muhammad Ibn Abdullah sedang menerima wahyu. Peristiwa yang mengawali, lahirnya salah satu agama terbesar di dunia.

Agama Islam masih berupa benih. Perkembangan di dunia Arab kuno jelas sangat sulit. Rumpun semit yang suka jual beli budak bertentangan dengan konsep Islam.

Penyiksaan, penghinaan, intimidasi bahkan pengucilan selalu diterima pengikut setia Muhammad bin Ibn Abdullah dengan hati ikhlas.

Perjuangan Assabiqunal Awwallun hampir mirip dengan penderitaan umat Kristiani ketika dituduh Romawi sebagai biang keladi kesialan kekaisaran Romawi.

Nasib umat Islam berangsur-angsur membaik setelah hijrah ke Madinah (Yasrib), sekitar 275 mil dari Mekkah. Madinah, kota oasis yang menjadi jalur sutra versi Arab.

Romawi menaklukkan Palestina pada abad pertama Masehi, dan banyak orang Israel lari ke Yasrib dan mengelolah perkebunan kurma.

Suku utama non Yahudi, yang berasal dari Yaman, Kharaj dan Aws yang ramah menyambut hangat kedatangannya.

Mereka berikrar, memberikan sumpah setia kepada Muhammad bin Ibn Abdullah dan sigap bertarung dengan siapapun yang memusuhinya.

Perananya di Yasrib sangat krusial. Menjadi juru damai dan hakim bagi suku Kharaj dan Aws yang rentan bertikai. Disana, pengikut Muhammad Ibn Abdullah semakin bertambah.

Orang-orang Mekkah yang cemas, sepakat membinasakan Islam selamanya. Mereka tidak tangung-tanggung menghimpun 1000 orang yang maniak berperang.

Mengantarkan pada perang yang tidak adil, 300 prajurit Islam berduel dengan semangat membara.

Serangkaian peperangan yang melelahkan, antara kedua kubu yang bersitegang berujung gencatan senjata, dan baru diumumkan setelah pasukan Muslim menang telak dalam pertempuran parit pada 627 M. Muhammad Ibn Abdullah mulai menyusun pondasi imperiumnya, mengalihkan pandangan ke komunitas Yahudi Khaibar yang kaya.

Ia menghukum komunitas Yahudi yang ingkar janji tersebut dan mengepung kota Khaibar hingga menyerah.

Komunitas Yahudi yang membelot akhirnya bersedia membayar upeti tahunan. Kekuatan Islam Madinah sudah patut dipertimbangkan. Pembunuhan seorang Muslim oleh kafir Quraisy Mekkah tergolong upaya melanggar perjanjian Hudaibiyah.

Muhammad Ibn Abdullah bertindak tegas, pada tanggal 1 Januari 630 M ribuan pasukan Islam yang tangguh mengadakan kampaye militer dan kota Mekkah menyerah tanpa menawarkan perlawanan serius, nantinya peristiwa ini dikenal di dunia Islam sebagai Fathu Mekkah.

Beberapa tahun berikutnya, Madinah dibanjiri tamu-tamu berwibawa. Pejabat-pejabat lokal dan kepala suku setempat dari seluruh penjuru semenanjung Arab berduyun-duyun menyatakan sikap tunduk kepada Muhammad Ibn Abdullah.

Pada bulan Maret 632, Ia melaksanakan ibadah haji dengan suasana damai. Puas menikmati ketenangan kota kelahirannya, tiga bulan kemudian nabi tiba-tiba demam tinggi dan mengeluh kepalanya sakit.

Takdir pun menjemputnya, seberapa pun luar biasa sosok Muhammad Ibn Abdullah,tetap saja manusia yang pasti meninggal dunia (tanggal 8 Juni 632 M).

Seluruh jazirah Arab dirundung duka atas wafatnya sang nabi. Sepeninggalannya menyisakan misteri.

Muhammad Ibn Abdullah tidak menunjuk penerus kepemimpinannya. Perseteruan hebat kembali muncul. Siapa yang berhak menggantikan nabi?.

Persoalan publik di gembor-gemborkan, dua kubu beradu argumen. Kubu Muhajirin mengklaim layak atas dasar golongan pertama yang mengakui kenabian Muhammad Ibn Abdullah, sedangkan kubu Anshar berhak karena tanpa mereka Islam masih lemah dan terancam musnah.

Meski demikian, kedua kubu akhirnya sepakat memilih Abu Bakr yang saleh dan lanjut usia. Kekhalifahan Abu Bakr yang singkat dan disibukkan masalah internal.

Peperangan melawan kelompok murtad yang membelot dan membasmi nabi palsu yang sedang tren. Negara Islam Madinah pun selamat dari perpecahan, bahkan penerus-penerusnya mampu menganeksasi kekaisaran Sasanid Persia dan mencaplok hampir seluruh wilayah kekuasaan Byzantium yang berada di benua Asia dan Afrika.

Continue Reading

Inspirasi

Bertentangan dengan Hukum Islam, Ini Empat Sultan Wanita yang Pernah Memimpin Aceh

Published

on

ilustrasi sultanah

Dalam sejarah Aceh tercatat telah ada kepemimpinan wanita dalam memimpin Kerajaan Islam Aceh selama 59 tahun lamanya. Pada dasarnya pengganti Sultan Kerajaan Aceh adalah putra sulung dari sultan saat itu, bila tidak ada putra sulung, maka dapat diangkat putra yang lain.

Apabila putra mahkota yang naik takhta masih di bawah umur, maka dapat dibentuk sebuah dewan untuk menggantikan sebelum ia mampu memerintah kerajaan sendiri.

Dewan itu biasanya dipegang oleh ibunya atau pamannya yang akan memerintah sampai anak tersebut tumbuh dewasa. Sedang apabila tidak ada seorang putra yang layak menjadi sultan, seorang putri pun bisa ditunjuk sebagai pemimpin Kerajaan Aceh Darussalam.

Bagi masyarakat Aceh, kontroversi tentang pengganti seorang putri jika tidak ada putera mahkota merupakan bukan isu politik saja, tetapi mengarah ke persoalan yang menyentuh agama.

Namun, tahukah Cityzen jika Aceh pernah dipimpin oleh empat sultanah hebat pada masanya? Simak profil mereka di bawah

  • Sultanah Tajul Alam Syafiyatuddin Syah 1641-1675

Sultanah pertama yang memimpin Kerajaan Islam Aceh Darussalam adalah puteri satu-satunya Sultan Iskandar Muda, namanya Sri Ratu Tajul Alam Syafiyatuddin Syah yang memerintah dari meninggalnya Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641 hingga 1675 M.

Ketika Tajul Alam Syafiyatuddin Syah hendak dinobatkan sebagai pengganti suaminya, terjadi pertentangan hebat dengan kelompok yang menentang kepemimpinan perempuan.

Mereka berpendapat bahwa tidak sahnya perempuan menjadi pemimpin kerajaan karena bertentangan dengan hukum Islam, sebab perempuan tidak boleh menjadi imam sholat.

Para pembesar Aceh dan ulama berkumpul serta membicarakan mengenai problem pengganti Sultan Iskandar Tsani. Setelah perdebatan yang lama, istri dari Sultan Iskandar Tsani diangkat menjadi Sultanah pertama Aceh.

Baca Juga:

  1. Sultan Khairun Jamil dan Manipulasi Sejarah Superioritas Militer Portugis
  2. Indahnya Taman Ghairah, Simbol Cinta Sultan Iskandar Muda untuk Istri Terkasih
  3. Snouck Hurgronje, Penyusup Jubah Agama Dalam Kejatuhan Aceh di Tangan Kolonial

Perdebatan mengenai suksesi pengangkatan perempuan lebih banyak dipicu oleh kelompok politik kaum wujudiyah. Kelompok ini menentang kepemimpinan perempuan di Aceh.

Pada masa setelah meninggalnya Sultan Iskandar Muda, kelompok wujudiyah tidak memiliki kekuatan politik lagi karena kuatnya pengaruh ulama besar Ar-Raniri yang pada waktu itu menjabat sebagai Qadhi Malikul Adil (Mufti) kerajaan hingga diangkatnya Sultan Iskandar Tsani.

Polemik yang terjadi dalam pengangkatan Sultanah Tajul Alam berhenti ketika Abd Al-Rauf Singkeli ikut campur tangan dalam perdebatan, ia mengatakan bahwa Tajul Alam Syafiyatuddin Syah dapat diangkat menjadi Sultanah dengan syarat, urusan pernikahan dan urusan agama dipegang oleh alim keluarga sultan yang bergelar Qadli Malikul Adil.

Selain Abd Rauf Singkeli, tokoh agama yang mendukung pemerintahan Tajul Alam Syafiyatuddin Syah yaitu Ar-Raniri. Beliau terlihat jelas mendukung dalam setiap kata yang dia tulis dalam karyanya mengenai sultanah.

Ar-Raniri memberikan dukungan kuat secara agama dan politis terhadap pemerintahan Tajul Alam Syafiyatuddin Syah. Sultanah Tajul Alam Syafiyatuddin Syah merupakan seorang penguasa yang taat akan syariat Islam dalam kerajaan.

Para ulama dan pembesar Kerajaan Aceh Darussalam memberikan sebuah penghargaan terhadap kepemimpinan Sultanah Tajul Alam Syafiyatuddin Syah.

Penghargaan ini merupakan karakter yang khas dari kepemimpinan perempuan dalam Kerajaan Aceh Darussalam. Menurut Ar-Raniri, pada masa pemerintahan Sultanah Tajul Alam Syafiyatuddin Syah, Aceh muncul sebagai kerajaan yang makmur.

  • Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah 1675-1677

Masa pemerinatahan Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah sangat berat karena tidak hanya melawan penjajahan Belanda, Portugis dan Inggris yang semakin bertambah kuat kedudukanya, tapi ia juga menghadapi situasi perpolitikan yang ada di kerajaan.

Menurut Muhammad Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad Jilid I, Nurul Alam naik takhta karena kekosongan kepemimpinan yang menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan di antara mereka yang menganggap pewaris kerajaan yang sah.

Akhirnya mereka hanya dapat memilih puteri Iskandar Muda sebagai ratu lambang.

Semasa pemerintahan Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah, ia banyak menghadapi konflik yang ditimbulkan kelompok wujudiyah.

Kelompok ini mempengaruhi masyarakat Aceh berkenaan dengan tidak sahnya perempuan menjadi kepala negara dalam hukum Islam.

Kelompok wujudiyah pada dasarnya adalah kelompok yang diperalat oleh golongan politik tertentu yang ingin menguasai pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam.

Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah melakukan suatu perubahan dalam sistem pemerintahan dengan meminta petunjuk kepada Syekh Abd Rauf Syiahkula sebagai Qadli Malikul Adil untuk membentuk Federasi Tiga Sagi yang dikepalai Panglima Sagi diantaranya Sagi XXII mukim, Sagi XXV mukim dan Sagi XXVI mukim.

Kesultanan sebelum Sultanah Nurul Alam belum ada yang membagi sagi ke dalam tiga sagi di Aceh Besar, karena pembagian sagi dilaksanakan hanya pada masa Sultanah Nurul Alam.

Pembentukan Tiga Sagi di Aceh Besar merupakan contoh kemajuan pemerintahan, dimana terdapat beberapa mukim dibawah kekuasaan masing-masing sagi.

Pembentukan tiga sagi diperuntukkan untuk menghadapi kelompok wujudiyah yang semakin terasa aksinya dalam menjatuhkan Sultanah.

  • Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah 1677-1688

Masa pengangkatan Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah tidak begitu diusik oleh kelompok wujudiyah.

Politik yang dijalankan oleh Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah tetap sama dengan meneruskan kepemimpinan pendahulunya yaitu Sultanah Tajul Alam dan Sultanah Nurul Alam yang tegas terhadap kelompok yang menentang kepemimpinanya.

Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah terus membasmi kelompok wujudiyah dengan tindakan keras dan tegas, sultanah juga menindak terhadap dalang politik kelompok ini serta tidak memberi kesempatan untuk menyabotase pemerintahan.

Pada saat Belanda menguasai Malaka, kedaulatan Aceh mulai terancam, melihat sikap Belanda Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah tidak memberi hati terhadap kepenguasaan Belanda.

Sultanah menunjukkan kekuasaanya kepada VOC dengan menarik kembali wilayah Bayang ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam.

Di sisi lain, kekuatan dagang Belanda di pulau Sumatera semakin kuat dan berkembang. Melihat kondisi Belanda yang sudah kuat, Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah berusaha dalam mematahkan perdagangan Belanda.

Sultanah Zaqiyatuddin Syah merangkul semua tetangga negara untuk membuat sebuah perjanjian untuk mengusir Belanda dalam kepentingan dan keselamatan rakyat.

  • Sultanah Keumalat Syah 1688-1699

Kematian Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah telah menimbulkan kegoncangan politik yang hebat di kalangan rakyat diseluruh wilayah kerajaan.

Bagi rakyat Aceh kepemimpinan Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah menimbulkan harapan baru karena keadaan pemerintahan cukup stabil, kekuasaan kelompok wujudiyah sangat lemah, negara yang direbut oleh VOC telah diambil kembali, perekonomian kerajaan telah kembali sedia kala, dan angkatan perang sudah aktif kembali.

Semua harapan itu sirna ketika Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah meninggal dunia.Melihat keguncangan politik yang telah dialami Aceh membuat sekelompok politisi seperti beberapa uleebalang yang tidak puas akan kepemimpinan perempuan karena para sultanah telah menghilangkan hak istimewanya, maka mereka memperalat kaum wujudiyah kembali.

Tokoh yang telah disiapkan oleh kelompok wujudiyah untuk menggantikan Sultanah Zaqiyatuddin Inayat Syah adalah Syarif Hasyim yang telah memisahkan diri dari Syarif Barakat.

Dalam masa pemerintahan Sultanah Keumalat Syah konflik kepemimpinan perempuan tidak berhenti juga.

Berbagai polemik perbedaan pendapat tidak terhindarkan, timbul pula fitnah untuk menjatuhkan kekuasaan Sultanah Keumalat Syah.

Di dalam kekacauan fitnah yang terjadi, Sultanah Keumalat Syah tetap berada dalam kursi kepemimpinanya untuk memperbaiki perekonomian yang ada di Kerajaan Aceh Darussalam.

Walaupun dalam kepemimpinannya terus diusik oleh pihak oposisi kaum wujudiyah yang cukup berat, tapi ia sempat memikirkan pembangunan kerajaan.

Kondisi kepemimpinan sultanah terancam oleh beberapa kelompok yang tidak suka kepemimpinan perempuan. Padahal sultanah sedang melakukan berbagai pembangunan kerajaan yang sudah disetujui oleh Majelis Mahkamah Rakyat.

Continue Reading

Trending