Connect with us

Sosial-Budaya

Mengenal Pagatan dan Baju Adat Tanah Bumbu

Published

on

Baju Adat Tanah Bumbu yang Dikenakan Presiden Joko Widodo.

Baju adat yang dikenakan Presiden Joko Widodo saat memimpin upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021, mencuri banyak perhatian.

Ini merupakan momen kesekian kalinya, Presiden Jokowi mengenakan baju adat daerah pesisir di Kalimantan Selatan yang menjadi tempat akulturasi masyarakat Bugis Sulawesi dengan Kalimantan.

Jokowi tampil gagah dengan baju adat daerah dari Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Pakaian yang dikenakan ini adalah pakaian khas Bugis Pagatan Tanah Bumbu.

Pagatan sendiri merupakan sebuah Kelurahan yang sering disebut sebagai Kota Pagatan yang berada di Kabupaten Tanah Bumbu.

Sebagian besar masyarakatnya adalah Suku Bugis Pagatan yang tersebar di sekitar kawasan pesisir Pantai dan belahan sungai sebagai nelayan kemudian menyebar ke kawasan pegunungan sebagai petani.

Baca Juga:

  1. Saat Buka Puasa, Sebaiknya Tak Konsumsi 5 Makanan Ini Secara Berlebihan
  2. Hindari 5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Saat Berbuka Puasa
  3. Catat! Ini 5 Cara Makan untuk Hindari Asam Lambung Saat Puasa

Mayoritas penduduk Pagatan adalah nelayan, hal ini dikarenakan kondisi lingkungan Kota Pagatan yang dekat dengan laut.

Berdasarkan sejarah, dikutip dari seroang sejarawan Belanda yang bernama Nagtegaal, ia mengatakan bahwa Suku Bugis Pagatan tersebut bermula dari kedatangan seorang saudagar Bugis asal Wajo yang juga seorang Hartawan terkenal bernama Poewono Deka pada abad ke 18.

Kerajaan Kecil Pagatan berdiri pada pertengahan abad ke 18 oleh pedagang Bugis Asal dari Wajo bernama Poewono Deka atas izin dari Sultan Banjarmasin.

Baju adat Tanah Bumbu Bugis Pagatan sendiri memiliki ciri khas dengan penggunaan kain tenun Pagatan. Kain ini dipakai sebagai sarung dan juga laung atau penutup kepala.

Simbol Laung sebagai kewibawaan dan keperkasaan. Makna sarung yang dipakai dalam baju adat ini adalah sebagai simbol manusia yang terampil dan pekerja keras.

Sementara bagian dalam baju disebut teluk balana yang menjadi simbol baju nusantara yang agamis. Pada baju bagian luar dinamakan cekak musang tanpa kancing yang memiliki arti tingginya budi pekerti dan selalu menghargai perbedaan.

Celana panjang dan ikat pinggang yang dipakai pun memiliki arti tersendiri. Untuk celana menjadi simbol kesetiaan, sedangkan ikat pinggang kain mewakili simbol kesederhanaan.

Sebagai pelengkap ada bunga atau kembang emas di dada bagian kiri sebagai simbol pemimpin yang bijaksana.

Sosial-Budaya

Tradisi Maen Pukulan, Silat Betawi untuk Menghadapi Kompeni

Published

on

Tradisi Maen Pukulan

Masyarakat Betawi akrab dengan istilah silat atau maen pukulan. Maen pukulan merupakan permainan yang melibatkan kontak fisik serang-bela dengan atau tanpa senjata.

Main di sini menandakan adanya aspek kesenangan. Dengan kata lain ilmu bela diri bagi masyarakat Betawi awalnya hanyalah permainan, bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik maupun sifat jago.

Mengutip Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016) yang ditulis oleh G. J Nawi, sebagai unsur kebudayaan, entitas maen pukulan Betawi lahir dengan terbentuknya kebudayaan Betawi. Adapun proses ini melalui evolusi berbagai kebudayaan yang berada di Batavia atau Betawi di rentang waktu abad 17 sampai abad 19.

Baca Juga:

  1. Memahami Four Tasks of Mouning, Tahapan Kala Berduka
  2. Kenali Apa Itu Gaslighting, Manipulasi Pikiran Secara Psikologis
  3. Kenali Relationship Red Flags, Tanda Merah Sebelum Terlambat

Meski namanya maen pukulan, tapi silat khas Betawi juga memuat beragam aspek, mulai dari mental spiritual, aspek seni, aspek bela diri, dan aspek olahraga, menempatkannya di pertandingan. Empat aspek ini menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik bertahan maupun menyerang.

Perkembangan maen pukulan di tanah Betawi terbilang cukup pesat. Terdapat sekitar 317 aliran yang merupakan pengembangan dari sekitar 100-200 pecahan aliran dari empat aliran inti. Empat aliran itu berdasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulan yang mengandalkan gerakan cepatan, baik pukulan, tendangan, maupun serang-bela.

“Empat aspek ini menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik bertahan maupun menyerang,” paparnya.

Tradisi Maen Pukulan

Disebut oleh Nawi, perkembangan maen pukulan di tanah Betawi terbilang cukup pesat. Kini terdapat sekitar 317 aliran yang merupakan perkembangan dari sekitar 100-200 pecahan aliran dari empat aliran inti.

Empat aliran itu dibedakan berdasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulannya, ada yang mengandalkan gerakan kecepatan, baik pukulan, tendangan, maupun serang-bela. Kini sedikitnya ada lima aliran yang banyak dikenal masyarakat.

Misalnya aliran silat sabeni yang berasal dari Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kedua adalah aliran silat beksi yang berasal dari bahasa Tiongkok yakni pertahanan dan empat. Perguruan ini lahir dan berkembang di wilayah Jakarta Selatan.

Ketiga adalah aliran silat cingkrik yang biasa ditemui di daerah Rawa Belong Jakarta Barat. Tokoh Si Pitung dipercaya sebagai salah satu tokoh yang menekuni dan mengajarkan pencak silat cingkrik.

Kemudian keempat adalah aliran silat paseban yang diambil dari nama kelurahan di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Terakhir adalah aliran silat cimacan yang berasal dari Banten dan dikembangkan di daerah Karang Tengah dan Lebak Bulus.

Namun Roni Adi Tenabang yang merupakan Ketua Perkumpulan Betawi Kita merasa prihatin dengan perkembangan silat Betawi saat ini. Hal ini karena ada kecenderungan melihat silat Betawi sebagai kesenian kampung sehingga mulai terpinggirkan.

Padahal menurutnya banyak hal positif yang terdapat dalam pencak silat, di antaranya menghargai sesama dan yang lebih tua. Di sekolah-sekolah, seni bela diri lebih banyak yang berasal dari luar negeri, seperti karate atau taekwondo.

Selain itu ada kecenderungan, jelasnya satu kelompok merasa eksklusif dibandingkan dengan yang lainnya. Padahal menurut Roni, bila dikelola secara modern, silat Betawi dapat bernilai dan hidup secara berkelanjutan.

“Manajemen silat Betawi selama ini hanya bertumpu pada ketokohan. Setelah tokoh meninggal, akhirnya silat hilang. Seharusnya, silat Betawi dikelola dengan manajemen modern untuk menghidupkan perguruan,” katanya.

Continue Reading

Pojok

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Published

on

Aji Ugi

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Tetapi dalam masyarakat Bugis, haji bukan semata-mata praktik ibadah dan ritual untuk memenuhi rukun Islam yang kelima.

Haji juga terkait dengan ritual lokal, penanda status sosial, bahkan juga kini menjadi bagian dari gaya hidup. Penelitian dengan metode kualitatif di salah satu daerah Bugis, yaitu di Segeri kabupaten Pangkajene Kepulauan, menemukan corak haji orang-orang Bugis yang telah mengalami perjumpaan antara ajaran Islam, tradisi lokal dan modernitas.


Perjumpaan ini melahirkan corak haji yang unik, sebab diekspresikan dengan cara-cara lokal di satu sisi, sekaligus dipengaruhi modernitas di sisi yang lain. Dalam ekspresi semacam itulah ditemukan praktik yang disebut Haji Bawakaraeng, Haji Calabai (Haji Waria) dan Haji Pa’gaya (Haji yang suka bergaya).

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Tetapi di saat yang sama juga ditemukan Haji yang sarat dengan nuansa hikmah, misalnya haji sebagai were na pammase (Haji sebagai takdir dan Rahmat Tuhan) dan haji sebagai assenu-senungeng (ritual haji adalah simbol pengharapan terhadap hal yang baik).

Keseluruhan praktik haji semacam itu mencerminkan sebuah praktik keberislaman ala Bugis, yang disebut dengan “Aji Ugi”. Aji Ugi ini menjadi semacam ekspresi Islam lokal yang sekaligus universal, Islam tradisional sekaligus modern.

Bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa yang sangat penting. Banyak suku lain yang kadang heran melihat antusias orang Bugis untuk naik haji. Bagi orang Bugis, pergi haji adalah sebuah kebanggaan.

Faktanya sangat jelas, di kawasan Sulawesi Selatan dan wilayah lain di sekitarnya seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah antrian pergi haji sudah sangat panjang dan kerap kali disebut tidak masuk akal.

Misalnya saja di Kota Parepare dan Kota Makassar daftar tunggu haji menjadi 84 tahun. Bahkan di Kabupaten Banteng, daftarnya tunggunya bisa mencapai 97 tahun. Tentunya ini sempat membuat geger masyarakat.

Namun bagi orang Bugis, lamanya masa menunggu itu bukanlah suatu hambatan. Pergi haji memang bukan saja sebagai perjalanan spiritual sebagai umat Islam. Beberapa dari mereka menganggapnya sebagai kehormatan.

Masyarakat Bugis sangat kental dengan upacara sosial, seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Bahkan dalam membangun rumah baru dan punya kendaraan baru, mereka kerap pula dirayakan.

Demikian pula ketika naik haji, bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa sakral yang mesti ada ritualnya. Walau harus menambah biaya, tentunya hal ini tidak boleh dilewatkan bagi orang Bugis.

Aji Ugi

Ada tiga tahapan ritual (calon) jamaah haji bagi orang Bugis, yaitu ritual persiapan pemberangkatan, ritual selama jamaah haji berada di Tanah Suci, dan ritual setelah jamaah haji pulang ke tanah air.

Misalnya saat persiapan pemberangkatan mereka akan menggelar ritual selamatan atau syukuran (massalama-mammanasik), mengisi tas (mallises tase), dan ritual pemberangkatan (mappangnguju)

ketika sudah sampai di Tanah Suci, orang Bugis akan menampung air dari talang emas (jampi ulaweng), memburu kiswa Ka’bah, mencium Hajar Aswad, dan pemasangan kopiah atau kerudung haji (mappatopo).

Sementara pada tahap terakhir, saat pulang ke Tanah Air akan digelar syukuran (assalama sukkuru), melepas nazar (assalama tinja), mendoakan leluhur yang dilanjutkan ziarah makam (mappigau to riolo).

Continue Reading

Pojok

Tradisi Potong Jari Suku Dani, Mengerikan tapi Simbol Kesetiaan Mendalam

Published

on

Ritual potong jari Suku Dani

Suku Dani adalah salah satu suku asli yang mendiami tanah Papua. Suku ini diketahui tinggal di pedalaman wilayah pegunungan dan lembah Papua.

“Suku Dani merupakan suku tertua yang mendiami Lembah Baliem,” tulis Baharinawati W. Hastanti dalam jurnalnya yang berjudul Kondisi Lingkungan dan Karakteristik Sosial Budaya untuk Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Di jurnal tersebut, Hastuti juga menyebut bahwa suku Dani memiliki kecenderungan untuk melakukan peperangan.

Dilansir dari Ekspedisi Tanah Papua, yang disunting oleh Fandri Yuniarti, kelompok suku ini tinggal di kawasan pegunungan dan lembah kecil di Lembah Baliem.

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Lembah Baliem merupakan sebutan untuk kawasan pegunungan dan lembah di sekitar Wamena. Merujuk sumber lain yang berjudul Perhiasan Tradisional Indonesia karya Husni dan Siregar, Suku Dani memiliki dua kelompok etnis yaitu wita dan waya.

Suku Dani memiliki tradisi berbama Iki Palek. Iki Palek merupakan tradisi memotong jari. Bagi orang-orang awam tentunya tradisi ini terlihat mengerikan, tetapi bagi Suku Dani memiliki makna yang sangat mendalam. Potong jari tersebut dilakukan untuk mengungkapkan kesetiaan dan rasa kehilangan yang mendalam terhadap anggota keluarga yang telah meninggal.

Jari yang dipotong menandakan jumlah anggota keluarga yang meninggal. Diketahui bahwa sebagaian besar yang melakukan tradisi tersebut adalah wanita, tetapi pria juga melakukan untuk menunjukkan rasa kesedihan. Pria menunjukkannya dengan memotong kulit telinga.

Bagi Suku Dani, jari diangggap sebagai simbol harmoni, persatuan, dan kekuatan. Selain itu, juga mnejadi lambang hidup bersama satu keluarga, marga, rumah, suku, nenek moyang, bahasa, sejarah, dan satu asal atau biasa disebut dengan “wene opakima dapulik welaikarek mekehasik”.

Bentuk dan panjang jari memiliki kesatuan dan kekuatan untuk meringankan beban semua pekerjaan. Jari-jari akan bekerja sama, sehingga tangan akan berfungsi. Namun jika salah satu jari hilang akan mengurangi kebersamaan dan kekuatan.

Prosesi yang dijalankan pun cukup mengerikan. Para wanita akan memotong jari mereka dengan menggigit sampai jari putus. Terkadang dilakukan dengan kapak atau pisau.

Untuk mengurangi darah yang keluar, jari akan dililit dengan benang. Mereka mengikat jari dengan benang sampai aliran darah berhenti dan jari menjadi mati rasa kemudian baru dipotong.

Kemudian bagi laki-laki, mereka memotong daun telinga menggunakan bilah bambu yang tajam. Tradisi memotong daun telinga disebut dengan tradisi Nasu Palek. Apabila tidak bisa melakukannya sendiri makan akan dibantu oleh kerabat dan tidak ada upacara khusus.

Asalkan jari sudah terputus maka tradisi Iki Palek telah terlaksana. Luka akan dibalut dengan daun dan diperkirakan satu bulan kemudian luka akan mengering serta menjadi sembuh.

Jika yang meninggal adalah orang tua maka dua ruas jari yang dipotong. Apabila sanak saudara maka hanya satu ruas jari yang dipotong. Sebelum dipotong, mereka yang jarinya akan dipotong membaca mantra.

Sikap taat dan menghormati leluhur dan rasa cinta, kebersamaan terhadap orang terdekat yang dimiliki Suku Dani, membuat mereka rela merasakan sakit yang luar biasa melalui prosesi tersebut. Harapan dengan memotong jari tersebut juga agar mereka bisa melupakan kesedihan dengan segera.

Selain pemotongan jari, Suku Dani juga melakukan mandi lumpur. Itu dilakukan sebagai arti bahwa semua yang hidup juga akan kembali ke tanah.

Prosesi Iki Palek sendiri sudah jarang dilakukan oleh Suku Dani walaupun masih lestari dan tentunya kalian akan menemukan banyak ibu-ibu dengan jari yang sudah tidak utuh lagi. Orang-orang akan menanggap babwa tradisi tersebut sangatlah mengerikan tapi Indonesia memiliki berbagai kebudayaan unik dan harus dihormati.

Continue Reading

Trending