Connect with us

Sosial-Budaya

Mengenal Mangenta, Tradisi Suku Dayak yang Sukses Pecahkan Rekor MURI

Published

on

Tradisi Mangenta

Provinsi Kalimantan Tengah berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas prosesi tradisi Mangenta dengan peserta terbanyak, dengan peserta seribu lebih.

Gubernur Kalteng Sugianto Sabran menyatakan, pencapaian ini sangat luar biasa. Ia memuji kekompakan masyarakat Kalteng.

“Capaian ini, berkat partisipasi dan dukungan masyarakat di Kalteng,” kata Gubernur Sugianto Sabran.

Baca Juga:

  1. Dikenal Sebagai Kota Pahlawan, Inilah Sederet Rekomendasi Wisata Sejarah di Surabaya
  2. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  3. Gua Liang Bua, Rumah Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

Setidaknya, sebanyak 1.043 peserta turut berpartisipasi dalam kegiatan itu, dan hal ini dinilai sebagai langkah untuk melastarikan warisan budaya kuliner Kalteng.

Orang nomor satu di Bumi Tambun Bungai ini juga berharap, melalui kegiatan tersebut masyarakat luas dapat mengenal kuliner khas Kalteng dan mengembangkannya menjadi aneka varian rasa, sehingga dapat dinikmati banyak orang termasuk generasi milenial.

“Tidak hanya sekadar varian original saja, sehingga kuliner kenta bisa menjadi kuliner modern yang digemari semua orang termasuk generasi milenial,” tambahnya.

Masih dalam perhelatan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Kalteng ke 62. Selain Mangenta, Pemerintah Daerah Provinsi Kalteng juga memecahkan rekor bakar jagung sebanyak 62 ribu bonggol atau tongkol. Hal ini menjadi penanda, direbutnya predikat Muri bakar jagung yang sebelumnya dipegang oleh Kota Jember, Provinsi Jawa Timur dengan total 52 ribu.

Tradisi Mangenta

Tradisi Mangenta berasal dari nenek moyang suku Dayak Kalimantan Tengah dahulu kala atau dengan kata lain sifatnya turun temurun. Mangenta merupakan suatu kegiatan kaum petani bersyukur atas dimulainya panen padi, pada saat musim tiba untuk menuai.

tradisi Mangenta berasal dari nenek moyang suku Dayak Kalimantan Tengah dahulu kala atau dengan kata lain sifatnya turun temurun. Mangenta merupakan suatu kegiatan kaum petani bersyukur atas dimulainya panen padi, pada saat musim tiba untuk menuai.

Setelah itu, beras disangrai dengan tungku di atas kayu bakar hingga matang. Apabila matang padi akan meletup dan terpisah dari kulitnya menjadi beras. Selanjutnya, beras ditumbuk dengan kayu ulin.

Kemudian, beras dibersihkan dari kotoran yang masih tertinggal dan siap dihidangkan bersama air hangat, gula pasir, gula merah, dan parutan kelapa muda.

Koordinator sekaligus keturunan suku dayak, Agus menuturkan, saat ini tradisi mangenta mulai ditinggalkan sebab wara juga sudah jarang bertani padi.

“Sebenarnya orangtua itu tahu, namun yang bertani sekarang sudah sedikit, penduduk lokal juga jarang yang bertani, sedangkan tradisi mangenta merupakan khas lokal suku Dayak,” dia menambahkan.

Sosial-Budaya

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Published

on

nginang dan alat-alatnya

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Tradisi nyirih memberikan hikmah tentang perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu.

Sekalipun kini tradisi mengunyah sirih hanyalah fenomena kecil di tengah-tengah masyarakat, bagi yang pernah mengunjungi pelosok-pelosok negeri–dari Sumatra, Sulawesi, ataupun Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur hingga Papua–bisa dipastikan masih akan ditemui kebiasaan ini.

Budaya mengunyah sirih yang sering disebut dalam banyak bahasa daerah, antara lain, “nyirih”, “nginang”, “bersugi”, “bersisik”, “menyepah”, atau “nyusur”, setidaknya hingga kini masih terlihat lazim dilakukan oleh generasi tua, baik laki-laki maupun perempuan, di sejumlah daerah.

Belum diketahui asal-usulnya secara pasti. Konon, tradisi mengkonsumsi sirih dan pinang telah dimulai sejak zaman neolitikum. Sekitar 3.000 tahun yang lalu, hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Asia Tenggara.

Ada pendapat yang beranggapan jika tradisi itu berasal dari India. Namun pandangan lain menyebutkan, tradisi ini kemungkinan berasal dari kepulauan Nusantara. Ini didasarkan pada asumsi, pinang dan sirih sendiri diduga kuat ialah tanaman asli di kepulauan Indonesia.

Selain itu, juga menyimak pentingnya posisi nyirih bagi orang Indonesia terlihat mencapai tingkatan yang lebih dalam ketimbang di daerah lain di seputar Asia. Hal ini tercermin dari hadirnya tradisi nyirih dalam hampir semua ritual. Bahkan menurut catatan Anthony Reid (2018), dari ritual kelahiran, inisiasi kedewasaan, perkawinan, hingga kematian; dari ritual dan praktik penyembuhan, hingga ritual persembahan kepada roh leluhur.

Boleh dikata, di masa lalu mengunyah sirih atau nyirih di Indonesia bukanlah soal preferensi individual, melainkan keniscayaan dari ritus sosial bagi setiap orang dewasa. Tidak menawarkan sirih, atau menolak nyirih saat ditawari, bahkan akan dicap sebagai penghinaan.

Menariknya, di sepanjang daerah di Indonesia bicara bahan untuk menyirih pun nisbi serupa. Secara umum ada tiga unsur utama dari bahan nyirih, yakni pinang, daun sirih, serta kapur sirih yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut “injet”, yang terkadang bahan ini didapatkan dari melumat cangkang kerang.

Yang bisa dikata membedakan tradisi ini di pelbagai wilayah di Nusantara ialah berupa kepercayaan-kepercayaan yang menyertai tradisi itu. Namun, terlepas dari perbedaan itu, pinang dan sirih sejak ribuan tahun tampaknya telah dimuliakan dalam kebudayaan-kebudayaan lokal Indonesia.

Kosa Kata dan Ritual

Potret masa lalu dari fenomena mendarah dagingnya tradisi pinang nyirih ini, bukan saja terindikasi kuat dalam keragaman istilah untuk kedua bahan ini, tapi juga lekat dalam praktik ritual pernikahan adat di Nusantara.

Pinang dan sirih yang istilah dalam bahasa Melayu-nya, atau pineung” dan “ranub” dalam bahasa Aceh, “jambe” dan “suroh” dalam bahasa Jawa, “banda” dan “chanangˆ” dalam bahasa Bali, “rappo” dan “leko” dalam bahasa Makasar, “alossi” dan “ota” dalam bahasa Bugis, serta “hena” dan “bido-marau” dalam bahasa Ternate; dan lain sebagainya.

Terkait dengan ritual adat pernikahan, dari bahasa Melayu istilah ini masuk dalam Bahasa Indonesia modern. Pinang, meminang, yang berarti melamar atau meminta seseorang untuk dinikahi; pinangan ialah berarti meminta pertunangan.

Tampaknya sudah lama dimaknai, berpadunya sirih dan pinang menjadi simbol persetubuhan atau pernikahan. Buah pinang dianggap merepresentasikan unsur “panas” dan daun sirih merepresentasikan unsur “dingin”.

Di Aceh, simbolisasi ini menggunakan daun sirih. Dalam bahasa Aceh, ba ranub artinya “memberikan sirih” yang maknanya ialah “memberikan cinta”. Pria Aceh di masa lalu menceraikan istrinya dengan memberikan tiga lembar daun pinang.

Dalam bahasa Makasar, leko passiko yang artinya “sebungkus daun sirih juga bermakna mengajukan lamaran. Di sana Ibu pengantin perempuan melakukan ritual nyirih di rumah bersama pasangan pengantin di malam pertama; setelah kelahiran anak, ibu baru dan mertuanya melakukan ritual nyirih bersama.

Dalam upacara panggih, adat perkawinan orang Jawa, misalnya, dikenal serangkaian ritual yang menghadirkan daun sirih sebagai perlengkapannya, yakni saat prosesi “balangan suruh”. Di sini daun sirih akan membungkus buah pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau hitam lalu diikat dengan benang lawe.

Baca Juga:

  1. Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Perisai Herbal: Jamu Sebagai Pelindung Tradisional bagi Masyarakat Jawa

Orang Jawa menyebut lintingan sirih itu sebagai gantal. Upacara balangan suruh atau gantal yaitu momen ritual panggih ini, sepasang mempelai akan saling melempar suruh sebagai perumpaman kedua mempelai saling melempar kasih dan harapan.

Bahkan, dewasa ini, di kalangan masyarakat yang sudah meninggalkan penggunaan sirih, seringkali masih dijumpai seperangkat daun sirih buatan berbahan perunggu atau perak dipajang di antara perlengkapan pernikahan, dan diserahkan sebagai semacam pernak-pernik perlengkapan untuk tujuan ritual ini.

Catatan Sejarah

Panjangnya usia tradisi nyirih masyarakat Nusantara setidaknya tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih.

Menurut catatan Anthony Reid (2018), pada masa periode Dinasti Tang (7 – 10 M) banyak referensi dari China yang menulis penggunaan dan ekspor pinang dari daerah yang diduga ialah Indonesia.

ChanJu-kua mencatat, di Po-ni (Brunei?) abad ke-12, sirih sering dipakai dalam ritual pernikahan dan seremoni istana. Sedangkan Ma Huan melaporkan tentang Jawa sejak awal abad ke-15.

Di China sendiri, istilah pinang pada masa Dinasti Tang ialah “pin-lang”, yang diduga kuat diambil dari bahasa Melayu, “pinang”. Ini setidaknya menunjukkan area yang pernah didominasi oleh Kerajaan Sriwijaya (Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo barat) adalah sumber komoditas ini.

Hingga abad ke 16 – 17, seturut Anthony Reid, telah banyak ditemukan catatan perihal tradisi nyirih yang dilakukan di hampir semua tempat di Asia tropis. Bahkan karena sirih adalah salah satu item pengeluaran yang dianggap penting, kantung uang yang diterima oleh budak milik Belanda pada abad ke-18 disebut sebagai siriegeld (“uang sirih”). 

Nyirih, boleh dikata menjadi medium tata krama untuk tamu di istana atau desa. Mirip fungsi teh, kopi, atau rokok dewasa ini. Tak hanya itu, nyirih juga jadi simbol ritual utama, obat pencernaan, pasta gigi atau penyegar mulut, atau sebagai obat penenang atau bahkan penangkal rasa lapar.

Tome Pires di abad ke-16 dalam The Suma Oriental mengungkapkan hal ini:

“Nyirih membantu pencernaan, menenangkan otak, memperkuat gigi, sehingga pria yang mengunyahnya biasanya punya gigi yang utuh, tidak ada yang ompong, bahkan sampai usia delapan puluh tahun. Mereka yang nyirih memiliki napas harum, dan jika sehari saja tidak nyirih maka napas mereka menjadi amat bau.”

Beberapa bahan sebagai komposisi tambahan dalam nyirih, merujuk tulisan Anthony Reid, antara lain kamper, cengkeh, pala, ambar (ambergris), kapulaga, dan minyak rusa. Bahan tambahan ini menurutnya sudah tertulis dalam literatur Sansekerta sejak abad pertama masehi.

Namun dalam perjalanannya gambir dan tembakau juga menjadi bahan tambahan dalam tradisi nyirih. Bahkan boleh dikata sejak akhir abad ke-18, dua bahan tambahan ini plus sirih, pinang dan injet, jadi standar yang lazim dalam tradisi nyirih.

Menarik dicatat, kuatnya tradisi nyirih ini membuat bangsa Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dulu tak luput juga mengadopsi kebiasaan ini. Persepi bahwa nyirih baik untuk kesehatan gigi tampaknya juga diyakini oleh bangsa Eropa saat itu.

Anthony Reid mencatat, orang-orang Belanda di Batavia mulai meninggalkan kebiasaan nyirih mulai pertengahan abad ke-18, sekalipun kaum perempuannya masih melakukan itu hingga abad ke-19.

Kebiasaan ini menghilang setelah muncul tren baru dalam kebiasaan nyirih, yaitu menjejalkan tembakau ke mulut setelah keluar air liur pertama. Kebiasaan nyirih tampak mulai menjijikan bagi orang Eropa.

Manjelang berakhirnya abad ke-19, perbedaan kultural bangsa Eropa dengan bangsa Indonesia menjadi semakin tajam. Kini bagi orang Eropa, kebiasaan nyirih dan meludahkan bekas tembakau penyumpal mulut dipandang sebagai tanda inferioritas bangsa Indonesia.

Memasuki abad ke-20, sejalan dengan penyebaran pendidikan barat tampaknya berkaitan erat dengan mulai ditinggalkannya kebiasaan nyirih. Seluruh citra modernitas yang dikontruksi oleh pendidikan Belanda bertentangan dengan aktivitas nyirih.

Di Bugis dan Makasar, misalnya, pada 1900 hampir semua orang nyirih, tapi pada 1950 hampir tak ada satupun orang melakukan itu. Ketika orang Bugis dan Makasar membeli sirih, itu dilakukan untuk persyaratan ritual perkawinan dan bukan dikonsumsi.

Di Jawa, Bali, dan Sumatra, laiknya dampak kolonialisme, bicara dampak “modernisasi” tampaknya berlangsung secara lebih gradual. Sejak 1903, hanya sedikit bupati Jawa yang nyirih, meskipun piranti peralatan nyirih masih dibawa-bawa dalam acara formal dan ritual adat.

Selain aspek pendidikan, di sini penting juga disebutkan fesyen sebagai faktor penyebab hilangnya tradisi nyirih.

Di sepanjang abad ke 19 – 20, konsumsi rokok dicitrakan sebagai bagian dari moderenitas. Sedangkan nyirih semakin terlihat sebagai perilaku yang jorok dan tidak higinies.

Ya, suka atau tidak suka, konsumsi rokok ialah salah satu faktor penting yang berdampak menggeser kebiasaan nyirih dalam perilaku sosial masyarakat di Indonesia.

Suka atau tidak suka juga kini tradisi nyirih hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, atau sebutlah masyarakat adat, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Dari tradisi nyirih ini, hikmah yang dapat disimak ialah pelajaran perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu

Continue Reading

Pojok

Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT

Published

on

Tradisi Tepuk Tangan Mawar

Indonesia memiliki banyak sekali warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Di Riau ada tradisi budaya Tepuk Tepung Tawar.

Tepuk Tepung Tawar adalah salah satu tradisi yang diwarisi oleh raja terdahulu pada kebudayaan Melayu. Biasanya Tepuk Tepung Tawar dilakukan pada saat upacara adat atau pernikahan.

Bagi orang Melayu, Tepuk Tepung Tawar merupakan adat yang harus dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan pepatah Melayu yang menyebutkan. “Kalau buat keje nikah kawin, kalau belum melaksanakan acara tepuk tepung tawar (dalam bahasa Melayu: tepung tawo) belum sah (afdal) acara yang dilaksanakan”.

Baca Juga:

  1. Kampung Wisata Sosromenduran, Pusatnya Kerajinan Budaya & Kuliner Yogyakarta
  2. Pasar Rawa Bening, Surga Batu Akik & Bacan dari Jakarta Timur
  3. JNM Bloc Tempat Nongkrong Asyik & Ruang Kreatif Anak Yogyakarta

Tradisi Tepuk Tepung Tawar merupakan simbol untuk mendoakan seseorang karena keberhasilannya. Upacara ini menjadi salah satu bagian penting dalam sejumlah prosesi adat istiadat. Baik dalam acara adat perkawinan, khatam, berandam, syukuran, peresmian maupun prosesi lainnya.

Sampai saat ini masyarakat Melayu di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau masih melaksanakan Tepuk Tepung Tawar. Upacara ini menjadi simbol yang hakekatnya tetap pada kekuatan memohon doa kepada Allah SWT, agar dihindarkan dari segala marabahaya.

Tradisi Tepuk Tangan Mawar

Uniknya, tradisi ini bisa dilakukan dengan dua ketentuan yaitu pada manusia atau benda. Untuk ritual pada benda, biasanya digunakan dalam acara pernikahan, menempati rumah baru, kendaraan baru, dan bentuk-bentuk rasa kegembiraan bagi orang-orang yang memiliki hajat atau semacam upacara sakral lain.

Khususnya untuk calon pengantin, tepuk tepung tawar akan dilakukan secara bergantian dengan pertimbangan mereka belum melakukan mahar batih atau belum bersatu. Sedangkan, jika sudah resmi menikah, maka upacara bisa dilakukan bersamaan di sebuah peterakne atau tempat bersanding pengantin melayu. Upacara ini juga bisa dibuat untuk anak-anak yang siap khatam Al-Qur’an dan mereka akan didoakan agar diberi keselamatan, kesejahteraan, dan terhindar dari kesusahan dalam menjalankan kehidupan.

Upacara tepuk tepung tawar juga erat kaitannya dengan siklus kehidupan seseorang dari lahir hingga meninggal dunua. Fase-fase kehidupan itu tak hanya ditandai dengan perubahan biologis, tetapi juga diikuti dengan perubahan kedudukan sosial di masyarakat.

Maka untuk menghadapi perubahan menuju situasi yang baru, seseorang perlu tahapan peralihan untuk menumbuhkan semangat baru dan di sinilah tepuk tepung tawar dimaknai sebagai upacara yang mengiringi masa peralihan tersebut.

Tradisi Teouk Tangan Mawar

Masyarakat Melayu memiliki rasa kekerabatan dan kekeluargaan yang kuat. Ketika ada yang berhasil mendapatkan sesuatu, maka masyarakat yang lain wajib memberikan ucapan selamat dengan mengadakan tepuk tepung tawar.

Ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum melaksanakan upacara tepuk tepung tawar, yaitu daun penepuk atau perenjis, bahan penabur, dan bahan renjis seperti daun setawar, daun sedingin, daun ati-ati, daun gandarusa, daun juang-juang, bunga rampai, air percung, dan beras tabur yang terdiri dari beras kunyit atau beras kuning, beras putih basuh, dan bertih.

Setelah itu, Mak Inang akan mempersiapkan alat-alat seperti satu buah kaki batil, paha, astakone, mangkuk kecil, tepak sirih, terenang, keto, sirih nikah dalam senjong dengan bahan beras kunyit, beras basuh, air tepung tawar, bertih, perenjis, embat, dan satu telur ayam mentah.

Upacara akan dimulai dengan mengambil sejumput beras kunyit, beras putih, dan bertih kemudian ditaburkan ke kepala orang yang akan diupacarakan, selanjutnya ke bahu kanan dan kiri. Orang yang menaburkan beras akan membacakan selawat, kemudian mengambil perenjis dan dipercikkan ke kening, bahu kanan-kiri, belakang telapak tangan, dan menempelkan telur di wajah hingga bibir.

Dalam kepercayaan masyarakat Melayu, beras kunyit merupakan simbol dari raja atau sultan, lambang kebesaran, kemuliaan, dan keagungan. Sedangkan beras basuh atau beras putih melambangkan kesucian diri dan air mawar melambangkan nama yang harum. Prosesi tepuk tepung tawar pun biasa diakhiri dengan pembacaan doa agar orang tersebut selalu dalam keadaan selamat dan diberikan keberkahan.

Continue Reading

Pojok

Bukan Sekadar Hewan Ternak: Menelisik Fungsi & Peran Ayam bagi Masyarakat Hindu di Bali

Published

on

Peran ayam di Bali

Hewan apa yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Bali? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada masyarakat awam, sebagian besar bakal menjawab babi. Hal ini cukup masuk akal, karena Bali terkenal dengan penggunaan daging babi dalam berbagai aktivitas, termasuk ritual keagamaan.

Namun, babi bukan satu-satunya hewan yang memiliki peran serta fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Ada pula satu hewan ternak lain yang eksistensinya sangat diperhatikan. Hewan ternak yang dimaksud adalah ayam. Ayam tidak hanya dipakai untuk diadu, tetapi juga sebagai sarana dalam upacara keagamaan.

Saat kalian berkunjung ke Bali, masakan dengan berbahan baku daging ayam cukup banyak digunakan. Menu ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana berburu makanan halal oleh para wisatawan muslim. Namun, ayam bagi masyarakat Hindu Bali juga memiliki dua fungsi lain yang tidak kalah penting.

Baca Juga:

  1. Kampung Wisata Sosromenduran, Pusatnya Kerajinan Budaya & Kuliner Yogyakarta
  2. Pasar Rawa Bening, Surga Batu Akik & Bacan dari Jakarta Timur
  3. JNM Bloc Tempat Nongkrong Asyik & Ruang Kreatif Anak Yogyakarta

Dua fungsi yang dimaksud adalah sebagai persembahan dalam ritual keagamaan serta sebagai hewan aduan. Terkait fungsinya sebagai hewan aduan, fenomena ini sudah menjadi tradisi yang berkembang sejak zaman dahulu. Apalagi, raja-raja terdahulu di Kerajaan Bali, dikenal sebagai sosok yang suka adu ayam.

“Bagi masyarakat Hindu, ayam adalah representasi dari tiga tingkatan eksistensi manusia: etis, estesis dan religius. Karenanya ayam lazim digunakan dalam upacara keagmaan sebagai bentuk dari harmonisasi hubungan vertikal manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa,” dikutip dari Bale Bengong,

Ida Ratu Peranda Ishana Manuba, seorang pendeta, menjelaskan tentang fungsi ayam dalam ritual keagamaan Hindu di Bali. Disebutkannya, fungsi ayam banyak digunakan pada caru, yadnya caru bhuta yadnya.

Dirinya menjelaskan, caru berasal dari kata car yang artinya harmonis. Dengan ritual itu, manusia mengharmoniskan energi mikrokosmos yang ada dalam diri dengan energi alam semesta, makrokosmos melalui sarana ayam yang disebut dengan caru.

“Kenapa pakai ayam? karena ayam punya energi, kreatifitas dan etos kerja yang baik,” paparnya dalam sebuah video dokumenter.

Dirinya menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali, ayam adalah kebutuhan yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan. Segala ritual di Bali memakai ayam dengan berbagai warna bulu, warna kaki dan banyak sekali warna-warna spesifik untuk upacara.

Ayam berwarna putih adalah jenis yang kerap dibutuhkan dalam sarana ritual. Ayam ini berbulu putih di keseluruhan kulit dan bulunya, berjambul merah, dan pembawaan hewan ini sangat tenang.

Mangku menyebut para pembiak biasa mengawinkan ayam untuk mendapatkan jenis atau ciri khas tertentu. Namun katanya tidak semua berhasil, hasilnya tidak seperti induknya. Tetapi bila terus dicoba bisa saja baru berhasil.

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Ananda mengungkapkan kaitan antara ayam dengan sistem religi bagi umat Hindu di Bali. Menurutnya dalam klasifikasi tentang karakter dari binatang ada tiga pembagian: klaster wise (kebijaksanaan), kreatif, dan klaster enerjik.

“Kehadiran ayam dalam bentuk ritual di Bali itu adalah bagaimana membangun kreatifitas dan dinamisasi. Karena ayam itu kreatif,” jelasnya.

Continue Reading

Trending