Connect with us

Pojok

Memahami Esensi Manusia Sebagai Homo sapiens

Published

on

yuval noah harari, penulis homo sapiens

Homo Sapiens is the Species that Invents Symbols in Which to Invest Passion and Authority, then Forgets That Symbols are Inventions

Pada penghujung tahun 2018, Indonesia sedang mengalami duka yang diakibatkan oleh beberapa bencana alam.

Dari data yang direkam BNPB, sepanjang 2018 bencana Puting Beliung, Banjir & Tanah Longsor menjadi bencana dengan kejadian paling sering terjadi.

Selain tiga bencana yang sering terjadi tersebut juga terdapat bencana lain seperti kebakaran hutan, gelombang pasang, kekeringan dan letusan gunung.

Sepanjang 2018 dapat  dikalkulasi terdapat 1.245 bencana yang telah terjadi di Indonesia.

Menghadapi awal tahun 2019, sudah muncul prediksi ancaman bencana yang akan terjadi di sepanjang tahun 2019 yang diperkirakan sebanyak 2.500 bencana.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan rasa takut terhadap pembaca, akan tetapi dengan data yang ditampilkan diatas dapat digunakan sebagai pegangan dalam menghadapi ancaman bencana.

Dalam beberapa minggu terakhir bahkan muncul isu kebencanaan yang dikaitkan dengan keadaan politik pemerintah. Ambilah contoh mengenai bencana Tsunami Anyer dan Lampung pada 22 Desember 2018 silam.

Beberapa pihak mulai menyalahkan salah satu lembaga pemerintah dikarenakan gagal melakukan mitigasi bencana.

Sebelum permasalahan tersebut melebar luas, ada baiknya kita sebagai individu mulai merenungkan permasalah-permasalahan tersebut sebagai “Manusia Bijak”.

Beberapa pihak mungkin dengan seenaknya sendiri mencari ‘siapa yang paling bersalah’ dalam suatu peristiwa tanpa adanya pemikiran sebijak-bijaknya untuk mengambil pelajarannya.

Sebagai Manusia Bijak ada baiknya sejenak waktu kita menengok sejarah kebelakang bagaimana Homo sapiens bisa bertahan hidup hingga sekarang.

Jawaban simpelnya adalah karena mereka bisa beradaptasi dengan baik. Benarkah seperti itu? Mari kita urai satu persatu.

Menurut Yuval Noah Hariri dalam buku Sapiens; Riwayata Singkat Umat Manusia, ada beberapa spesies manusia purba selain Homo sapiens – spesies sapiens (bijak) dalam genus homo (manusia).

Fakta tersebut menyeret pemahaman kita tentang klasifikasi ilmiah manusia yang masuk kedalam kingdom Animalia.

Hal tersebut semakin mendukung teori Darwin bahwa manusia dan kera adalah kerabat dekat dalam satu famili besar.

Dengan begitu juga menyiratkan arti bahwa selain spesies Sapiens ada spesies lain dalam genus Homo.

Di Eropa dan Asia Barat muncul Homo neanderthalensis (manusia dari lembah Neander) atau lebih singkat disebut Neandertal.

Baca Juga:

  1. Peranan Tanaman Akar Wangi Sebagai Pencegah Bencana
  2. Jokowi : Ego Sektoral dalam Penanganan Bencana Dihilangkan
  3. Mengadu Nasib di Kota: Migrasi Orang-Orang Madura ke Surabaya

Neandertal memiliki perawakan gempal dan lebih berotot daripada sapiens yang memang cocok beradaptasi di iklim yang dingin.

Di wilayah tropis seperti Pulau Jawa muncul Homo soloensis (manusia dari lembah Solo), sedangkan di Flores juga muncul Homo floresiensis dengan perawakan yang lebih kecil dengan tinggi tidak lebih dari satu meter.

Selain itu beberapa ilmuwan menemukan spesies manusia lainnya seperti Homo denisova di Siberia, Homo rudolfensis (manusia dari danau Rudolf), Homo ergaster (manusia bekerja) hingga spesies kita saat ini Homo sapiens.

Keberadaan spesies tunggal Homo sapiens saat ini sebenarnya menjadi pertanyaan besar para ahli.

Apa yang terjadi dengan spesies manusia lainnya, apakah yang membuat Homo sapiens sedemikian istimewa sehingga membuatnya menjadi penguasa tunggal kehidupan yang ada di bumi.

Jika dilihat dari ciri-ciri yang melekat pada masing-masing spesies manusia, terdapat beberapa persamaan yakni volume otak yang luar biasa besar jika dibandingkan dengan hewan.

Besaran volume otak sebenarnya tidak banyak berpengaruh dalam kehidupan manusia di rimba belantara.

Kelemahan volume otak yang besar memerlukan energi yang besar untuk memulihkannya kembali, kelebihannya manusia bisa menganalisa lebih baik informasi yang diterima otak.

Kemampuan analisa inilah yang membuat manusia berada di puncak rantai makanan.

Kemampuan analisa yang baik membuat manusia mulai membuat dan menciptakan peralatan-peralatan yang dapat mempermudah kebutuhan hidup mereka.

Kemampuan memanfaatkan api juga mempermudah kehidupan manusia seperti mengolah bahan makanan hingga menghalau hewan buas. Kemampuan-kemampuan alamiah tersebut yang menjadikan manusia sebagai penguasa tunggal di muka bumi.

Kemampuan analisa yang baik inilah yang membedakan Homo sapiens dengan spesies manusia lainnya.

Persebaran Homo sapiens menurut ahli dimulai dari Afrika Timur yang menyebar ke semenanjung Arab hingga ke daratan Erasia.

Persebaran Sapiens ke Eropa telah mempertemukan spesies Sapiens dengan Neandertal yang lebih berotot dan memiliki otak lebih besar.

Ciri fisik Neandertal beradaptasi dengan baik di iklim dingin Eropa. Perjumpaan Sapiens dengan Neandertal memunculkan beragam teori yang menyimpulkan pertanyaan kenapa Sapiens lebih bisa beradaptasi sedangkan Neandertal punah.

Jika dilihat dari struktur DNA manusia masa kini, populasi manusia Timur Tengah dan Eropa terdapat 1-4% DNA Neandertal, sedangkan populasi manusia Malenesia dan Aborigin terdapat 6% DNA Denisova.

Teori tersebut sebenarnya cukup lemah untuk menjelaskan kenapa Neandertal dan Denisova punah.

Kemungkinan terbesar yang membuat spesies selain Sapiens punah adalah karena Homo Sapiens-lah yang mendorong spesies lain untuk punah.

Aktivitas Sapiens dalam mendorong kepunahan spesies manusia lainnya bukan dikarenakan terjadi pembunuhan besar-besaran, akan tetapi lebih kepada sifat Sapiens yang lebih handal dalam memburu dan mengumpulakan makanan.

Perkembangan otak yang lebih sempurna memungkinkan Sapiens dapat beradaptasi dengan baik, bahkan dengan kondisi iklim yang buruk.

Kecerdikan Sapiens itulah yang mendorong spesies lain seperti Neandertal di Eropa menjadi punah karena kalah dalam mempertahankan hidupnya.

Selain Neandertal di Eropa, spesies Homo soloensis, Homo Denisova dan Homo floresiensis menyusul punah setelah wilayah mereka kedatangan Homo sapiens.

Meskipun jawaban-jawaban yang dijelaskan oleh para ahli belum dapat memuaskan pertanyaan kenapa Sapiens bisa begitu sukses bertahan hidup dibandingkan spesies lainnya, yang pasti Homo sapiens memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dibandingkan spesies yang lainnya.

Jika penjelasan mengenai Homo sapiens dihubungkan dengan ancaman 2.500 bencana yang akan terjadi di Indonesia, kata kuncinya adalah adaptasi.

Kemampuan adaptasi-lah yang membuat Sapiens dapat bertahan ribuan tahun dengan iklim yang berbeda-beda hingga saat ini.

Kemampuan analisa yang lebih baik daripada binatang atau spesies Homo lainnya juga menjadi hal teristimewa yang dimiliki oleh spesies Sapiens.

Dengan tanpa menyalahkan salah satu pihak, sebagai Homo sapiens harus memiliki kesadaran bahwa wilayah Indonesia yang kita tempati merupakan wilayah dengan ancaman bencana yang besar.

Untuk menghadapi itu semua kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap individu adalah sikap Tanggap dan Sadar Bencana.

Pola pikir tanggap dan sadar bencana juga harus diiringi dengan pola pikir evakuasi mandiri.

Setiap individu dalam sebuah keluarga yang bertempat tinggal di zona rawan bencana harus memiliki tas emergency yang berisi perlengkapan kebutuhan darurat.

Selain itu pemerintah juga mendukung dengan membuat fasilitas jalur evakuasi di zona rawan bencana. Simulasi keadaan darurat juga mulai dipraktikkan guna melatih kesadaran masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana kapanpun dan dimanapun.

Melalui kesadaran dan dukungan penuh dari pemerintah pusat hingga daerah (berbagai lembaga pemerintah mulai BMKG, BNPB, PVMBG, DIKNAS dan lainnya) keberadaan kita sebagai Homo sapiens di zona rawan bencana pun bukan menjadi masalah besar bagi Manusia Bijak yang cerdik dan adaptif.

Pojok

Tanagupa, Surganya Orang Utan dari Kalimantan Barat

Published

on

By

Orang Utan

Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa) diketahui sebagai surga atau rumahnya bagi orang utan. Tempat ini terletak Jl. Gajah mada No.41, 78813, Ketapang, Kalimantan Barat.

Di mana taman ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi di daerah Kalimantan Barat dengan status sebagai Kawasan Suka Alam.

Diketahui, hal tersebut ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Het Zelfbestuur Van Het Landschap Simpang Nomor: 4/13.ZB/1937 tanggal 4 Februari 1937. Kemudian De Resident Der Westerafdeling Van Borneo mengesahkannya di Pontianak tanggal 29 April 1937.

Pada tahun 2021 lalu pun tempat ini kembali menerima seekor orangutan jantan liar dewasa hasil penyelamatan bersama antara Tim Wildlife Rescue Unit (WRU), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan IAR Indonesia, Yayasan Palung dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan.

Baca Juga:

  1. Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT
  2. Mengenal Upacara Adat Mongubingo, Sunat Perempuan Ala Masyarakat Gorontalo
  3. Adu Zatua, Tradisi Menghormati Roh Leluhur Ala Suku Nias

Usai mendapat laporan dari masyarakat tentang keberadaan orangutan yang terjebak di kebun warga di Desa Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, barulah kemudian upaya penyelamatan dan translokasi tersebut dilakukan.

Akhirnya orang utan bernama ‘Jala’ itu pun dipindahkan ke ke kawasan hutan Tanagupa. Berdasarkan hasil survei, kawasan tersebut mempunyai tingkat keamanan yang tinggi, jauh dari pemukiman dan memiliki tumbuhan pakan yang melimpah.

Selain itu juga kerapatan individu orang utan yang masih rendah di sana. Kegiatan translokasi orangutan ke Taman Nasional Gunung Palung selama tahun 2021 merupakan upaya yang kedua kalinya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, M. Ari Wibawanto pada keterangan tertulisnya (7/5/2021).

Continue Reading

Edukasi

Catat, Ini Jadwal Libur Sekolah 2022-2023

Published

on

Libur sekolah

Sebentar lagi pelajar jenjang SD, SMP, dan SMA di Jawa Barat akan menyambut datangnya libur kenaikan kelas 2022 sebelum memulai tahun ajaran baru.

Libur kenaikan kelas biasanya disambut dengan antusias karena termasuk masa libur panjang sekolah yang umumnya berkisar antara dua hingga empat minggu.

Terlebih sebelum libur panjang kenaikan kelas, para pelajar harus melewati rangkaian ujian kenaikan kelas (UKK) atau penilaian akhir semester (PAS) yang melelahkan.

Baru setelah penerimaan rapor serta momen kenaikan kelas, pelajar bisa menikmati masa libur panjang kenaikan kelas 2022 sebelum memasuki kelas yang baru.

Baca Juga:

  1. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho

Jadwal Libur Sekolah dalam Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023

Kalender Akademik 2022-2023 Jakarta

Libur semester: Jumat, 1 Juli 2022 – Minggu, 9 Juli 2022
Hari Raya Idul Adha: Minggu, 9 Juli 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: Senin, 11 Juli 2022
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: Senin- Rabu, 11-13 Juli 2022
Tahun Baru Islam 1444 Hijriah: Sabtu, 30 Juli 2022
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Rabu, 17 Agustus 2022
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 19-23 September 2022 (disesuaikan dengan program sekolah)
Maulid Nabi Muhammad SAW: Sabtu, 8 Oktober 2022
Penilaian Akhir Semester: Senin-Jumat, 5-9 Desember 2022
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 16 Desember 2022
Libur semester: Sabtu, 17 Desember – Minggu, 1 Januari 2022
Hari Raya Natal: Minggu, 25 Desember 2022
Hari pertama sekolah dan awal semester genap 2022-2023: Senin, 2 Januari 2023
Isra Mi’raj: Sabtu, 18 Februari 2023
Penilaian Tengah Semester: Senin-Jumat, 20-24 Februari 2023 (disesuaikan dengan program sekolah)
Perkiraan ujian sekolah: Senin-Jumat, 13-17 Maret 2023, 27-31 Maret 2023, atau 10-14 April 2023
Hari Suci Nyepi: Rabu, 22 Maret 2023
Perkiraan Libur Ramadhan: Kamis-Sabtu, 22-25 Maret 2023
Jumat Agung: Jumat, 7 April 2023
Perkiraan Libur Idul Fitri: Jumat, 21 April 2023 – Jumat, 28 April 2023
Hari Raya Idul Fitri: Sabtu-Minggu, 22-23 April 2023
Hari Buruh: Senin, 1 Mei 2023
Hari Waisak: Sabtu, 6 Mei 2023
Kenaikan Isa Almasih: Kamis, 18 Mei 2023
Hari Lahir Pancasila: Kamis, 1 Juni 2023
Penilaian Akhir Tahun: Senin-Jumat, 12-16 Juni 2023
Pembagian Buku Laporan: Jumat, 23 Juni 2023
Libur semester: Sabtu, 24 Juni 2023 – Sabtu, 8 Juli 2023
Hari pertama sekolah dan awal semester ganjil 2022-2023: 10 Juli 2023
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan proses administrasi kelas: 10-12 Juli 2023
Tahun Baru Hijriyah: Rabu, 19 Juli 2023

Continue Reading

Pojok

Polusi Fotografis dan Konsumerisme Visual

Published

on

ilustrasi fotografer

Plato pernah mengajukan sebuah alegori paling terkenalnya soal gua. Dalam cerita klasiknya, orang-orang dirantai di gua yang gelap. Mereka dihadapkan pada dinding gua, membelakangi sumber cahaya.

Mereka hanya bisa melihat bayang-bayang obyek yang datang dan pergi, dari hal-hal yang terjadi, terpantul ke dinding gua.

Bagi mereka, bayang-bayang itulah semua yang mereka ketahui tentang dunia, semua itu yang benar-benar eksis bagi mereka. Gua tersebut adalah batas semesta bagi mereka.

Kisah tadi belum selesai, tapi konsep dasar soal realitas tadi yang coba diulas Susan Sontag dalam esai In Plato’s Cave. Manusia, sebutnya dalam esai pembukanya di On Photography tersebut, masih terkurung dalam gua Plato.

Namun fotografi mengubah kondisi pemenjaraan tersebut. Fotografi menciptakan semacam “penglihatan” dan perasaan bahwa kita dapat memuat seluruh dunia dalam kepala kita. Realitas baru, sekaligus masalahnya, terbentuk.

Penulis Amerika cum aktivis sosial ini banyak menulis beragam topik selama hidupnya. Salah satu karya kritisnya yang paling terkenal, On Photography, pertama kali diterbitkan pada tahun 1977.

Meski ditulis sebelum era seseorang bisa menangkap ratusan gambar lewat ponsel cerdas mereka hanya dengan satu sentuhan, namun berbagai gagasan Sontag tetap sangat relevan dan menjadi salah satu teks definitif tentang kultur visual hari ini.

Manusia gua tadi sekarang punya ponsel pintar dan teknologi informasi yang mutakhir. Sejak penemuan camera obscura tahun 1838, hari ini kita mengambil lebih banyak foto setiap dua menit daripada keseluruhan abad ke-19.

Sontag menulis On Photography di masa sebelum penemuan citra digital, namun menengok kembali gagasannya, serasa membaca suatu ramalan.

Fotografi berkembang bersamaan dengan salah satu aktivitas modern yang paling khas: turisme. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, segerombolan besar orang secara teratur melakukan perjalanan untuk jangka waktu yang singkat, keluar dari lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam melakukan perjalanan, tampaknya tidak wajar untuk bersenang-senang tanpa membawa kamera. Foto akan menawarkan bukti yang tak terbantahkan bahwa perjalanan telah dilaksanakan, kesenangan telah diperoleh.

Mengambil foto menjadi cara untuk mensertifikasi pengalaman kita. Foto menyimpan pengalaman menjadi sebuah souvenir, sekaligus sebuah trofi.

Dalam hal ini, turisme sangat beririsan dengan yang namanya konsumerisme. Ketika ada foto di Instagram akan suatu tempat, yang menawarkan kebaruan dan keunikan, secara serempak banyak orang yang ingin mengunjunginya. Masyarakat kapitalis, sebut Sontag, membutuhkan sebuah kultur yang berbasis citraan guna merangsang pembelian. Tidak dapat disangkal bahwa budaya konsumerisme diberi makan oleh visual.

Dilema lainnya, foto-foto akan penderitaan dan kekejaman sekarang memiliki akses yang tak berkesudahan. Sebagian besar dari kita tak bisa menahan banjir informasi itu tetap mengalir di saku kita atau di telapak tangan kita, atau di mana saja ponsel kita berada.

“Perasaan iba adalah emosi yang tidak stabil,” tulis Susan Sontag dalam kumpulan esainya yang terakhir, Regarding the Pain of Others, yang diterbitkan pada 2003. “Perasaan iba perlu diterjemahkan ke dalam tindakan, atau akan jadi layu.” Pernyataan ini seharusnya bikin kita semua merasa tidak nyaman.

Baca Juga:

  1. WhatsApp Kini Punya Fitur untuk Hapus Foto & Video Otomatis
  2. Fotonya Diedit untuk Fantasi, Enzy Ancam Tempuh Jalur Hukum
  3. Selebgram Cantik Ini Untung Rp80 M dari Jual Foto Selfie di NFT

Kita mungkin jijik, ngeri, atau tersentuh pada suatu foto, tapi hanya dengan didorong oleh welas asih saja, tidak akan membawa kita pada semacam pemahaman. Apa yang coba ditunjukkan oleh Sontag adalah bahwa emosi tidak dapat dipercaya ketika harus mempertimbangkan tindakan yang benar.

Kita perlu berhenti menonton untuk mempertimbangkan bagaimana kita menanggapi gambar penderitaan, kesakitan, dan kekejaman, dan dengan kejam memikirkan peran kita sendiri sebagai pemirsa secara historis dan filosofis.

Masalahnya, kita lebih cepat tergerak untuk ngeri dan jijik, sekaligus kita lebih cepat lupa, karena deretan gambar yang jauh lebih banyak menuntut perhatian kita.

Kita dipaksa mengelola lebih banyak informasi melalui gambar daripada era-era sebelumnya, dan ini membuat hubungan kita dengan kasih sayang, kemarahan, dan rasa ketidakberdayaan yang terangsang oleh foto-foto tadi semakin kompleks. Polusi fotografis bikin kita mati rasa.

Fotografi, yang dulu dianggap sebagai media yang menggambarkan “kebenaran,” sekarang ironisnya merupakan penyumbang terbesar tentang manipulasi psikis masyarakat kapitalis. Kita dibombardir dengan gambar setiap hari, sebagian besar dari iklan; di papan reklame, di majalah, dan paling sering di layar kita.

Namun, pada saat yang sama, fotografi adalah percobaan penangkal paradoks kematian kita dan kesadaran yang mendalam akan hal itu.

Segala foto adalah memento mori, tulis Sontag. Mengambil foto adalah berpartisipasi dalam kemortalan, kerentanan, ketidaktetapan orang lain. Lewat mengiris suatu momen dan membekukannya, semua foto menjadi kesaksian atas melelehnya waktu yang tanpa henti.

Hal ini begitu benar, saat kita mengisi linimasa media sosial kita dengan gambar, seolah-olah untuk membuktikan bahwa garis waktu biologis kita, kehidupan kita, dipenuhi dengan momen penting. Sekaligus mengingatkan kita bahwa semuanya pasti akan segera menuju titik akhir dari garis waktu itu sendiri: kematian.

Foto mengkonfirmasi keberadaan kita di dunia, memberi semacam pinjaman bahwa ada bobot dalam eksistensi kita. Kenyataannya, kultur visual ini telah dikonfirmasi lebih lanjut dengan penemuan media sosial; sebuah fenomena yang Sontag lihat sekilas sebelum kematiannya akibat leukemia pada 2004.

Mallarmé, mengatakan bahwa segala sesuatu ada di dunia ini untuk berakhir dalam sebuah buku. Masa kini, tulis Sontag, semuanya ada untuk berakhir dalam sebuah foto.

Continue Reading

Trending