Connect with us

CityView

Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Published

on

ilustrasi teater

Berbicara komunitas sastra, tentu tidak bisa melupakan pada komunitas Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta. Komunitas PSK yang digawangi oleh mahaguru penyair Umbu Landu Paranggi dianggap sangat berhasil dalam menanamkan semangat berkarya pada anggota dan dalam berbagai warna karya penggiatnya.

Beberapa penggiatnya sekadar menyebut beberapa nama antara lain Iman Budhi Santosa, Ragil Surwarna Pragolapati, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Emha Ainun Nadjib, punya warna karya yang berbeda-beda.

Selanjutnya ada Komunitas Sastra Indonesia. Menurut Maman S Mahayana (2014), Komunitas Sastra Indonesia (disingkat KSI) adalah organisasi kesenian nirlaba di Indonesia yang bergerak di bidang kesenian, utamanya sastra.

Komunitas ini didirikan pada tahun 1996, dengan tujuan ikut menumbuhkembangkan gairah bersastra melalui berbagai kegiatan pendukung.

Komunitas Sastra Indonesia didirikan oleh beberapa sastrawan Indonesia, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Ayid Suyitno PS, Azwina Aziz Miraza, Diah Hadaning, Hasan Bisri BFC, Iwan Gunadi, Medy Loekito, Shobir Poer, Slamet Rahardjo Rais, Wig SM, dan Wowok Hesti Prabowo.

Komunitas lain yang juga penting dalam konstelasi sastra Indonesia mutakhir adalah Komunitas Utan Kayu (KUK) dengan Gunawan Mohamad sebagai ikonnya.

Baca Juga:

  1. Kesenian Ketoprak, Dulunya Hiburan Tani
  2. Dardanella, Kelompok Sandiwara Modern Pertama di Indonesia
  3. Sandiwara ‘Stambulan’ di Masa Kolonial

KUK terkesan tampil sebagai komunitas elitis. Nirwan Dewanto dan Sitok Srengenge adalah dua nama yang secara langsung ikut memainkan peranan penting di sana.

KUK membangun jaringannya tidak hanya dalam lingkup dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Sebagai sebuah komunitas, KUK tentu saja mengusung ideologinya sendiri, sama halnya juga dengan komunitas lain.

Komunitas Utan Kayu (KUK) selanjutnya pindah tempat dan pada proses selanjutnya beralih nama menjadi Komunitas Salihara di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Beberapa sastrawan yang ada di dalamnya antara lain Goenawan Mohamad, Nirwan Dewanto, Ayu Utami, Zen Hae.

Ada juga komunitas Forum Lingkar pena (FLP). FLP tampil tanpa dapat menghindari dari citra Islaminya yang kental, meskipun sesungguhnya keanggotaan FLP bersifat terbuka—inklusif.

Semangat FLP –sebagaimana yang dinyatakan dalam visinya, juga sebenarnya sederhana saja, yaitu membangun masyarakat membaca dan menulis.

Dalam hal itulah, sesungguhnya FLP punya visi yang substansinya sama dengan komunitas sastra lainnya yang bertebaran di Tanah Air, yaitu menciptakan manusia penulis.

Bukankah ketertinggalan bangsa ini dari bangsa lain –terutama Eropa, dan lebih khusus lagi, bangsa di kawasan Asia Tenggara, lantaran budaya baca dan budaya tulis belum melekat dalam pandangan masyarakat.

Komunitas sastra yang menurut saya berhasil adalah Lesehan Sastra Kutub (LSK) di Yogyakarta dan Komunitas Akarpohon di Mataram, NTB. Indikator yang mudah dilihat adalah seringnya karya para penggiat komunitas tersebut di media massa, antologi bersama juga lomba karya sastra.

Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Beberapa komunitas sastra atau literasi di Bekasi yang saya tahu keberadaannya karena pernah bersinggungan adalah Forum Lingkar Pena (FLP) Bekasi, Sastra Kalimalang (Sanggar Matahari), dan Forum Sastra Bekasi (FSB). Komunitas lain mungkin masih ada di kota Bekasi tetapi belum saya ikuti info maupun karya-karyanya.

FLP bergerak menulis yang lebih mengedepankan pada tulisan prosa yaitu cerpen dan novel berbasis agama Islam, diikuti banyak anak muda yang dibagi dalam berbagai pertemuan rutin dan dengan sistem jenjang kelas.

Komunitas FLP ini juga sering mengadakan pertemuan yang diadakan oleh FLP Pusat. Sejauh pengamatan saya komunitas FLP sering berkegiatan di kampus Unisma Bekasi. Selain penulisan, FLP Bekasi juga beberapa kali mengadakan lomba baca puisi dan dikusi sastra.

Sastra Kalimalang, komunitas ini lebih utama pada tulis dan baca puisi serta musikalisasi puisi.

Komunitas Sastra Kalimalang (SKM) merupakan wadah silaturahmi seluruh lapisan masyarakat melalui teks teks yang terlahir di keseharian hidup dan kehidupan. SKM mencoba menebarkan virus sastra ke masyarakat dan menemukan kata dari masyarakat.

“Ketika kata-kata menjadi peristiwa, kata tak hanya sekedar kata, ada makna yang menubuh dalam kata. Kami coba menemukan kata. Karena sastra itu mahkota dan sukma bahasa,” ujar Ane Matahari, penggagas Komunitas ini.

Berdiri sejak 14 September 2011, SKM mengajak masyarakat untuk menuliskan kegelisahannya. Kegiatan yang dilakukan melalui gerakan kebudayaan ini seperti dengan mengunjungi pedesaan, hingga menemui dan mengumpulkan karya-karya narapidana (sabekasi.com).

Forum Sastra Bekasi (FSB), yang dinisiasi oleh Budhi Setyawan dan beberapa penulis muda mulai beraktivitas pada 23 April 2011 dengan mengadakan pertemuan rutin setiap bulan dengan diskusi sastra terutama puisi.

Selain itu juga merilis media Buletin Jejak setiap bulan dan kegiatan pembelajaran menulis puisi dengan memanfaatkan media telepon genggam yang dinamakan Lumbung Sajak. Kemudian juga beberapa kali merilis buku antologi puisi bersama yaitu Kepada Bekasi, Saksi Bekasi, Sajak Puncak, dan Kepak Sajak.

Beberapa anggota komunitas FSB cukup produktif menulis, karya terutama puisi sering dimuat media massa, antologi bersama, memenangi lomba puisi serta memiliki buku puisi tunggal.

Komunitas sastra di kota Bekasi ada beberapa dan bisa jadi masih akan bertumbuh dan bertambah, dan ini yang mesti untuk didukung dan diapresiasi.

Akan tetapi hal utama yang harus dipegang adalah fokus pada kemajuan karya. Ini yang harus jadi target dan dibuat indikator untuk mengukur kemajuan dan pengaruh pada dunia sastra, terlebih pada kehidupan lebih luas.

Indikator yang lebih mudah dilihat agar terlihat keberadaannya adalah karya-karya yang dipublikasikan di media massa, dalam buku bersama maupun buku sendiri, serta lomba karya sastra. Ini sangat diperlukan agar Bekasi bergaung sebagai kota yang bergairah dalam sastranya, bukan hanya sebagai kota mal dan apartemen

Advertisement

CityView

Kerennya IKN Nusantara, Punya Smart Village Hingga Forest City

Published

on

IKN Nusantara

Pemerintah terus menggodok berbagai hal teknis untuk pengembangan IKN Nusantara di Kalimantan Timur. Pengembangannya akan mengacu pada konsep smart city untuk menerapkan forest city dengan salah satu rujukan penerapannya dengan Korea Selatan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu telah berkunjung ke Korea Selatan untuk melihat pembangunan infrastruktur dan pengembangan kota cerdas (smart city) di negeri K-Pop itu.

Dalam kunjungan tersebut juga telah dihasilkan beberapa kerja sama yang akan ditindaklanjuti oleh kedua negara. Beberapa kerja sama teknis itu dilakukan antara Kementerian PUPR dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Agraria, Infrastruktur dan Transportasi (MOLIT) Korea Selatan.

Baca Juga:

  1. Memahami Four Tasks of Mouning, Tahapan Kala Berduka
  2. Kenali Apa Itu Gaslighting, Manipulasi Pikiran Secara Psikologis
  3. Kenali Relationship Red Flags, Tanda Merah Sebelum Terlambat

“Kementerian PUPR telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan dan MOLIT sejak beberapa tahun lalu. Beberapa bentuk kerja samanya antara lain pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karian di Banten untuk penyediaan air baku di Jakarta bagian Barat termasuk pembangunan water treatment plant dan jaringan distribusinya. Kemudian juga sedang dilakukan feasibility study untuk Semarang Smart Water System dan beberapa kerja sama lainnya,” ujar Basuki.

Setidaknya pertemuan Presiden Jokowi dan Kementerian PUPR telah menyepakati empat bentuk kerja sama konkrit khususnya untuk mendukung pengembangan Ibukota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur. Beberapa kerja sama yang disepakati antara lain melalui hibah pembangunan instalasi pemurnian air dengan kapasitas 300 liter/detik.

Basuki juga berkesempatan melihat konsep pemurnian air di Hwaseong Water Purification Plant yang disebutnya menerapkan the best available technology yang saat ini diaplikasikan oleh Korea Selatan. Teknologi ini memungkinkan air yang siap minum dengan penerapan yang sangat reliable karena proses pengolahan akhirnya dilakukan dengan metode ozonisasi.

Kemudian kerja sama lainnya yang juga disepakati yaitu pembangunan instalasi pengolahan limbah cair untuk IKN Nusantara. Terkait pengembangan smart city, Kementerian PUPR juga telah mengunjungi Busan Eco Delta Smart City dan Smart Village yang dulu tahun 2019 saat di-groundbreaking juga dihadiri oleh Presiden Jokowi.

Setelah berproses tiga tahun, saat ini sudah ada yang namanya smart village yang telah dibangun sebanyak 86 unit rumah dan dihuni oleh 400 orang. Perkembangannya juga terus dimonitor melalui implementasi 41 jenis teknologi canggih di dalam smart village tersebut. Nantinya, smart village ini akan diterapkan di IKN Nusantara dan untuk tahap awal akan dihadirkan 100 unit rumah sebagai proyek percontohan dan akan dibangun tahun 2023 mendatang.

“Kemudian untuk menghubungkan IKN Nusantara dengan Kota Balikpapan akan dibangun immerse tunnel yang sesuai dengan konsep forest city untuk melindungi berbagai flora dan fauna endemik seperti bekantan yang ada di sekitar Teluk Balikpapan. Saat ini sedang dikerjakan feasibility study dilanjutkan dengan basic design dengan rencana pembangunan tahun 2023,” beber Basuki.

Continue Reading

CityView

Sah, Indonesia Jadi Negara Paling Malas Jalan Kaki

Published

on

Ilustrasi jalan kaki

Baru-baru ini akun Instagram @undercover.id memposting sebuah laporan yang menyebut bahwa Indonesia menempati rangking pertama sebagai negara paling malas jalan kaki sedunia.

Laporan tersebut merupakan sebuah studi yang dilakukan para ilmuwan dari Stanford University, Amerika Serikat, meneliti tentang aktivitas masyarakat disejumlah negara, salah satunya Indonesia.

Studi mengungkapkan kalau Indonesia adalah negara paling malas berjalan kaki di dunia dengan rata-rata masyarakat berjalan kaki hanya 3.513 langkah setiap harinya.

Baca Juga:

  1. Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha
  2. 5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
  3. 5 Cara Menenangkan Hati yang Gelisah Menurut Islam

Penelitian ini dilakukan terhadap 717.627 orang dari 111 negara di berbagai belahan dunia dalam kurun waktu 95 hari, dilakukan dengan cara pelacakan smartphone.

Angka ini berbeda dengan negara Hong Kong yang menunjukkan bahwa tiap harinya mereka berjalan sebanyak 6.880 langkah per harinya.

Dilansir dari rdk.fidkom.uinjkt.ac.id masyarakat Indonesia cenderung menggunakan transportasi pribadi dibanding jalan kaki, bahkan untuk jarak dekat sekalipun. Kebiasaan ini menimbulkan kemalasan untuk berjalan kaki.

Alasan lain yang melatarbelakangi malasnya masyarakat untuk berjalan kaki adalah fasilitas pejalan kaki di Indonesia kurang memadai, tingkat kebersihan kurang menimbulkan bau tidak sedap bahkan mengganggu pejalan kaki, cuaca yang tidak menentu kadang panas dan kadang hujan, kebanyakan orang berpikir bahwa berjalan bukan suatu keharusan, dimanjakan oleh teknologi yang ada seperti layanan antar jemput online.

Aktivitas berjalan kaki sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, Dilansir dari p2ptm.kemkes.go.id, jalan kaki memiliki banya manfaat seperti, memperpanjang hidup 1,5 samai 2 menit, menurunkan berat badan, memberikan kondisi yang baik untuk kesehatan jantung dan paru-paru, membakar lemak dalam tubuh, meningkatkan metabolisme, mengurangi stres, memperlambat penuaan, menurunkan kolesterol, mencegah diabetes dan memperkuat otot.

Manfaat Berjalan Kaki Setiap Hari

Padahal jalan kaki itu adalah salah satu olahraga termurah yang bis akita lakukan setiap hari. Ada banyak manfaat dari berjalan kaki, di antaranya:

Rata-rata jalan kaki setiap menit dapat memperpanjang umur 1,5 sampai 2 menit

Jalan kaki setiap hari selama 40 menit, bisa menurunkan berat badan secara alami

Jalan kaki cepat selama 20 – 25 menit memperbaik kinerja jantung dan paru-paru

Rutin berjalan kaki setiap hari akan membakar lemak jahat dalam tubuh
Meningkatkan metabolisme sehingga tubuh bisa membakar kalori lebih cepat

Membantu mengurangi stress

Memperlambat penuaan

Menurunkan tingkat kolesterol dalam darah

Membantu menurunkan tekanan darah

Membantu mengontrol dan mencegah diabetes

Memperkuat otot kaki, paha, dan tulang’

Continue Reading

CityView

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Published

on

IKN Nusantara

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini dipilih karena dianggap sukses dengan program pemindahan ibukota barunya yang menerapkan banyak konsep smart city.

Pemerintah terus mematangkan berbagai rencana, konsep, hingga berbagai hal teknis terkait pengembangan ibukota negara (IKN) Nusantara. Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Diana Kusumastuti, Kementerian PUPR akan menjadi institusi tumpuan awal pembangunan IKN dan karena itu banyak hal yang hasur dipersiapkan khususnya terkait SDM yang andal dan kompeten.

“Dibutuhkan banyak SDM yang bukan hanya andal tapi berintegritas dalam pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan IKN Nusantara dan itu menjadi agenda yang wajib dilakukan. Untuk itu kami melakukan terobosan dengan menyiapkan dan mengirim insan Kementerian PUPR untuk belajar pengembangan IKN ke Korea Selatan,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha
  2. 5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
  3. 5 Cara Menenangkan Hati yang Gelisah Menurut Islam

Korea Selatan dipilih karena termasuk negara yang berhasil dan mumpuni dalam membangun ibukota baru. Sharing pengalaman ini dibutuhkan untuk pengembangan IKN khususnya untuk penerapan lima teknologi baru yang telah sukses dilaksanakan di Korea Selatan.

Pelatihan awak Kementerian PUPR ini juga merupakan kerja sama teknis antara Kementerian PUPR dengan Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MOLIT) Korea Selatan dalam rangka meningkatkan kapasitas pegawai Kementerian PUPR sebagai pelaksana pembangunan IKN. Pelatihan ini diikuti oleh 25 orang awak Kementerian PUPR yang akan berlangsung hingga akhir Agustus 2022.

Ke-25 orang ini dipilih dari 94 orang yang diusulkan dari delapan unit organisasi di Kementerian PUPR. Para peserta pelatihan ini terdiri dari 15 orang dengan latar pendidikan teknis dan 10 orang dengan latar pendidikan non teknis sehingga ada kolaborasi antara teknis dan non teknis dalam pengembangan IKN Nusantara.

“Pelatihan ini juga bukan pelatihan biasa. Peserta sudah harus memiliki dasar pengetahuan yang baik tentang smart city concept yang pro-IKN. Satuan Tugas (Satgas) IKN juga diharapkan dapat mengawal pelatihan ini dan mendampingi peserta agar konsep smart city IKN ini dapat terwujud di Indonesia,” imbuhnya.

Continue Reading

Trending