Connect with us

Histori

Melihat Aktivitas Perburuan di Masa Kuno pada Relief Candi Borobudur

Published

on

relief candi borobudur

Memahami aktivitas perburuan dalam kehidupan masyarakat masa Jawa Kuno, tidak bisa terlepas dari potensi lingkungan alam yang menyajikan beragam sumber daya alam termasuk berbagai jenis fauna atau binatang dalam habitat-habitatnya.

Berbagai habitat mulai dari habitat darat, air, dan udara memiliki berbagai macam fauna yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis Pulau Jawa yang terdiri dari daerah dataran rendah hingga tinggi khususnya lingkungan hutan serta lingkungan perairan laut maupun sungai.

Dengan demikian juga mempengaruhi ide atau gagasan dari masyarakat Jawa Kuno dalam proses eksploitasi sumber daya alam tersebut melalui aktivitas perburuan.

Oleh karena itu memunculkan berbagai macam teknik atau cara dan peralatan berburu yang menyesuaikan habitat dan karakteristik binatang buruannya.

Aktivitas perburuan yang digambarkan dalam relief Karmawibhangga di Candi Borobudur terdiri dari: Perburuan di darat, dengan sasaran berupa binatang darat misalnya babi; Perburuan di air, dengan sasaran binatang air seperti ikan dan kura-kura, serta perburuan di udara, dengan sasaran binatang terbang yaitu burung.

Tidak hanya aktivitas perburuannya saja, bahkan juga digambarkan tentang teknik atau cara berburu beserta peralatan yang digunakan, teknik dan peralatan untuk membawa hewan buruan, serta cara mengolah hewan buruan agar dapat disajikan dalam bentuk makanan.

Setidaknya ada beberapa adegan relief yang tergambar di candi Borobudur diantaranya adalah:

Pada adegan pertama relief Karmawibhangga bagian kanan memperlihatkan suatu kerumunan orang yang beramai-ramai sedang menangkap ikan pada perairan dangkal dengan menggunakan alat wuwu (buwu), terbuat dari anyaman bambu.

Terlihat saling bekerjasama, mulai dari mengambil ikan berukuran sedang yang terjebak di wuwu (buwu), dan memberikannya kepada yang lain untuk diikat dalam untaian tali, hingga membawa hasil tangkapan ikan dengan cara diangkut satu orang dengan menggunakan wuwu (buwu) dan dipikul satu orang menggunakan tongkat panjang.

Orang-orang yang mengangkut ikan tersebut menuju ke adegan bagian kiri, memperlihatkan suasana adanya sekelompok seniman yang salah satunya penabuh gendang (mṛdangga atau mapadahi) dan disebelahnya terdapat seniman lain yang memakai penutup kepala berupa kain yang terurai ke belakang.

Baca Juga:

  1. Makna Luhur Pelepasan Lampion Waisak di Candi Borobudur
  2. Sambut Delegasi G20, Ini Kisah Menarik di Balik Berdirinya Candi Prambanan
  3. Candi Simping, Tempat Peristirahatan Terakhir Raja Majapahit

Seniman yang kedua tersebut posisi tangannya seperti sedang menyanyi atau menembangkan sebuah lagu, dengan demikian dapat diidentifikasi merupakan seorang mangidung (pelantun tembang).

Sementara itu di bawah kedua seniman tersebut memperlihatkan orang-orang yang sedang melakukan transaksi.

Berdasarkan penggambaran tersebut, dapat diidendifikasi bahwa adegan bagian kanan merupakan adegan orang-orang penangkap ikan (hilirān) sedang berburu ikan di sungai atau rawa, kemudian ikan hasil tangkapan itu dibawa ke pasar (pkên) untuk diperdagangkan.

Keberadaan pasar (pkên) dalam adegan tersebut ditunjukkan dengan adanya para seniman tersebut. Peristiwa tentang kaum hilirān (penangkap ikan) dan banyaga (pedagang) yang diganggu oleh penjahat Mariwung dalam masa Mataram Kuno disebutkan dalam Prasasti Kaladi (831 Śaka atau 909 Masehi).

Adegan kedua dalam relief, paling kanan memperlihatkan seekor kera di atas pohon dan dua ekor rusa mengamati aktivitas manusia.

Sementara itu paling kiri memperlihatkan adegan beberapa manusia yang direbus pada jambangan besi, dalam hal ini berkaitan dengan balasan atas perbuatannya selama berada di dunia.

Lebih penting lagi adegan pada bagian tengah, memperlihatkan kaum penangkap ikan (hilirān) menggunakan jaring (jala) untuk menangkap ikan pada perairan dalam.

Sementara itu di sampingnya memperlihatkan ikan-ikan berukuran besar yang berhasil ditangkap kemudian diikat dalam untaian tali dan dipikul oleh dua orang.

Berdasarkan perbandingannya dengan adegan pada relief sebelumnya, diperkirakan ikan hasil tangkapan tersebut juga dibawa ke pasar (pkên) untuk diperdagangkan.

Adegan ketiga menggambarkan, pada bagian tengah memperlihatkan seorang sedang menombak hewan darat berupa seekor babi (karung) menggunakan alat tombak (galah) dengan mata terbuat dari besi.

Seperti yang diperlihatkan dalam sumber data artefaktual pada penggambaran relief serta sumber data tekstual dalam prasasti dan karya sastra, ternyata tombak (galah) selain senjata yang digunakan dalam berperang juga digunakan dalam berburu.

Terdapat dua macam babi (karung) dalam kehidupan masyarakat masa Jawa Kuno, yaitu babi ternak yang jinak dan dapat dipelihara di kandang, serta babi liar atau sering disebut babi hutan atau celeng. Babi liar atau celeng yang sering ditangkap dengan cara diburu, baik dengan cara dipanah, ditombak, atau dijerat.

Adegan keempat memperlihatkan perburuan dalam dua lingkungan secara langsung, yaitu lingkungan perairan dangkal dan udara.

Perburuan pada perairan dangkal dilakukan dengan menggunakan alat wuwu (buwu) oleh beberapa orang yang saling bekerjasama, mulai dari mengambil ikan yang terjebak di dalam wuwu (buwu). 

Kemudian ada yang mengikat ikan hasil tangkapan dalam untaian tali, hingga membawanya dengan cara dipikul satu orang menggunakan tongkat panjang.

Sementara itu pada bagian tengah terdapat adegan beberapa orang di sebelah kebun atau ladang sedang berburu burung menggunakan busur panah serta menggunakan batu dengan cara dilemparkan.

Sama seperti alat tombak yang telah dijelaskan sebelumnya, pada masa Jawa Kuno panah selain digunakan sebagai senjata untuk berperang juga merupakan alat untuk berburu.

Alat ini digunakan untuk membidik sasaran pada posisi yang agak jauh dan mudah lari apabila didekati. Sementara itu melumpuhkan hewan buruan dengan menggunakan batu, merupakan sebuah teknik kuno yang sudah ada sejak masa Prasejarah, yaitu dengan memanfaatkan batu-batuan sebagai benda dari alam yang banyak tersebar di mana-mana.

Dalam hal ini ternyata naluri berburu yang demikian masih digunakan hingga masa Klasik atau Hindu-Buddha berdasarkan adegan yang digambarkan pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur tersebut.

Adegan kelima pada relief memperlihatkan aktivitas seorang individu sedang berburu burung menggunakan alat tulup.

Sementara itu di sebelahnya terdapat individu lain sedang memukul burung-burung yang dalam kondisi sekarat atau belum mati dengan menggunakan alat pentungan.

Hal ini bertujuan agar burung yang sudah terkena anak tulup tidak dapat lari atau terbang kembali dan mudah untuk ditangkap.

Perburuan yang terjadi pada masyarakat Jawa Kuno sebagaimana tertulis ataupun tergambar melalui relief, prasasti dan berita asing ini memberikan penjelasan yang lebih mendalam dari adanya perburuan pada periode tersebut.

Kehadiran Relief yang menjadi salah satu bukti sejarah tentang perburuan pada periode tersebut. Relief telah menggambarkan salah satu sisi kehidupan, yaitu perburuan.

Relief ini menggambarkan kehidupan masyarakat tentang tata cara ataupun alat-alat yang digunakan untuk berburu binatang dan juga jenis-jenis hewan yang diburu.

Visualisasi kehidupan berburu masyarakat menjadi salah satu bukti terjadinya perburuan yang dilakukan oleh masyarakat pada periode tersebut.

Kehadiran bukti visual yang berupa relief ini diperkuat dengan adanya prasasti dan berita asing menjadikan relief yang ada di Candi Borobudur ini sumber sejarah visual mengenai perburuan pada periode tersebut.

Beberapa alat dan ataupun metode dan juga jenis hewan yang diburu tergambar pada relief Candi Prambanan yang dilengapi dengan adanya prasasti yang sezaman dengan pembuatan relief ini.

Penguatan dari adanya perburuan yang tergambar pada relief Candi Borobudur termuat dari berita asing, meskipun tidak semua hewan yang termuat dari berita asing ini merupakan hasil buruan dari wilayah Mataram Kuno, namun demikian dari beberapa prasasti menyebutkan beberapa model perburuan dan juga jenis hewan dan peruntukan perburuanya.

Histori

Dinamika Musik Rock di Indonesia

Published

on

musisi rock

Musik Rock merupakan jenis musik yang telah meramaikan perindustrian musik di Indonesia. Musik rock berkembang di Indonesia tahun 60- an tetapi pada awal kedatangannya musik

Rock banyak mengalami hambatan atau dengan kata lain banyak yang menentang musik rock terutama oleh pemerintah.

Termasuk pimpinan tertinggi negara, Presiden Soekarno pada pidatonya tahun 17 Agustus 1959 menyebut musik rock sebagai musik ngak-ngik-ngok, yang dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dari pernyataan itu banyak dampak yang dirasakan dalam perkembangan musik rock di Indonesia seperti banyak pelarangan dari pejabat sampai ketua RT.

Tetapi semangat untuk memajukan musik rock tidak pernah padam. Banyak usaha yang dilakukan musisi-musisi rock di Indonesia agar musik rock dapat diterima di Indonesia.

Salah satu usaha para musisi yaitu dengan memasukan unsur-unsur kebudayaan Indonesia seperti gamelan, rebana, dan lain-lain.

Contohnya seperti The Rollies yang memasukan unsur gamelan pada pergelarannya yang dilakukan di Gedung Merdeka, Bandung dan juga kantata Takwa-nya Setiawan Djodi dan Iwan Fals yang memakai alat musik rebana betawi di dalam lagunya.

Sampai pembuatan lirik pun juga disesuaikan dengan kebudayaan Indonesia. Perkembangan scene musik rock di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an

sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten.

Musik rock adalah genre musik popular yang mulai diketahui secara umum pada pertengahan tahun 50-an. Akarnya berawal dari rhythm dan blues, musik country dari tahun 40 dan 50-an serta berbagai pengaruh lainnya.

Selanjutnya musik rock juga mengambil gaya dari berbagai musik lainnya, termasuk musik rakyat (folk musik), jazz, dan musik klasik.

Musik rock merupakan musik hiburan yang menjadi serius dari dasarwarsa 1950-an yang berangkat dari pola boogie woogie sebagai kesinambungan blues di satu pihak dan akar country di pihak lain.

Penemu dari musik rock adalah Fats Domino yang secara tidak sengaja bermain di atas piano untuk gaya yang waktu itu disebut honky tonk piano.

Musik yang dimainkan bertujuan untuk mengajak para pendengar untuk bergoyang mengikuti irama musik yang menghentak-hentak.

Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia rock bukan berarti sebagai batu melainkan yang dimaksud adalah ayunan yakni gerakan para pendengar yang mendengarkan musik rock. Musik rock memang sangat berkaitan dengan dansa.

Dansa ini menjadi budaya kaum muda untuk alat ekspresi diri yaitu pernyataan disertai pelepasan diri atas kungkungan yang berlaku maka pada awal tumbuhnya sangat ditentang oleh pihak kaum tua.

Baca Juga:

  1. Mengenal Serunai, Alat Musik Tiup Kebanggaan Minangkabau
  2. Abdee Slank, Rocker dan Kiprahnya di Dunia Bisnis
  3. Cafe Unik Bernuansa Punk dan Rock n Roll Di Bogor

Di Amerika sendiri musik rock mendapat banyak tanggapan seperti sebuah siaran radio yang termakan imbauan pemerintah daerah untuk menghancurkan piringan hitamnya Hound Dog.

Padahal rock n roll telah di perkenalkan melalui film Rock around the clock yang di bintangi Bill haley dan Comets. Memang film itu mendapat banyak tanggapan dari kalangan tua di Amerika.

Sejak paruh dasawarsa 1950- an rakyat Indonesia tidak diperbolehkan mendengar atau membawakan lagu-lagu asing berbahasa Inggris.

Padahal sejak memasuki era 1950-an rakyat Indonesia mulai menggandrungi budaya barat yang berasal dari musik dan film.

Musik barat didengar melalui siaran radio-radio luar negeri seperti ABC Australia, Hilversum Belanda, dan Voice Of America (VOA) termasuk lagu yang menjadi soundtrack film-film Barat yang diimpor ke Indonesia.

Namun di dalam perkembangannya musik rock di Indonesia banyak mengalami hambatan karena musik ini sangat digusari oleh kaum tua selain itu juga di Indonesia musik rock mendapat hambatan dari pemerintahan terutama dari pemimpin tertinggi yaitu Presiden Soekarno pada pidatonya tahun 17 Agustus 1959 menyebut musik rock sebagai musik ngak-ngik-ngok, yang dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.

Presiden Soekarno melihat perkembangan musik rock di Indonesia dapat mengkhawatirkan budaya bangsa lama kelamaan akan terlupakan dan punah tertelan dan punah ditelan budaya Barat yang sarat kemilau itu.

Selain itu keberatan terhadap rock dilihat secara politis melalui kepentingan nasionalisme oleh Bung Karno dan dikembangkan oleh pejabat-pejabat yang berhaluan PKI yang dikatakan sebagai imperalisme kebudayaan.

Untuk menangkalnya dalam perayaan Hari Proklamasi 17 Agustus 1959 dikeluarkanlah sebuah manifesto yang diberi nama Manipol USDEK/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia, yang kemudian diputuskan oleh DPA pada September 1959 sebagai GBHN.

Pemerintah RI mengeluarkan keputusan tersebut untuk melindungi kebudayaan bangsa dari pengaruh asing terutama Barat. Sejak Oktober 1959 siaran Radio Republik Indonesia (RRI)

ditegaskan untuk tidak lagi memutar atau memperdengarkan lagu-lagu rock and roll, cha-cha, tango, hingga mambo yang dinamakan musik ‘ngak ngik ngok’ oleh Presiden Soekarno.

Berkuasanya rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan presiden Soeharto, membuka lembaran baru bagi dunia musik di Indonesia. Saat itu memperdengarkan musik bukan lagi monopoli Radio Republik Indonesia sejak era akhir 60-an. Bisa dikatakan tahun 1967-1970 adalah embrio musik rock yang mulai menyebar di Indonesia.

Mungkin merupakan dampak merebaknya pop culture dari Amerika dan Inggris lewat munculnya gerakan generasi bunga yang ingin mencuatkan pesan-pesan perdamaian lewat alunan musik dengan membawa idiom summer of love.

Dalam kurun waktu 1967-1970 muncul fenomenan pop culture terbesar yaitu Monterey Pop Festival pada 1967, Woodstock Festival di Amerika Serikat tahun 1969 dan Isle Of Wight di Inggris pada 1970.

Pada era 70-an merupakan era dari musik panggung karena pada era ini mulai banyak diselenggarakan konser-konser besar.

Pada hakikatnya menikmati dan mengekspresikan musik secara lengkap pada akhirnya di atas panggung pertunjukan.

Dalam sejarah musik panggung di Indonesia, tercatat beberapa peristiwa musik panggung yang fenomenal konser Summer 28 (singkatan suasana menjelang kemerdekaan RI ke-28).

Summer 28 adalah pergelaran musik hampir 12 jam di Indonesia, yang diselenggarakan Nyoo Han Siang dari perusahaan film Intercine Studio di Ragunan, Pasar Minggu, 16 dan 17 Agustus 1973.

Memasuki dasawarsa 1980-an musik Indonesia semakin berkembang, sementara jumlah perusahaan rekaman semakin tumbuh. Kualitas band dan pemusik Indonesia memperlihatkan grafis yang kian tinggi. Selain itu, kompetisi band terasa marak pada era ini.

Log Zhelebour Productions misalnya sejak tahun 1984 secara berkala menggelar festival rock se-Indonesia setiap tahunnya yang menghasilkan banyak band rock dengan kualitas terpuji seperti El Pamas yang terbentuk sekitar tahun 1983.

Tahun berikutnya, menjelang mengikuti festival rock yang digelar oleh Log Zhelebour mereka pun berganti haluan.

Pada Festival Rock Se-Indonesia ke-I versi Log Zhelebour tahun 1984. di Festival ini Elpamas mendapat juara ke-III dan LCC juara ke-II di tahun berikutnya yaitu tahun 1985.

Kemudian Andromeda salah satu group band yang beraliran rock berasal dari Surabaya yang pernah berjaya di negeri ini yang berdiri pada tahun 1989.

Sementara pada era 90-an ada catatan menarik ketika muncul gerakan musik independen atau yang lebih dikenal dengan musik indie.

Penggagasnya mencuat dari Bandung dengan konsep D.I.Y. atau Do It Yourself lewat band-band seperti PAS Band.

Pas Band berdiri secara resmi pada tahun 1990. Pada tahun 1993 grup yang terdiri dari Bengbeng (gitar), Trisno (Bass), Yukie (vokal) dan Richard Mutter (drum) ini merilis album EP berbendera indie label dengan debut, Four Through The Sap.

Hiruk-pikuk komunitas independen dalam bermusik ini memang semakin besar. Meskipun industri musik secara global tengah menghadapi keterpurukan secara kronis, mereka tak pernah bisa lepas dan melepaskan diri dari musik.

Dengan wawasan dan sudut pandang yang berbeda, produk indie label justru lebih disukai oleh para artis dan band dikarenakan mereka bisa jauh lebih bebas mengksplorasi dan berekspresi. Kiprah para pemusik indie ini justru kerap dilirik oleh para major label.

Continue Reading

CityView

Begini Sejarah Kepulauan Riau, Benarkah Milik Malaysia?

Published

on

Kepulauan Riau

Riau merupakan salah satu provinsi terbesar di pulau Sumatera dengan beragam kultur budaya khas melayu yang sangat kuat. Di provinsi ini, kekuatan sejarah dan akulturasi budaya menjadi ciri khas pembeda dengan provinsi lain. Berlokasi di tengah pulau Sumatera, Provinsi Riau kini menjadi salah satu kawasan paling strategis dengan percepatan pembangunan yang sangat baik.

Awalnya, Riau merupakan kawasan yang berada di Provinsi Sumatera Tengah bersama Sumatera Barat dan Jambi. Sayangnya, pemekaran kawasan tersebut tidak berdampak signifikan bagi pembangunan Riau di berbagai sektor. Hingga akhirnya masyarakat Riau berinisiatif mendirikan provinsi baru, dan melepaskan diri dari provinsi Sumatera Barat dan Jambi.

Gerakan tersebut dimulai dengan Kongres Pemuda Riau (KPR) I pada tanggal 17 Oktober 1954 di Kota Pekanbaru. Kongres pertama tersebut menjadi momen awal terbentuknya Badan Kongres Pemuda Riau (BKPR) pada tanggal 27 Desember 1954. Selanjutnya, perwakilan BKPR berinisiatif menemui Menteri Dalam Negeri untuk mewujudkan otonomi daerah sebagai provinsi mandiri. Langkah besar ini pun sangat didukung oleh segenap masyarakat Riau.

Baca Juga:

  1. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho

Pada tanggal 25 Februari 1955, sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Bengkalis merumuskan bahan-bahan konferensi Desentralisasi /DPRDS/ DPDS se-Indonesia yang diadakan di Bandung tanggal 10 hingga 14 Maret 1955. Keputusan konferensi tersebut menyatakan bahwa Riau sah menjadi provinsi mandiri terhitung sejak 7 Agustus 1957.

Awalnya, Riau merupakan kawasan yang berada di Provinsi Sumatera Tengah bersama Sumatera Barat dan Jambi. Sayangnya, pemekaran kawasan tersebut tidak berdampak signifikan bagi pembangunan Riau di berbagai sektor. Hingga akhirnya masyarakat Riau berinisiatif mendirikan provinsi baru, dan melepaskan diri dari provinsi Sumatera Barat dan Jambi.

Gerakan tersebut dimulai dengan Kongres Pemuda Riau (KPR) I pada tanggal 17 Oktober 1954 di Kota Pekanbaru. Kongres pertama tersebut menjadi momen awal terbentuknya Badan Kongres Pemuda Riau (BKPR) pada tanggal 27 Desember 1954. Selanjutnya, perwakilan BKPR berinisiatif menemui Menteri Dalam Negeri untuk mewujudkan otonomi daerah sebagai provinsi mandiri. Langkah besar ini pun sangat didukung oleh segenap masyarakat Riau.

Pada tanggal 25 Februari 1955, sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Bengkalis merumuskan bahan-bahan konferensi Desentralisasi /DPRDS/ DPDS se-Indonesia yang diadakan di Bandung tanggal 10 hingga 14 Maret 1955. Keputusan konferensi tersebut menyatakan bahwa Riau sah menjadi provinsi mandiri terhitung sejak 7 Agustus 1957.

Kepulauan Riau

Keputusan presiden No. 256/M/1958 pada tanggal 5 Maret 1958 telah dilantik Mr. S.M Amin sebagai Gubernur Kepala Daerah Provinsi Riau pertama. Pelantikan ini dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Depdagri, Mr. Sumarman mewakili Mendagri di Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Riau. Pengangkatan Mr. S.M Amin merupakan kompromi pemerintah pusat dengan berbagai pertimbangan, termasuk perihal putera daerah.

Dalam memangku tugasnya Mr. S.M Amin pertama kali membentuk Badan Penasihat Gubernur atau Kepala Daerah berdasarkan Keputusan Menteri dalam Negeri No.71/21/34 tanggal 9 Juni 1958. Pembentukan badan ini sebagai upaya untuk memenuhi ketentuan dalam ketentuan dalam keputusan Presiden Republik Indonesia No. 258 Tahun 1958 tanggal 27 Februari 1958 bahwa Gubernur atau Kepala Daerah Riau perlu didampingi oleh suatu Badan Penasihat.

Di sisi lain, Kepulauan Riau (disingkat Kepri) adalah sebuah provinsi yang ada di Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja di sebelah Utara; Malaysia dan provinsi Kalimantan Barat di sebelah Timur; provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di Selatan; negara Singapura, Malaysia dan provinsi Riau di sebelah Barat. Provinsi ini termasuk provinsi kepulauan di Indonesia. Tahun 2020, penduduk Kepulauan Riau berjumlah 2.064.564 jiwa, dengan kepadatan 252 jiwa/km2, dan 58% penduduknya berada di kota Batam.

Secara keseluruhan wilayah Kepulauan Riau terdiri dari 5 kabupaten, dan 2 kota, 52 kecamatan serta 299 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar, dan kecil yang 30% belum bernama, dan berpenduduk. Adapun luas wilayahnya sebesar 8.201,72 km², sekitar 96% merupakan lautan, dan hanya sekitar 4% daratan.

Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Lingga.

Continue Reading

Histori

Kenapa HUT DKI Jakarta Diperingati Setiap 22 Juni? Ini Jawabannya

Published

on

HUT DKI Jakarta

Hari ini, Rabu (22/6/2022), menandai Hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-495. Lantas, kenapa HUT DKI Jakarta diperingati setiap tanggal 22 Juni?

Semua bermula dari tahun 1527. Tanggal 22 Juni 1527 ditetapkan sebagai berdirinya Kota Jakarta berdasarkan terjadinya penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah beserta pasukannya. Nama Sunda Kelapa lalu diganti menjadi Jayakarta.

Sejarah Jakarta bermula dari kawasan pelabuhan Sunda Kelapa yang sibuk. Pada 22 Juni 1527, Pangeran Fatahillah datang dan mendirikan Kota Jayakarta untuk mengganti Sunda Kelapa. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai peristiwa berdirinya Kota Jakarta. Demikian dilansir dari laman resmi Pemprov DKI Jakarta.

Baca Juga:

  1. Sate Susu, Kuliner Khas Bali yang Hanya Muncul Saat Ramadan
  2. Wajib Coba, Inilah 5 Tempat Makan Sate Terenak Seantero Jakarta Pilihan MyCity
  3. Aurra Kharisma Tampil dengan Kostum Bertema ‘Sate Ayam’

Kota Jayakarta juga menjadi tempat perdagangan komoditas antar pedagang dari Cina, India, Arab, Eropa, dan nusantara. Pada 1619, Jayakarta dihancurkan VOC Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Pemerintah kolonial ini membangun kota baru di bagia barat sungai Ciliwung.

Wilayah yang dibangun VOC kelak dinamai Batavia. Nama Batavia diambil dari Batavieren, nenek moyang bangsa Belanda.

Batavia dibangun mirip dengan kota-kota di Belanda. Susunannya lurus dan dipisahkan kanal. Kawasan Batavia dikelilingi tembok sebagai benteng dan parit sebagai perlindungan.

Kawasan Batavia pada 1650 menjadi tempat bermukim bangsa Eropa. Di luar tembok dan gerbang Batavia, hidup bangsa Cina, Jawa, India, dan pribumi lainnya.

Nama Batavia digunakan lebih dari 3 abad, mulai sekitar 1619 -1621 hingga 1942.

Lantas, bagaimana sejarah Jakarta akhirnya menjadi Ibu Kota negara Indonesia? Semua bermula ketika Belanda membangun monument J.P Coen di Jalan Lapangan Banteng untuk memperingati 250 tahun usia Batavia. Namun, patung itu dihancurkan pada masa pendudukan Jepang (1942-1945).

Nah, penetapan hari jadi Jakarta atau sejarah ulang tahun Jakarta merujuk kepada penetapan yang dikeluarkan oleh Sudiro, Wali Kota Jakarta periode 1953-1958.

Waktu itu, Sudiro menyadari perlunya peringatan ulang tahun Jakarta dengan cara berbeda dari perayaan berdirinya Batavia. Akhirnya, Sudiro memanggil sejumlah ahli sejarah seperti Mohamad Yamin dan Prof.Dr.Sukanto, S.H. serta wartawan senior Sudarjo Tjokrosiswoyo.

Mereka ditugasi meneliti kapan Jakarta didirikan oleh Fatahillah. Saat itu, Sudiro memiliki keyakinan kalau tahunnya itu 1527. Tapi, masih timbul pertanyaan mengenai hari, tanggal, dan bulan lahirnya Jakarta. Kemudian, pada saat itu hanya Prof. Sukanto yang menyatakan kesediaannya untuk meneliti sejarah ulang tahun Jakarta.

Pada waktu itu, Prof. Sukanto menjabat sebagai Kepala “Arsip Negara”, Sekretaris Senat Guru Besar Universitas Indonesia (UI) dan Guru Besar dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Hukum Adat pada Fakultas Sastra UI. Pada akhir 1954, Prof. Sukanto telah menyelesaikan dan menyerahkan sebuah manuskrip yang diterbitkan dalam bentuk buku sejarah Jakarta, Dari Djakarta ke Djajakarta.

Dia menduga, 22 Juni 1527 adalah hari yang paling dekat pada kenyataan dibangunnya Kota Jayakarta oleh Fatahillah. Setelah itu, naskah tersebut diserahkan Sudiro kepada Dewan Perwakilan Kota Sementara untuk dibahas.


Kemudian, langsung bersidang dan menetapkan bahwa 22 Juni 1527 sebagai berdirinya Kota Jakarta atau hari ulang tahun Jakarta. Tepat pada 22 Juni 1956, Sudiro mengajukannya dengan resmi pada sidang pleno dan usulnya itu diterima dengan suara bulat.

Sejak saat itu, tiap 22 Juni diadakan sidang istimewa DPRD Kota Jakarta sebagai tradisi memperingati berdirinya Kota Jakarta atau ulang tahun Jakarta.

Continue Reading

Trending