Connect with us

Market

Mau Raup Uang Miliaran Rupiah Seperti Ghozali? Begini Cara Jual Foto Selfie Pakai NFT

Published

on

Ghozali
Ghozali

Non-fungible (NFT) token semakin menjamur dan peminatnya semakin bertambah. Bahkan, transaksi jual dan beli dengan NFT banyak terjadi di OpenSea, yang merupakan marketplace NFT terbesar di dunia.

Salah satu yang mendapatkan keuntungan luar biasa adalah Ghozali. Lantas, bagaimana caranya Ghozali meraup uang yang amat banyak itu?

Dia melakukan selfie tiap hari dan kemudian menjual foto tersebut dalam bentuk Non-Fungible Token (NFT). Tak disangka-sangka, foto yang ia unggah laku dan menghasilkan uang hingga Rp12 miliar. Ghozali memamerkan foto selfie dari tahun 2017 atau saat dia masih berusia 18 tahun.

Dibuat menjadi konten meme, Everday Ghozali sudah menghasilkan sebesar 194 ETH (560.000 dolar) setara dengan Rp8 miliar.

Dari foto selfienya yang hanya berharga Rp46.000 rupiah, kini karya dari Ghozali Everday tersebut menembus angka Rp7,9 juta per foto.

Terakhir, pada Rabu, 12 Januari 2022 Ghozali Everyday sudah berhasil mengoleksi 933 NFT.

Ia pun kini menembus peringkat 40 besar volume perdagangan NFT di situs OpenSea.

Begini cara jual NFT di Opensea:

  1. Masuk ke laman OpenSea.io dan log in ke akun Anda
  2. Klik pada foto profil Anda di bagian kanan atas
  3. Pilih ‘Profile’
  4. Pilih NFT yang ingin dijual dari wallet Anda
  5. Pilih ‘Sell’ untuk diarahkan pada halaman penjualan
  6. Pilih jenis dan harga jual.

Market

Gawat, Bos Koin Kripto Terra & Luna Diincar Kejaksaan Korea

Published

on

By

Bos Koin Kripto Terra & Luna, Do Kwon.

Diketahui kejaksaan Korea Selatan kini sedang mengincar pembuat stablecoin Terra dan Luna, yakni Do Kwon.

Usai banyaknya investor kehilangan uangnya dan nilai dua token tersebut anjlok hal itu pun terjadi. Penyelidikan pada organisasi di balik proyek Terra Terraform Labs telah dimulai.

Hal ini dikatakan oleh Kantor Kejaksaan Distrik Selatan Seoul. Di mana pemimpin proyek itu diketahui adalah Do Kwon. Mengutip dari Tech Crunch pada Senin (23/5/2022) Kantor Kejaksaan mengatakan dilimpahkan pada Tim Investasi Gabungan Kejahatan Keuangan Siber dalam kasus itu.

berselang sehari setelah lima investor kripto berbasis di Korea mengajukan pengaduan pidana pada Do Kwon dan Daniel Shin, pengumuman itu datang. Daniel Shin sendiri merupakan salah satu pendiri dari Terraform.

Baca Juga:

  1. Mengenal CBDC Kripto, Mata Uang Digital dari Bank Sentral
  2. Keren, Singapura Mulai Terima Pembayaran dengan Kripto
  3. Curhat Bos Bursa Kripto Terbesar di Dunia yang Kini Kembali Miskin

Keduanya itu dituding melakukan pelanggaran peraturan keuangan lain dan juga penipuan. Tech Crunch melaporkan memiliki gabungan kerugian sebesar 1,4 miliar won terkait lima investro itu.

Di sisi lain, diperkirakan oleh otoritas keuangan setempat bahwa 280 ribu pengguna memiliki jumlah gabungan 70 miliar Luna di Korea.

Pembuat Luna dan Terra gagal memberitahu investornya soal kekurangan dua koin tersebut. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh perwakilan LKB & Partners, firma hukum yang disewa kelima investor.

“Desain dan penerbitan Luna dan Terra untuk menarik investor, namun gagal memberitahu mereka dengan benar mengenai kekurangannya dan perluasan penerbitan Luna yang tidak terbatas sama dengan menipu investor,” tuturnya.

Continue Reading

Market

Mengenal CBDC Kripto, Mata Uang Digital dari Bank Sentral

Published

on

CBDC Kripto

Digitalisasi dalam bidang teknologi dan komunikasi memicu revolusi baru dalam berbagai dunia industri, tak terkecuali keuangan. Setelah menghadirkan beragam layanan digital, kini perbankan mesti menghadapi kehadiran aset kripto.

Seiring popularitasnya yang turut meningkat, nilai aset kripto pun kini makin diperhitungkan. Tidak sedikit orang yang akhirnya beralih ke aset kripto untuk investasi. Sementara yang lainnya mulai menggunakan aset kripto sebagai alat transaksi jual beli.

Kendati penggunaan aset kripto di Indonesia sebagai alat tukar dianggap ilegal. Nyatanya di banyak negara asing, sudah banyak merchant yang menambahkan aset kripto sebagai salah satu metode pembayaran. Bahkan Pemerintah Amerika Serikat kini telah mengeluarkan aset kripto berupa stablecoin bernama USDT yang mengacu pada harga dolar AS di pasar.

Baca Juga:

  1. Make Up ‘Nyebrang’ Sunburn Blush, Sempat Trending bikin Rias Wajah Makin Natural
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Mudah! Ini Cara Buat Air Mawar Di Rumah

Peningkatan minat masyarakat pada aset kripto membuat industri perbankan konvensional berjuang untuk mengendalikan aset kripto populer. Dua di antaranya adalah Bitcoin dan Ethereum. Sayangnya, kedua aset digital tersebut sudah dikenal luas sebagai cryptocurrency yang terdesentralisasi dan bebas regulasi.

Dalam operasinya pun, Bitcoin dan Ethereum berjalan di atas blockchain. Sehingga, konfirmasi transaksi yang dilakukan tidak tergantung pada satu pihak saja. Melainkan melalui proses mining yang berisi teka-teki operasi matematis rumit dan tentu saja persetujuan dari seluruh nodes yang terlibat.

Ketidakmampuan bank sentral atau otoritas pusat untuk mempengaruhi serta mengontrol Bitcoin dan Ethereum lantas membuahkan ide baru. Ide tersebut adalah membuat mata uang resmi dalam versi aset kripto. Cryptocurrency itu lantas akan bersifat sentralisasi. Sehingga diatur, dioperasikan, dan dikontrol oleh otoritas moneter masing-masing negara.

Sebelum membahas mengenai daftar negara yang mulai mengembangkan CBDC, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan konsep CBDC itu sendiri.

Sebagai mata uang digital, CBDC memiliki berbagai manfaat. Di antaranya memungkinkan proses transaksi menjadi lebih cepat, fleksibel dan berbiaya rendah, memudahkan sistem pengiriman uang di dalam dan antar negara, serta mendorong orang untuk dapat berdagang.

Layaknya angin segar, CBDC dapat menjadi pertanda baik bagi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Dikarenakan CBDC adalah mata uang digital, maka seluruh transaksi dapat dengan mudah untuk dilacak dan diverifikasi. Hal ini tentu akan memudahkan pemerintah untuk menemukan aktivitas yang mencurigakan atau ilegal.

Saat ini, pemerintah melihat CBDC sebagai sebuah inovasi keuangan yang bisa meringankan tugas negara dalam manajemen risiko dan memvalidasi berbagai investasi pada lembaga keuangan.

Kendala keamanan finansial yang kerap dialami oleh beberapa bank dan lembaga keuangan dapat ditingkatkan dengan mengimplementasikan CBDC. Uang CBDC dapat ditransfer menggunakan dompet digital (digital wallet) tanpa rekening bank atau negara tertentu dapat menggunakan bank sentral sebagai fasilitator.

Adapun fungsi nyata CBDC adalah dapat meminimalkan biaya pencetakan, pengangkutan, penyimpanan, dan pembuangan uang kertas yang cukup tinggi.

Di sisi lain, CBDC adalah subjek dari beberapa masalah keamanan dunia maya. Secara khusus, kehadiran CBDC dapat mengundang serangan siber yang membahayakan sistem pembayaran dan kliring.

Sebagai penemuan keuangan yang relatif baru, CBDC perlu usaha yang lebih dalam mempertahankan reputasi untuk keselamatan dan operasi bebas risiko. Untuk mengatasi masalah ini, sistem AML, CTF, dan KYC (Know Your Customer) CBDC harus diperketat semaksimal mungkin.

CBDC adalah mata uang digital yang mengandalkan sistem terpusat. Kendati begitu, masih banyak pihak yang mempertanyakan apakah pemerintah akan membocorkan data pengguna ke pihak lain atau apakah iklan politik akan muncul dari eksploitasi data atau tidak.

Persoalan ini adalah kekhawatiran CBDC lain yang perlu kamu waspadai. Mata uang versi kripto tersebutlah yang dikenal sebagai CBDC (Central Bank Digital Currency).

Berdasarkan data terakhir, sekitar 87 dari 195 negara di dunia telah mengeksplorasi CBDC. Masing-masing melalui tahapan eksplorasi yang berbeda, seperti Launched, Piloted, Development, Research, Inactive, Canceled, dan lain-lain.

CBDC menyediakan berbagai fungsi. Yang paling umum adalah ritel dan grosir. CBDC Ritel diterbitkan secara digital untuk transaksi yang melibatkan masyarakat dan usaha kecil. Sedangkan, CBDC Grosir diberikan kepada lembaga keuangan untuk menyelesaikan transaksi skala besar.

Continue Reading

Market

Keren, Singapura Mulai Terima Pembayaran dengan Kripto

Published

on

By

Ilustrasi Aset Kripto

Kini pembayaran dengan mata uang kripto atau cryptocurrency telah diterima oleh berbagai bisnis di Singapura. Diantaranya yaitu, e-retailer peralatan rumah tangga “&glazed”.

Bahkan &glazed menerima pembayaran menggunakan mata uang kripto sebelum memiliki opsi pembayaran tanpa uang tunai (cashless) yang sudah biasa ada di toko-toko, dikutip Channel New Asia (CNA) pada Kamis (19/5/2022).

Bitcoin, Ethereum, dan Litecoin merupakan sejumlah jenis cryptocurrency yang diterima untuk pembayaran di toko online mereka dari awal tahun. Minatnya pada sektor yang terus berkembang tersebut membuat pendiri &glazed Lionel Lim mengambil keputusam tidak biasa itu.

Di bursa kripto yang berbasis di Singapura, Lim berinvestasi dalam cryptocurrency serta juga memiliki pekerjaan penuh waktu. Diketahui, alasan lain toko online mereka menirima aset digital tersebut, karena baginya akan semakin banyak orang berbelanja di toko onlinenya jika memiliki metode pembayaran yang banyak.

Baca Juga:

  1. Ini yang Wajib Dilakukan Investor Ketika Harga Kripto Anjlok
  2. Ini 5 Saran untuk Pemula yang Ingin Mulai Investasi Kripto
  3. Atasi Ponzi, AS, Kanada, Australia, & Belanda Sepakat Berbagi Data Kriminal Kripto

Kepada CNA dirinya mengatakan bahwa, “Kami ingin membuatnya semulus mungkin-sejauh apa pun yang Anda ingin bayar, kami mendapatkannya.”

Lim mengatakan sampai sekarang masih sangat sedikit yang mau membayar menggunakan kripto, meski telah cukup lama menerima pembayaran dengan kripto. Menurutnya, dengan pembayaran mata uang kripto hanya menghasilkan 1 persen dari total pesanan tingkat penerimaannya begitu rendah.

Ia menyebutkan sudah disimpan pemasukan itu dari dompet digital perusahaan di platform pembayaran yang digunakan untuk menerima cryptocurrency, yakni Coinbase Commerce. Untuk mencairkannya, dirinya juga mengaku tidak terlalu terburu-buru.

Continue Reading

Trending